Seusai berhasil mengatakan kalimat putus pada Ali, Prilly langsung berlari ke arah danau belakang sekolah. Ia menangis deras di sini.
"Maaf aku bohong sama Kak Ali ... Aku cuma takut Kak Shinta jahatin adikku. Maaf, Kak, hiks. Aku gak maksud kecewain Kakak."
Prilly menyelamkan wajahnya di lutut yang saat ini ia peluk.
***
"Lo udah ngerti kan lo harus apa?" tanya Shinta memberi sebuah amplop coklat pada Rio adik kelas yang satu angkatan dengan Prilly.
Shinta memanfaatkan Rio yang tampak menyukai Prilly. Pria itu tak berani lagi mendekati Prilly setelah dirinya dihajar Ali dengan dipatahkan lehernya pekan lalu.
Rio pernah ingin menolong Prilly yang sedang dibully oleh Ali saat itu. Karena pria ini nekat berakhir lah di rumah sakit. Begitu ia sembuh dan keluar dari rumah sakit, ia mendengar wanita yang ia sukai justru sudah berpacaran dengan Ali. Rio sakit hati karena Prilly sama sekali tidak menjenguknya. Dan sekarang ia akan tetap mencintai Prilly dengan caranya sendiri, namun dibantu Shinta untuk mendapatkannya.
"Satu lagi. Lo harus main cantik. Jangan sampe Ali tau. Kalo Ali tau liat apa balasan dari gue!" ancam Shinta berlalu pergi.
Rio mencari keberadaan Prilly di dekat perpustakaan. Karena tahu wanita yang disukainya memang hobi membaca. Namun sampai saat ini ia belum juga menemukan jejak Prilly.
Ali yang baru keluar dari perpustakaan justru malah bertemu dengan Rio. Pria yang pernah ia patahkan lehernya. Ali mempertajam penglihatannya untuk menatap Rio. "Udah sembuh ternyata," batin Ali yang langsung berlalu.
Saat Rio ingin membalik badan ia justru terkejut karena mendapati Prilly yang tiba-tiba hadir di area sana.
"Kamu!" seru Prilly begitu berpapasan dengan Rio.
"Hai Prill, apa kabar? hehe."
"Baik, hehe. Kamu yang waktu itu pernah nolongin aku waktu aku dibully Kak Ali, kan?"
"Hehe iya Prill. Itu gua. Lo gak diapa-apain kan waktu itu?"
"Nggak kok. Makasih ya. Dan aku minta maaf karena aku kamu dihajar Kak Ali. Abis kejadian itu besoknya aku drop jadi orang tuaku gak izinin aku sekolah dulu. Maaf ya."
"Santai aja, Prill. Oh iya ikut gua yuk." Rio mulai menjalankan rencananya dengan mengajak Prilly ke suatu tempat.
"Ke mana?"
"Pokoknya ikut yuk."
"Bentar lagi bell. Nanti pulang sekolah aja gimana?"
"Sebentar kok. Gua mau kasih liat sesuatu sama lo. Gue jamin lo suka. Bell masih 20 menit lagi kok." Rio tetap membujuk Prilly sampai akhirnya mengangguk.
"Boleh."
Dalam hati Rio merasa merdeka karena Prilly mulai masuk dalam perangkapnya.
"Kita mau ke mana sih?" tanya Prilly bingung. Karena Rio mengajaknya ke area belakang sekolah.
Rio melirik ke arah sekitar. Karena merasa sepi Rio langsung membekap mulut Prilly.
"Hemmpptttt!!!" Prilly berusaha meronta saat tangan Pria ini membekap mulutnya.
"Prilly Qirani Almahyra! Sebentar lagi lo akan jadi milik gua seutuhnya!" bisik Rio menekan setiap perkataannya.
"Hummptttt!!!" Dalam hati Prilly berdoa agar Ali bisa menyelamatkannya. Prilly tidak mengerti mengapa Rio tiba-tiba bertindak seperti ini.
"Lo ingat, Prilly! Waktu lo dibully si Ali, gua berusaha nolongin lo sampe dia patahin leher gua! Dan lo sama sekali gak datang jenguk gue! Ketika gue sembuh lo malah pacaran sama si Ali! Lo ngerti gak gue cinta sama lo!"
"Hemptttt!!"
"Ikut gua! Kalo Ali bisa rebut hati lo! Gua harus bisa rebut mahkota lo! Ikut gua!" Rio menyeret Prilly ke sebuah rumah kosong yang terletak di belakang sekolah.
Rio menidurkan Prilly di ranjang tua. Mulut Prilly ia tutup dengan lakban hitam. Tangannya ia ikat dengan tambang besar.
Prilly menangis histeris dan berusaha teriak. Namun suaranya terpendam karena lakbannya begitu kuat menutup kedua bibirnya.
Rio mengapit rahang Prilly dengan sekali hentakan. "Gua akan rebut milik lo sekarang juga! Hahaha!"
Prilly menggeleng lemah saat pria itu tampak cekikikan. Ia tetap berusaha meronta walau kaki dan tangannya diikat. Terlebih saat tangan Rio mulai melepaskan seluruh kancing seragam Prilly.
"Kita mulai dari yang ringan dulu, Sayang." Rio mulai meraba belahan b*******a Prilly yang sudah nampak terbuka.
Prilly memejamkan mata saat pria itu berhasil meremas payudaranya sangat kencang. Ingin sekali ia menghajar pria ini jika bisa. Namun apa daya, Prilly hanya bisa berdoa pada Tuhan agar mengirim malaikat yang masih sudi untuk menolongnya.
Rio tersenyum bahagia saat mendengar tangis Prilly yang tertahan.
"Hemmmpppttttt!!!"
***
Ali duduk bersandar di belakang pohon dekat danau ini. Biasanya ia selalu berduaan di sini bersama gadis manjanya. Tapi tidak kali ini. Ia berharap Prilly akan datang juga ke tempat ini namun rasanya mustahil. Wanita itu sudah mengakhiri semuanya.
Jangankan sedang hancur, saat baik-baik saja pun Ali sering membolos tidak masuk kelas dan lebih sering pergi ke tempat ini. Apa lagi sekarang? Ia ingin bertanya sekali lagi alasan Prilly memutuskan hubungan dengannya. Tapi ia bingung untuk memulainya.
Saat dirinya mulai terlelap, indera pendengaran Ali merasa terganggu karena menangkap suara-suara aneh dari rumah kosong dekat area situ.