WA 3

1108 Kata
Senja sedang terduduk dimeja kerjanya menghadap komputer yang masih belum menyala, setelah kejadian dua hari lalu saat dirinya menjadi kekasih pura-pura Arga hidupnya selalu diliputi rasa bersalah terhadap Humaira. Seperti saat tadi pagi sebelum dirinya berangkat ke kantor, Humaira menghubungi dirinya bahwa nanti siang dirinya harus melakukan fiting baju bersama Arga untuk acara Anniversary pernikahan Humaira dan Malik orang tua Arga. Sungguh harus berapa lama lagi dirinya membohongi Humaira dan Malik, semua gara-gara Arga, Senja pun sudah mengetahui perihal mengapa waktu itu Arga membawanya bertemu kedua orang tuanya dan menjalin hubungan palsu ini, Arga sudah menceritakan semuanya kepada dirinya. “SENJA!” Teriak seseorang dari ambang pintu, siapa lagi kalau bukan Hawa “Ya ampun, Hawa. Hobi banget teriak-teriak masih pagi juga” protes Senja yang memang teriakan Hawa itu membuat seisi ruangan bisa kena serangan jantung untung saja keadaan kantor masih sepi. Hawa segera berlari menghampiri Senja. “Lo, hutang penjelasan sama gue ya, Ja!” Senja mengkerutkan keningnya “Maksudnya?” “Ck, pura-pura. Satu kantor udah lo buat heboh masih nanya maksudnya apa!! Keterlaluan lo sama gue!” “Apaan sih, Wa. Gue gak ngerti!” “Hmm, oke gini, ada hubungan apa lo sama Pak Arga? Ayo ngaku sama gue? Jangan ada yang lo sembunyiin ya dari gue?!” Todong Hawa kepada Senja. Hawa menarik kursi di samping meja kerja Senja membawanya mendekati Senja, Hawa pun duduk menghadap Senja. “Jadi, gimana?” Tanyanya penasaran. “Gue gak ada hubungan apa-apa sama, Pak Arga. Kita berhubungan hanya sebatas karyawan dan atasan aja, gak lebih” jelasnya yang tentu saja tidak bisa Hawa terima begitu saja Hawa memicingkan matanya “Nggak percaya gue!” Senja menarik nafasnya dalam-dalam “Serius, gue gak ada hubungan apa-apa sama, Pak Arga. Jadi kemarin itu, lo inget pas gue disuruh menhadap ke ruangannya, Pak Arga?” Tanya nya mengingatkan Hawa, lalu Hawa pun mengangguk, bagaimana dia biaa lupa dengan kejadian dimana sahabatnya itu datang dengan nafas tersenggal dan peluh membasahi wajahnya. “Jadi?” “Jadi, waktu itu ..” Flash back on “Arga, Mami mau kamu bawa pacar kamu saat acara Anniversary pernikahan Mami sama Papi nanti, Mami sudah siapkan baju couple untuk kamu dan pasangan kamu!” “Mi, sudah berapa kali Arga bilang, Arga belum punya pacar, Mi!” katanya terdengar frustasi “Ayo dong, Ga. Jangan bilang, kamu masih mikirin si Jennie?!” Geram Humaira “Aku udah lupain Jennie, Mi. Aku udah gak inget lagi sama dia” “Lalu kenapa kamu masih belum punya pacar?” “Mi, ayolah ak..” “Selamat siang, Pa ..” Ucap Senja begitu kepala sudah menyembul didepan pintu “SAYANG!” Teriak seorang karyawan perempuan dibelakang tubuh Senja “Nah, siapa dìa? Kamu bohong sama Mami ya! Mami gak mau tau ajak dia sekarang kerumah kita makan siang bersama dirumah!” ucap Humaira lalu panggilan lun terputus secara sepihak Tuutt “s**t!” umpatnya, pria itupun segera berdiri dari kursi kebesarannya lalu berjalan menghampiri Senja yang masih berada didepan pintu dan menarik lengannya membuat Senja twrlonjak kaget Falsh back of Hawa menganggukkan kepalanya mengerti “Oh, jadi lo sama Pak Arga cuman pura-pura pacaran?” Tanyanya pelan dan hati-hati, lantas Senja pun menganggukkan kepalanya dengan wajah lesu nya. “Terus kenapa lo lesu gitu sekarang?” Senja menarik nafasnya dalam-dalam “Huh! Gue ngerasa bersalah aja sama orang tuanya Pak Arga, mereka baik banget sama gue, dan apa yang gue lakuin ke mereka? Bohongin mereka!” Ucapnya dengan penuh rasa bersalah. Hawa menarik nafasnya “Iya sih, em tapi kan bukan lo yang udah bohongin mereka tapi anaknya sendiri, lo juga korban loh disini” kata Hawa Senja bingung “Hah! Korban, maksud lo?” “Iya, korban. Kan lu gak tau apa-apa tiba-tiba aja diajak sama, Pak Arga kan?” Senja lun menganggukkan kepalanya “Nah, lu korban juga disini, karena lo gak tau apa-apa, yang punya ide semùa ini kan, Pak Arga” jelasnya Senja mengusap lehernya bingung “Tapi, Wa. Gue juga ikut andil dalam masalah ini?” “Hm, ya biar Pak Arga nanti cari jalan keluarnya” Senja pun menghelakan nafasnya gusar “Yaudah, gak usah di pikirin, udah” ** Dan siang ini seperti permintaan Humaira, Arga membawa Senja untuk melakukan fiting baju di butik milik Maminya. Tadi Arga sudah bilang akan menunggunya di parkiran lantai UG, parkiran khusus petinggi kantor ini, Senja pun berjalan menuju lantai UG dan mencari keberadaan mobil sport merah milik Arga. Setelah bertemu, Senja pun menghampiri mobil merah itu lalu masuk kedalamnya, disana sudah ada Arga yang menunggunya. “Lama” ucapnya dingin “Maaf, Pak. Tadi ada kerjaan yang harus saya selesaikam dulu” Setelahnya mobil pun melaju menuju butik milik Humaira. Setelah dua puluh lima menit di perjalanan, mereka pun sampai di depan butik HMR Butik. Arga dan Senja pun turun lalu memasuki butik itu, dan ternyata Humaira sudah menunggu mereka di dalam. “Halo, sayang” sapa Humaira kepada Senja dan Arga lalu memeluk Senja Senja tersenyum manis kepada Humaira “Maaf, jadi Mami yang nungguin kita” sesal Senja “Ah, gak kok, Mami juga sekalian fiting punya, Mami sama Papi” katanya seraya tersenyum “Arga, kamu sana sama Papi coba jas dan tuxedo kamu, biar Senja sama Mami ke ruangan khusus gaun-gaun” titahnya dan dituruti oleh Arga, Senja pun di gandeng oleh Humaira menuju ruangan gaun-gaun. Di ruangan ini banyak sekali gaun-gaun cantik yang terpajang dengan apik pada patung-patung boneka disana, “Sila, bawakan gaun yang kemarin sudah saya rancang” titah Humaira kepada karyawan butiknya. “Baik, Bu” karyawan bernama Sila itu pun berjalan menuju salah satu ruangan dan mengambil gaun cantik full body tanpa lengan berwarna peach itu. “Nah, gaunnya ini, kamu coba ya sayang” kata Humaira begitu gaunnya sudah Sila bawa dihadapan Humaira. Senja pun terpana melihat keindahan gaun itu, sungguh cantik sekali gaunnya dan harganya pun pasti meembuat Senja jantungan, Senja mengambil gaunnya lalu membawanya ke fiting room untuk mencoba gaunnya. Senja pun keluar dengan gaun yang melekat pas ditubuhnya, sungguh siapapun yang meelihatnya pasti akan terpesona. “Waw, pas sekali buat kamu, sayang. Cantik” puji Humaira begitu melihat Senja dengan gaun yang dia rancang sendiri. Senja malu sendiri mendeengar pujian Humaira. “Mi, sudah be..res” ucap Arga terbata karena melihat penampilan Senja yang begitu anggun dan cantik beda seperti biasanya, Arga terpana dengan penampilan Senja yang berbeda menurutnya, hingga tanpa sadar mulutnya sedikit terbuka karena terpesonanya melihat Senja. Malik yang melihat sang putra pun menyenggol lengannya “Hati-hati, lalat masuk mulut kamu” ledek sang Papi dengan senyum meledeknya yang membuat Arga tersadar dan menelan salivanya gugup.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN