12. Diresmikan

1197 Kata
Ali mengambil lengan Ully untuk menyalaminya. "Saya Ali, Bunda." "Duduk, Nak." "Bunda.. Kenalin ini Kak Ali. Kakak kelas Prilly yang sering Prilly ceritain itu loh." "Wah akhirnya Bunda melihatmu langsung, Nak." Ully tersenyum menatap wajah dingin Ali. Ali menanggapi keduanya dengan sewajarnya. "Tadi Prilly di bully sama senior cewek Bundaa.. Tapi ada Kak Ali yang jadi pahlawan, hehe" adu prilly di akhiri dengan kekehan. "Makasih ya, Nak Ali. Maaf Prilly merepotkaan kamu." "Tidak, Bunda. Ali tidak merasa direpotkan." "Prilly itu anaknya manja sekali. Apa-apa selalu cerita sama Bunda. Dia juga tidak bisa membela diri jika di ganggu oleh teman-temannya. Nak kalo boleh Bunda pesan sama kamu. Tolonglah kamu berteman baik sama Prilly. Biar Prilly ada yang jagain gitu." "Baik Bunda. Ali siap menjaga Prilly. Ali juga mau kalau nanti jadi pendamping hidup Prilly. Ali akan memanjakan Prilly." "Terima kasih Nak. Kamu baik sekali. Bunda bersyukur ada pria tulus yang mau menerima Prilly apa adanya." "Pendamping hidup itu sama aja yang buat menemani kita kalo udah nikah yah Kak?" celetuk Prilly dengan polosnya. Ully dan Ali hanya tersenyum mendengar celotehan Prilly "Tapi setahu Bunda, nak Ali juga sering membully Prilly loh. Prilly cerita sendiri sama Bunda." "Hehe sebenarnya Ali mencari perhatian Prilly Bun. Tapi Prilly polosnya kebangetan. Dia gak pernah peka kalo Ali suka dengannya, Bun. Ali cape pura-pura jadi seseorang yang seakan paling membenci Prilly. Ali setiap saat mencari cara untuk bisa membully Prilly, biar Ali punya alasan untuk minta maaf dan dekat sama anak bunda. Dia pernah nangis karna Ali, Bun?" cerita Ali diakhiri dengan bertanya. "Setiap kamu bully dia, pulangnya dia nangis karna katanya kamu menyebalkan Nak. Tapi Prilly gak mau nangis di depan kamu katanya nanti kamu tau wajah jeleknya. Prilly ingin kamu menilainya selalu cantik. Tapi kamu selalu dingin, mangkanya dia gak mau ungkapin perasaannya sama kamu. Dan Bunda kaget ternyata kalian saling suka." "Kalian membicarakan aku yaa?" Sepertinya keduanya lupa akan kehadiran Prilly di sana. "Hey dengar, mulai sekarang Aku sayang kamu." Ali mengusap lembut rahang Prilly. Begitu gentlenya Ali mengucap kalimat sayang di depan Ully. "Prilly juga sayang Kakak." Pipi Prilly merona, ia malu diperharikan Bundanya saat itu. "Maafin kesalahan Ali Bunda, Ali usahakan selalu membahagiakan Prilly suatu saat nanti." "Kakak ayo kita ketemu hamster Prilly," ajak Prilly yang hampir lupa akan niatnya membawa Ali ke rumah ini. "Ali ke depan dulu ya, Bunda." "Baik, Nak. Bunda mau masak dulu ya." "Jangan repot-repot Bunda." "Ah gak papa. Bunda ke belakang ya." Sepeninggalan Ully, kini menyisakan Ali dan Prilly saja. Ia jadi malu karena sudah terang-terangan mengatakan sayang pada gadis manjanya. "Kak Ali, ayo!" panggil Prilly yang dengan antusiasnya. Ali menuruti keinginan Prilly untuk melihat hamster inguannya. "Hai, Kiko. Kenalin ini Kak Ali. Dia bilang wajah aku mirip sama kamu, parah banget kan?" Diam-diam Ali tersenyum. Selain lucu, Prilly penyayang pada hewan. Begitu pandangan Ali sekarang. Hari ini ia menambah wawasan baru. "Hamster lo lihatin gue mulu." Ali berkomentar. "Kalau ada orang baru emang gitu, Kak hihi." "Assalamualaikum Teh Prilly," sapa anak laki-laki kecil menghanpiri Prilly dan mencium lengan Kakaknya. Benar, dia Andra. Adik satu-satunya yang dimiliki Prilly. "Waalaikumsalam. Salim, Dek sama teman Teteh." "Hallo, Kak. Aku Andra." Andra meraih lengan Ali dan mencium punggung tangannya. "Hai, aku Ali." Ali tersenyum manis pada pria kecil ini. "Aku masuk dulu ya, Kak," pamit Andra melangkah masuk ke rumah. "Adek lo?" tanya Ali basa-basi. "Iya, Kak hehe. Kalau Kak Ali punya adek gak?" Prilly malah bertanya balik. "Adanya Abang." "Kalo aku main kok gak ketemu ya?" "Jauh." "Kak, hehe." Prilly memanggil Ali dengan diiringi kekehan. "Iya?" "Yang tadi Kakak bilang depan Bunda itu beneran ya?" Prilly menggigit bibirnya penuh harap. "Mampus. Lo ceroboh sih Li. Udah tau Prilly masih polos." Ali beragumen dengan batin dan pikirannya. "Ak ... Aku mau kok jadi pacar sungguhan Kakak kalau Kakak mau meresmikannya. Bukan cuma di depan Mama Eci lagi. Ta–tapi di depan semuanya. Iya semua orang maksud aku." Prilly menunduk dan berusaha mati-matian menahan rasa malunya. Ali meraih kedua lengan Prilly yang sedang asik meremas-remas baju bagian bawah. "Lo udah ngerti?" Prilly menatap Ali dan mengangguk pelan. "Dari mana lo ngerti?" Ali tersenyum manis dan berusaha menghilangkan wajah dinginnya. Prilly kembali menunduk malu. Ia begitu tersipu ditatap oleh netra Ali yang paling meneduhkan. "Dari perlakuan Kakak selama ini." "Awalnya aku pikir ini hanya perasaan bahagia memiliki teman lawan jenis. Tapi aku selalu nyaman kalau di dekat Kakak," lanjut Prilly menjelaskan. Ali mengangkat pelan dagu Prilly agar Prilly kembali menatap dirinya. "Jadi lo mau sama gua?" Jari Ali megelus lembut pipi Prilly. "Mau, Kak." Prilly tersenyum haru. "Kenapa mau?" tanya Ali sedikit terkekeh. "Apa harus diberi alasan, Kak? Aku gak siapin alasan untuk menyukai Kakak." Ali menarik tubuh Prilly lebih dekat. Ia menaruh kedua lengan Prilly agar memeluk pinggangnya. "Udah lo gak usah suka sama cowok lain ya. Begitu lo lulus gua mau langsung aja. Satu semester lagi gua lulus mau cari biaya untuk kita nikah. Lo belajar yang bener oke." Ali menjawil hidung Prilly gemas. Prilly mengangguk dan menangis. "Kenapa nangis, hem?" "Aku pikir cuma aku yang punya perasaan ini, Kak." "Gua juga mikir itu. Sikap lo gak bisa gua tebak. Lo aneh, mangkanya gua bilang gitu. Prill, selama ini gua suka sama lo tapi gua gak mampu ungkapin itu karena gua pikir lo gak ngerti apapun hal ini. Gua takut menerima penolakan. Untuk itu gua bersikap dingin. Maafin gua ya." "Kakak juga aneh. Kalo suka sama aku kenapa gak bilang, hehe. Jadi siapa diantara kita yang lebih dulu menyimpan perasaan ini, Kak?" "Pertama kali lo datang ke sekolah ini gua udah suka sama lo. Dan perasaan suka ini berkembang menjadi rasa sayang setelah lo selalu hadir di sekeliling gua." Prilly menyandarkan kepalanya di d**a bidang Ali. "Makasih yah, Kak udah sayang sama aku. Udah nerima aku apa adanya. Cuma Kakak yang suka sama aku. Aku janji tidak akan menyukai pria manapun lagi kecuali Kakak. Sampai aku mati." "Nggak, Prilly. Banyak yang suka sama lo tapi mereka gak berani deketin lo karena mereka tau kalo gua menyukai lo." "Ya udah aku gak peduli. Aku cuma mau sama Kakak." Prilly mengeratkan pelukannya. Ali mengelus rambut Prilly lembut. "Kita resmi hari ini ya, Gadis Manja. Love you." Prilly semakin menangis kala mendengar Ali mengatakan kalimat cintanya. Mungkin Prilly tidak akan sebahagia ini jika yang mengatakan cinta pria lain. Namun mengingat pelakunya adalah Ali, tak bisa digambarkan lagi betapa bahagianya hati Prilly saat ini. "Love you too Kakak." Prilly mendongak menatap Ali dengan wajah penuh air mata. Ali melepaskan pelukannya. Kini tangannya sibuk mengelap sisa air mata di wajah Prilly. "Bener kata Bunda, lo jelek kalo nangis." "Ekhem! Ada yang baru jadi nih." Ali maupun Prilly sama-sama terkejut kala mendengar celotehan Ully yang entah sejak kapan berdiri di sana. "Kakak, sih. Bunda jadi tahu kan?" "Lo yang mulai." "Ayo ke sini anak-anak. Kita makan yuk. Bunda udah masakin untuk kalian." Prilly mengikis jarak antara lengan dirinya dengan lengan Ali berharap pria itu segera menggandengnya. "Kode mulu. Gua peka kok. Emangnya lo." Ali mearih lengan Prilly dan digenggamnya menuju masuk ke rumah. "Maafin aku yah Kak. Selama ini kan aku belajar dulu gak langsung pintar soal gini hehe."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN