SORE ini Prilly menerima tawaran Baja untuk ikut pulang bersamanya. Karena tak kunjung melihat keberadaan Ali pun Prilly mempertimbangkan tawaran Baja akhirnya.
"Kak, emang ini gak merepotkan?" tanya Prilly ragu.
"Santai Prill."
Ali menghentikan motornya di pintu gerbang. Ia melihat Prilly pulang bersama yang lain. Ia mencoba menenangkan hatinya yang sedikit panas memang. Ali mencoba menepis pikiran buruknya karena Baja sahabatnya. Tidak mungkin pria itu bermacam-macam dengan Gadis Manjanya.
"Lo penenang sekaligus perusuh hati gua." Ali bermonolog sendirian.
Prilly mengaduk-aduk nasi dalam piring. Entah apa yang ia rasakan, yang jelas tak nafsu makan.
"Teh, kenapa nasinya diacak-acak? Teteh lagi galau ya?" tebak Andra sok tahu. Ia adalah adik Prilly satu-satunya.
"Prilly makan yang benar," tegur Radit, selaku ayah Prilly.
Prilly terperangah kaget kala mendengar teguran Radit.
"Sayang," panggil Ully menoleh, "kamu kenapa?"
"Bun, aku pengin punya ponsel," pinta Prilly merajuk.
"Gak ada! Tugas anak sekolah itu belajar bukan main ponsel. Sudah merasa pintar kamu?" Ini bukan suara Ully, melainkan Radit yang menimpali.
"Mas, jangan gitu ah. Prilly kan sudah remaja. Mana tau dia butuh fasilitas itu untuk bantuan belajarnya juga," bela Ully tidak tega melihat putrinya bersedih.
"Boleh ya, Yah," mohon Prilly lirih.
"Kamu bisa menjaga konsisten belajar kamu, kalau Ayah belikan ponsel?" Pertanyaan Radit sukses membuat mata Prilly berbinar.
"Aku bisa membatasi waktu kapan aku main kapan aku belajar kok." Prilly melirik adiknya yang mengerucut sebal.
"Ya sudah besok Ayah belikan untuk kamu."
"Ah serius, Yah?" Sontak Prilly berdiri dan memeluk leher Radit. "Makasih Ayah! Aku janji gak akan malas belajar."
"Ih Ayah curang! Masa cuma Teh Prilly yang dikasih, Andra nggak!"
"Kamu masih kecil, nanti tunggu besar seperti Teh Prilly ya." Ully mengusap pelan rambut Andra.
"Ya sudah, makannya diselesaikan, Teh." Radit meneguk air mineralnya.
"Ayah duluan ya. Ayo Bun," Radit mengajak Ully.
"Bunda nemenin mereka makan dulu. Ayah duluan, nanti Bunda nyusul." Ully tersenyum sedangkan Radit mengangguk dan berlalu.
"Teh nanti kalo Andra pinjam ponselnya boleh ya. Boleh kan, Bun?" Andra menatap sang Bunda.
"Boleh, Dek. Nanti sesekali Teteh pinjamkan kok."
Ully tersenyum melihat putra putrinya akur. Tidak seperti keluarga di luar sana yang kebanyakan kakak beradik menghabiskan waktunya bertengkar.
Prilly dengan semangat melanjutkan acara makannya yang tertunda. "Bunda, gak lagi ada masalah kan sama Ayah?"
"Kok nanya gitu? Bunda baik-baik aja Sayang." Ully menuangkan air putih ke dalam gelas untuk Andra yang tengah makan belepotan.
"Bun, Andra belajar dulu ya," pamit Andra turun dari kursi. "Teh nanti malam temenin Andra nonton horor lagi, ya."
"Iya. Tapi gantian ya di kamar Teteh aja."
"Oke Teh!" Andra berlari ke arah kamarnya.
"Bun, Prilly mau nanya deh." Prilly menyuapkan sendok terakhir dan minum terburu-buru.
"Pasti soal Nak Ali yaa?" tebak Ully menggoda.
Pipi Prilly berseru merah. Bundanya itu tau saja.
"Jadi gini, waktu Prilly belajar sama Kak Ali di rumahnya. Prilly ketemu sama Tante Eci. Nah Prilly disambut baik, Bun. Terus Tante Eci bilang kalau Prilly suruh panggil dia Mama. Katanya Prilly akan jadi anaknya juga. Itu maksudnya apa yah, Bun? Apa Prilly akan diadopsi?" tanya Prilly dengan kepolasannya.
Ully menahan tawanya. "Bentar." Ia menatap Prilly penuh selidik. "Kamu sudah pacaran sama Ali?"
Prilly mengangguk lucu. "Kata Kak Ali sih udah Bun."
"Kamu nanti akan paham sendiri kalau sudah dewasa, Nak. Bunda gak melarang kamu untuk pacaran, tapi belajarnya jangan dilupakan ya," pesan Ully lembut.
"Gak akan dong Bun. Prilly pengin sukses seperti Ayah."
"Ya sudah kamu belajar juga sana. Bunda mau tidur. Kamu jangan kemalaman ya tidurnya."
"Good Night, Bunda."
Ully mencium kening Prilly sebelum pergi.
Prilly pergi ke kamarnya. Ia menghempas tubuhnya di atas kasur. "Prilly akhirnya bisa punya ponsel seperti Kak Ali, hihi."
Ali tampak asik di depan komputer karena tengah menonton video Prilly yang ia rekam melakui pulpennya beberapa hari yang lalu.
"Aku mau buktiin sama Kakak kalo aku bisa ambil buku di rak perpus tertinggi tanpa bantuan Kakak!"
"Mangkanya lo buktiin ke gua."
Ali tersenyum mengingat kejadian itu. Berkat pulpennya, ia bisa melihat aktivitas Prilly saat sedang bersamanya. Berguna juga alat ini.
"Apa lo nyaman sama gua, Manja?" Kini pikiran Ali melayang ke kejadian tadi siang saat Prilly tidur di pundaknya.
"Kita lihat besok, Gadisku." Ali tersenyum miring jika teringat wanita itu memilih pulang bersama Baja.
Prilly tengah asik membaca mading di area dekat perpustakaan. Ia mencermati setiap tulisan di sana. Ada berita-berita panas mengenai kenakalan remaja, ada juga hasil karya seni siswa-siswi berupa puisi, selogan maupun desain grafis yang dipajang di sana.
"Heh cewek manja! Sini lo!" panggil Ali melipat tangannya di d**a.
Prilly yang merasa terpanggil langsung menghampiri Ali.
"Kak Ali apa aku bikin kesalahan?" tanya Prilly memanyunkan bibir tipisnya kala melihat raut wajah Ali yang kembali sangar.
"Bersihin sepatu gue yang kotor, 3 menit dari sekarang! Gak selesai 3 menit lo akan tau akibatnya!" Prilly mengeluarkan tisyu basah dari sakunya.
"Eh lo mau ngapain?" tahan Ali.
"Katanya suruh bersihin Kak?" tanya Prilly bingung.
"Emang gua nyuruh pake itu? Buang!" tegas Ali merebut tisyu itu dan melemparnya ke sembarang tempat. Mereka sukses menjadi pusat perhatian diantara siswa-siswi di sekolah itu.
Tidak ada yang berani melawan Ali ataupun menahan tindakan Ali. Prilly yang tengah di-bully hanya menjadi tontonan seluruh siswa.
"Lo bersihin sepatu gua pake rok lo! cepet!"
Prilly menatap ke arah sekitar. Mengapa Ali selalu tega mempermalukannya di depan umum.
"Tapi Kak—"
"Satu!"
"Dua!"
"Ti—"
"Kak! Kalo aku bersihin pake rok nanti paha aku kelihatan." Prilly menatap Ali dengan tatapan memelas.
"Ck! Dasar manja!" Ali membantu Prilly bangun dan menarik pergelangannya membawa gadis manja itu pergi dari kerumunan banyak orang.
"Bubar lo semua! Ada yang berani lapor guru, gue pastikan besok lo pada terbaring di rumah sakit dengan kaki yang patah!" ancam Ali membuat seluruh orang yang memperhatikannya kini melenggang pergi satu persatu.
"Ikut gua!" Ali membawa Prilly dengan langkah cepat sehingga Prilly kesulitan mengimbangi langkah Ali karena terseok-seok.
Beberapa kali Prilly hampir terjatuh membuatnya kaki Prilly sedikit terseleo, untung saja Ali menggenggam erat lengan Prilly.
Prilly sudah ingin menangis tapi ia tahan karna tak ingin terlihat lemah di hadapan Ali.
"Kenapa?" tanya Ali dingin.
"Sakit," cicit Prilly.
"Bilang dong dari tadi!" Ali menggendong Prilly di belakang punggungnya.
"Dasar manja! Kayak gitu doang sakit!"
"Turun!" suruh Ali begitu keduanya sampai di kelas yang begitu sepi hanya ada mereka berdua.
"Lo kan tadi malu, sekarang lanjutin apa yang gua minta! Inget pake rok!" tegas Ali.
"Tunggu apa lagi Manja!" pinta Ali kesal, bukan kesal karena Prilly lambat atau apa. Ia kesal mengingat Prilly tidak menunggunya pulang kemarin dan malah berboncengan dengan Baja.
Pria itu dikenal galak oleh semua warga sekolah. Tapi anehnya Ali tidak pernah mampu berbuat kasar pada Prilly. Ia hanya mampu membully Prilly dengan perintah-perintah kecil.
"Kalo paha lo kelihatan jangan khawatir, di sini gak ada orang. Gak akan ada yang lihat."
"Kak Ali termasuk orang, bukan?" tanya Prilly polos.
"Ma-maksudnya kecuali gua." Ali tampak gugup. "Dan gua gak akan lihat, tenang aja." Tangan Ali ia gunakan untuk menutup kedua matanya
Prilly benar-benar melakukan apa yang Ali minta, membersihkan sepatunya yang tidak begitu kotor dengan rok sekolah yang dipakainya.
"Udah selesai Kak." Prilly berdiri sejenak dengan kaki yang sedikit pincang. "Aku permisi."
"Heh Manja! Mau ke mana lo?" Ali menghadang Prilly dengan tubuh kekarnya.
"Emang siapa yang ngebolehin lo pergi? Ada?"
"A-ku mau ke perpus Kak."
"Emang lo bisa jalan sendiri?" tanya Ali membuat Prilly diam, tak lama gelengan kepala, ia perlihatkan di hadapan Ali.
"Kaki lo harus gua obatin dulu, baru lo boleh pergi."
"Em ... Gak perlu Kak," tolak Prilly halus.
"Kenapa?"
"Aku juga jadi begini karna Kakak. Jadi Kakak gak perlu lagi peduli sama aku." Prilly marah pada pria ini, tapi tidak ia perlihatkan langsung.
"Pede banget lo! Siapa yang peduli sama lo! Gua gak mau ntar lo ngadu ke guru! Terus nilai gua jadi taruhannya lagi," sindir Ali.
Prilly mengingat kejadian kemarin saat mengadukan kelakuan Ali pada guru BP.
"Ayo ke UKS!" Ali kembali membopong Prilly namun bedangnya sekarang bukan di punggung.
"Sakit?" tanya Ali disela-sela mengobati kaki Prilly.
"Lukanya gak sakit, tapi kayaknya tulang aku patah Kak," lirih Prilly meringis.
"Udah jangan manja! Gua akan tanggung jawab sampe lo sembuh dan bisa jalan lagi!"
Sadar tidak sadar ucapan Ali membuat Prilly mengukir senyum.
"Kak Ali boleh bully aku setiap saat kok. Tapi berhenti bully teman yang lain yah. Kasian mereka takut sama Kakak."
"Emang lo gak takut sama gua?"
"Nggak dong."
"Lo gak takut karna gua gak pernah kasar sama lo seperti yang gua lakukan ke mereka."
"Itu dia! Kak Ali bukan orang jahat." Prilly mengukir senyumnya.
"Gua gak sebaik itu. Lo belum tau gue."
"Kalo gitu mulai sekarang aku ingin tau semua tentang Kakak."
"Why?"
"Biar aku bisa membuktikan Kakak bukan orang jahat."
"Selain manja, lo aneh!"
"Bunda pernah bilang, kalo aku harus bersikap baik sama orang yang selalu menjaga aku. Selama ini kan Kak Ali selalu jaga aku dari bullyan teman-teman lain. Berarti Kak Ali orang yang baik."
"Kan gua sering bully lo juga."
"Tapi Kak Ali bukan orang jahat."
"Kok lo sok tau?"
"Karena aku memang tau."
"Dari mana lo tau?"
"Gak dari mana-mana. Yakin aja."
"Kok lo yakin? Kepercayaan kan yang paling susah di dapat dari manusia."
"Hati aku yang menjawab." Prilly memegang dadanya.
"Ada apa sama gua?" batin Ali ikut memegang dadanya.
"d**a Kakak kenapa? Sakit?" tanya Prilly sukses membuat Ali terkejut bukan main.
Sesegera mungkin ia menurunkan lengannya dari d**a.