Bunyi detak jantung yang terkonversi di monitor yang berdiri samping kiri ranjang Claire seakan mengolok-oloknya. Namun, ia sama sekali tidak kesal dengan itu. Tepatnya, tidak terpengaruh. Pandangannya hanya kosong pada jari-jari gadis yang terbaring lemah di depannya. Barangkali ada tanda-tanda ia sudah sadar dari gerakan jemarinya.
Terlalu lelah, kadang kedua matanya dikedipkan. Tangannya menggenggam tangan Claire, membelainya lembut. Air mata yang menyertainya sepanjang perjalanan dari ambulans telah mengering, hanya tersisa tipis menyelaputi kedua bola mata.
Ia menyadari, bahwa akhir-akhir ini ia selalu mendapatkan ketidakberuntungan. Selalu ada yang membuat air matanya jatuh. Apakah itu karma dari kejahatannya dulu, iapun tidak mengerti. Menerima atau tidak, ia hanya bisa pasrah dan memilih diam.
Benar saja. Pengamatannya tidak sia-sia. Jari telunjuk Claire mulai bergerak, diikuti gerakan dibalik kelopak matanya. Mina tergagap, menguatkan genggamannya ke tangan Claire.
"Claire? Claire, kau mendengarku?" Tergagap-gagap ia bertanya. Perhatiannya terfokus pada kedua mata gadis di pembaringan di hadapannya yang mulai terbuka.
"Claire? Claire ini Mina, Sayang. Mina di sini." Sekuat mungkin ia menahan diri agar air matanya tidak lagi mengalir. Claire, dengan wajahnya yang sungguh pucat memandangnya dengan tatapan datar—hanya itu yang bisa dilakukannya.
"Mi-naa..." lirihnya, kemudian melanjutkan, "Mina bersamaku?"
"Iya, Sayang. Ini Mina. Aku di sampingmu." Ia meyakinkan Claire sekali lagi, dengan tatapan yang kembali berkaca-kaca.
"Mi-naa..." Hanya namanya yang disebut, kemudian cairan hangat mengalir dari sudut matanya.
"Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu, maafkan aku," pintanya dengan mengeratkan genggamannya pada Claire. Claire hanya menggeleng lemah.
"Apa kau mengingat siapa yang melakukan ini padamu, hm?" Mina bertanya dengan lembut, sambil menyingkirkan helaian rambut merah muda Claire ke belakang telinganya.
"Monster... badut," jelasnya dengan nada yang lemah. Mina terhenyak, mengambil napas, kemudian menutup matanya. Sepertinya, ia tahu siapa yang melakukannya.
"Apa tubuhnya berwarna ungu?" Mina kembali bertanya, menunggu kebenaran dari Claire. Ia hanya menjawab dengan anggukan lemah.
Tepat saja. Ia menarik napas panjang lagi. Amarah di dalam dirinya kembali bergolak. Iblis itu lagi, ia membatin.
"Mi-naa," panggil Claire dengan lemah. "Aku mau pulang," pintanya pada Mina dengan air mata yang semakin menganak sungai. Mina hanya mengangguk, sambil menyeka air matanya.
"Pasti, Claire. Kita akan pulang, asal kau rajin minum obat agar cepat sembuh, ya?"
Claire mengangguk lemah. Teralihkan perhatiannya, napasnya sesak ketika melihat bekas genggaman jemarinya masih memerah, tak kembali seperti kulit biasa setelah disentuh. Kemudian, bercak keunguan menjalar hingga wajahnya. Panik, ia menekan bel berulang kali.
"Dokter! Dokter!" Ia berteriak sekencang-kencangnya. Diiringi bunyi panjang dari monitor detak jantung, kekuatannya serasa terlolosi semua. Di wajah Claire telah penuh darah yang keluar dari hidung, mata, mulut dan telinganya. Darah hitam yang mulai tercium amis.
Tidak lama, dokter dan beberapa perawat yang mengekorinya sudah dalam ruangan. Mereka semua kaget memandang keadaan yang sangat asing bagi mereka.
Dengan sigap dokter menarik defibrilator dari bawah layar monitor dan mengoleskan alkohol, sedangkan perawat lain mengukur intensitasnya dan membuka baju Claire, membersihkan tubuh bagian atas.
"Dua ratus joule. Shock." Sang dokter menempelkan alat kejut jantung di tubuh Claire. Ia terguncang. Dokter memantau layar monitor. Garis hijau itu tetap tidak menunjukkan tanda-tanda akan berubah.
"Dua ratus lima puluh Joule. Shock!" Perawat menaikkan tekanannya, dokter kembali menempelkan alat kejut jantung itu. Tetap tidak ada pergerakan.
"Tiga ratus!" Tekanan dinaikkan, defibrilator kembali di tempelkan. Kembali, tidak ada pergerakan apa-apa yang tergambar di monitor.
Sang dokter tertunduk lesu. Begitupun dengan para perawat. Bahkan, diantara mereka keluar ruangan dengan menitikkan air mata.
Claire telah tidur dengan tenang, tanpa terbangun lagi.
Perlahan, setelah membersihkan wajahnya, salah satu perawat menutupkan kain putih pada anak gadis itu. Sang dokter menatap Mina yang bergeming, menatap kosong dengan kedua mata terbelalak.
"Maafkan kami. Kami sudah berusaha menyelamatkannya." Kembali sang dokter menunduk. "Claire, jam 22.36, tanggal 2 Januari, meninggal dunia."
Tidak lama kembali terdengar derap kaki. Seorang perempuan berhelaian kelabu yang digulung, memakai pakaian kasual dan seorang lelaki berjaket kulit hitam menyusul, memasuki ruangan.
"Saya Linda, detektif yang bertanggung jawab atas kasus ini." Ia menampilkan lencana kepolisiannya pada orang-orang dalam ruangan, kemudian melanjutkan,
"Apakah anda bersedia anak ini diotopsi untuk kepentingan penyelidikan?"
Tidak ada suara apapun dari Mina. Ia hanya mengangguk pelan, mengambil napas panjang. Seakan tak ingin menghadapi kenyataan, ia menutup kedua mata. Gelap. Kemudian, tubuhnya terjatuh lemas.
***
Satu persatu orang-orang yang mengiring upacara penguburan Claire meninggalkan pemakaman. Tinggalah dua perempuan yang masih bertahan.
Malam tadi, otopsi dilakukan dengan singkat. Dokter forensik menemukan bahwa Claire ditusuk di bagian rusuk kiri bawahnya satu kali disertai racun yang tidak teridentifikasi senyawa apa yang dikandungnya. Racun dengan cepat menyebar, bekerja dengan memecahkan pembuluh darah yang menyebabkan pendarahan dalam yang hebat. Setelah ia siuman, ia enggan memberi kesaksian dengan alasan ia masih belum siap. Padahal ia hanya tidak ingin kepolisian ikut campur dengan masalah yang menimpanya. Setelahnya, ia hanya menginginkan mayat adik angkatnya segera agar bisa dikuburkan keesokan hari.
Menengadah ke langit, Hana menyadari bahwa langit kian sendu, disertai rerintik hujan yang menyentuh tangannya yang ia tadahkan. Ia melirik Mina yang masih membeku di tempatnya berdiri.
"Mina, ayo pulang. Aku akan mengantarmu."
Tidak ada suara. Tidak ada sahutan. Kedua netra sewarna crimson yang redup itu hanya menatap kosong pada sebuah nisan di depannya. Pusara dengan potret seorang gadis berambut pink yang tersenyum manis. Gadis itu sudah tenang dipeluk bumi. Mina tahu itu. Namun, tetap saja ia tak mau bergerak dari situ. Seakan ada suatu kegelisahan dan rasa sesal yang masih belum tersampaikan padanya.
"Mina," panggil Hana lagi, kembali menatap awan hitam yang kini mengguyurkan butian likuid yang lebih deras.
"Pergilah," tegasnya dengan suara yang parau. Seakan tak ingin diamnya diganggu orang lain, dan Hana mengerti itu.
"Baiklah, aku pergi." Ia meninggalkan perempuan itu, sendiri di tengah hujan. Ia mempercepat langkahnya karena butiran air yang turun semakin besar, menuju mobilnya terparkir.
Sedang Hana sudah meninggalkan pemakaman, Mina tak jua bergerak. Ia hanya ingin merasakan butir-butir dinginnya hujan yang menyentuh tiap jengkal tubuhnya. Mengalir, menelusuri wajahnya yang kian menggelap. Menyamarkan hangatnya air mata yang mengalir di pipi.
Menghirup napas, kelopak matanya turun menutup indera penglihatan. Menghayati, menasali petrikor yang menguar. Ia membayangkan hal yang dilaluinya ini hanyalah mimpi buruk, lalu mengkhayalkan ia terbangun dari tidur, melihat Claire dengan wajah polosnya tertidur lelap di sampingnya. Namun, tidak lama ia membuka mata. Menghadapi kenyataan yang ada, yang di hadapannya hanyalah pemakaman gadis yang begitu ia sayangi. Menyadari, bahwa ia kembali menjalani kehidupan yang kejam ini, sendiri.
Angin yang membawa hawa dingin, menelusup lewat kardigan hitamnya yang kuyup tidak mempengaruhinya untuk berpindah. Ia sudah tak peduli dengan gigil yang mulai merasuk, menggemeretakkan giginya, menggemetarkan jemarinya. Pikirnya, ia sudah mati rasa.
Ia tidak menyadari, bahwa ia tidak sendiri di sana. Seorang lelaki dengan setelan pakaian hitam menengadah, membiarkan wajahnya ditetesi hujan. Kemudian, berpaling mengawasi perempuan yang masih berdiri di tengah kuburan. Ia teringat bagaimana di netranya tercermin gadis itu terkapar di depannya. Kala itu, lekas ia lepas kemeja, membalurkannya di tempat yang luka pada Claire. Menelepon polisi untuk pergi ke tempatnya berada. Kemudian, sekelebat bayangan seseorang jatuh dari jendela yang sudah berlubang. Ia dilema, antara menunggu pertolongan yang datang atau mengejar orang itu. Akhirnya, ia mendengar langkah kaki dari tangga, cepat ia berpaling mengejar bayang itu, melompat lewat jendela. Jatuh berguling ke jalan, berdiri dengan cepat. Namun, ia tidak menemukan apa-apa. Ia mengacak rambut frustrasi, menyesalkan bahwa ia kehilangan orang itu lagi.
Ketika mendengar sirene yang datang bersahutan, ia menjauh dari tempatnya berdiri. Baginya, ia harus memikirkan cara untuk kembali menangkap Mallaga, pengkhianat itu. Ia harus mengetahui motifnya kembali muncul setelah dua belas tahun berlalu. Dulu, setelah Mallaga sekarat dan ia buang ke sungai, dia mengira makhluk ungu itu sudah tewas. Ia salah perhitungan. Harusnya ia tidak bergerak sendirian, saat itu.
Kali ini, setelah mengetahui dengan jelas bahwa kematian Claire adalah ulahnya, ia berencana untuk mengumpulkan sisa-sisa dari Abbys Ground, mengecualikan Mina. Sebisa mungkin, ia tidak membiarkan Mina bergerak bersama mereka. Amarah yang menguasai pikiran akan mengacaukan perundingan. Selain itu, bisa jadi target utama yang diincar Mallaga adalah wanitanya, pikirnya.
"Tunggulah sebentar lagi. Semuanya akan kubalas," gumamnya pelan. Seakan mengisyaratkan pada angin untuk menyampaikan pesannya pada perempuan yang masih berdiri di tengah hujan.