8. Danau Cinta

1180 Kata
PRILLY memasuki rumahnya dalam keadaan kaki yang sedikit pincang. "Assalamualaikum, Bunda." "Waalaikumsalam. Ya Allah Prilly! Kaki kamu kenapa?" panik Ully setelah melihat putrinya seperti itu. "Sakit Bunda, hiks." Prilly memeluk Ully erat. "Ceritakan sama Bunda kamu diapain? Ada yang bully kamu lagi?" "Kaki Prilly cuma terkilir, Bunda. Tapi sakitnya gak hilang-hilang, hiks." "Ayo ke kamar, nanti Bunda pijitin yah." Ully menuntun Prilly menuju kamarnya. Sampai di kamar, Ully merebahkan Prilly di kasur. "Kamu baringan aja ya, Nak. Bunda ambil air hangat dulu." Tak membutuhkan waktu yang lama, Ully kembali dengan baskom ditangannya beserta obat-obatan. "Mana yang sakit, Nak?" Ully menuangkan param ke baskom kecil beserta air hangat. "Yang kiri Bunda." Dengan telaten Ully membaluri kaki Prilly dengan param itu sambil sedikit memijitnya. "Makasih ya Bunda, hiks." "Jangan nangis Nak. Bunda gak mau lihat anak Bunda menangis." "Hiks, Prilly kangen Jessy, Bunda. Di sekolah Prilly gak punya teman. Kenapa gak ada yang mau berteman sama Prilly, hiks." "Syuttt...." Ully memeluk putrinya sembari mengelus rambut Prilly sayang. "Prilly masih ada Bunda. Kamu bisa anggap Bunda teman atau sahabat kamu. Nanti kan Ayah mau belikan kamu ponsel. Kamu bisa hubungi Jessy. Jangan nangis ya." "Masih sakit?" Prilly menangguk. Tak sedikit pun ia melepas pelukan sang bunda. "Prilly sayang Bunda, hiks. Jangan tinggalin Prilly, yaa." "Bunda juga sayang Prilly. Gak ada yang mau ninggalin kamu. Prilly mau makan? Bunda suapin ya?" "Hiks, nanti merepotkan Bunda hiks ... Hiks." Ully sangat paham Prilly sedang mode kekanakkan. Walau ia seorang Kakak dan memiliki adik tapi tak jarang ia bersikap manja pada Ully. "Prilly gak pernah merepotkan Bunda. Kamu tunggu ya, Bunda bawa makan ke sini." "Apa Kak Ali benci sama aku? Kenapa Kak Ali beda seperti kemarin. Apa aku ada salah?" batin Prilly sedih. "Sayang, nih makan. Bunda suapin, tapi janji harus habis ya." Prilly mengangguk patuh. "Enak?" tanya Ully tersenyum melihat Prilly lahap memakan. "Enak." "Kamu besok gak usah sekolah dulu, ya," saran Ully mencemaskan Prilly. Prilly hanya menurut. "Makan lagi," pintanya manja. "Iya, Sayang." Ully menyuapi Prilly makan sampai habis. "Istirahat, ya." Selesai acara makan Ully menyuruh Prilly untuk tidur. ??? Ali menatap mi ayam dihadapannya dengan pandangan kosong. Ia sudah terbiasa makan sendiri, lalu mengapa terlihat gelisah? "Kok hari ini gua gak lihat Cewek Manja? Apa dia gak masuk?" batin Ali mengaduk-aduk makanannya tak nafsu. Sejenak Ali nenyeruput minuman es jeruknya. Ia mencoba mengingat sesuatu. Dan, ya! "Apa dia gak masuk karena gak bisa jalan?" "Prilly...." Ali berkata lirih. Kini ia menyesali perbuatannya kemarin yang dengan sengaja membuat Prilly tak bisa jalan. "Lo ke mana sih?" Ali melirik ke arah sekitar. Matanya menyusuri mencari keberadaan wanita yang memiliki tinggi kurang lebih hanya sebahu dirinya. Ali meninggalkan kantin sebelum acara makannya selesai. Ia tak bisa menahan lagi. Ia harus mencari gadis itu. ??? "Lo udah baikan?" tanya Baja saat ini sedang bersama Vivi. "Udah, Kak." Vivi tersenyum kecil. "Lo kalo dibully tuh ngelawan, jangan diam aja!" ceramahnya terdengar marah. "I—ya Kak." "Kak Baja sebaiknya kita jaga jarak. Aku gak mau orang lain mengira kita ada apa-apa yang menimbulkan gosip buruk." Vivi terlihat menundukkan pandangan. "Lo kenapa? Ada yang ngancem lo? Ada yang ngomongin lo?" tanya Baja mengintrogasi. Vivi menggeleng cepat. "Nggak Kak. Aku hanya tidak enak hati." "Gini ya, Vi. Kalo lo takut sama mereka yang ada lo tuh yang diinjak. Lo harus berani, jangan pedulikan mereka. Lo mau deket sama siapa pun itu hak lo! Bukan mereka." "Tapi aku bukan type orang yang seperti itu, Kak. Aku sama kayak Prilly. Aku lemah." "Vi, belajar dari t*i. Biar pun letaknya di bawah orang segan untuk menginjak. Lo boleh tetap jadi diri lo tapi lo jangan mau diinjak sama orang lain," terang Baja sukses membuat air mata Vivi meluncur. "Iya Kak, aku mengerti." "Jangan nangis. Gue lebih suka lihat lo tersenyum." "Makasih yah, Kak." Ali berpapasan dengan Vivi dan Baja yang kini tengah bersama. "Ja, lihat Prilly gak?" tanya Ali to the point. "Lah nanya ke gue. Nih temen sekelasnya." Baja menunjuk Vivi. "Eh lo ya? Prilly ke mana? Lo lihat?" tanya Ali tak sabaran. "Hari ini Prilly sakit, Kak. Kakinya susah buat jalan katanya." Ali terpaku dalam diam. Ini semua karena ulahnya. "Thanks, ya." Ali beranjak pergi dari sana. ??? Prilly tengah memainkan ponsel barunya yang baru tadi pagi dibelikan ayahnya. Ia sekarang seperti remaja lain yang memiliki sosial media dan lain-lain. "Jadi gak sabar pengin ketemu Kak Ali." Prilly menggigit bibir bawahnya. Ingin rasanya detik ini ia bertukar nomor w******p dengan pria itu. "Semoga aku besok bisa masuk sekolah deh." Prilly menaruh ponselnya dan ia memutuskan untuk belajar. "Tuh Prilly memang murid teladan, Yah. Walaupun sudah kita beri ponsel dia gak melupakan tugasnya sebagai pelajar." Diam-diam Ully serta Radit mengintip aktivitas Prilly di balik pintu. "Iya Bun, kamu benar. Anak-anak kita semuanya membanggakan. Ayah gak sabar lihat Prilly lulus lalu sukses dan membuat kita semakin bangga." "Yang sabar Ayah. Kami percayakan sama waktu yang nanti akan menjawab." Ully tersenyum ramah menatap Radit. "Yuk," ajak Radit merangkul bahu Ully. "Iya, Ayah Sayang." ??? Ali melempar batu ke arah danau. Sesepi ini kah hidupnya tanpa Prilly? Padahal hanya satu hati. Lalu bagaimana Prilly kemarin saat Ali diskors selama seminggu. "Maafin gue, Prill. Gue gak ada maksud bikin lo sakit." Ali memijit pelipisnya. Ia tampak merasa bersalah. "Kemarin gue cemburu lihat lo pulang bareng sama Baja. Mangkanya gue bully lo lagi." Ali menyandarkan tubuhnya ke sandaran pohon. Betapa rindunya Ali, jika mengingat di tempat ini Prilly pernah tidur dan Ali yang menyumbangkan bahunya untuk Prilly agar wanita itu bisa bersandar dan tidur nyenyak. "Segera kembali Cewek Manja." Ali memejamkan matanya lelah. Ia lelah mencari Prilly yang kini jauh darinya. "Kak Ali...." Ali membuka matanya perlahan. Ditatapnya mata cokelat seperti biasanya. "Prilly!" Ali mengucek bagian mata memastikan apa yang ia lihat benar. "Lo di sini?" tanya Ali tak percaya. Tanpa sadar ia mengukir senyum manisnya. "Kak lagi apa di sini?" tanya Prilly ikut duduk di samping Ali seperti biasanya. "Bukannya lo sakit?" Ali malah balik bertanya. "Kak Ali boleh gak aku ingin peluk Kakak? A—ku kangen Kakak. Aku gak mau jauh dari Kakak. Apa cuma aku yang merasakan ini semua?" lirih Prilly. Ali meraih lengan Prilly, lalu digenggamnya. "Lo udah ngerti semuanya sekarang? Lo tau kan gua gak bisa dekat bahkan hanya untuk sekadar senyum dengan cewek lain?" tanya Ali lemah. "Kecuali lo." "Kakak yang mengajarkan itu semua. Kini aku mengerti apa itu arti pacaran yang sesungguhnya. Tapi aku takut hanya aku yang memiliki perasaan ini. Apakah sekarang aku tetap menjadi pacar Kakak?" "Gua suka sama lo. Udah lama gua suka sama lo. Tapi lo gak pernah nunjukkin tanda-tanda kalo lo memiliki perasaan yang sama dengan gua. Gua terlalu takut menerima penolakan." "Aku bahkan jauh lebih dulu menyukai Kakak mungkin. Tapi aku gak sadar, Kak. Aku pikir ini hanya perasaan seorang teman pada lawan pasangan." "Lo sayang sama gua Prilly. Dan gua pun sama. Kita udah pacaran sejak dulu. Dan hari ini kita resmi. Paham?" Prilly mengangguk pelan. "Mau dipeluk Kakak, hiks." Ali menarik bahu Prilly dengan tangan yang bergetar tak lama jatuh lah tubuh Prilly didekapan Ali. "Love you Gadis Manja."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN