Ungkapin perasaan sama lo seperti rumus matematika, sulit dijabarkan padahal gua suka. /Ali/
-Gadis Manja-
"BERHENTI!!" sentak seseorang membuat ke-4 gadis ini menolehnya dengan detik yang bersamaan.
"Ali!" kaget Shinta.
"Lepasin dia!" Jika sudah berurusan dengan Ali kedua teman Shinta tak mau ikut campur karena mereka sangat takut.
Dhea dan Novli akhirnya pergi meninggalkan Shinta di sana.
"Gak ada yang berhak ngatur Prilly untuk jauhin siapapun. Walaupun lo berusaha keras nyuruh dia buat jauhin gua tapi gua gak akan biarin dia buat ngejauh!"
"Li tapi cewek ini cuma mau manfaatin kepintaran lo doang. Secara nilai dia aja di bawah KKM!"
"Sekarang lo pergi sebelum gua lempar mangkok sambal ini ke seluruh wajah lo!" Ancaman Ali membuat nyali Shinta menciut, akhirnya ia pergi dengan mengentakkan kakinya kesal.
"Lo gak papa?" tanya Ali sementara Prilly hanya mampu menunduk.
Ali menarik salah satu kursi kantin di dekatnya lalu duduk.
"Lo gak capek berdiri terus?"
Beberapa detik kemudian Ali mendengar suara isak yang lolos dari bibir Prilly.
"Gak usah cengeng!" Ali menarik tubuh Prilly hingga wanita itu terjatuh tepat di pangkuan Ali.
"Sorry gua telat dateng." Ali malah menaruh dagunya di pundak Prilly.
"Sekarang lo aman di samping gua."
"Makasih udah nolongin aku Kak." Prilly beranjak dari pangkuan Ali dan duduk di kursi biasa. "lagi dan lagi hanya Kakak yang menolongku."
"Ya udah lanjutin makannya, mangkok ini gak disentuh cewek ular tadi kan?"
"Masih bersih Kak."
"Makannya tunggu gue bentar."
"Bang baksonya satu!" teriak Ali pada bang Jack.
Tak lama 1 mangkuk bakso melengkapi meja itu hingga kini ada 2 mangkuk berisi bakso.
Saat Prilly ingin menyuap bakso ke dalam mulutnya, Ali langsung merebut paksa sendok milik Prilly.
"Kak!" kaget Prilly.
Tak lama Ali menukar mangkuk bakso miliknya dan milik Prilly.
"Loh kok--"
"Jangan banyak protes! Makan!"
"Tapi itu punya Prilly Kak. Emm.. Lagian itu udah dingin gak akan enak. Kak Ali yang baru aja."
"Lo harus tau, gua paling gak suka ada orang yang membantah!"
"Maaf Kak." Prilly tak kehabisan akal, tangannya ingin meraih mangkuk yang berisi sambal, tapi lebih dulu mangkuk itu dijangkau Ali dan ia menumpahkan seluruh isinya ke dalam mangkuk bakso miliknya.
"Kak Ali suka sambal ya? Itu kan pedes banget Kak?" Ali malah sibuk mengaduk-aduk baksonya tanpa menjawab Prilly.
"Hmm Kak Ali curang diabisin padahal Prilly juga mau pake sambal. Walaupun sering bikin sakit perut tapi Prilly suka."
"Udah tau sering sakit perut, kenapa tetap dimakan?" semprot Ali tanpa sadar. Percayalah ini bentuk perhatian yang sederhana.
"Hehe, ya udah Prilly makan yang ori kali ini," ucap Prilly terdengar sangat polos di telinga Ali.
Tanpa sepengetahuan Prilly, Ali mengukir senyum tipisnya.
"Kaki lo udah baikan?"
"Lumayan Kak. Tapi masih agak ngilu dikit kalo dipake jalan terlalu lama. Terus di tukang martabak aku lupa aku lari."
"Gua anter lo pulang ya?" tawar Ali yang lebih mengarah pada keharusan.
"Emang gak ngerepotin Kak?"
"Mangkok lo masih penuh! Makan yang bener!"
***
Jam pulang telah tiba. Dengan antusias Prilly menunggu Ali di depan kelasnya. Ia tersenyum manis ke arah Ali yang masih membereskan buku di dalam sana.
Bukh!
Dengan tiba-tiba Shinta menabrak bahu Prilly kencang. Prilly yang sama sekali tidak tahu dengan kehadiran Shinta hanya merasa kaget diperlakukan seperti itu.
Prilly hanya menunduk saat Shinta menatapnya dengan sinis dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Dasar centil!" tekan Shinta sebelum akhirnya pergi dari hadapan Prilly.
Prilly menatap kepergian Shinta dengan perasaan sedih. Ia menimang perkataan senior itu, benarkah dirinya kecentilan?
"Lo diapain?" tanya Ali yang sudah berdapa di dekat Prilly.
Prilly menggeleng dan tersenyum. "Gak diapa-apain Kak."
Ali memasang hoodienya tak lama menarik lengan Prilly pergi dari kerumunan siswa di sana. Ia mengajak Prilly untuk mencari minum dahulu di warung Umy.
Sejak tadi berjalan, Prilly hanya diam. Tidak ceria seperti biasanya.
Ali tersenyum melihat wajah Prilly yang sudah ditekuk itu. Baru kali ini ia melihat gadis itu seperti kehilangan mood. Berhubung dirinya masih menggandeng lengan Prilly ia malah menautkan jari-jari Prilly dengannya. Mungkin ia akan menghibur Prilly dengan cara seperti ini.
Saat sampai di warung pagutan lengan keduanya terlepas. Ali menaruh tas punggungnya di atas meja dan memesan dua botol mineral.
"Kayaknya Kak Shinta begitu mengidolakan Kak Ali sama seperti aku." Prilly berbicara dengan nada ketus saat Ali telah duduk di hadapannya.
Merasa ditatap Ali seperti itu, Prilly menatap ke arah lain.
"Apa dia ... Cemburu?" batin Ali berusaha mengulum senyumnya agar tidak nampak sedikit saja di wajah tampannya.
"Minum dulu." Ali membuka tutup segel air mineral itu dan memberikannya pada Prilly.
Setelahnya Prilly meminum cairan itu hingga hampir habis. Menyiksakan beberapa mili saja.
Prilly menaruh wajahnya di kedua tumpukan tangannya yang berada di meja. Ia ingin menangis sekarang juga.
Ali merasa sesak melihat Prilly yang begitu menggalaukan dirinya. Mungkin besok ia akan membuat Shinta jera mengusik hidup Prilly. Lihat saja.
Ali meraih satu lengan Prilly dan dipegang ujung-ujungnya.
"Lo kenapa?" Akhirnya Ali berani mengeluarkan pertanyaan ini.
Prilly belum bangkit dari posisinya. Ia tak mau Ali melihat sedikit saja tangisannya. Untuk itu ia menangis diam-diam.
Padahal Ali sudah tahu apa yang terjadi pada Prilly. Namun ia bingung harus bertindak apa.
"Prilly," panggil Ali sembari mengelus punggung lengan Prilly yang sudah tampak berkeringat.
Prilly bangkit dari posisinya dengan wajah memerah. Matanya berair. Ia menunduk malu. Karena kenekatannya ia berhasil menangis di hadapan Ali.
"Nangis lah. Gak papa." Ali melembutkan di nada bicarannya. Tidak dingin seperti biasanya.
"Ternyata yang mengidolakan Kakak banyak bukan aku aja." Prilly menunduk malu karena ia masih saja menangis.
"Emangnya kenapa kalo banyak yang idoalain gua? lo sedih?"
Prilly mengangguk pelan. "Aku mau cuma aku yang mengidolakan Kakak. Bukan banyak orang."
"Gua tanya, lo kenapa idolakan gua?"
"Kak Ali murid pintar dan baik hati. Aku pikir karena Kakak paling ditakuti di sekolah, tidak akan ada yang mengidolakan Kakak selain aku. Tapi buktinya Kak Shinta marah-marah karena aku ada di dekat Kak Ali."
Ali menangkap sinyal baru yang diberikan Prilly. "Dia posesif dan cemburuan." Begitu ungkapnya dalam hati.
"Tapi kan gua gak mau sama Shinta maunya sama lo."
"Mau gimana, Kak?" tanya Prilly spontan.
"Emm...." Lagi dan lagi Ali salah bicara. "Maksud gua, gua gak mau berteman sama Shinta."
"Oh iya menurut Kakak kenapa sih gak ada yang mau jadi temen aku? Aku gak pantes punya teman yah, Kak?"
"Soalnya lo aneh."
"Oh berarti Kakak juga aneh."
"Kok gua?"
"Kan hanya Kakak yang mau jadi teman aku. Berarti Kak Ali aneh ya kan?"
"Jadi lo udah gak sedih?"
Prilly menggeleng mantap. "Kak, aku mau jajan dulu ya."
"Ayo Kak pulang." Prilly kembali ke hadapan Ali dengan wajah cerianya.
Melihat Prilly yang sudah mengajak pulang ia meraih tas punggungnya dan membayar air mineral tadi.
Keduanya berjalan sejajar. Namun Prilly bingung karena Ali tidak memegang lengannya seperti tadi. Ia melihat ke arah samping dan memerhatikan lengan Ali sejenak. Ali yang peka akan keinginan Prilly, ia kembali meraih lengan Prilly dan menggandengnya.
"Kalo mau gini tuh bilang." Ali memperlihatkan lengan keduanya yang sudah saling terpaut.
Prilly hanya tersenyum malu-malu.
Ali melepaskan gandengan tangannya ketika sampai di motor. Ia meraih helm nya dan dipasangkan pada kepala Prilly tanpa izin lebih dahulu.
"Kak aku gak suka pakai helm ihh."
"Mulai sekarang biasain pake. Lo kalo udah jadi milik gua gak akan gua biarin lo membantah aturan."
"Milik Kakak gimana maksudnya, Kak?"
"Maksudnya kalo lo udah bareng-bareng sama gua, lo gak boleh ngebantah gitu. Paham?"
"Oke, Kak. Aku paham. Ya udah aku nurut aja deh."
Keduanya sudah menaiki motor dan mereka segera meninggalkan tempat ini.
"Lo gak takut jatuh? Gua mau ngebut."
Prilly yang sudah mulai paham ia melingkari pinggang Ali dan menaruh wajahnya di punggung Ali. Ia tidak mengerti ini perasaan semacam apa. Dirinya selalu merasa nyaman jika sudah memeluk pria ini.
Sesekali Ali menatap lengan mulus Prilly yang kini melingkar di pinggangnya. Dengan perlahan Ali ikut menaruh lengannya di atas lengan Prilly. Mengusapnya sejenak.
"Tumben dia gak protes. Apa dia tidur?" batin Ali merasa bingung. Ia melirik ke arah spion namun tidak ada waja Prilly di sana karena wanita itu masih asik bersandar di punggungnya hingga Ali sulit menemukan keadaan Prilly sekarang.
"Apa yang ngebuat gue tergila-gila sama cewek ini? Tapi kenapa gue selalu gak bisa ungkapin apapun?" Ali terus mengusap-usap lengan Prilly yang menurutnya sangat lembut.
Motor Ali telah sampai di rumah Prilly. Karena terlalu sering mengantar wanita itu, Ali sudah hafal tanpa menunggu intrupsi dari Prilly. Seperti dugaan Ali, Prilly masih asik tertidur di sandarannya.
"Udah berapa banyak lo tidur di sandaran gue, Prill?" Ali terkekeh karena Prilly tidak juga bangun.
Ali melirik sedikit ke arah belakang.
"Heh bangun." Ali menepuk pelan pipi Prilly.
Tapi sepertinya tindakan Ali tidak memengaruhi apapun. Akhirnya Ia mewujudkan tujuannya dalam kesempatan ini untuk mencubit pipi Prilly.
"Kakak," lirih Prilly terkaget karena tindakan Ali. "Kakak kok cubit pipi aku?" protes Prilly langsung turun dari motor Ali.
"Lo udah gua bangunin dari tadi." Ali menjawab dingin.
"Ternyata udah sampe." Prilly mengucek matanya yang masih mengantuk. "Akhirnya Kakak bisa main ke sini."
"Di mana Bunda lo?"
"Sebentar yah, Kak. Ayo Kak masuk dulu. Aku panggil Bunda."
Ali membuntuti Prilly untuk melangkah masuk ke rumah itu.
"Assalamualaikum, Bunda!" Prilly berteriak sembari melepas sepatunya.
"Waalaikumsalam, Sayang. Eh ada tamu," gumam Ully ketika melihat putrinya bersama seorang pria.