Langit malam begitu gelap, tanpa bintang yang menemani. Angin dingin berembus menusuk, menambah suasana sunyi yang melingkupi Alina. Ia berdiri di sisi mobil tuanya yang mati di tengah perbukitan, menggigil di bawah jaket tipis yang dia kenakan. Hatinya dipenuhi rasa marah, putus asa, dan kesepian yang seolah menyesakkan d**a. “Kenapa harus sekarang?” gumamnya, menendang ban mobil dengan keras. Rasa frustrasi semakin memuncak. Mesin mobilnya yang sebelumnya hanya terdengar kasar kini benar-benar mati total, meninggalkannya terjebak di tempat yang jauh dari perkampungan warga. Ia mencoba menelepon lagi pada temannya, tetapi seperti sebelumnya, sinyal ponselnya nihil. Tidak ada yang bisa dihubungi, tidak ada harapan. “Brengseeeekk!” teriaknya, melepaskan amarah yang selama ini

