Paginya, ia masih merasakan denyutan sakit di kepalanya, tetapi tidak sehebat malam tadi. Ia tidak suka istirahat dan berakhir dengan bermalas-malasan, ia harus tetap bekerja. Maka, sebelum berangkat untuk membuka cafe, ia meminum obatnya. Dan membuang napas berat ketika dilihatnya dalam botol obat itu hanya dua butir yang tersisa. Artinya, ia harus menemui Susan lagi untuk berobat dan menemuinya terlebih dulu ke bar.
Untungnya, minggu ini bukan gilirannya untuk menjadi Idol. Beberapa hari setelah ia menjadi Idol, sistem berubah. Mereka yang bekerja di bagian tengah cafe, selain waiters bergantian perminggunya menjadi Idol. Tidak menaruh curiga, justru ia merasa senang dengan peraturan baru itu.
Dan kini, Hana sejak beberapa menit yang lalu sudah siaga di depan pintu membagikan Eclair. Lily di belakang counter minuman menggantikannya, sedangkan ia tetap di rak Pastry.
Hari-hari Hana sebagai Idol adalah hari yang paling membahagiakan, baginya. Karena ia bisa tampil secantik mungkin dengan balutan yukata merah muda yang sungguh kawaii—sebutannya untuk sesuatu yang cantik. Ketika ia bertemu dengan Mina, bukan menanyakan keadaannya yang sudah membaik atau belum karena malam tadi, dia menanyakan tato nonpermanen miliknya yang berbentuk dua hati di leher. Apakah ini cocok untukku? Ia bertanya dengan wajah berseri-seri. Mina membalas dengan pujian bahwa seperti biasa, ia selalu cantik. Kemudian, Hana membalas pujiannya dengan mengatakan Mina pun sangat cantik. Perempuan berusia dua puluhan itupun melenggang dengan bersenandung ke depan pintu sambil membawa kotak besar berisi makanan yang akan dibagikan.
Perihal ia yang tidak pernah menyebut Mina dengan sebutan kakak, Hana sendiri tidak tahu apa-apa tentang Mina, dan siapa Mina sebenarnya. Ia menyangka, umur Mina tidak jauh dengannya, karena hanya menilai dari parasnya yang masih awet muda. Tanpa ia ketahui, bahwa Mina selalu mengkonsumsi obat dan perawatan anti-penuaan. Dan perempuan berhelaian hitam panjang itu sebelas tahun lebih tua darinya. Namun, Mina sendiri memilih untuk tidak peduli dengan bagaimana orang lain memanggilnya. Ia sudah terbiasabahkan dengan umpatan seperti dulu. Kata Si Berengsek, Si Cantik yang Tidak Waras, misalnya. Ia tidak akrab dengan perihal sopan santun dalam cara memanggilnya.
Mina telah selesai melayani satu pengunjung ketika pandangannya teralihkan pada lampu dekorasi berbentuk bunga di rak pajangan belum dihidupkan. Ia beranjak dari rak Pastry, mendekati lampu itu. Selesai menghidupkannya, ia melihat Hana dengan seorang lelaki berpenutup wajah yang membuat Hana kumat.
"Ini untukmu, Tuan." Hana memberikan Eclair pada lelaki itu. Ia hanya mengucapkan terima kasih dan hendak beranjak. Namun, tangan seseorang menahannya. Tangan halus milik Hana.
"Tu-tuan, bagaimana, umm..." Hana menjadi kikuk dan memainkan jarinya, kemudian menyambung, "Penampilanku hari ini?" Ia bertanya dengan menatap laki-laki itu dengan malu-malu.
Ditanya dengan pertanyaan mengejutkan itu membuatnya bingung menentukan sikap. Namun, akhirnya ia menjawab juga. "Ya, kau cantik. Tapi, lain kali pakaianmu tidak terlalu terbuka." Dengan guratan merah tipis di bawah matanya yang tidak tertutup masker, kemudian cepat beranjak pergi mencari meja yang kosong.
Hana yang mendengar jawaban itu menahan napas. Kedua tangannya menyentuh wajahnya yang memanas. Beralih ke bagian tubuh sebelah kirinya yang berdetak lebih keras.
"Apa ini? Bagaimana ini?! A-ku, jantungku..." ia menahan napas, merasakan degup jantungnya yang semakin kencang, "Berdebar sangat kencang!"
Bahkan perasaannya yang tidak karuan membuat bahasanya ikut tidak karuan. Ia menahan suaranya agar tidak terlalu nyaring. Menunduk ke bawah, ia baru mengerti maksud dari lelaki itu bahwa pakaiannya lain kali tidak terlalu terbuka. Sebagian bagian depan tubuhnya yang menonjol terlihat dengan pakaian berbelahan rendah yang dikenakannya. Menyadari itu, membuat wajahnya semakin memerah. Besok-besok ia akan mengaturnya lagi agar tidak terlalu memperlihatkan "aset" nya.
Mina yang sedari tadi memperhatikan peristiwa di depannya hanya tersenyum tipis. Anak muda zaman sekarang, gumamnya dalam hati dengan menggeleng-gelengkan kepala heran. Kemudian, berjalan kembali ke tempat kerjanya.
***
Sebelum ia pulang, Claire memberitahunya lewat telepon bahwa ia akan pulang larut malam karena menyelesaikan tugas kelompok di rumah temannya. Mina hanya mengiyakan dan berpesan agar hati-hati sepulangnya nanti. Artinya, tidak ada yang menyambutnya di depan pintu kali ini. Bahunya yang terasa pegal ia pijit seadanya, ketika telah mencapai gagang pintu tempat tinggalnya. Di tangannya yang lain memegang botol obat baru yang ia pinta dari Susan di bar lantai bawah.
Ia menyadari ada sesuatu yang menghalangi langkahnya ketika hendak melangkah ke dalam. Sebuah buket bunga. Mina mengernyit, berjongkok memungutnya. Berdiri memandang sekitar, berharap ia menemukan siapa yang mengirimkan buket itu. Sebelas bunga mawar ungu, dengan setangkai mawar merah di tengahnya. Dirasa nihil, ia masuk ke dalam dan mengunci pintu.
Bersandar, ia mengamati lamat-lamat bunga itu. Diciumnya, hingga indera nasalnya penuh dengan wangi mawar yang begitu disenanginya.
Sebelas mawar ungu, dan setangkai mawar merah. Ia bergumam pelan, sembari mengingat-ingat apa makna dari sebuket bunga itu. Dulu, ketika ia masih sekolah menengah, ia membantu ibu asuhnya di toko bunga, sehingga sedikit banyak ia mengerti apa makna dari bunga-bunga itu.
Ia melihat kartu ucapan yang menyembul di pinggiran buket. Dibukanya, dan mendapatkan tulisan. "For My Scythellica".
Melihat kata-kata itu, membuat tenaganya seakan meluruh. Tubuhnya benar-benar melemas. Ia jatuh terduduk, dengan kaki tersimpuh. Pandangnya kosong menatap kartu pesan itu. Scythellica. Panggilan itu. Sebutan untuknya dari lelaki misterius itu. Setelah dua belas tahun berlalu, ia kembali mendapatkannya.
Sekumpul air mata mulai menggenangi pelupuk kedua netranya. Ia menutup mulutnya, dengan pikiran dan perasaan yang teraduk. Mawar ungu yang melambangkan pengagum rahasia, jumlahnya yang sebelas melambangkan cinta seumur hidup. Setangkai mawar merah, yang melambangkan cinta yang nyata hanya untuk dirinya seorang. Ia berhasil menerjemahkan makna buket bunga itu. Ia terisak, dengan memukul-mukul tubuhnya yang mulai sesak.
"Ka-kau...." Bibirnya mulai bergetar, tetapi ia tetap melanjutkan kata-katanya. "Masih hidup?!"
Air mata ini benar-benar menjengkelkan, umpatnya dalam hati. Baginya, dengan make up yang sudah meluntur, dan wajahnya yang banjir air mata pastinya terlihat sangat jelek. Dan ia membencinya. Belum lagi isakan-isakannya yang sungguh memalukan seperti seorang remaja yang baru merasakan diaduknya perasaan, tetapi tetap saja. Ia tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Berpura-pura tegar dengan rindu yang lebih dari satu dekade sungguh melelahkan. Namun, karena itu. Bertahun-tahun ia dalam sangkaan dan keraguan akan keberadaan lelaki itu, akhirnya ia menemukan jawabannya.
"Ada di-mana, seka-rang?" Ia tertunduk, berulang kali mengusap wajahnya. Namun, air mata itu tak kunjung surut. Ia hanya bisa pasrah, kemudian. Membiarkan isakannya tak kunjung reda, napasnya yang sesak dan wajahnya yang basah. Ia tidak menyadari bahwa pintu telah terbuka, menampakkan Claire yang muncul dari sana. Melihat kakaknya yang tidak karuan, ia tergesa menghampirinya.
"Mina!" Ia mendapati perempuan di depannya benar-benar berantakan. Dipeluknya sang kakak dengan penuh iba dan rasa bersalah. Ia tidak tahu apa penyebab perempuan itu menangis sesedih itu.
"Mina sedih karena aku pulang lama, ya? Maafkan aku, ya." Mina melepas pelukannya, mengusap wajahnya kemudian.
"Ahahaha, tidak, Sayang." Ia memaksa tawa hambar agar Claire tidak terlalu khawatir.
"Sudah selesai tugas kelompoknya?" sambungnya dengan pertanyaan.
"Sudah, Mina." Claire menjawab sembari menyeka air mata kakaknya yang tersisa.
"Mau makan malam?"
"Tidak, aku masih kenyang. Ibunya temanku menyediakan banyak sekali makanan."
Mina mengangguk-angguk, mencoba tersenyum.
"Baiklah. Langsung tidur, ya. Gosok gigi dan cuci kakimu, dulu."
Ia menyuruh sang adik dengan lembut. Claire hanya mengangguk dan bangkit menuju kamar mandi.
Mina kembali sendiri. Diliriknya buket bunga yang terkulai di sampingnya. Ia membuang napas, bersyukur Claire tidak memperhatikan hal itu. Jika tidak, akan sulit menjelaskannya dengan panjang lebar.
Perlahan bangkit, ia tinggalkan buket bunga itu di atas meja, sedang ia sendiri ke dapur, mencari vas untuk menaruh bunga itu.