Alina masih memeluk Nathan dengan tatapan sendu, botol wine yang sudah kosong kini tergeletak di atas meja kayu dekat mereka. Wajahnya memerah, matanya setengah tertutup, dan napasnya berbau alkohol yang kuat. "Nathan ... kau mau kan bercinta denganku?" suara Alina terdengar serak, hampir seperti bisikan. Ia menatap pria itu dengan mata yang dipenuhi kesedihan, tetapi juga hasrat yang tidak biasa. “Kau mabuk, Nona. Ayo, kuantar ke dalam. Aku tak akan memanfaatkanmu dalam kondisi seperti ini.” "Kau menolakku?” Tatapan Alina terasa begitu menyakitkan dan Nathan mengerti bahwa Alina seperti itu karena mengalami patah hati yang sangat besar. “Kenapa ... kenapa semua orang selalu menolak aku? Apakah aku tak menarik? Apakah aku menjijikkan?" Nathan menunduk dan menatap mata Alina yan

