Beda tempat, beda pula karakter pengunjungnya. Seperti hari ini, Mina merasakan atmosfer yang berbeda ketika ia bekerja di bar dan di cafe, tepatnya di bagian depan, karena sebelumnya ia ditempatkan di bagian kasir.
Seperti sekarang ini, ia harus siaga dengan senyum manis sembari menyerahkan piring kertas berisi donat kepada pengunjung yang datang pagi itu. Terkadang ia membuang napas untuk mengistirahatkan bibirnya yang lelah karena terlalu lama ditarik kiri-kanan agar tetap mengembang.
"Hai, idol baru. Flying kiss for me?"
Ini adalah bagian yang paling Mina hindari, sebenarnya. Godaan dari pengunjung yang iseng, kebanyakan adalah anak-anak SMA dan mahasiswa. Dengan dipaksakan, ia mengecup tangan kanannya, kemudian melayangkan kecup jauh ditambah kedipan sok manis.
Sepertinya dia orang baru yang agak dingin, tidak seperti Susan yang seksi, tegur teman seseorang yang meminta flying kiss darinya, bermaksud agar temannya tidak menggoda Mina lebih jauh lagi. Mina hanya memberikan senyum lebar sembari menyodorkan dua buah donat kepada anak laki-laki berseragam di depannya. Dalam hati ia sangat berterima kasih pada anak laki-laki itu karena telah menyeret temannya menjauh.
Beralih pada pengunjung selanjutnya, seorang laki-laki yang sudah biasa ditemuinya—seseorang yang ia perkirakan seorang pegawai atau eksekutif muda. Ia tersenyum, menyerahkan donat cokelat hitam padanya. Lantas, lelaki itu pergi tanpa suara.
Dia, laki-laki yang selalu memakai masker menutupi wajahnya. Lelaki yang selalu dipandangi oleh Hana bila ia bertemu dengannya. Lelaki yang berhasil membuat Hana yang banyak diam menjadi begitu heboh dan merebut nampan waitress untuk lelaki itu agar bisa lebih dekat dengannya. Pikirnya, anak muda memang selalu berapi-api, kemudian membandingkannya dengan dirinya yang sudah kepala tiga dan belum juga berhasil menemui orang yang dirinduinya. Dan berakhir dengan lenguhan lesu akan nasibnya yang kurang beruntung dalam percintaan.
Melirik jam mini yang tersemat di gelang tangan kiri, ia menyadari bahwa waktu untuknya berdiri menyambut tamu sudah berakhir. Ia mengangkat kotak berisi donat yang tersisa, berjalan membawanya ke dapur. Kembali ke pintu depan, mengambil sabitnya yang tertinggal.
Tidak menyadari dari seberang jalan, terdengar bunyi kamera yang mengambil gambar. Kedua tangan berkulit tan itu memegang kamera, yang kini menampakkan seorang wanita berambut merah muda menunduk, mengambil sabitnya di samping pintu. Wajahnya yang sedikit terhalang oleh poni rambut, tak dapat mencegah seseorang pemegang kamera itu berucap, "Pretty Scythellica."
Tangannya tidak sengaja menekan tombol panah ke kiri. Tampaklah seorang laki-laki muda berambut hitam cepak tersenyum lebar menghadap kamera. Terlihat suasana ramai dengan siswa memakai pakaian seragam dan spanduk kelulusan sekolah menengah. Jauh dari jarak lelaki itu, seorang perempuan berambut hitam panjang berkuncir yang berdiri menyamping bersama perempuan lain, seperti sedang berbincang terpotret bersamanya. Melihat foto itu, ia membuang napas, kembali memandangi pintu cafe yang kosong, tidak ada lagi perempuan objek fotonya di sana. Menutup lensa kamera, ia menurunkan caping topi, berjalan berlawanan arah dari cafe itu. "Maafkan aku," ujarnya dalam hati.
***
Hari ini, tepat seminggu telah berlalu sejak pertama kali ia menjadi Idol, merasakan bagaimana ia bertahan dari godaan atau kedipan nakal pengunjung laki-laki yang tentunya tidak mengetahui bahwa Mina jauh lebih tua darinya. Seperti biasa, di siang hari ia melayani pengunjung di balik rak pastry.
"Satu slice tiramisu dan dua slice red velvet?" Mina mengulangi pesanan perempuan berseragam sekolah di depannya.
"Ya! Dan... oh!" Perempuan itu berseru ketika melihat paket macaroon yang didiskon 30 persen.
"Tambahkan ini," pintanya lagi.
Mina mengangguk, dengan hati-hati memasukkan kue-kue yang dipesan dalam kotak bening yang berhias logo cafe warna warni.
"Struknya dibawa ke meja kasir." Mina berujar disertai senyum lebar, kemudian memberikan kue tersebut bersama struk tagihan yang keluar dari mesin di sampingnya.
Bunyi lonceng penanda pengunjung masuk membuat Mina teralihkan perhatiannya, melihat seseorang yang tidak asing baginya. Anak yang berambut merah muda dan masih mengenakan seragam sekolahnya, diikuti anak yang lain.
"Mina!" Anak perempuan itu—Claire berseru dengan senyum lebar, mendekati Mina.
"Bagaimana hari ini, Sayang? Sudah makan?"
"Seperti biasa, Mina. Aku sudah kenyang. Kotak bekalku untukmu saja, ya?" Claire menawarkan makanannya pada Mina.
"Tidak, tidak. Aku sedang diet dan masih harus bekerja. Temannya Claire, ingin pesan apa?"
Mendengar Mina yang menolak tawarannya membuatnya mencebik.
"Aku dua potong croissant coklat," pinta seorang teman Claire yang berkepang ekor kuda.
"Aku eclair vanila, dan umm..." Anak perempuan berambut pendek melihat-lihat menu, kemudian berseru, "sebuah donat gula saja."
"Okay, Girls. Pesanan akan siap.
Mina melapisi tangannya dengan sarung tangan khusus, kemudian mengambil capit dan piring untuk menaruh pesanan. Setelahnya, memberikan pesanan pada kedua anak perempuan di depannya. Mereka memberi isyarat pada Claire bahwa mereka akan duduk duluan, mengisi meja yang kosong. Namun, Claire bergeming, menatap lekat pada Mina.
"Aku pesan Mina memakan bekalku!"
Seruan Claire yang lumayan keras membuat pengunjung mengalihkan perhatian pada mereka berdua. Mina berusaha tenang—menguasai keadaan, meninggalkan rak pastry. Berdiri di depannya, menunduk pada Claire yang tak kunjung berhenti cemberut.
"Claire." Ia memandang anak perempuan di depannya dengan pandangan bertanya-tanya. Sebenarnya, mengapa anak itu memaksa agar ia mau memakan bekalnya?
"Aku hanya tidak ingin Mina sakit karena jarang makan." Claire mengucapkannya dengan lemah, dan kedua mata yang mulai berkaca-kaca. Ia menutup wajah, kemudian menunduk, memainkan kedua ibu jari. Mina membuang napas, memandang Claire dengan penuh sayang. Ia tidak menyangka, bahwa anak itu begitu mengkhawatirkannya. Dengan tangan kanan yang membelai pucuk kepalanya, ia tersenyum. Sedang tangan kiri menutupi bagian depan tubuhnya yang terlihat karena pakaiannya. Tepat saja, siulan dan seruan nakal oleh pengunjung laki-laki terhenti karena tindakannya.
"Baiklah, aku akan memakan bekalnya. Tapi, setelah aku istirahat. Kau ingin pesan apa? Biar aku yang membayarnya."
Mina bertanya dengan lembut. Claire menegakkan kepala, mencari kesungguhan yang terpancar padanya.
"Um, aku sudah kenyang. Aku mau milkshake stroberi saja," pinta Claire, sembari menyerahkan kotak bekal padanya.
"Baiklah. Hana, Satu kode enam puluh A untuk Claire."
Mina berseru pada Hana, perempuan yang ditugaskan di bagian minuman.
"Siap, Mina." Hana menyahut. Dengan cekatan mengambil mug bening, mendekati jar berisi milkshake.
"Susul saja temanmu. Aku harus membawa ini ke dapur." Mina berujar dengan menenteng tas berisi kotak bekal.
"Baik, Mina. Kau harus memakannya!" tegas Claire dengan tersenyum lebar. Mina hanya mengangguk, membalasnya dengan senyum.
***
Bias senja telah berganti gelap malam ketika Mina pergi ke ruang staf dan hendak mengganti kostum idolnya dengan seragam biasa. Ia baru menerima bekalnya yang sudah dipanaskan sejak menjelang sore tadi ketika seorang bagian dapur telah selesai shiftnya dan hendak pulang, menghampirinya di ruang staf. Tak lupa mengucap terima kasih, ia menaruh kotak bekal di atas loker.
Pakaiannya, setelan baju putih lengan panjang dengan rok span hitam selutut ditambah apron cokelat tua dan berhias logo cafe di tengahnya. Dibawanya ke bilik berganti pakaian di sudut ruang staf. Bilik itu, bisa dikatakan tidak terlalu besar, tetapi juga tidak terlalu kecil. Dilengkapi dengan cermin besar hingga dapat merefleksikan seluruh tubuh.
Menatap bayangan dirinya di cermin, Mina memasang wajah datar. Melirik bagian pinggang hingga perutnya yang rata, ia merasa dietnya lumayan berhasil. Menurutnya, memakan bekal Claire kali ini bukan sesuatu yang mengkhawatirkan—ia pantas untuk itu, mengingat ia yang akhir-akhir ini jarang makan—tepatnya, malas makan karena program menurunkan berat badan dan pekerjaannya yang sehari semalam.
Selesai mengganti pakaian, ia melirik kotak bekalnya. Mengambilnya, membawanya duduk di kursi panjang. Menilik isi dalam kotak bekalnya, nasi dengan tambahan telur yang dilengkapi kornet dan fillet daging ayam. Tanpa perlu berpikir panjang, ia mulai melahap makanannya. Setelah harinya yang melelahkan, ia mengharapkan ketenangan barang sebentar. Namun, sesuatu mengusiknya.
"Apa yang sudah kulakukan?"
Pikirannya kembali hendak menguasai diri. Mina menghentikan suapannya, meletakkan sendok di kotak bekal. Akhir-akhir ini ia sering melamun, dan ia tidak menyukai itu.
"Tidak, tidak. Kumohon tidak lagi." Ia memelas pelan. Mencoba menepis pikirannya dengan menggelengkan kepala, menutup mata kuat-kuat.
"Argh!" Dan inilah yang ia takutkan. Perlahan-lahan nyeri mulai merambat dari kepala depannya. Dunia yang dilihatnya terasa berputar seiring sakit yang kini menguasai seluruh kepala. Dengan kedua tangan ia mengurut kepala sebisanya, tetapi tindakannya tidak banyak membantu. Ia merasa seakan ada yang sedang memaku setiap inci tengkoraknya. Sakit yang semakin tak tertahan.
"Aarrrghh!" Ia berteriak dengan kedua matanya menonjol, berselaput bening air mata. Bibirnya yang gemetar, ia gigit kuat-kuat. Rasa sakit itu seolah berdentum-dentum mengiring detik demi detik yang berjalan. Ia pikirnya, harus melakukan sesuatu. Dengan kesadaran yang tersisa, ia berniat untuk mendekati loker. Namun, rasa sakit itu seakan melumpuhkan seluruh indera penggeraknya. Ia jatuh tersungkur. Kotak bekalnya yang malang jatuh dengan isinya yang berhamburan. Tangannya masih memegang kepala, tekanannya diperkuat. Tubuhnya terasa kebas, tak lagi dirasa lantai yang dingin. Air mata berderai-derai di wajahnya. Tidak mau berkurang juga rasa sakit itu, malah semakin bertambah. Ia hendak berteriak kencang, tetapi tak ada suara yang keluar. Sama sekali. Tubuhnya tremor, tanpa bisa dikendalikan. Ia hanya sanggup mengatupkan giginya agar gemetarnya berkurang dan tidak melukai lidahnya. Hingga seseorang yang datang dari pintu, melihatnya tidak berdaya. Ia menutup mulutnya, seakan tidak percaya dengan yang ia lihat.
"Mina!"
Hana yang membawa pakaian ganti di tangannya ia biarkan teronggok di lantai. Ia bersimpuh di hadapan Mina yang setengah sadar.
"Mina! Ada apa?!"
"Ha-na," ia menjawab getir, menahan gemetar dan sakit yang tak kunjung berhenti.
"O-obatku da-lam tas, botol pu-tih." Ia kembali menutup mata kuat-kuat, berjengit menahan sakit.
"Iya, Mina. Kuambilkan, tolong bertahanlah."
Hana beranjak berdiri, membuka loker Mina yang tidak dikunci. Merogoh tas tangan warna hitam, ia mencari-cari botol putih yang Mina maksud. Ia temukan di bagian paling depan tasnya. Membuka loker miliknya, ia mengambil botol minum yang selalu ia simpan di dalamnya. Cepat ia kembali bersimpuh, mendekati Mina.
"Pelan-pelan, Mina." Hana menahan bahunya, mencoba mendudukkan Mina.
"Berapa?"
"Du-a. Ia hanya pasrah dengan terkulainya dirinya di rangkulan Hana, sedangkan perempuan penolongnya itu membuka botol kecil, mengeluarkan dua butir obat. Dimasukkannya langsung pada mulut Mina yang terbuka.
"Minumlah."
Hana mendekatkan botol minumnya, dengan Mina yang meneguknya sedikit demi sedikit.
"Te-terima kasih." Mina kembali menutup mata, membuang napas panjang. Rasa sakit itu masih menghinggapinya, tetapi ia mulai bisa menahannya.
"Ya, Mina. Haruskah kita ke rumah sakit?"
"Ti-dak, tidak perlu. Aku hanya perlu istirahat." Mina menyanggah dengan lemah.
"Baiklah, shiftku sudah habis. Aku akan mengantarmu pulang. Aku akan melaporkan bahwa kau izin pulang."
"Ya, terima kasih."
Perlahan, obat yang mulai bekerja itu membuat rasa sakit di kepalanya berangsur berhenti. Pelan Hana membantu Mina berdiri. Tidak jauh darinya, Hana mengambil sabitnya, dengan tangan kanan menyangga bahu Mina.
"Apakah ini sering kau rasakan? Harusnya kau periksa ke dokter."
"Ya." Tak ingin bicara banyak, ia hanya mengiyakan. Ia tak mungkin membawa dirinya untuk didiagnosa di dokter umum. Apa yang akan terjadi bila penyakitnya itu adalah efek samping dari percobaan yang dilakukan Mallaga, ilmuwan gila itu dulu? Mungkin dokter awam itu akan lari terbirit-b***t bila ditambah mengetahui siapa dirinya di masa lalu. Ia yang dulu berjulukan The Splendid—Si Hebat, merasakan hampir mati hanya karena sakit kepala. Kenyataan yang sungguh miris, pikirnya