Elenio menatapnya dalam diam sejenak, menunggu jawaban Alara. “Maaf, kau terganggu dengan hal itu?” kata Alara akhirnya. “Ya, seharusnya kau tak memberitahu alamat rumah ini pada mereka. Bibi mengatakan padaku bahwa dia bukan satu-satunya pria yang datang kemari untuk menemuimu.” Elenio mendekat, berdiri di hadapan Alara dengan tatapan yang membuat jantung wanita itu berdegup kencang. “M-maaf, El. Aku tak bermaksud untuk—“ "Aku sudah memberitahunya,” potong Elenio sebelum Alara melanjutkan ucapannya. "M-memberitahu apa?" "Bahwa kau sudah menikah." Alara sedikit terkejut, namun di dalam hatinya dia justru senang karena Elenio memberitahu tentang status mereka. Elenio menghela napas, tangannya terangkat untuk menyentuh rambut Alara dengan lembut. "Lara, aku tidak suka melihat p

