WA 5 -- Bertamu

1491 Kata
Hari weekend ini Senja habiskan waktu untuk berada di rumah menemani sang Bunda, setelah semalam dirinya menemani atasannya untuk pergi ke acara anniversary kedua orang tua atasannya itu. Senja berjalan masuk ke kamar sang Bunda, dia ingin mrngajak Bundanya untuk berjemur di pagi hari. Karena matahari pagi akan bagus untuk kesehatan. "Selamat pagi, Bunda!" Sapa Senja kala dirinya sudah berada di dalam kamar sang Bunda. Terlihat sang Bunda, Amirah, tengah terduduk di pinggir ranjang. Wanita paruh baya itu pun tersenyum kala iris matanya melihat putri cantiknya berada di kamar. "Pagi, Nak!" Jawabnya dengan senyum lemas. Senja berjalan menghampiri sang Bunda lalu mendudukan dirinya disamping tubuh wanita paruh baya itu. "Kita berjemur di taman seberang kontrakan yuk, Bun!" Ajak Senja. Amirah pun tersenyum dengan kepala yang di anggukkan. Senja membalasnya dengan senyuman sumringah. "Ayok, Bunda!" Kata Senja seraya membantu sang Bunda untuk berdiri dari duduknya. Ibu dan anak ini pun berjalan perlahan menuju taman yang berada di seberang kontrakan mereka berada. Tidak lupa Senja mengunci pintu terlebih dahulu, lalu kembali melanjutkan langkah kaki mereka keluar dari gerbang kontrakan dan berjalan kembali menyebrangi jalanan kampung sekitar untuk menuju taman. Senja tetap setia menggandeng lengan Amirah, wanita yang sangat dia cintai, dan sayangi. Juga menjadi orang satu-satunya yang Senja miliki di dunia ini. Kini keduanya sudah tiba di taman, mereka mendudukan diri di atas kursi taman yang memang sudah tersedia disini. Seperti biasa, Senja akan membantu sang Bunda untuk terduduk di atas kursi. Senja menarik nafas dalam dalam, menghirup udara segar pagi di taman ini yang begitu asri. Setelahnya wanita manis itu pun menghembuskannya kembali secara perlahan dengan senyuman manis pula yang terlukis di wajahnya. "Taman ini selalu terlihat sejuk dan segar di pagi hari, Senja suka sekali taman ini. Apalagi kalau ditemani Bunda terus, untuk selalu berkunjung ke taman ini" tutur Senja dengan wajah berseri dan tatapan mata lurus ke depan sana. Senja menyandarkan kepalanya pada bahu sang Bunda dengan tangan yang memeluk lengan wanita paruh baya itu. Kedua mata Senja tertutup menikmati semilir angin sejuk di pagi hari ini. "Kamu ini masih seperti anak kecil saja" ledek sang Bunda, karena melihat tingkah putrinya yang masih bermanja manja layaknya anak kecil. "Kapan, kamu akan kenalkan Bunda sama calon menantu Bunda, hm?" Tanya Amirah kepada putri satu-satunya ini. Karena selama ini Amirah tidak pernah melihat putrinya memiliki kekasih, yang dia perhatikan selama ini Senja selalu fokus terhadap pelajarannya saat masih bersekolah dan saat sudah bekerja, Senja fokus pada pekerjaannya dan juga pengobatan dirinya. Senja terus saja memikirkan tentang kesembuhan, dan kesenangan untuk Amirah saja, putrinya itu terus saja menomor satukan dirinya. "Bundaa!" Rengek Senja, karena saat Amirah sudah membahas mengenai pasangan hidup, Senja selalu mengalihkan pertanyaan sang Bunda, bahkan hanya akan menjawab seperlunya saja, jika memang dia ingin menjawab. "Nak, dengarkan Bunda!" Pinta Amirah. Senja menengakkan kembali tubuhnya lalu menatap wajah sang Bunda. "Bunda, Senja belum ingin menikah. Senja masih ingin menemani Bunda, membahagiakan Bunda, terutama Senja ingin agar Bunda sembuh!" Ujar Senja. Amirah menolehkan wajahnya menatap kembali wajah Senja, putris tercintanya. "Dengarkan Bunda dulu, Nak!" Pinta Amirah kembali. Senja pun menghembuskan nafasnya pasrah, lalu terdiam dan mendengarkan apa yang ingin Bundanya katakan. "Bunda ingin melihat putri semata wayang Bunda ini menikah dan memiliki pendamping yang akan menemani dan menyanyangi kamu. Bunda, akan merasa sangat bahagia dan tenang jika sudah melihat kamu bersanding bersama dengan pria yang tepat. Pria yang akan menjaga kamu, Nak" tutur Amirah. "Mau Bunda sehat dan sakit sekali pun, jika memang Allah sudah berkehendak untuk mengambil Bunda agar berada di sisi-Nya, maka, baik Bunda atau pun kamu, tidak akan ada yang bisa menghindarinya, Nak!" Lanjut Amirah. Perkataan Amirah tadi membuat kedua mata Senja berkaca-kaca, wanita itu menelas salivanya susah payah. Dan segera berhambur memeluk tubuh sang Bunda. "Bunda jahat!" Celetuknya. Amirah paham, putrinya ini akan sangat sensitif jika membahas perihal seperti ini. Namun, dia harus tetap mengatakannya karena ini menyangkut masa depan putrinya. Tangan Amirah mengelus lembut surai hitam Senja. "Bunda haru jahat agar kamu mau mencari pendamping hidup, yang akan selalu menemani kamu hingga akhir hayat kalian nanti" sahut Amirah. Entahlah, saat ini Amirah merasa bahwa putrinya ini sudah harus mulai menata masa depannya, dia tidak bisa terus menerus menemani putri tercintanya, begitu sebaliknya. Senja tidak bisa terus menerus selalu mengutamakan dirinya. Mereka pun memutuskan untuk kembali ke kontrakan, karena matahari sudah terasa sangat terik. Senja menggandeng lengan sang Bunda dan melangkahkan kaki mereka menuju kontrakan. Saat tiba di depan gerbang, mata Senja melihat sebuah mobil terparkir tidak jauh dari gerbang, Senja merasa tidak asing dengan mobil itu, dia merasa familiar dengan mobil hitam itu. Senja dan Amirah terus melanjutkan langkahnya, hingga keduanya tiba di depan rumah dan melibat seoang pria tengah terduduk di kursi yang berada di teras. ** Setelah dinas malam di Rumah Sakit, pagi ini Devan memiliki satu pasien yang memang sudah membuat janji dengan dirinya. Devan pun memeriksakan pasien itu terlebih dahulu, berbincang serius dengan pasiennya, agar dia bisa mengetahui sakit apa yang pasiennya ini alami. Hingga hampir dua puluh lima menit, Devan menghabiskan waktu untuk memeriksa dan menganalisa si pasien. "Terimakasih, Dok!" Kata si pasien. "Kita ketemu kembali saat lusa nanti, setelah hasil pemeriksaan labnya keluar" kata Devan. "Baik, Dok. Kalau begitu saya permisi!" Pamit si pasien. Devan menganggukkan kepalanya kepada pasien. Setelah kepergian pasiennya, Devan merenggangkan sedikit otot otot pada tangannya, lalu menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, hingga menimbulkan bunyi 'tek' saat lehernya di gelengkan. Devan berpikir sesaat karena dari semalam dia terus kepikiran dengan Senja, putri dari salah satu pasiennya. Sudah beberapa bulan ini mereka saling bertemu, karena Ibunda dari Senja harus melakukan pemeriksaan dengam rutin. "Ke rumahnya, apa nggak, ya?" Tanyanya pada diri sendiri. Devan terlihat nampak berpikir sejenak, memutuskan apa yang akan dia putuskan. Menemui wanita yang sudah menguasai pikirannya, atau pulang ke rumah dan menunggu hingga minggu depan untuk bisa bertemu dengan Senja. Hingga akhirnya Devan memutuskan untuk berangkat menuju kontrakan Senja bersama dengan Ibundanya itu tempati. Pria itu pun tidak lupa membeli beberapa buah-buahan, juga beberapa cake, untuk dia bawa ke kontrakan Senja. Devan baru saja tiba di halaman kontrakan Senja, memarkirkan mobilnya di dekat gerbang, dimana memang itu adalah tempat khusus untuk para tamu dan penghuni kontrakan memarkirkan mobil mereka, dan untuk motor mereka akan memasukkannya ke dalam kontrakan saja. Pria tampan itu pun melangkahkan kakinya menuju satu kontrakan dimana Senja dan Amirah tempatin, mengetuk pintu kala dirinya tiba di depan pintu, berharap sang tuan rumah segera membukakan pintu tersebut. Namun, sudah lima menit dia mengetuk pintu tidak ada tanda tanda bahwa sang tuan rumah akan membukankan pintu untuknya. Hingga akhirnya Devan memilih untuk mendudukkan dirinya di atas kursi yang berada di teras rumah ini. Mungkin si pemilik rumah tengah berada di luar, maka dari itu Devan memutuskan untuk menunggunya saja. Setelah hampir tiga puluh menit Devan menunggu, dia pun dikejutkan dengan suara seseorang yang memang tengah dia tunggu kedatangannya. "Dokter Devan!" Suara itu membuat Devan mendongakkan kepalanya, saat sebelumnya dia tengah tertunduk. Devan tersenyum kala melihat itu adalah Senja dan Amirah, nampaknya mereka habis berjalan jalan pagi. Atau mungkin Devan yang tidak tahu diri bertamu di jam yang masih terbilang pagi ini. Lantas Devan pun berdiri ketika Senja dan Amirah berjalan mendekatinya. "Selamat pagi, Ibu Amirah" sapa Devan pada Amirah lebih dahulu. Setelahnya Devan beralih pada Senja. "Selamat pagi, Senja!" Sapanya pada Senja. "Pagi Dokter Devan!" Jawab Amirah dan Senja. "Tumben sekali Dokter Devan berkunjung di pagi hari, ada apa ya Dok? Atau ada sesuatu yang ingin Dokter sampaikan mengenai pengobatan Bunda?" Cerca Senja. Membuatnya mendapat senggolan sikut dari sang Bunda. Membuat Senja mengkerutkan keningnya seraya menatap wajah sang Bunda. "Sudah lama, Dok?" Tanya Amirah mengalihkan pembicaraan. "Tidak kok, Bu Mirah!" Jawab sopan Devan dengan senyuman. "Maaf, jika saya menganggu waktu pagi Bu Mirah dan Senja. Kebetulan tadi saya habis dari Rumah Sakit, dan melewati jalan sekitar sini, jadi sekalian saya mampir kesini" bohong Devan, padahal jelas jelas dia memang sengaja untuk datang ke kontrakan Senja dan Mirah, hanya ingin melihat wajah Senja saja yang terus terbayang di benaknya. Mirah tersenyum ramah kepada Devan. Lalu menyuruh pria itu masuk dan berbincang bincang di dalam saja. "Mari masuk, Dok!" Kata Amirah mempersilahkan. Senja pun membuka kunci pintu, setelahnya mereka bertiga masuk dan terduduk di atas karpet di dalam rumah ini. Maklum saja Senja tidak bisa membeli sofa, karena uang penghasilannya akan dia pakai untuk berobat sang Bunda yang membutuhkan biaya tidak sedikit untuk setiap kali pertemuannya. Belum lagi untuk biaya sehari hari, dan juga biaya kontrakan. Senja mengambilkan minum untuk Devan, dan setelahnya mereka pun berbincang-bincang, awalnya Amirah menemani keduanya. Namun segelah beberapa menit, wanita parub baya itu pamit untuk beristirahat. Dan membiarkan Senja untuk mengobrol berdua saja dengan Devan, agar keduanya bisa lebih dekat dan saling mengenal satu sama lainnya. Amirah melihat Devan sebagai pria baik, bertanggung jawab, penyanyang keluarga, juga sudah sukses dalam segi financial. "Semoga mereka bisa berjodoh!" Doa Amirah kala melihat Senja dan Devan saling berbincang dengan melepaskan tawa. Mungkin mereka sedang berbincang hal yang lucu, sehingga keduanya saling tertawa lepas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN