Shinta menghampiri meja yang diduduki Dhea dan Novli. Ia cukup bahagia mendapat kabar bahagia karena Ali tidak ada di sekolah hari ini.
"Girls kesempatan besar buat hajar si Prilly. Adik kelas kita yang sok cantik itu. Kalian mau kan bantu gue?" Shinta mengeluarkan bedaknya serta bicara dengan sambil memoles wajahnya.
"Boleh. Gue juga jijik banget tuh sama Prilly karena pernah aduin kelakuan gue ke Baja. Harusnya Baja gak tau kalo gue pernah bully Vivi, tapi karena cewek itu Baja nampar gue Shin!" seru Novli yang mendukung akan niat Shinta
"Terserah kalian dah. Gue ikut kalian aja. Tapi kalo ketahuan Ali nama gue gak mau ikut kotor pokoknya." Dhea menyahut dengan santai.
"Tenang aja hari ini malaikat si Prilly itu gak ada. Secara dia kan gak punya temen kecuali si Ali yang b**o itu!" Shinta tersenyum miring.
"Lo tuh gak konsisten banget sih! Lo bilang suka sama Ali tapi kok jelek-jelekin dia sih." Dhea tampak asik menyisir rambutnya di depan kamera.
"Bener. Aneh lo. Dasar labil," umpat Novli dengan suara pelan. Karena dirinya sedang sibuk selfie sendiri.
"Gue tuh deketin Ali karena dia pinter! Kalo gue berhasil jadi pacarnya. Gue kan bisa suruh dia aja yang kerjain PR gue haha." Shinta menaruh kedua lengannya di depan d**a.
"Ayo girls! Kalian siapin apa yang gue minta. Gue mau pastiin Ali udah pulang belum."
***
Prilly tengah asik menyantap ice cream favoritnya yang ia beli tadi karena merayakan hari jadiannya bersama Ali tak lupa ia membeli 2 buah untuk Ali. Namun Ali mendapat surat dispensasi karena ia akan lomba futsal antar sekolah. Hingga membuat dirinya malah menikmati ice cream sendirian. Karena sudah terlanjur membeli, Prilly berniat menghabiskan ice cream yg harusnya menjadi milik Ali.
"Hempppttt!"
Ice cream yang Prilly pegang jatuh di dekat kursi taman yang sebelumnya Prilly duduki.
"Ayok kita bawa ke gudang sebelum ada yang lihat!" Shinta menyuruh kedua temannya untuk menyeret Prilly hingga sampai ke gudang.
"Rasain lo, Prilly! Lo pikir siapa cari masalah sama gue." batin Shinta menatap Prilly tajam.
"Dhe lo iket kakinya, biar gue yang iket badannya." Dengan gerakan cepat Novli mendudukan Prilly di sebuah kursi dan segera kedua tangan Prilly terkunci karena terhubung antara tangan kursi dengan tangannya.
"Kalian mau apa, hiks. Lepasin saya," pinta Prilly memohon. Ia sudah menangis ketakutan di sana.
Shinta hanya menonton Dhea dan Novli yang sedang berusaha mengikat Prilly di kursi itu.
"Tolongggg!!!" teriak Prilly sekeras mungkin.
Plak!
Shinta berhasil melayangkan tangannya untuk memukul wajah Prilly.
Tak lama tangannya ia gunakan untuk menarik rambut Prilly ke arah depan. "Lo berisik, lo akan tau akibatnya b***h!"
"Hiks, lepasin saya, Kak." Prilly meringis sakit karena Shinta bukan hanya menarik rambutnya tapi wanita itu meremasnya dengan sangat kencang.
"Dasar l***e! Gak tahu diri!" Shinta melepas jambakannya dengan sekali hentakan.
Tak puas sampe di sini Shinta meraup dagu Prilly dan menekan kuat rahangnya. "Lo pake dukun mana sampe Ali bisa nembak lo, hah?"
Prilly menggeleng lemah karena sulit bicara.
"LO BISA DENGAR GUE GAK!!!"
"Hiks, sa-kit."
"Dhe mana guntingnya!" Shinta menyerahkan tangannya pada temannya itu.
"Gue kan udah bilang jauhin Ali. Lo gak nurut. Jadi lo harus terima konsukuensinya hahaha." Shinta tampak memainkan gunting itu di hadapan wajah Prilly.
"Saya gak akan jauhin Kak Ali kalau bukan dia yang minta, Kak. Lebih baik Kakak temui Kak Ali dan meminta padanya untuk menjauhi saya. Kalau Kak Ali menuruti permintaan Kakak, saya pun akan menuruti permintaan Kak Ali, hiks."
"Gue bingung. Cewek cengeng kayak gini? Bisa disukain sama Ali? Lihat apanya sih dia! Gak ada cantik-cantiknya! b**o iya!" Shinta menaruh telunjuknya di dahi Prilly tak lama mendorongnya.
"Saya memang seperti ini, Kak. Tapi terbukti bukan, kalo Kak Ali lebih pilih saya dari pada Kakak!" Prilly berusaha melawan wanita pengecut di hadapannya ini.
"Langsung aja, Shin. Nantangin lo tuh!" seru Novli tak terima. Ia merasa Prilly so cantik.
"Akh!" Prilly kembali meringis saat Shinta kembali menarik rambutnya ke atas.
"Gue yakin setelah Ali melihat tampilan lo yang baru, dia akan berubah perasaan dan milih gue! Ingat itu, l***e!"
"Jangan, Kak, hiks." Prilly memejamkan mata saat merasa potongan rambutnya mulai jatuh mengenai wajahnya.
Shinta memotong rambut Prilly secara asal dan tentunya berantakan tak keruan. Kini yang semula rambut Prilly indah nan panjang, sekarang srmuanya berubah setelah alat gunting itu disalahgunakan oleh pemilik tangan wanita cantik berhati iblis itu.
"Silakan Kakak melalukan apapun. Tapi usaha Kakak tidak akan berhasil jika untuk menyuruh apa yang Kakak inginkan. Karena saya tidak akan pernah mau, hiks."
"Oke, berarti setiap saat lo bersedia gue bertindak gini!" teriak Shinta kesal.
"Nov gue minta foto!"
Segera mungkin Novli menyerahkan selembar foto yamg dimaksud Shinta.
"Heh! Kalo lo ngadu ke Ali, orang yang ada di foto ini jangan harap akan baik-baik aja!" ancam Shinta menunjukkan foto itu tepat ke hadapan Prilly di mana di dalamnya menampilkan wajah adik kecilnya yang bernama Andra.
Prilly tertegun kala melihat foto adiknya bisa bersama Shinta. Kini anak tak bersalah itu menjadi sanderaan yang dipakai Shinta agar Prilly bisa tutup mulut.
"Saya mohon jangan sakitin adik saya, Kak," pinta Prilly yang semakin menangis.
Senyuman Shinta bersama teman-temannya tercetak jelas kali ini. Rupanya kelemahan Prilly terletak di keluarganya.
"Asal lo gak macam-macam sama gue, adik lo bisa selamat."
"Cabut girls! Jangan lupa matikan lampunya dan kunci ruangan ini. Biarkan dia membusuk di sini."
Shinta mulai melangkah pergi mendahului temannya.
"Kak, Novli, Kak Dhe jangan pergi dulu, hiks. Lepasin saya dulu, Kak," mohon Prilly yang sama sekali tak di dengar keduanya.
Dhea mulai ikut keluar dari ruangan ini untuk menyusul Shinta. Menyisakan Novli yang masih setia berdiri di sana.
"Kak Novli mau bebasin saya kan? Saya mau kok jadi teman Kakak kalo Kakak baik sama saya, hiks." Prilly berharap banyak untuk wanita yang masih setia untuk tidak pergi itu.
Novli mendekat ke arah Prilly dan mengusap bahu Prilly dari belakang. "Gue mau jadi teman lo kalo lo berhasil bikin Kak Baja jatuh cinta sama gue. Lo aja bisa dengan cepat bikin Kak Ali suka kan sama lo?"
"Tapi Kak Baja menyukai Vivi, Kak."
"Ini yang gue gak suka sama lo! Vivi itu bukan cewek baik-baik asal lo tau! Tapi lo, malah ikut campur urusan gue sama Vivi. Lo tuh sama kaya dia! Sama-sama murahan!" Novli meludah wajah Prilly sebelum akhirnya ikut pergi meninggalkan tempat ini.
Novli mematikan lampu ruangan gudang hingga ruangannya semakin bertambah gelap. Tak lupa ia mengunci ruangannya dan membuang kunci itu ke sembarang arah.
"Kak Ali, aku takut gelap hiks." Prilly menangis dengan wajah tertunduk. Ia tak mau melihat ke arah sekitar karena tak melihat apapun.
"Tolongggg!!!" Prilly berteriak sekeras mungkin sambil berusaha melepaskan tali tambang yang dipakai mereka untuk mengikat dirinya.
Ceklek!
Prilly terkaget saat mendengar suara pintu kembali terbuka dan samar-samar ia melihat ada seseorang yang masuk karena ada cahaya yang ikut masuk ketika pintu itu terbuka sedikit lebar.
"Prilly," lirih seseorang....