10. Semanis Gula dalam Martabak

1135 Kata
Ali melihat gadis manja itu kini berada di pintu gerbang sekolah. Ia berjalan ke arah gerobak penjual martabak itu. "Mas beli martabaknya yang keju sama coklat," pinta Ali pada penjual martabak yang ada di sekolah. "Hy Kak," sapa Prilly yang melambaikan tangannya. "Lo! Ngapain lo di sini? Ngikutin gua ya," tebak Ali begitu percaya diri. "Aku di sini beli martabak juga dong Kak. Oh iya kalo Kakak bilang aku ngikutin Kakak itu salah, kan aku duluan yang nyampe di sini. Yang ada Kakak tuh ikutan aku pesan martabaknya samaan kayak aku," oceh Prilly. "Siapa juga yang ikutan lo," kilah Ali. "Ya udah tanya aja sama yang dagangnya kalo aku duluan yang pesan." Prilly tersenyum polos. "Nih Neng keju 1, coklat 1," ucap penjual martabak itu pada Prilly. "Loh Mas itu kan pesanan saya kok dikasihin ke dia sih?" protes Ali tak terima. "Yang pesan Neng itu duluan Mas," terangnya membuat Prilly menjulurkan lidahnya ke arah Ali. "Loh tapi kan-" "Kak Ali aku duluan ya," pamit Prilly. "Sana lo gue eneg lihat cewek manja kayak lo!" "Yakin eneg? Palingan nanti kalo udah dewasa Kakak cinta sama aku dan aku jadi istri sah Kakak hahaha. Bye Kak Ali." Prilly melangkah pergi dengan keadaan sedikit berlari karena hari ini kaki Prilly sudah mulai sembuh semenjak kemarin Ali yang berusaha mengurutnya. *** Prilly sedang asik memakan martabak manisnya di bawah pohon jambu. Ia duduk di tepi selokan kering dengan kaki yang menjuntai ke bawah. Saat sedang asiknya memakan, martabak rasa coklat miliknya jatuh ke bawah selokan. Padahal belum juga dimakan. Prilly melongo menatap martabak yang sudah di bawah itu. Ia melirik saku baju seragamnya di mana hanya menemukan uang untuk ongkos pulang. Hingga mengurungkan niatnya untuk membeli martabak itu. Tak lama ia terkejut karena ada tangan di depan wajahnya yang memberikan martabak rasa coklat. "Kakak," lirih Prilly menatap seseorang yang ternyata Ali. "Ambil," perintah Ali dingin. Tangan Prilly berusaha menerima martabak itu. Setelah pasti diterima oleh lengan Prilly. Ali duduk di sampingnya. "Buat aku, Kak?" "Jangan pede lo. Gua kenyang. Dan gue lihat punya lo jatuh." "Kakak perhatiin dan ikutin aku ya?" tanya Prilly dengan wajah imutnya. Ingin rasanya Ali mengutuk mulutnya sendiri. Menyesal berkata panjang lebar pada Prilly. Karena pertanyaannya tidak dijawab, Prilly memutuskan untuk memakan martabak pemberian Ali. Rasanya begitu sangat manis di lidah Prilly. Di samping itu, Ali diam-diam melihat Prilly yang asik menguyah. "Kakak pesan yang super sugar ya?" "Kenapa?" "Manis banget." Prilly menaruh kunyahannya ke bagian samping hingga pipinya lebih mengembang dan bergoyang-goyang. "Kapan gue bisa cubit pipi tembemnya?" batin Ali tak lepas menatap Prilly. Saat ini juga Ali berjanji dalam hati, ia akan segera bisa mencubit gemas pipi Prilly. "Lo tau hamster gak?" tanya Ali tiba-tiba. Mata Prilly berbinar. "Aku di rumah punya loh, Kak." Prilly melanjutkan acara mengunyahnya tak lama meraih tumblernya dan segera meneguk air mineral itu. "Kenapa Kakak tanya tentang hamster?" "Mirip lo." "Maksud Kakak hamsternya mirip aku?" tanya Prilly dengan mata membulat. Ali hanya menahan tawanya. Terlebih melihat ekspresi Prilly yang pura-pura marah dan mengembungkan pipinya. "Tapi masih bagusan hamster sih." Ali melirik ke arah gadis itu sekilas tak lama memalingkan kembali wajahnya ke arah lain. "Ketemu hamster Prilly mau nggak, Kak?" tanya Prilly dengan raut wajah ceritanya. Padahal baru saja tadi ia tampak pura-pura marah. Memang sangat ekspresif wanita ini. "Hmm ... Boleh. Hamster lo namanya Prilly?" "Ish Kakak! Maksudnya ketemu hamster akuu." "Mangkanya kalo ngomong jangan typo." "Hahaha." "Ketawa?" tanya Ali dingin. "Kakak lucu soalnya." "Gua bukan badut." "Jadi kapan Kakak main ke rumah aku?" tanya Prilly senang. Ia berusaha menepati janjinya pada sang bunda untuk menyeret Ali ke rumahnya. "Lo punya rumah?" tanya Ali dengan tampang serius. "Emmm...." Prilly menggigit bibir bawahnya. "Maksudnya ituu Rumah Bunda sama Ayah, Kak. Aku sih masih jauh punya rumah sendiri, Kak." "Lo mau serumah sama gua?" Ali bertanya pelan berharap Prilly tak mendengar. "Mau dong Kak!" Prilly berucap lantang membuat Ali tercengo. "Kan Mama Eci juga bilang kalau aku akan jadi anaknya. Berarti nanti aku sama Kakak kaya abang sama adek gitu yah Kak? Benar gak sih?" Senyuman yang berhasil terbit sedetik dari bibir Ali kini perlahan memudar. Prilly menganggap dirinya hanya sebagai abang? Ali mulai kehilangan mood untuk tetap berada di sini. Ia selalu memberi kode pada Prilly jika dirinya mulai respect namun Prilly selalu tidak peka dan mengartikannya hal lain. "Gua ada latihan basket." Ali beranjak dari duduknya dan langsung saja pergi meninggalkan Prilly. "Apa aku salah bicara sama Kakak?" tanya Prilly pelan. Ia membaca ekspresi Ali yang kelihatan memburuk. Prilly ikut berdiri dan mengibaskan roknya yang sedikit terkena dedaunan kering. *** Siang ini, tampak Prilly di kantin sendiri. Mungkin Ali tidak menemaninya karena masih marah perihal kemarin. Kini 3 senior wanita berjalan dengan dagu sengaja diangkat keatas merasa ketiganya seorang ratu. Ketua geng senior itu bernama Shinta dan dikawal dua temannya bernama Dhea dan Novli. Mereka mulai mendekati meja yang kini ditempati oleh Prilly. "Heh! lo bosen hidup ya?" Shinta bersama kedua temannya duduk di samping Prilly yang tengah asik memakan bakso. Karena tahu dampaknya jika Prilly terus berada di sini, ia memilih meninggalkan mangkuk baksonya yang masih utuh itu. "Maaf Kak saya permisi," pamit Prilly yang ingin melangkah pergi. "Gilrs pegang tangan dia!" Shinta memerintah pasukannya yang langsung dilaksanakan oleh Dhea dan Novli. "Mau kemana lo? maen-maen dulu yuk sama gue!" bisik Shinta dengan nada sangat mengerikan di telinga Prilly. "Kak, saya mohon lepasin saya," lirih Prilly sambil merintih karena cekalan kedua tangannya begitu kuat. "Kan gue udah peringatin sama lo, JAUHIN ALI, YA JAUHIN!!!" teriak Shinta tepan di depan muka Prilly. "Maaf Kak kalo itu saya gak bisa. Kecuali Kak Ali sendiri yang minta saya untuk jauhin dia," jawab Prilly tentu membuat Shinta naik pitam. "Langsung aja yuk guys!" Shinta menjentikkan jarinya, sebagai kode memulai aksinya. "Kak saya mau diapain?" tanya Prilly yang mulai takut. "Dhe, lo jambak rambutnya! Nov ambilin sambalnya!" Dhea dan Novli bagaikan b***k yang rela menjadi pesuruh Shinta. Kedua temannya itu langsung melakukan apa yang Shinta suruh. "Buka mulut lo cantik!" Prilly menggeleng cepat. Ia sudah paham niat jahat Shinta dengan kedua temannya Itu. "Kalo lo gak mau nurut pake cara halus, jangan salahin gue bakal pake cara paksa!" Shinta menaikkan dagu Prilly dengan kasar. "BUKA!!!" teriak Shinta kini tangannya sudah mencengkeram mulut Prilly dengan kuat, juga bantuan aksi Dhea yang kini sedang menarik rambutnya ke belakang hingga niat Shinta untuk memasukkan sendok yang berisi sambal itu kini bisa lebih mudah. Dengan posisi kedua tangan yang dipegang erat, Prilly susah melawan Shinta belum lagi tarikan rambutnya begitu kuat. Prilly hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan tempo cepat agar Shinta kesulitan melakukan aksinya. "Susah banget sih lo! Dhe jambak yang lebih kencang!" suruh Shinta sementara dirinya semakin menekan kuat pipi Prilly agar mulutnya kembali terbuka lebih lebar. "BERHENTI!!" sentak seseorang membuat ke-4 gadis ini menolehnya dengan detik yang bersamaan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN