13. Dua Insan yang Bahagia

1121 Kata
Di ruang makan kini sudah ada Ully, Ali, Prilly serta Andra. Ully duduk di samping Andra. Ali memilih posisi duduk di samping Prilly yang berhadapan dengan Ully. "Padahal Ali ke sini gak ingin repotkan siapa pun, Bunda." "Ah nggak ada yang repot di sini, Nak. Bunda sangat hobi memasak. Jadi ada nggak hobi yang merepotkan?" tanya Ully membuat semuanya terkekeh kecil. Termasuk Andra. "Benar tuh, Kak. Bunda kalo udah di dapur suka lupa diri. Eh maksudnya lupa waktu, Kak." Prilly tersenyum senang dengan bata berbinar. "Lo bisa masak?" tanya Ali membuat senyuman Prilly memudar. "Hehe, aku bisanya ... makan, Kak." Prilly menggigit bibir bawahnya. "Hahaha Kak Ali tau gak, Teh Prilly pernah masak ikan terus gosong. Goreng tahu tempe aja minyaknya terbang-terbang, Kak. Terus pernah cuma bikin air panas tapi airnya bau sangit, Kak," adu Andra membuat Ully menggelengkan kepala. Pernyataan jujur dari Andra Prilly tersenyum kikuk serta merasa malu berlebih di hadapan Ali. Ali mengerti perasaan Prilly yang merasa gagal menjadi seorang wanita. Perlahan tangannya meraba puncak kepala Prilly dan mengelusnya sejenak. "Gak Papa. Nanti kita belajar bareng, oke." "Tuh, Prill jangan sedih ya." Ully menghibur Prilly dengan senyuman tulusnya. "Lagian gua nanti nikahin lo buat jadiin lo istri. Bukan pembantu. Ya kan, Bunda?" Ali ikut membujuk gadis yang kini telah menjadi kekasihnya. "Kak Ali gak malu?" "Gua pake baju, Prill." Ully serta Andra malah terkekeh geli mendengar celotehan mereka. Kehadiran Ali di ruangan ini menjadi suasana baru yang sebelumnya belum pernah ditemukan. Ali bukan lah pelawak. Namun gaya bicaranya selalu ingin membuat orang lain ikut tertawa. Padahal Ali saja tidak tertawa. "Udah, udah lanjut makannya ya," lerai Ully. "Kak Ali berani suapin Teteh depan Bunda nggak? Andra mau lihat dong. Untuk pengetahun biar Andra suapin Vela di sekolah hihi." "Berani, dong. Kamu masih kecil hey. Siapa itu Vela?" Ali tidak berhenti ingin tersenyum di rumah ini. Ia merasa disambut baik oleh keluarga Prilly. Sayangnya Ayah Prilly belum pulang. "Pacarnya Andra dong, Kak. Andra juga punya cewek keleus." Lagaknya tinggi. "Jangan percaya, Kak. Dia masih kecil playboy. Masa semua temen ceweknya dikasih bunga dan surat cinta." Prilly balas dendam membuka aib adiknya di hadapan Ali. "Ih teh Prilly jangan gosip dong," protesnya terdengar oleh semuanya. "Kalian tuh ya, ribut terus. Gantian dong kasih waktu Nak Ali untuk bicara dan bercerita." "Gak papa Bunda. Ali di rumah kalo kumpul gitu kok." "Ayo, Kak katanya mau suapin. Teteh paling gak suka wortel coba Kak Ali paksa. Pasti dia mau deh." Andra memberi usul dengan maksud menjahili kakaknya. Kini Ali ingin melakukan tantangan dari Andra untuk menyuapi Prilly makan. "Andra ih." Prilly berdecak sebal Ali memotong wortelnya menjadi beberapa bagian. Ia memiliki trik membuat Prilly nurut padanya. "Buka mulutnya." Ali mengarahkan sendok ke dekat mulut Prilly. "Gak suka wortel, Kak." Prilly menggeleng cepat. Ali tersenyum dan meraih dagu bawah Prilly. Lalu ditahannya dengan tangan miliknya. "Mau jadi istri idaman nggak?" Prilly mengangguk pelan. "Gak kelihatan Prilly. Wortelnya udah gua potong kecil-kecil loh," bujuk Ali lembut. Prilly menatap Ali dengan tatapan memohon tapi Ali membalasnya dengan tatapan menuntut. Akhirnya Prilly melahap isi dari sendok Ali. "Horeee." Ully dan Andra kompak bertepuk tangan ria. "Tau gak, Li? Dia pertama kalinya loh berhasil makan wortel." "Yang benar, Bunda?" "Si Prilly udah Bunda marahin sampe nangis tetep gak dimakan. Sering tuh Ayahnya marah tapi dia gak mau dengar." Kini Ully yang mengadukan kelakuan Prilly. "Lo bandel ternyata. Pantes ini badan kecil terus. Makan yang sehat, Prilly," tegur Ali membuat Prilly mengulum senyumnya. "Tuh dengerin." Andra mengejek kakaknya dengan puas. "Tenang aja, Bunda, nanti kalo dia udah jadi istri Ali gak akan Ali biarin dia kayak gini terus. Kalo boleh nanti Ali paksa kalo dia gak nurut." "Asikkk Andra suka Teteh digituin hahaha." "Ihhh aku dibully mulu di sini gak ada yang bela." Prilly memanyunkan bibirnya lucu. "Iya, Nak terserahmu lah. Soalnya kalo Bunda yang paksa gak mempan. Sama satu lagi, Li. Prilly nih paling anti minum s**u. Beuhh kalo disuruh minum s**u apapun jenis susunya dia beralasan bau anyir." "Bunda ihh." Prilly memasang wajah yang semakin bete. "Bagus lo ya pedes-pedesan di sekolah tapi gak makan wortel gak minum s**u. Lo gak tau hidup sehat, iya?" tekan Ali membuat Prilly ingin tertawa. Ali bukan pria munafik yang menutupi sifat aslinya di depan orang lain seolah menjaga image. Tapi ia tetap jadi dirinya sendiri di mana pun berada. Ia tetap menjadi Ali yang posesif. Tetap menjadi Ali yang galak dan disegani. Jujur Prilly senang dengan cara Ali menunjukan rasa kepeduliannya. Siapa yang tidak makin sayang kalau begini? "Itu, Li jeleknya Prilly. Kalo udah nemu makanan yang pedes paling juara kalo yang sehat-sehat malah gitu. Marahin aja Li. Bunda mau anak Bunda bisa berubah setelah bersama kamu ya. Pokonya kamu hebat kalo bisa bikin Prilly mau minum susu." "Iya, iya udah ih Prilly bukan artis yang bisa kalian gosipin terus menerus." Prilly mencoba membela dirinya sendiri. Andra merasa ini hari kebahagiaan yang paling bermakna di hidupnya. Karena kedatangab Ali ia berhasil memojoki Prilly berbagai cara. Terlebih dengab dukungan sang Bunda. "Ya udah, Bunda udah sore. Ali pulang dulu ya." "Buru-buru amat, Nak. Masih jam segini kok," tahan Ully yang sepertinya tidak rela Ali pergi. "Hehe, kasian Mama barangkali nunggu Ali, Bun. Gampang nanti kapan-kapan main lagi." "Makasih ya, Kak Ali udah bantuin Andra bully Teteh, hihi." "Sama-sama, Andra. Aku pulang ya." Ali mengacak pelan rambut anak kecil berumur 7 tahun itu. "Ya udah Bunda. Ali pamit sekarang ya." Ali meraih lengan Ully dan menciumnya. Tak lama Andra ikut menyalami tangan Ali. "Kapan-kapan boleh lah pertemukan Bunda dengan calon besan." "Hehe iya, Bunda nanti Ali bilang ke Mama. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." "Aku anter Kak Ali ke depan dulu ya, Bun." *** "Makasih ya udah terima gua di sini dengan penuh kehangatan. Next kita akan punya keluarga harmonis juga ya." Ali menjawil hidung Prilly gemas. Prilly malah memeluk pinggang Ali dari depan. Saking bahagianya ia memiliki kekasih seperti Ali. "Aku gak tau harus bilang apa, Kak. Aku bahagia bersama Kak Ali." Ali mengelus rambut Prilly penuh kelembutan. Tak lama menghadirkan kecupan manisnya tepat di pelipis Prilly. "Gua pulang ya. Lo belajar yang bener. Kita jangan pacaran yang lebay yang tiap hari harus chating. Gua gak mau lo gitu, Prilly. Kita boleh pacaran. Tapi lo masih jadi siswa. Nanti kita udah nikah kita pacaran tiap saat juga gak masalah. Banggakan orang tua. Oke." "Kakak jangan kapok ya main ke rumah Prilly." "Nggak, Sayang. Udah gua pulang ya." Prilly melambaikan tangan saat Ali sudah melangkah keluar rumah. "Kak lupa ya? Prilly belum salim." Prilly mengejar Ali dan meraih lengannya. "Hati-hati Kakak. Love you." Prilly mengecup singkat pipi Ali dan langsung berlari kembali ke arah rumah. "Kabar bahagia buat Mama." Ali tersenyum senang mengingat perlakuan agresif Prilly barusan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN