Rio tertawa kencang saat berhasil menyakiti Prilly hari ini. Rasanya seluruh cinta yang ia miliki, ingin semuanya ia tumpahkan dengan cara melukainya.
"Hemmmmmpttt!!!" Prilly masih berusaha meronta.
Plak!
Dengan teganya Rio menampar p******a Prilly sampai merah terlihat di sana.
"Lo tau? Gue cinta sama lo, Prilly! Bisa kah lo gak usah pacaran sama Ali!"
Prilly tampak menggelengkan kepala. Mungkin Rio mengerti maksud arti Prilly melakukan itu.
"Sudah lah. Gue ambil semua milik lo, ya! Biar gue tau rasanya dikejar lo untuk tanggung jawab." Rio tersenyum miring sebelum akhirnya ia melepaskan baju seragam atas miliknya.
"Ya Allah ... Kirimkan pertolonganmu lewat siapa pun, kumohon." Prilly memanjatkan doa dalam hati.
Rio mendekati Prilly dan mengelus lehernya. Ia sedikit iba melihat air mata Prilly bercucuran jika dilihat dari dekat.
Ia membungkukkan badannya menjangkau kening Prilly dan berniat menciumnya.
Bugh!
Rio lebih dulu tersungkur saat baru saja punggungnya dihantam seseorang dari belakang.
"Alhamdulillah, Kak Ali datang," batin Prilly penuh syukur. Matanya menyiratkan rasa senang saat melihat pria itu masih peduli akan dirinya.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Ali terus memukul Rio sampai tidak sadarkan diri. Setelah memastikan pria itu benar-benar pingsan, Ali beralih menatap keadaan Prilly dengan hati teriris. Wanita yang sangat ia cintai dilecehkan dengan pria biadap itu.
Ia mendekati ranjang tua Prilly dan membuka beberapa tambang besar yang sejak tadi membuat Prilly tak berdaya.
Begitu Prilly berhasil terlepas dari seluruh ikatan itu, ia sedikit menjaga jarak dengan Ali dengan mundur ke arah belakang.
Ali meringis melihat reaksi Prilly yang sepertinya trauma dengan seorang pria. Ali bisa menangkap hal itu. Terlihat dari baju seragam Prilly dengan seluruh kancing yang terbuka. Siapa yang tidak trauma?
"Prill, ijinkan gue untuk lepas lakban lo." Ali mendekati Prilly secara pelan-pelan.
Saat berhasil di dekat Prilly, Ali lebih dulu memperbaiki pakaian Prilly dengan mengancingkan satu per satu kancing bajunya sampai kini semuanya tertutup.
Prilly terkejut bukan main dengan tindakan Ali saat ini. Ia pikir Ali akan senang juga melihat tontonan tak sengaja itu.
Sekarang dengan hati-hati Ali melepaskan lakban hitam yang masih melekat di bagian mulut Prilly.
"Lo baik-baik aja? Lo diapain?"
Begitu mendengar pertanyaan itu, Prilly jadi teringat dengan aksi Rio tadi. Sakit rasanya mengingat hal itu. Prilly memeluk tubuhnya sendiri berusaha menghilangkan rasa sakit di hatinya itu.
Ali mendaratkan telapaknya di atas puncak kepala Prilly. "Lo jangan takut. Ada gua."
Prilly semakin ingin menangis saat melihat perbedaan jauh kedua pria yang masih berada di gudang tua ini. Dan tumpah sudah air matanya saat merasa Ali mengelus lembut bagian rambutnya.
Perlahan Prilly menggeser posisi duduknya untuk lebih dekat dengan posisi Ali berada. Tak lama ia melingkarkan kedua lengannya di pinggang Ali.
Ali terenyuh dengan aksi Prilly yang masih ingin memeluknya. Ia sakit mendengar suara Prilly yang berusaha menahan isakannya.
"Jangan ditahan, Prilly. Nangis lah." Ali merangkul tubuh Prilly dan mengelus-elus punggungnya.
"Hiks, apa aku udah gak perawan, Kak? Hiks, hiks."
Akhirnya Ali mendengar Prilly yang bersuara walau suara pertama yang ia dengar terdengar sangat menyakitkan.
"Gua tanya, lo diapain sama dia?"
Prilly mendongak untuk menatap Ali.
"p******a Prilly dipegang-pegang, Kak. Ditampar juga. Sakit banget, hiks. Sebelum Kak Ali datang dia lepas bajunya dan bilang kalau dia mau ambil semuanya milik aku, hiks."
"Dia gak ngapa-ngapain selain itu kan?"
Prilly menggeleng lemah membuat Ali sedikit lega.
"Bibir lo? Ga dia cium kan?"
"Mulut aku kan dilakban, Kak."
Ali hampir melupakan hal itu. Dalam hati ia sangat bersyukur kalau keadaan Prilly masih sangat aman.
"Udah jangan nangis lagi. Lo masih perawan kok."
"Kak," lirih Prilly memanggil Ali.
Ali mematap Prilly dengan menyiratkan pertanyaan.
"Aku mau jujur boleh?"
Ali memgangguk pelan dan tersenyum. "Katakan."
"Sebenarnya aku tidak mencintai Pria lain. Maaf ... Aku minta putus karena kakak cewek yang sekelas dengan Kakak kemarin membawa aku ke gudang. Dia yang sebenarnya memotong asal rambutku, hiks. Dia mengancam aku untuk menjauhi Kakak. Katanya aku tidak pantas untuk Kakak. Kalau aku gak nurut, dia akan menyakiti keluarga aku, hiks. Aku hanya cinta sama Kakak, hiks, hiks."
Ali tak menyangka. Jadi ini alasan Prilly. Ia merasa gagal. Bisa-bisanya ia lengah untuk menajaga Prilly dari bullyan para senior.
"Maksud lo Shinta?"
"Iya, Kak." Prilly mengangguk pelan.
"Kenapa gak cerita kemaren?"
"Takut dia nekat nyakitin keluargaku, apa lagi Andra, Kak. Dia menyimpan foto adikku. Dan aku gak ngerti dia dapet itu dari mana."
"Jadi rambut lo pendek bukan suruhan Bunda?"
"Bukan, Kak. Maaf ... Aku banyak bohong sama Kakak."
"Sekarang lo jangan takut lagi, oke. Gua bakal bikin perhitungan sama mereka."
"Kak Ali, aku takut ancaman Kak Shinta gak main-main."
"Gua bakal bikin laporan ini ke guru. Mereka yang berhak menghukum. Bukan gua kok. Kalo gua yang beraksi gua takut gua jadi pembuhuh."
"Makasih banyak ya, Kak. Maaf aku pernah menyakiti hati Kakak, hiks."
"Tapi lo masih mau jadi pacar gua kan?"
"Iya, Kak." Prilly tersenyum dan merekatkan pelukannya di pinggang Ali.
"Gua antar lo pulang, ya."
"Kan belum bel, Kak."
"Gak papa, nanti gua ijinin absen. Siapa guru lo di jam ini?"
"Pak Gandi, Kak."
"Ayok." Dengan lembut Ali menuntun Prilly untuk keluar dari gudang tua ini.
Sekarang mereka telah sampai di rumah Prilly. Ully yang kebetulan ingin menjemur pakaian justru lebih dulu melihat mereka datang.
Ully terkaget saat melihat keadaan Prilly dari dekat. Mungkin Prilly tertidur dan Ully mengira putrinya pingsan.
"Ya ampun, Prilly! Nak Ali ada apa Prilly nak?"
"Nanti Ali ceritakan di dalam ya Bun."
"Antarkan langsung ke kamarnya aja ya, Nak."
"Baik, Bun."
Setelah mengantar Prilly untuk ke kamarnya, Ali kembali berpapasan Ully di ruang tamu. Ia bingung dari mana mulai untuk menjelasan seluruhnya. Ia merasa gagal dengan janjinya untuk menjaga Prilly.
"Jadi gini, Bunda...."