"Love you Gadis Manja."
"Love you too Kak Ali."
Prilly mengecup pipi tembam Ali.
Ali terperanjat kaget dari alam tidurnya. Ia barusan memikirkan hal apa? Ia mimpi namun mengapa Prilly ada di sini?
"Lo ngapain di sini? Bukannya kaki lo patah?" tanya Ali dingin.
"Hehe iya, Kak. Cuma aku tadi ke dokter kok. Terus udah diurutin juga sama Bunda. Aku ke sini karena kangen Kak Ali." Prilly menunduk malu.
"Tadi siang aku mimpi, Kak," lanjut Prilly menatap Ali.
"Mimpi?" tanya Ali heran.
"Love you Gadis Manja."
"Ahhhh!" Prilly menjerit keras saat bangun dari tidur siangnya.
"Maksud Kak Ali apa sih? Prilly bingung." Ia mengucek kedua matanya.
Prilly menurunkan kakinya dan berniat bangkit.
"Akh!" Prilly lupa jika kakinya masih sakit karena terkilir itu.
"Bunda! Hiks." Prilly berteriak sambil menangis.
"Prilly!" Ully syok mendapati Prilly yang kini jatuh di lantai.
"Sayang, kamu mau ke mana, hem?" Ully membantu putrinya untuk bangun dan kembali didudukkan di atas kasur.
"Prilly kangen sekolah, Bunda."
"Prill, kan kakinya aja masih sakit buat jalan. Tunggu pilih, ya?"
"Prilly sekarang mau ke sekolah ya, Bunda."
"Kalo Prilly kuat, Bunda ijinkan. Siapa sih yang buat kamu begini, Nak? Cerita sama Bunda, Sayang." Ully mengecup ubun-ubun kepala Prilly.
"Kak Ali, Bun. Emm ... Maksudnya aku kangen Kak Ali Bunda. Mangkanya aku mau ke sekolah boleh ya. Bukan ke sekolahnya kok. Aku cuma mau ke taman belakang sekolah. Biasanya aku sama Kak Ali main di sana."
"Ini mampu buat kamu bahagia yah, Nak?" tanya Ully lembut.
Prilly mengangguk penuh harap.
"Mau diantar?" Ully mengusap rambut putrinya.
"Bisa sendiri, Bunda."
"Kamu naik apa ke sana?"
"Sepeda aja, Bunda."
"Kan kaki kamu sedang tidak baik, Nak."
"Sepedanya didorong aja, Bunda."
"Kalau gitu kamu gak usah bawa sepeda, kalau gak dinaikkin percuma kamu bawa sepeda."
"Sepeda itu fungsinya, hmm ... Adadeh. Aku main dulu ya Bun."
"Sepeda lo mana?" tanya Ali begitu Prilly selesai menceritakan mimpinya, yang ternyata keduanya memimpikan hal yang sama.
"Di belakang pohon, Kak."
Ali menengok ke belakang untuk sejenak.
"Kak Ali dari kapan di sini. Kakak gak belajar?"
"Gua udah pinter," aku Ali dengan angkuhnya.
"Hehe." Prilly mengulum senyumnya. Rindunya pada Ali sedikit terobati.
"Lo ngapain?" tanya Ali begitu Prilly menaiki sepeda mininya yang bertema doraemon itu. "Kan kaki lo gak bisa bawa sepeda." Ali melanjutkan bicara dengan perasaan sedikit khawatir.
"Main yu, Kak, hehe," ajak Prilly sedikit tak enak. Itu sama saja ia mendukung Ali yang hobi membolos.
Ali menatap Prilly dengan tatapan sulit diartikan. Tidak ada salahnya ia menerima ajakan Prilly.
"Lets go." Ali duduk di kursi jok bonceng sepeda Prilly.
Ali bingung. Prilly belum mulai untuk mengendarai sepeda mininya.
"Kenapa?" tanya Ali heran.
"Kok aku yang bawa? Kakak dong. Kan Kakak tau kaki aku sakit, hehe."
Prilly menggembungkan pipi berisinya.
"Turun." Ali memerintah Prilly akhirnya.
Prilly pindah ke belakang. Ali mulai mengayuh sepeda milik Prilly itu. Betapa groginya Ali saat merasa pinggangnya dilingkari tangan mungil Prilly. Begitu pun punggungnya, ia merasa Prilly bersandar padanya. Ia mulai kehilangan keseimbangan untuk tetap mengayuh sepedanya. Ia berhenti sejenak.
"Ada apa, Kak?"
Dengan tangan yang bergetar, Ali meraih satu tangan Prilly. Ia menggenggamnya. Bukannya tenang, ia semakin grogi.
"Lo bisa tenangin gue? Takut lo jatuh."
"Hehe, maksud Kakak seperti ini?" Prilly mengecup pundak Ali dan menelusup untuk mencium aroma tubuhnya.
Tanpa Prilly tahu, diam-diam Ali tersenyum. "Peka." Ali membatin sendiri.
"Kita lanjut ayo, Kak."
"Iya."
Mereka lanjut bersepeda dengan posisi Ali menggenggam jari Prilly. Dan satu tangan Prilly masih ia gunakan untuk memeluk pinggang Ali.