15. Putus?

836 Kata
"Prilly," lirih seorang wanita membuat dirinya tertegun setelah melihat teman sebangkunya diperlakukan seperti ini. "Vivi...." Air mata Prilly menetes cepat kala melihat wanita itu datang. "Lo diapain, Prill? Lo gak papa kan?" tanya Vivi dengan raut wajah cemas. Vivi berusaha melepaskan ikatan di lengan serta kaki Prilly. Prilly langsung memeluk wanita yang telah menolangnya. "Makasih Vi udah tolongin aku, hiks." "Udah lo jangan nangis. Kita keluar ya." Setelah keluar dari gudang, Vivi membawa Prilly ke kantin. Ia mengambil 2 botol mineral dan memberikan 1 botolnya untuk Prilly. "Minum dulu." "Vi," panggil Prilly dengan suara pelan. "Iya, Prill?" "Boleh gak aku jadi sahabat kamu?" tanya Prilly hati-hati. Ia sangat berharap Vivi mengijinkan dirinya menjadi bagian penting di hidup Vivi. "Sorry, Prill. Cari yang lain aja ya." Vivi sudah berdiri dari kursi kantin jika Prilly tidak segera menahannya. "Kenapa, Vi? Aku sendiri di sekolah ini. Kamu pun sendiri. Aku hanya ingin aku dan kamu menjadi kita." Prilly berhasil membuat Vivi kembali terduduk. "Apa aku ada salah sama kamu? Maaf ya, Vi kalau pernah memyinggung perasaan kamu tanpa aku sadari." "Gak ada, Prill. Lo gak ada salah apa pun kok." "Terus kenapa, Vi? Kamu baik sama aku. Kamu peduli sama aku tapi kenapa aku gak boleh jadi bagian hidup kamu. Apa karena aku buruk tidak pantas ditemani ya?" "Gak gitu juga, Prill. Mereka hanya gak cocok sama lo atau pun gue bisa jadi." "Kalo kamu punya masalah bisa kamu ceritain sama aku, Vi." "Gak ada hehe. Gue sendiri gak papa kok, Prill. Gue hanya gak terlalu bisa bersosialisasi aja. Gitu." "Ya udah tapi makasih ya, Vi udah nolong aku tadi." "Sama-sama, Prill. Gue duluan ya." Prilly tertegun saat Vivi pergi dari hadapannya. Ia harus apa sekarang? Ia merasa tidak pernah ada siswi lain yang bersedia menjadi temannya. Hal itu yang membuat Prilly bingung. Mungkin hanya Ali. Ya, pria itu yang kini menjadi kekasihnya. *** "Prilly!" teriak Ali dari kejauhan. "Kak." Seperti biasanya Prilly meminta lengan Ali untuk di salaminya setiap berjumpa. "Lo ... Potong rambut?" Ali tampak memerhatikan rambut Prilly yang lebih pendek dari biasanya. Prilly tersenyum lalu menunduk seketika. "Emm ... Disuruh Bunda, Kak." Prilly teringat ancaman yang diberikan Shinta kemarin. "Gak papa. Tetap cantik." Ali tersenyum dan menaruh lengannya di atas rambut Prilly. "Tapi ... Kok potongnya masih berantakan?" "Hehe. Itu ... Ak—aku ... Potong sendiri. Iya gitu, Kak." "Gua ratain ya?" tawar Ali terkekeh. "Memang Kak Ali bisa?" "Ayo." Ali menggandeng lengan Prilly. Ia menautkan jari-jarinya agar bisa lebih nyaman. Mereka berjalan ke arah perpustakaan. Mungkin Ali akan membenarkan potongan di rambut Prilly di ruangan ini. "Pak, boleh pinjam gunting kertas?" tanya Ali pada penjaga perpustakaan. "Silakan." Setelah mendapat ijin, Ali mengajak Prilly untuk ke sudut perpustakaan yang paling sepi. Ia memerintah Prilly untuk membelakangi dirinya. Hingga posisi Ali berada di belakang Prilly. "Kak, emang kalo rambut aku pendek Kakak jadi gak suka lagi ya? Emm kayanya aku makin jelek setelah rambut aku pendek." "Hey, siapa yang bilang? Apa pun keadaan lo, lo tetap cantik." Ali mulai memotong rambut Prilly agar tampak lebih rapi. "Oh iya, Kak. Boleh gak aku minta sesuatu." "Boleh. Lo mau apa?" Diam-diam Ali mengeluarkan sesuatu dari dalam tas punggungnya. "Semoga lo suka, Gadis Manja." Dalam hati ia berbicara sambil membuka kotak kecil yang menyerupai kotak perhiasan. "Aku mau putus, Kak." Prilly meneteskan air mata begitu berhasil mengatakan kalimat ini. Tangan Ali berhenti bergerak, yang semula ingin memasangkan kalung di leher Prilly. Cepat-cepat ia kembali menaruh kalungnya di kotak ini karena ia membaca pergerakan Prilly yang sepertinya ingin membalikkan badan. "Maaf ya, Kak. Kita sampe sini aja." Dugaan Ali tepat di sasaran. Prilly menghadap ke arahnya dengan wajah menunduk ke bawah Ali menaruh telapak tangannya di bawah dagu Prilly. "Lo bilang apa?" tanya Ali memajukan sedikit wajahnya dan berbisik. "Putus?" Prilly tetap dengan posisinya yang masih setia menunduk. "Kata Bunda ... aku jadi malas belajar. Bunda nyuruh aku fokus belajar dulu, Kak." Perlahan Ali mengangkat dagu Prilly pelan. Hingga dalam hitungan detik ia sudah melihat wajah Ali dengan mata memerah seperti menahan tangis. Prilly yang tidak sanggup melihat reaksi kecewa di wajah Ali kembali menatap ke bawah lantai. "Coba bilang minta putus sambil liat mata gua," lirih Ali berbisik. Prilly menggelengkan kepala. Ia sama sekali tak berani menatap Ali. Namun Prilly tak kehabisan akal. Ia menatap Ali sebentar tak lama menatap ke arah lain. "Aku sudah mencintai pria lain. Aku ... Minta maaf yah, Kak." "Liat gua Prilly!" Prilly melepaskan tangan Ali yang sejak tadi masih setia melekat di wajahnya. "Semoga Kak Ali dapat cewek baru ya." Prilly meraih tas selempang miliknya. "Aku permisi." Ali kembali membuka kotak kalung yang berhasil ia sembunyikan tadi. Ditatapnya kalung berinisial P itu yang sebelumnya ingin ia berikan untuk Prilly sebagai hadiah pertamanya. "Lo kenapa, Prilly?" Ali memejamkan matanya bertepatan dengan air mata yang telah jatuh. Setelah sekian lama ia tidak menangis, mungkin hari ini untuk pertama kalinya ia menangis kembali. "Bunda lo bilang lo harus fokus belajar. Tapi kenapa lo bilang lo mencintai pria lain?" batin Ali mengingat alasan Prilly mengakhiri hubungannya seperkian menit yang lalu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN