6. Tidak Peka

1312 Kata
"Kak A-" Bibir Prilly berhenti berucap. "-Li potong rambut?" tanya Prilly melihat Ali dengan penampilan gaya baru. "Hmm." Ali berdehem singkat. "Salim Kak," pinta Prilly takut-takut saat mengulurkan tangannya. Ia takut Ali menepis lengannya seperti seminggu yang lalu. Ali tetap menyerahkan lengannya. Ia takut melukai perasaan gadis itu jika menolaknya. "Makasih lo udah bujuk Bu Arinda untuk tidak mengurangi nilai gua," ucap Ali sedatar mungkin. "Alhamdulillah usahaku gak sia-sia." Prilly mendesah lega. "Kak A-li jangan marah lagi ya. Kakak boleh kok kalau mau membully Prilly seperti dulu. Tapi jangan marah. Aku lebih senang melihat Kakak tertawa walaupun yang Kakak tertawakan adalah aku." Prilly berucap lirih. Ia teringat akan janjinya pada Eci untuk membantu merubah anaknya agar bisa mengurangi tingkat kenakalannya. "Aku merasa gagal, Tante," lanjut Prilly dalam batin. Ali melihat raut sedih dari wajah Prilly. "Hm, lo ... a-pa kabar?" tanya Ali sedikit gugup. Entah dapat keberanian dari mana Ali bisa melontarkan pertanyaan seperti itu untuk Prilly. Prilly mengulum senyum, itu artinya Ali sudah tidak marah padanya. "Baik." "Kalau Ka-kak?" Prilly mengutuk bibirnya. Mengapa harus bertanya balik? Bagaimana bila pertanyaan itu tidak dihiraukan? "Seperti yang lo lihat." Ali berkata dingin. "Oh...." Prilly tak biasanya merasa begitu canggung dengan Ali. "Kak, aku mau naik ayunan. Kakak dorongin ya," pinta Prilly dengan rayuan polosnya. Ia sadar Ali adalah pria dingin. ia harus mencairkan suasana lebih dulu. Ali tersenyum kecil. "Enak banget hidup lo." "Kakak kan cowok tenaga Kakak besar, dorongin ayunan aja gak bisa," cibir Prilly memancing Ali. "Gua bisa." "Cepat naik." "Yeay! Makasih Kakak!" Prilly loncat-loncat dan refleks memeluk leher Ali. Jantung Ali seperti berhenti. Netranya menatap bola mata Prilly yang cokelat. Deru nafas Prilly bisa ia rasakan. Wajah Prilly sangat mulus dari jarak dekat. Ingin rasanya Ali mencubit gemas pipi tembem milik Prilly. "Prilly." Bibir Ali memanggil nama Prilly untuk pertama kalinya. "Hah?" Prilly melepaskan pagutan lengannya yang kurang lebih 5 menit berlangsung menempel di leher Ali. "Kakak bilang apa tadi? Kakak manggil aku, Prilly?" tanya Prilly dengan raut wajah cerianya. Ali menaikkan satu alisnya. Apakah sesenang itu? "Akhirnya aku diakuin memiliki nama Ya Allah. Dan hari ini Kak Ali berhenti memanggilku cewek Manja, yeay!" "Buru naik," suruh Ali kembali dengan suara dinginnya. Prilly akhirnya naik ke ayunan yang tersedia di area danau itu. "Jangan terlalu kencang yah Kak." Prilly siap berpegangan pada kedua tiang ayunan. Ali melangkah ke belakang tubuh Prilly. "Dasar manja," umpat Ali pelan. Bibirnya terangkat untuk tersenyum lebar. Ia berani melakukan ini karena Prilly tidak melihatnya. "Eh, aku denger loh Kak." "Semoga lo gak menyesal." Ali mendorong pelan ayunan itu. "Memang kenapa aku mesti menyesal?" tanya Prilly disela-sela ayunan itu sudah semakin lama semakin kencang. "Kak kok tambah kencang!" protes Prilly membuat Ali terus tersenyum. "Kakak! Aku takut! Huaaa! Kak Ali!" teriak Prilly mengeraskan suaranya. Berharap pria itu mendengarnya. "Bermohonlah sama gua, Manja." Ali terus mendorong ayunannya hingga semakin kencang. "Kakak tinggi banget! Aku takut! Tapi aku suka! yuhuuuuu!" Prilly malah berteriak kegirangan. Ia yakin Ali tidak akan membuatnya celaka, untuk itu Prilly tetap tenang walaupun hatinya sudah menciut. Ali menggeram kesal. Sial. Tring! Ali meraih ponselnya saat merasakan getaran di saku bajunya. Baja : Li, guru rapat!!! Ali tersenyum kecil. Ia sudah seminggu tidak berjumpa dengan Prilly dan ia rasa hari ini sebagai penggantinya. "Kak Ali cape yah?" Prilly loncat turun setelah pasti ayunan itu mengurangi kecepatan geraknya sampai berhenti dengan sendirinya. "Ayo Kak, sini di bawah pohon." Prilly menarik lengan Ali agar pria itu mengikutinya. "Aku pijat punggung Kakak. Duduk, Kak." Prilly memaksa Ali untuk duduk. Prilly memposisikan dirinya di belakang tubuh Ali. Kedua tangannya siap memijit pundak Ali, tapi sebelum itu dengan jahilnya Ali menarik lengan Prilly ke arah depan. "Eh...." Prilly yang tidak mempersiapkan diri sebelumnya, akhirnya tubuh wanita itu ambruk di punggung Ali, seolah Prilly digendong Ali di belakang. Di balik itu kejadian itu sudah Ali rencanakan. Sekarang ia mengulas senyumnya menikmati hasil. "Kakak," lirih Prilly. "Apa ini sakit?" tanya Prilly cemas setelah bangkit ke posisi semula dan mengecek punggung Ali. Senyum Ali memudar. Rupanya Prilly tidak mengerti apa maksud tindakan Ali. Lagian ada apa dengannya, hingga bertingkah aneh seperti itu? Ali jadi kesal sendiri. Bukh! "Kakak!" Refleks Prilly memukul punggung Ali keras membuat sang empu meringis. "Aku lupa sekarang mau kuis Kak. Aku balik ke kelas duluan ya." Prilly bersiap ingin lari tapi Ali lebih dulu menahan lengannya. "Guru sedang rapat." Ali berseru datar. Prilly mendesah lega. "Aku gak bisa bayangin kalo aku telat kuis," lirih Prilly sebelum akhirnya, ia kembali mengingat sesuatu. "Ma-maaf Kak! Punggung Kakak?" "I'm fine." Prilly mencari cara apa lagi yang akan ia bicarakan dengan Ali. Sepertinya Ali tidak akan memulai bicara jika bukan Prilly yang mendahului. "Kayaknya yang punya perasaan ini cuma gua," batin Ali memejamkan mata. Prilly tersenyum kecil. "Kak Ali ngantuk?" Ali menggeleng tanpa bicara apa pun. Prilly beralih duduk ke samping Ali. Ia ikut bersandar di pohon rindang. "Kakak boleh pinjam pundak aku kalau mengantuk." Prilly menepuk pundaknya. Ali menetralkan jantungnya saat duduk berdekatan dengan Prilly. Ia rasa tangannya sudah panas dingin sekarang. "Kak!" Prilly menoleh ke arah samping membuat Ali terlonjak kaget. "Hmm." Ali memberikan reaksi singkat dan seadanya. Prilly teringat akan pesan Eci. Ia harus bisa mengubah Ali seperti keadaan semula. "Percaya gak aku bisa meramal Kakak?" "Percaya sama lo? Musyrik." Prilly tertawa keras. Tak lama tangannya meraih tangan Ali. Tindakan Prilly berhasil membuat Ali terperangah kaget. Prilly membuka telapak Ali dan menelitinya. Ali menatap Prilly was-was. Tak lama ia mengernyit bingung karena tampak jelas senyuman manis milik Prilly terlukis di sana. "Kakak calon orang sukses. Aku yakin pasti nanti Tante Eci bangga memiliki anak seperti Kakak." Penjelasan Prilly membuat Ali bergeming. Prilly meramal masa depannya? Ali mempunyai ramalan sendiri. Namun ia takut ramalannya salah. Bagaimana bila Ali sudah merancang masa depannya dengan seseorang yang pertama kali ditemukannya, Ali terbius dengan mata indah milik seseorang. "Tangan Kakak dingin, tapi kok sekarang makin dingin?" Ali melepas tangannya dari tangan Prilly ketika kesadarannya kian hadir. Prilly kembali bersadar pada pohon. Angin berembus menerpa pada wajahnya. Kenapa sekarang jadi ia yang mengantuk? "Semalam adikku memintaku untuk menemaninya nonton film horor sampai malam. Aku jadi kurang tidur," lirih Prilly dengan rasa kantuknya. "Lo tidur aja." "Takut gak dengar bel." "Gua bangunin kalo bel pulang." "Sangat mangantuk." Prilly tampak menguap. Mata Prilly terpejam sangat cepat. Ali sungguh penasaran untuk melihat ke arah Prilly sekarang, tapi ia tahan karena takut Prilly belum benar-benar tertidur. Ia mengeluarkan ponselnya dan menyalakan timer selama 5 menit. Lama menatap layar ponselnya, Ali mulai jenuh. 5 menit sangat lama untuk orang yang tidak sabar. Waktu habis. Ia melirik ke arah Prilly yang memang sudah tertidur pulas. Poni rambutnya yang agak panjang sedikit menutupi wajah Prilly. Dengan beraninya Ali menyampirkan anak rambut Prilly yang menghalanginya. Wajah polosnya semakin terlihat saat wanita itu terpejam. Pipi gembulnya sangat menggoda iman Ali. Dengan hati-hati Ali mengangkat lengannya tak lama sudah mendarat cepat di pipi gadis itu. Ia merabanya dengan sangat pelan, karna takut sang pemilik terbangun. Lalu ia mengusap pelan pipi Prilly dengan kelima jarinya. Sangat lembut. Ali tersenyum kecil, tak lama mencubitnya dengan pelan. "Engh...." Ali terperanjat kaget saat melihat pergerakan tubuh gadis itu. Mata Ali membulat sempurna. Ia kira Prilly akan terjaga. Nampun wanita itu hanya merubah posisi tidurnya karena merasa lehernya sedikit pegal. "Huft...." Ali membuang napas lega. "Lo cantik, Prilly." Kembali, tangan Ali bermain-main di pipi berisi Prilly. Ia suka memegangnya Ali senang melihat wajah mulus Prilly dari dekat. Sekarang ia memainkan bulu mata Prilly yang lentik. "Apa lo bidadari?" tanya Ali pelan. Ali terkekeh geli. Tak mungkin ada bidadari di zaman sekarang. "Mata lo indah, pipi lo chubby, hidung lo ramping, kulit wajah lo halus, bibir lo ... kayaknya manis. Lo bukan manusia. Lo mirip ... Barbie." Ali mulai merasa moodnya membaik. Tak terhitung sudah berapa kali ia tersenyum hari ini. Ali cukup puas memandang wajah damai Prilly. Ia ikut bersandar di samping Prilly lebih dekat. Ali jadi kasihan pada wanita itu yang sepertinya butuh pundak. Akhirnya Ali menarik pelan kepala Prilly dan meletakkannya di bahunya. Prilly yang tidak sadar malah mencari posisi ternyamannya. Kedua tangannya ia sembunyikan di depan d**a karena merasa dingin dari terpaan angin yang cukup besar. Tanpa sadar kakinya ia naikan ke atas paha Ali. Layaknya Ali sebuah guling. Tangan Ali tergerak untuk mengusap pelan betis Prilly. "Gak salah gue nyebut lo Gadis Manja." Ali terkekeh kecil. Prilly melenguh kecil kala merasa ditertawakan. Rupanya gadis itu setengah sadar. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN