Midnight 5: Warning

1826 Kata
Akhir-akhir ini ia terlalu sering menangis. Sialnya, ia tidak meminta tubuhnya bereaksi separah itu terhadap kenyataan yang dihadapi—mengenai lelaki itu. Akibatnya, pagi ini ia dapati kantung matanya menghitam dan sebuah kerutan halus di pangkal hidungnya. Ia mematung beberapa saat, menghadapi keadaannya sekarang. Ini gila. Meski bukan minggunya untuk menjadi seorang Idol, ia harus selalu cantik. Kapanpun. Bagaimana bisa hal yang menakutkan ini terjadi? Ia menyumpah-nyumpah dalam hati, sambil mendekatkan peralatan make upnya. Kali ini, ia menghabiskan jam-jam yang lebih lama dari biasa ia berdandan. Terakhir, ia mengencangkan ikatan kuncir rambutnya. Selesai. Berbeda dari biasa, setelah ia merasa benar-benar yakin dengan dandanannya, ia akan segera mengambil tas dan berangkat ke tempat kerja. Kali ini berbeda. Ia masih duduk mematung, merenung. "Sebenarnya, kecantikan yang sesungguhnya itu seperti apa?" Pelan ia bergumam pada dirinya sendiri. Selama ini, ia menghabiskan banyak uang hanya untuk perawatan wajah, tubuh agar ia selalu cantik. Sudah berbotol-botol pil anti-penuaan dan krim anti-kerutan ia habiskan. Belum lagi program diet yang ia lakukan. Bahkan, ia rela tidak makan dan hanya minum air putih karena takut berat badannya naik barang se-ons. Namun, ia merasa usahanya untuk tetap cantik masih kurang. Belum lagi ketika ia melihat perempuan yang lebih muda dengan wajahnya yang masih segar dan mulus, ia semakin mengkerdilkan dirinya dan berharap menghilang dari sana karena terlalu malu. Lalu, bagaimana dengan lelaki itu? Apakah lelaki itu menyukai perempuan yang cantiknya seperti dia? Ataukah dia sering berkencan dengan perempuan-perempuan yang lebih cantik darinya? Lalu, apa maksudnya mengirim buket bunga itu? Ia akan membenci lelaki itu bila niatnya mengirimi buket bunga hanya untuk mempermainkannya. Mengiriminya buket bunga dengan makna penuh cinta, tetapi bercinta dengan perempuan lain. Ia tidak akan menyukai itu. "Astaga, apa yang kupikirkan," tanyanya dalam hati. Ia bergegas mengambil tas tangan, keluar dari kamar untuk segera ke cafe tempatnya bekerja. *** “Ya, silakan berikutnya.” Seorang perempuan dengan topi baret dan blazer cokelat muda maju ke depan. Mina mengernyitkan mata sesaat karena ia pikir orang di depannya ini cukup familiar. Ia menunduk membolak-balik buku menu yang ditempatkan di depan kasir. Mina dengan sabar menunggu perempuan ini mengucapkan pesanannya sembari memantau pengunjung yang datang membuka pintu. “Americano saja, 2 shot. Tanpa es, less sugar.” Ketika ia mendongak, ia melihat Mina di depan kasir yang tak asing baginya. Ia hanya tersenyum, membiarkan Mina sendiri menebak siapa dia. “Ah, Verrena?!” Kini Mina ingat sekarang. Rambut burgundinya yang disimpan di dalam topi lah yang membuat ia kesulitan mengidentifikasinya. “Ya. Kau ditempatkan di sini sekarang?” “Begitulah,” jawab Mina sumringah. Ia memberikan struk pembayaran pada Verrena yang mengeluarkan lembaran uang untuk kopi yang ia pesan. “Mau berbincang sebentar?” *** “Sudah sejak lama tinggal di sini?” tanya Verrena setelah menyesap kopi hitamnya. Tidak buruk, ini racikan yang pas, nilainya dalam hati. “Ya, dulunya aku tinggal di Distrik Hassel.” Ia menjawab dengan tak memberikan penjelasan lain. “Begitu.” Verrena mengangguk, tersenyum kecil. “Kau sudah tidak mau bekerja di bar?” “Bukan begitu, bar dan cafe ini dimiliki oleh orang yang sama. Karena cafe semakin ramai, aku diputuskan untuk bekerja di sini.” Verrena mengangguk paham dengan penjelasan Mina. “Apakah bekerja di sini harus memakai kostum seperti ini?” tanya Verrena lagi. “Benar. Fall Cafe terkenal karena konsepnya yang memakai pakaian unik dan manis.” “Kau cantik dengan kostummu seperti ini,” puji Verrena—kali ini adalah pujian yang tulus karena Mina benar-benar cantik dengan kostum dan makeupnya yang on point. “Terima kasih, kau juga cantik,” balas Mina. “Apakah kita seumuran? Kau terlihat masih sangat muda.” Pertanyaan jebakan. Mina tersenyum ia sedikit curiga karena hanya dia sering ditanya. Apakah dia berniat menyelidiki? “Bisa jadi.” “Umurku 25 tahun,” ungkap Verrena. “Benarkah? Ya, kau memang masih sangat muda.” “Jadi, kau lebih tua dariku?” “Aku sudah 32 tahun,” jawab Mina malu-malu. Kedua mata Verrena membulat, takjub dengan jawaban yang diberikan Mina. “Kau sangat cantik.” “Janganlah memujiku berlebihan.” Mina tertawa dengan menutup mulutnya. Verrena tertawa kecil, beralih pada sabitnya yang disandarkan di dinding. “Mina!” Panggilan seorang anak yang baru masuk cafe membuat mereka berdua berpaling, ada Claire dengan tas sekolahnya yang ditenteng. Ia berlari kecil menghampiri Mina, dengan wajah antusias melihat Verrena yang juga ada di sana. “Ada Kak Verrena Juga?!” Claire melompat kecil kegirangan, Mina terheran dengan ekspresinya kali ini. “Kau terlihat senang. Ada apa?” “Mina, aku mendapatkan nilai 100 di latihan matematikaku!” Claire berseru, raut wajahnya penuh kebahagiaan. “Wah, bolehkah aku melihatnya?” tanya Mina tak kalah antusias. Claire mengangguk-angguk, membongkar tasnya yang penuh dengan buku dan mengeluarkan buku yang bersampul merah muda. “Lihat! Lihat ini, Mina!” Claire menunjukkan halaman di bukunya yang bertulisan nilai 100 di halaman buku paling atas. “Wah, Claire sangat hebat!” Mina bertepuk tangan dengan Claire yang kegirangan. Verrena sebagai pengamat hanya tersenyum, ia menjadi teringat Harley yang tidak pernah mendapatkan nilai rendah dalam mata pelajaran matematika dan akuntansi di sekolah. Meski begitu tetap saja adiknya lebih memilih belajar melakukan sulap dan mengoleksi kartu remi. Sementara selesai dengan bukunya, Mina melihat ada lagi pengunjung yang datang. Ia permisi sebentar ke meja kasir, tinggal Verrena dan Claire di meja. “Kakak sudah lama di sini?” “Baru saja.” Claire menengok ke minuman Verrena yang berwarna hitam pekat, ia bertanya, “Kakak suka minum kopi?” “Iya, kakak suka,” jawab Verrena dengan menyangga dagunya di tangan di atas meja. “Kenapa kakak suka kopi hitam seperti itu? Itu pasti sangat pahit!” Verrena tertawa kecil karena pernyataan Claire yang lugu, ia menjawab, “Kakak tambahkan gula, kok!” Claire mengangguk-angguk, ia beralih pada sabit Mina yang tak jauh di tempatnya. Ia memegang sabit itu, mengayunkannya dengan gerakan kecil sambil tertawa kegirangan. Verrena yang teringat misinya, segera mengeluarkan buku dan pensil gambar, menaruhnya di atas meja. “Claire, bisakah kau berpose untukku? Aku akan menggambarmu.” “Benarkah?” Kedua mata Claire berbinar-binar. “Mau! Aku mau!” jawabnya dengan langsung mengambil pose berdiri. Verrena mengangguk dan mulai menggerakkan tangannya, mengikuti lekuk tubuh Claire dan sabit yang ia pegang. Ia pikir ia akan membuat salinan sabit itu versi yang asli nanti. Menggambar Claire yang berpose dengan sabit hanyalah sebuah kamuflase dari tujuan yang sebenarnya. *** Semenjak Mina tidak lagi ada di bar, pengunjung memang tidak terpengaruh, kecuali seorang lelaki yang kini sedang menunduk, kepala tersandar di counter. Mulutnya yang sedari tadi menenggak dua botol bir tidak berhenti meracau, mencari keberadaan Mina. Rambutnya yang dulu pirang hampir menyentuh bahu, kini dipotong pendek rapi dan dicat hitam. "Minaaaaa!" Ia berteriak, disertai bersendawa. Sedangkan bartender perempuan yang berambut keunguan pendek itu hanya memandangnya, antara kasihan dan lucu. "Kau di manaaaa?! Aku belum sempat memberikan pelukan perpisahaan!" Ia merengek seperti anak kecil yang menginginkan mainan. Kemudian, kembali menjatuhkan kepalanya ke counter, menggumamkan nama Mina berkali-kali. Verrena yang menyaksikan kejadian itu hanya menggelengkan kepala keheranan. Ia tak mau ikut campur urusan antara mereka kali ini, hanya fokus kepada seorang pengunjung yang minta ditambahkan sebotol anggur. "Tuan, anda baik-baik saja?" Perempuan berambut keunguan itu—Susan, menanyakan keadaannya. Si lelaki tidak menjawab, melainkan kembali membangunkan diri dan mengamati perempuan di depannya dengan mata menyipit. "Mina? Apakah kau Mina?" Ia bertanya-tanya dengan mata masih menyipit. "Kau mau pelukan?" tawar Susan dengan ramah, memandang lelaki di depannya. Lelaki itu hanya mengangguk-angguk dengan ekspresi penuh manja. Susan keluar dari balik meja, mendekatinya di kursi pengunjung. Merentangkan tangan, menyambut lelaki mabuk itu untuk memeluknya. Cepat si lelaki selayak menerjang Susan, mencium-cium helaian rambutnya di kepala belakang. "Baumu enak, mmm..." Tidak lama, ia merasa puas dengan mencium rambutnya. Beralih mendekati leher, ia menasali campuran parfum bunga dan feromon dari keringatnya. "Ya, ya, sangat enak, um." Sedang tangannya bermain menyusur ke bawah tubuh perempuan yang dipeluknya hingga ke pinggang bawah. Susan memang merasa sedikit tidak nyaman, tetapi ia membiarkan sentuhan yang diberikan lelaki itu padanya. "Sudah kuduga kau ada di sini. Hei! Kau mau kena sanksi disiplin lagi?!" Datang lelaki yang masih berseragam lengkap kepolisian distrik Craven mencoba melepas paksa pelukan lelaki di depannya. "Sebentar lagi, Baji. Aku suka baunya, hmmm." Lelaki yang masih di pelukan Susan itu hanya bergeming. "Dasar Bodoh! Aku tidak mengerti mengapa kau masih menjadi polisi bila kelakuanmu terus seperti ini!" Baji menguatkan paksaannya hingga pelukan keduanya terlepas. Susan hanya tersenyum menanggapi sikap Baji. "Hei! Aku belum selesai!" Lelaki itu berteriak di depan Baji. Maka, semakin murkalah temannya itu. "Hentikan, Yordan! Kau harus kembali ke kantor untuk ditahan karena kau melakukan pelecehan pada perempuan ini!" Baji hendak mengeluarkan borgol yang bergantung di celananya ketika Susan menahannya. "Aku tidak apa-apa. Tidak perlu menahannya. Aku memaafkannya." Susan berujar dengan kembali tersenyum. Mendengar hal itu, Baji membuang napas panjang, kemudian membopong Yordan yang berdiri terhunyung. "Atas nama kepolisian Distrik Craven, terima kasih karena telah memaafkannya. Permisi." Baji dengan susah payah membopong Yordan ke luar bar. Susan kembali tersenyum dan membuang napas. Sudah lama ia tidak merasakan hangatnya pelukan lelaki seperti tadi. Kemudian, ia teringat dengan mendiang suaminya, Marvin yang meninggal karena melindunginya dari polisi yang mengepungnya. Ia masih merasakan amarah dan dendam pada kepolisian, sebenarnya. Namun, ia tidak melakukan apa-apa dengan polisi tadi, malah memberikan kebaikannya. Baginya, dua polisi tadi hanyalah polisi baru yang masih muda dan tidak tahu apa-apa tentang tragedi yang menghancurkan organisasi Abbys Ground dan membunuh pemimpin organisasi itu yang merupakan suaminya sendiri. Tidak perlu melampiaskan dendamnya pada mereka berdua, pikirnya. Tidak mau berdiri terlalu lama di sana, ia kembali ke belakang meja. Melayani beberapa pengunjung yang baru datang. Lain lagi di sofa panjang yang menghadap meja bartender, berjarak beberapa meter darinya. Seorang lelaki berambut kelabu memainkan ponsel, mengetikkan sebuah nama di pencarian kontak. Kemudian menekan tombol dial, menunggu dari seberang mengangkatnya. "Selamat malam, Tuan Rome." Suara perempuan terdengar olehnya. "Bagaimana keadaan wanitaku?" Ia bertanya dengan pandangan tak lepas dari seseorang yang duduk tak jauh darinya. Menunduk, kemudian mengangguk-angguk dengan gerakan aneh. Matanya menatap tajam ketika melihat pergerakan tidak biasa itu. "Dia baik, Tuan. Dia sudah keluar," jelas perempuan itu. "Tidak ada yang menyentuh wanitaku, kan?" Karena tadi ia melihat bagaimana Susan dipeluk orang yang tidak dikenalnya, ia memikirkan jangan sampai wanitanya juga disentuh seperti itu. "Tidak ada, Tuan." Ia bisa bernapas lega kali ini. Namun, ia sedikit lengah. Seseorang yang diawasinya itu menghilang dari hadapannya. Ia berusaha tetap tenang, kemudian menyambung ke telepon. "Mallaga bergerak. Sepertinya ia telah merencanakan sesuatu. Tetap waspada." Ia memerintahkan seseorang di seberang. "Baik, Tuan." Panggilan terputus. Ia menyimpan ponselnya, kemudian beranjak menuju luar bar. "Jangan sampai terjadi sesuatu pada Scythellicaku." Ia bergumam pelan, mengawasi sekitar. Orang yang ia awasi menghilang dari pandangnya. Setitik air yang memberi rasa dingin di kepala mengejutkannya, kemudian disusul butiran air tak terhingga dari langit. Hujan lebat datang mendadak, membuat jarak awas memendek dan mengacaukan pikirannya. Tak lama, samar ia mendengar teriakan dari lantai dua bar. Disusul bunyi kaca pecah di bagian kiri. Napasnya tertahan. "Claire!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN