Hujan yang tiba-tiba mengguyur membuat Mina gusar. Berulang kali ia mengumpat, menatap tajam pada langit hitam yang seakan mengejeknya. Bagaimana tidak, ia sudah tertinggal bus terakhir yang biasa melewati halte yang disinggahinya. Begitu pula dengan taksi, hanya berlalu-lalang cepat tanpa mau berhenti. Ditambah ia lupa membawa jaket ataupun payung. Lengkaplah sudah penderitaan. Kalau saja tadi pulang lebih awal dan tidak pergi berbelanja bahan makanan, sesalnya.
Melihat ke belakang halte, ia mengingat bahwa di sana—di jalan belakang terdapat sebuah bar kecil. Maka, dengan menutupi kepala dengan telapak tangan, ia berlari menembus hujan, mengunjungi bar itu. Sekadar menghangatkan diri dengan segelas bir.
Ia masuk ke dalam bar dengan fokus ke meja bartender, memesan minuman, membawanya ke meja dekat dinding berjendela dan agak jauh dari keramaian. Ia hanya ingin meminum birnya dengan tenang, sambil menunggu hujan berhenti agar ia bisa pulang.
"Hei, lihat dia. Itu Si Splendid, kan?" Samar ia mendengar seseorang dari meja yang tak jauh darinya, menyinggungnya.
"Wah, hebat juga kau masih mengingat dia!" Dengan ekor matanya, Mina melirik siapa saja di meja itu yang membicarakannya.
"Bagaimana aku bisa lupa dengannya, Si Pembunuh Cantik itu?" Tiga orang. Mina menyiapkan telinganya untuk menguping, apa saja yang digosipkan orang-orang itu.
"Sepuluh tahun menurutku hukuman yang sungguh tidak masuk akal. Bung, dia sudah membunuh banyak orang!" Mina membuang napas panjang, dengan genggaman tangannya mengerat pada sabitnya.
"Aku tidak mengerti dengan hukum, tapi dengan hanya hukuman kurungan, itu sangat mencurigakan." Matanya menyipit, sejak dulu iapun tidak mengerti mengapa hukumannya tidak seberat yang dikira.
"Pasti ada seseorang yang membuat hukumannya seringan itu." Mina memilih untuk mengalihkan pandangan ke luar jendela, menampakkan hujan yang tak kunjung reda.
"Apa mungkin sugar daddy nya?" Mendengar fitnah keji itu membuat kedua matanya terbelalak.
"Hei, bagaimana bisa?!" Ia mencoba membuang napas, menahan emosi yang sudah mencapai ubun-ubun.
"Bisa saja, kan? Menurutku, Bung, ada seseorang yang menyuap hakim dan jaksa untuk meringankan hukumannya! Harusnya dia sudah kena hukuman mati!" Mina sudah tidak tahan lagi.
"Dia pasti telah menjual dirinya dengan laki-laki itu, hahahahaha!" Embusan napasnya kini telah menjadi dengkusan.
"Coba tebak. Pasti sehabis keluar penjara, dia membayarnya dengan apa?!" Mereka tidak menyadari bahwa Mina sudah dalam amarah yang menguasai seluruh tubuhnya.
"Apa?! Apa, bung?!" Sabitnya terangkat di atas kepala salah satu dari mereka.
"Tentu saja bagian "bawah" nya! Pasti sekarang lebarnya seperti lubang kloset! hahahahahaha!"
Mati!
"Argh! Apa-apaan ini?!" Ketika meraba lehernya, tiba-tiba ia mendapati tangannya berlumur darah. Luka bakar cukup besar, menganga, meneteskan cairan merah dengan perih yang sangat.
"Hei! Siapa yang-"
"Diammu lebih berguna, otak keledai. Setidaknya udara tidak penuh dengan omongan busukmu."
Mina mematung. Sabitnya yang mengeluarkan aura keunguan terhenti. Ia menarik kembali sabitnya, tidak menyangka ada seseorang yang membuatnya mengurungkan niat untuk membalas perbuatan para lelaki bermulut kotor itu.
Ia mendapati seseorang yang dulu tak asing baginya. Perempuan dengan rambut pendek yang dicat hijau tua. Menghentakkan kaki kanannya ke kursi yang diduduki lelaki itu, tepat di bagian depan pangkal paha. Tangan kanannya ia tumpukan pada pahanya, sedangkan jemarinya menarik janggut si lelaki.
"Kali ini kau kuampuni. Bicara seperti itu lagi untuk temanku, mayatmu akan mengambang di sungai dan headline koran sore."
Nada bicara yang santai, tetapi membuat lelaki itu gemetar tak berkutik. Bahkan, celana bagian tengahnya mulai basah. Cepat perempuan itu menarik bootsnya, kemudian tanpa ragu mengelapkannya pada pakaian lelaki itu.
"Di sini terlalu banyak sampah. Untuk Mina yang memulai kehidupan waras, seharusnya tidak berada di sini."
Perempuan itu pergi ke luar bar. Mina mengambil sabitnya dan meninggalkan uang tip, pergi menyusulnya.
"Natalia! Tunggu!" Mina mendekati Natalia yang menghentikan langkahnya.
"Terima kasih atas pembelaanmu."
"Tentu. Untuk temanku. Kau tidak perlu mengotori sabitmu dengan darah busuk mereka." Natalia tersenyum tipis.
"Sampai jumpa di lain kesempatan," ucapnya sembari melambaikan tangan dari belakang. Pikirnya, ia salah telah menilai bahwa selain tiga orang dari Abbys ground yang berada di sekitarnya—Natalia tidaklah buruk. Ia akan membalas kebaikan temannya itu, bila suatu hari bertemu dengannya. Minimal, meneraktirnya kopi di cafe sudut kota, pikirnya.
***
Sepanjang perjalanan, ia tapaki jalan basah yang tinggal gerimis turun. Karena perkataan kotor beberapa laki-laki itu, ia menjadi teringat masa sekolah menengahnya. Ia pernah beberapa kali berpacaran, tetapi semuanya tidak pernah bertahan lama. Alasannya, selain karena dirinya yang terlalu "Dingin", setiap diajak berhubungan badan, dengan banyak alasan ia selalu menolak. Kebenarannya—bagi dirinya, hal itu membuang-buang waktu dan menghambat kegiatannya di Abbys Ground. Ia akan kesulitan untuk latihan simulasi berkelahi—misalnya, bila tubuhnya lemas dan kesulitan bergerak karena selangkangannya masih perih akibat "berhubungan".
Selain itu, baginya hal itu sungguh menjijikkan. Bagaimana bisa orang-orang menyukainya, pikirnya. Lagipula, satu orang yang berpikiran sepertinya tidak akan membuat kelahiran manusia-manusia baru berkurang.
Hingga ia merasa sudah muak dengan semuanya, ia tidak lagi menerima permintaan berpacaran dari laki-laki manapun yang menyatakan cinta padanya. Ia terlalu lelah dengan mereka yang ujung-ujungnya hanya ingin tubuhnya saja. Sejak saat itu pula, ia diberi julukan "Si Perawan". Bahkan, ada yang menambahkan kata "Maria" di belakangnya hingga menjadi "si Perawan Maria". Kalau mendengar hal demikian, ia tidak segan-segan untuk menjambak atau menarik kerah baju orang yang mengatakannya dan mengucapkan, "Tidak pantas nama Maria yang suci dan agung kau gunakan untuk mengolok-olokku!"
Orang-orang pun bila hendak menambahkan kata "Maria" itu, harus dengan berbisik-bisik atau tidak mengatakannya sama sekali. Mereka menjadi segan, dan jadilah ia semakin dijauhi teman-temannya. Hal itu tentu membuatnya senang, karena setidaknya tidak akan ada yang mengganggu jadwal latihannya di Abbys Ground dengan ajakan hangout ke mall atau menonton ke bioskop.
Tidak terasa, langkahnya terhenti di depan pintu. Sekilas tidak ada yang membuatnya curiga, sampai tangannya menyentuh gagang pintu. Mengapa Claire lupa mengunci pintu, ia bergumam dalam hati. Pelan ia mendorong pintu, begitu gelap karena tidak ada lampu yang hidup. Hanya pantulan cahaya bulan sedikit mengintip jendela. Ia mengernyit, ini terlalu mencurigakan. Berjalan setapak, kakinya menyentuh sesuatu. Menunduk ke bawah, ia mendapati tangan seseorang. Dengan cairan merah menggenang. Ia terhenyak. Napasnya terhenti.
"Claire?!" Ia bersimpuh, mendapati rambut merah muda Claire telah dibasahi oleh darah. Bau amis mulai menguar, tercium olehnya.
"Claire!" Ia membalikkan badan gadis yang terkapar di depan matanya. Mendapati Claire yang wajahnya memucat dengan mata menutup. Pakaiannya sudah tidak diketahui lagi apa warnanya, semuanya sudah bercampur merah darah.
"Claire! Bangun, Sayang!" Tangannya yang gemetar, menarik tubuh Claire yang lemah ke pangkuannya. Bibirnya terasa getir, dengan air mata mulai memenuhi pelupuk.
"Claire! Jawab aku!" Ia menepuk-nepuk pipi Claire. Berharap gadis itu masih hidup, ia menempelkan tangan ke lehernya, mencari urat nadi yang masih berdenyut mengalirkan darah. Denyutan yang lemah. Tergagap ia mencari luka yang menganga, mendapatinya di bagian perut sebelah kiri. Dengan tangan kiri ia menutup luka, sedangkan tangan kanan merogoh tas yang tidak jauh darinya, mencari ponsel untuk menelepon nomor darurat.
"Mi-naa..." Kedua mata sewarna crimson itu membesar ketika mendengar suara lirih dari gadis di pelukannya. Air mata tak berhenti mengalir ketika auditorinya menangkap suara itu.
"Iya, Sayang. Jangan terlalu banyak bergerak, ya." Tangan kanannya agak licin ketika menekan layar di ponselnya karena dibasahi darah, hingga terlepas. Mina menggeleng penuh rasa kesal.
"Mi-naa, aku takut..." Di mata Claire mengalir sebutir air mata. Mina mengusapnya, kemudian berkata, "Ada aku di sini, Sayang. Tunggu sebentar, aku akan memanggil ambulans." Ia kembali mencoba menekan nomor-nomor di layar ponselnya. Namun, ia tidak menyangka bahwa suara sirine bersahut-sahutan dari lantai bawah. Tidak lama, derap kaki memenuhi tangga menuju kediamannya, hingga kedatangan beberapa petugas di depan pintu.
"Kami dari kepolisian Distrik Craven mendapatkan laporan seseorang terluka." Seorang lelaki berseragam polisi menunjukkan lencana kepolisian miliknya.
"Tim medis!" Mina berteriak sekencang yang ia bisa. Bibirnya semakin bergetar, dengan isak yang tak bisa ditahan. Orang-orang berseragam putih tergopoh-gopoh membawa tandu dari belakang, menunduk mengangkut Claire di atasnya. Mina mencoba berdiri, dipandu oleh polisi yang pertama kali mendekatinya. Napasnya tersengal-sengal. Pikirannya benar-benar kacau. Ia tidak lagi peduli bagaimana penampilannya sekarang, atau mencari tahu siapa yang menelepon polisi. Dalam pikirnya hanyalah doa agar Claire mampu bertahan. Ia tak ingin nasib Claire berakhir seperti orang tuanya yang tak mampu tertolong karena perampok yang menusuk mereka. Ia tak ingin kehilangan orang yang disayangi, untuk yang kesekian kalinya.