Morning 9: Recap, Roger!

1223 Kata
"Bagaimana seminggu kalian?" Roger bertanya sebelum mengisap cerutu dalam-dalam, mengembuskannya menghadap ke bawah. Melihat satu persatu rekan-rekannya—Verrena yang hanya memakai kaus hitam polos dan celana jeans biru muda, Elvyn yang mengikat rambut seperti ekor kuda, dan Claude yang masih belum berganti dari pakaian lifeguard. "Yah, banyak barang bagus yang bisa kucuri di sini!" seru Claude sembari merebahkan tubuh di atas sofa, bersama Coco yang duduk di perut Claude mengupas kulit pisang, memakan isinya dengan rakus. "Benar-benar gila mencuri." Verrena menggelengkan kepala karena keheranan atas sikap Claude yang mencuri seenaknya. "Aku sedang serius. Apa yang sudah kalian dapatkan di sini?" Punggung Roger menghindari sandaran sofa, menganyam kedua tangan yang bertumpu di paha, sedang cerutunya dibiarkan diapit di bibir. "Seorang wanita dan rekannya yang cukup aneh. Wanita menodongkan sabit besar dalam bar dan pembiaran oleh yang lain. Apakah pemakaian senjata di tempat umum dibebaskan di sini?" "Yah, anggapannya Distrik Craven adalah distrik koboi. Semua orang bebas menodong senjata, polisi tak terlalu berguna. Mereka lebih suka minum-minum daripada menangkap penjahat," jawab Elvyn dengan tak mengalihkan pandang dari foto-foto yang ia cetak, belum disortir dari tanggal yang berbeda. "Jadi begitu." Verrena sudah tak heran lagi. "Wanita itu memiliki iris mata merah. Apakah dia seorang manusia buatan atau hasil eksperimen, aku belum menemukan kebenarannya." Verrena mengernyit ketika mencoba mengingat-ingat lagi apa keunikan dari perempuan yang ia maksud, selain iris berwarna merah miliknya. "Dulu banyak organisasi kejahatan di sini, sebelum mereka musnah karena perang saudara dan perebutan wilayah. Sepertinya hanya Dark Shadow organisasi besar yang bertahan." Elvyn kembali menjawab, berpaling pada Roger, mungkin saja ada suatu fakta yang terlewat dan hanya dia yang tahu. "Mungkinkah mereka membuat tempat percobaan sendiri seperti yang Dark Shadow lakukan?" Verrena bertanya lagi, dengan kecurigaan dan prediksi memenuhi kepala. "Tepat sekali. Tujuan mereka membangun organisasi pun bermacam-macam. Dendam, perebutan kekuasaan, kudeta kepada para pejabat pemerintahan. Semacam itu. Hanya Dark Shadow yang tujuannya untuk jual beli senjata." Elvyn bersedekap, membuang napas berat. Membicarakan Dark Shadow, artinya membuka luka lama bagaimana suaminya tewas di tangan pembunuh yang difasilitasi organisasi kejahatan itu. "Profitnya mungkin tidak main-main. Bisa saja merekalah yang mengadu domba antar saudara, bahkan sampai skala antar negara agar persenjataan mereka laku di pasar. Terutama pasar gelap," tambah Elvyn. "Kita ini detektif, hei! Kapan kita berhenti berspekulasi?!” Claude bangkit dari rebahan dan berseru. "Mencuri informasi lebih penting daripada mencuri barang-barang yang tak berguna,” sahut Verrena dengan nada mengejek. "Enak saja! Satu berlian sekecil otakmu saja harganya ratusan juta dolar, tahu!" Claude kembali berseru, menunjuk-nunjuk Verrena dengan emosi. "Oh, sudah kau putuskan peluru mana yang kau pilih untuk aksesoris dalam kepalamu?!" "Bisakah kalian berdua berhenti bertengkar?" Mendengar suara Roger yang sedikit menggeram membuat Verrena dan Claude terdiam. Meski begitu, mereka berdua masih bertatap tajam dengan sengit. Claude mendecih, berpaling pada Coco yang tertidur di atas kepala sofa. Verrena masih menatap tajam pada Claude sebelum beralih pada Roger yang bicara. "Verrena, apakah kau bisa lebih dekat dengan perempuan itu?" Roger bertanya setelah berdeham. "Terdengar sulit, tetapi aku harus tetap mencoba. Dia seseorang yang tertutup." Verrena mengingat-ingat bagaimana Mina yang hanya terlihat lunak pada Claire, sisanya dia terlihat tak ramah dan tak segan mengumpati peminum di sana. "Apakah kau pernah melihat bentuk sabit besar yang ia pakai sebelumnya?" "Belum pernah. Sabit itu cukup unik karena memiliki pendar violet dari kristal di pangkalnya." Kali ini Verrena menjawab pertanyaan Elvyn yang penasaran dengan bentuk sabit milik Mina. "Sabit berornamen kuno?" tebak Elvyn. "Kupikir bukan. Lebih ke sabit dengan permintaan khusus, dibuat di pandai besi yang memadukan senjata dengan permata mahal." "Kalau begitu, kau harus mendapatkan foto dari sabit itu," perintah Roger dengan pandangan mengawasi orang-orang di sekitar, mencari kesungguhan di antara mimik wajah rekan-rekannya. "Apakah tidak berbahaya bila ia sendiri yang mengambil gambar?" Elvyn menanyakan—ia mengkhawatirkan apabila ada kecurigaan setelah tindakan Verrena selanjutnya. "Aku akan membuat sketsanya, tenang saja.” Verrena menyahut, seakan dalam perkataannya tersirat serahkan saja padaku. "Carilah info ahli pembuat alat tempur, Elvyn di mana tempatnya?" Roger kembali memerintah. Elvyn yang mencari sesuatu di tabletnya memperbesar tampilan leretan bangunan tua yang di belakangnya hutan rimbun, kemudian menyahut, 30 km dari tempat ini, pinggir timur laut. "Hampir masuk dalam hutan. Kau akan menemukan banyak gubuk tua. Bangunan tak layak tinggal hanya kamuflase. Mereka bekerja di bawah tanah." "Jadi begitu." Claude mengangguk-anggukkan kepala, bibirnya mencebik. "Senjata yang mereka buat tak kalah bagus dari yang dijual Dark Shadow, juga lebih tahan lama. Meski sedikit lebih mahal," tambah Elvyn. "Membeli di Dark Shadow lebih murah?" Claude bertanya dengan sedikit mendongak pada Elvyn. "Sebenarnya iya, tetapi mereka yang membeli di Dark Shadow adalah orang-orang yang berniat mark-up harga. Kualitas standar diberi cap yang terbaik, nota penjualan pun berbeda,” timpal Verrena. "Kau tahu dari mana hal ini?" "Mendengarkan orang mabuk meracau. "Dan kau mempercayai omongan orang mabuk? Kau sudah gila?!” Sekonyong-konyong Claude bangkit dengan melotot pada Verrena. "Dia menelepon seseorang. Kartu pegawainya tergeletak di meja. Dia orang pengadaan persenjataan dan keamanan perusahaan security swasta di Distrik Vasco. "Hebat juga kau, baru seminggu sudah mendapatkan informasi sebesar ini." Verrena hanya tersenyum miring, setidaknya progressnya di sini cukup baik. "Berarti semakin cepat benda itu rusak, semakin senang mereka. Semua demi keuntungan." "Benar-benar manusia sialan," umpat Verrena dengan raut wajah penuh kekesalan. Begitupun Roger, meski di muka terlihat tenang, dari bagaimana ia mencampakkan cerutu dalam asbak, dalam hati ia teramat kesal. "Kalau dari mereka penyebab machine gun ku rusak ketika aku dua kali memakainya, aku tak akan memaafkan mereka." Kemudian hening, tak ada di antara mereka yang hendak membuka percakapan. Hanya terdengar Elvyn yang mendesis, mengurut dahi ketika ia mengamati foto kapal-kapal kargo berlabuh di dermaga Marina, pinggir pantai Pulau Madelaine yang dicurigai milik Dark Shadow, diambil ketika ia menyamar sebagai turis. "Aku sampai tidak yakin dengan mataku sendiri. Sekilas, ini hanyalah kapal kargo biasa yang mengangkut tiang pembangunan jalan layang." Roger mengambil sebuah foto yang menampakkan beberapa kapal sandar dengan muatannya tiang-tiang besar berbentuk silinder abu-abu. Terlihat ada beberapa orang memakai baju kontraktor biasa dan Crane yang membantu menurunkan tiang ke truk besar. "Daerah mana yang sedang melakukan pembangunan jalan? Selidiki CCTV ke mana truk-truk itu mengangkutnya. Cari keanehan di setiap tiang pancang itu, mungkin di sana ada sesuatu yang diselundupkan." "Aku tidak pernah berpikir sampai ke situ, sial!" “Tentu karena otakmu tak lebih pintar dari otak monyetmu! ejek Verrena. "Verrena, jangan memancing." Claude hampir saja hendak melayangkan tinju andai Roger tak mencegah dengan kata-kata itu. Verrena tersenyum miring, menahan tawa karena Claude gagal menghajarnya. "Baiklah, di antara kalian sudah jelas apa yang akan kalian laporkan. Kumpulkan dalam 3 hari ini." "Dan kau?! Apa tugasmu?!" Claude menunjuk Roger yang hendak bangkit meninggalkan mereka. "Aku akan ada pertemuan dengan orang-orang di Valentino. Aku membantu mereka melakukan negosiasi dengan kepala kearsipan kepolisian agar mau membagi berkas kasus seorang anak yang hilang dan mayat anak-anak ditemukan." Apa hubungannya dengan kasus yang kita selidiki?" "Di tempat anak itu terakhir kali terlihat ada jejak kaki dengan serpihan konsentrat kelabu. Hal itu hanya ada di tiang pancang." Roger memberikan penjelasan sebelum menutup pintu. "Oh, ceroboh sekali." "Kuharap ada titik terang setelah kita menyelidiki ini," timpal Elvyn, mematikan layar tabletnya dan merebahkan diri di sandaran sofa. "Kuharap begitu." Verrena bangkit terlebih dulu, mengambil buku sketsa dan pensil di atas meja. Dari jendela kecil yang berada hampir menyentuh plafon bangunan, langit sudah menampilkan bias jingganya. Ia harus pulang ke apartemen sewaan untuk bersiap-siap pergi bekerja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN