PRILLY diperintah untuk mengambil alat pel di ruangan gudang. Sampai saat ini Prilly belum menemukan barang itu.
"Mana sih? Katanya ada di sini!" Prilly bergumam kesal. Tangannya mengibas di depan wajah karna ia kepanasan.
"Rupanya lo di sini."
Prilly mendengar suara seorang pria di ruangan ini. Ia membalikkan badan. "Ka—mu ngapain ikut ke sini?"
Pria itu menyeringai. "Seneng-seneng sama gue yuk."
"Riko! Aku mohon jangan mendekat!" teriak Prilly melihat ke arah sekitar berharap ia dapat menemukan sesuatu untuk melindunginya.
Prio bernama Riko itu mendekat. Tangannya mencekal lengan Prilly keras.
"Ih jangan pegang-pegang!"
Pria itu menyudutkan tubuh Prilly ke arah dinding.
"Mau apa kamu!" tukas Prilly yang mulai takut.
Kedua tangan Prilly dinaikan ke atas kepala Prilly dan menekannya ke dinding. Tangan Riko satunya mengelus pipi mulus Prilly. "Gue mau lo. Prilly."
"Kamu jelek! Item! Dekil! Aku gak suka sama kamu!"
"Gue yakin setelah gue melakukan hal ini, lo gak akan nolak gue lagi! Lo jangan percaya diri gue suka sama lo. Gue hanya ingin mencicipi bibir manis lo ini." Riko menyentil keras bibir Prilly dengan jarinya sampai memerah.
"Tolong!!"
Prilly berteriak takut.
"Syutt.. Jangan takut Nona." Riko menaruh telunjuknya di bibir Prilly.
"Tolo—"
"Hemttt!" Riko membungkam mulut Prilly yang menurutnya sangat berisik.
Riko menarik dasi yang menggantung di leher Prilly dengan sekali hentakan membuat leher Prilly berdenyut nyeri. Ia menyatukan kedua lengan Prilly ke belakang tubuhnya. Dan ia gunakan dasi itu untuk mengikat lengan Prilly.
"Hiks. Kenapa jahat sama aku," isak Prilly tertahan.
Riko mengunci tubuh Prilly. Tangan Prilly sudah diikat ke belakang. Ia jadi susah memberontak.
"Tolong!!!"
Plak!
Riko menampar keras wajah Prilly.
"Hiks."
"Sekali lagi lo teriak, gue telanjangin lo di sini," bisik Riko mengancam.
"Jangan ku mohon," pinta Prilly saat Riko memajukan wajahnya.
Riko mengikis jarak. Prilly mulai merasakan deru nafas Riko.
Bugh!
Dengan gerakan cepat Riko sudah tersungkur di bawah.
"Kak Ali!" Prilly berseru lega.
Bugh!
Riko membalas pukulan Ali. Dan terjadilah baku hantam antara keduanya.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Ali terus memukuli Riko tiada ampun. Sampai Riko babak belur Ali tidak berhenti untuk memukul. Amarahnya menjulang tinggi mengingat apa yang ia lihat tadi. Ia merasa sangat benci dengan pria ini. Pria yang hampir mengambil first kiss milik Prilly. Pemandangan yang ia lihat tadi sungguh memuakkan Ali melihat bibir Riko hampir menabrak bibir Prilly.
"Kak Ali udah!" pekik Prilly menangis.
"Lo bela dia, hah!"
Bugh!
Ali kecolongan. Ia terkena pukulan lagi walau Riko susah melemah ditangannya.
Bugh!
Ali masih saja memukuli Riko. Rasanya ia rela menjadi pembunuh.
Prilly berlari ke luar gudang. Ia memanggil seorang guru BP untuk melerai perkelahian antara Ali dengan Riko.
"Di mana mereka, Prilly?" tanya Bondan. Guru BP yang terkenal galak.
"Di gudang, Pak."
"HENTIKAN!" teriak Bondan.
"Kalian ini masih muda sudah berkelahi seperti preman! Sudah merasa hebat hah! Mau jadi apa nanti!"
"Pak saya tau kejadian yang sebenarnya. Kak Ali tidak salah Pak."
"Kalian bertiga ikut saya ke ruang BP!"
???
"Siapa yang memulai?" tanya Bondan tegas.
"Ali, Pak," lirih Riko.
"Dia hampir melecehkan Prilly, Pak! Terus saya pantes diam aja gitu!" Ali menyahut dengan intonasi tinggi.
"Apa benar itu, Prilly?"
Prilly terperangah kaget. "Saya gak tau Pak." ucapnya polos. "Yang jelas dia mau cium bibir saya."
"Siapa guru konseling kalian?"
"Bu Arinda, Pak," jawab Ali dengan tangan menyeka darah di dekat hidungnya.
"Bu Tyas, Pak." Riko menjawab malas.
"Kalian berdua saya skors 1 minggu. Nilai Bimbingan Konseling kalian akan dikurangi selama setengah semester. Silakan tinggalkan ruangan ini."
Brak!
"Tapi Pak! Saya gak salah Pak!" protes Ali setelah menggebrak meja.
"KE LUAR!!!"
"A—yo Kak, aku bantu berdiri."
"Gak perlu! Dari awal gua benci sama lo! Karena lo nilai gua hancur!" Ali menepis lengan Prilly dan berlalu pergi.
Prilly mengejar keberadaan Ali yang sejak tadi ia buntuti. Ali sama sekali tidak pergi ke UKS untuk mengobati lukanya.
"Kak!"
"Maaf ... Karena aku Kak Ali jadi di skors." Prilly merasa penuh salah.
"Lo kenapa sih pake acara ngadu sama guru? Harusnya tadi udah gue habisin dia!"
"Aku cuma gak mau Kak Ali sampe menghilangkan nyawa Riko. Aku berterima kasih karna Kakak sudah datang tepat waktu. Tapi Kakak gak perlu sampai bunuh dia."
"Terserah."
"Kak Ali jangan menyesal sudah menolong aku ya, aku gak tau lagi kalo bibirku gak bisa diselamatkan." Prilly memegangi bibirnya yang tadi sempat di sentil Riko.
Ali menatap Prilly malas. "Bisa lo tinggalin gua sendiri?"
"Aku gak akan pergi dalam keadaan Kakak begini. Aku obatin luka di wajah Kakak, ya."
"Gua gak butuh perhatian lo."
"Aku gak perhatian. Aku cuma mau tanggung jawab atas luka Kakak. Jadi ijinkan aku mengobati Kakak."
"Gua bilang pergi!" perintah Ali dingin.
"Tapi Kak—"
"Pergi, atau gua yang pergi?"
"Aku minta maaf. Aku tau Kakak marah soal nilai. Aku tau Kakak murid pintar untuk itu Kakak marah saat nilai Kakak berkurang. Kakak gak paham kenapa aku lapor. Aku gak mau Kakak terluka dan aku gak mau Kakak menjadi pembunuh. Hanya itu." Prilly merasa air matanya telah menggenang banyak di pelupuk matanya. Tapi ia tak mau menangis di hadapan Ali. "Aku akan tanggung jawab soal nilai Kakak, permisi."
Kaki Prilly melangkah entah ke mana. Ia merasa bersalah pada Ali. Prilly berlari dengan keaadaan menangis. Sejenak ia berpikir, untuk apa dirinya menangis?
Prilly menatap botol kosong yang selama ini ia bawa-bawa di tasnya sampai sekarang.
"Lo bawa pulang!"
Prilly melongo saat Ali kembali memberi botolnya yang sudah kosong.
"Kenapa harus dibawa pulang Kak?" tanya Prilly dengan polosnya.
Ali tersenyum kecil. "Buat kenang-kenangan."
Air mata Prilly jatuh mengingat pria dingin itu yang pernah tersenyum kepadanya.
Satu minggu berlalu....
Selama Ali tidak berangkat ke sekolah, Prilly menjadi bahan bully-an di sekolahnya. Banyak senior pria yang menggodanya saat Prilly menunggu angkutan umum pulang sekolah. Mengingat Prilly tidak memikiki teman baik kecuali Ali, tidak ada yang membantunya seorang pun. Prilly hanya memiliki Vivi sebagai teman terdekatnya di kelas. Itu pun Vivi datang jika ingin belajar bersama dengan Prilly, selebihnya tidak. Karna Vivi pernah trauma memiki sahabat, hingga ia tidak mau memilikinya lagi.
"Awh...," ringis seseorang meniup sikutnya yang terluka.
Prilly tak sengaja mendengar suara rintihan itu.
"Vivi! Kamu kenapa? Kok lecet semua?" Prilly duduk di samping Vivi.
"Gue di dorong Kak Novli. Dia bilang gue kecentilan sama Kak Baja. Padahal Kak Baja yang deketin gue, Prill."
"Ya udah ke UKS yuk, biar aku obatin." ajak Prilly tulus.
"Gue gak mau merepotkan siapa pun Prill. Gue bisa sendiri." Vivi berlalu pergi dari hadapan Prilly.
Prilly menghela napas. Sering ia berpikir mengapa temannya itu tak pernah mau ditolong olehnya. Ia merasa apa ia pernah berbuat salah padanya? Yang jelas Vivi sering menghampiri Prilly saat hanya ingin belajar bersama.
Prilly memutuskan mencari Baja untuk membantu Vivi dalam masalahnya. Sekalian ia ingin menanyakan keaadan Ali pada pria itu.
"Kak Baja!" teriak Prilly yang kebetulan melihat Baja dari kejauhan.
Prilly berlari kecil ke arah Baja.
"Kenapa Prill?"
"Kak, tadi aku lihat Vivi, tapi tangan sama lututnya lecet," jelasnya memberi info.
"Hah? Serius? Kok bisa Prill?" tanya Baja terkaget.
"Itu Kak, Vivi di dorong sama Kak Novli dan menuduh Vivi centil sama Kak Baja."
Rahang Baja mengeras. "Keterlaluan!"
"Thanks ya Prill. Gue duluan."
"Eh, Kak! Aku belum selesai bicara!" Prilly menepuk jidatnya kala teringat hal yang ingin ia tanyakan mengenai Ali.
Prilly melempar batu kecil ke arah danau belakang sekolah. Hal yang biasa di lakukan Ali di tempat ini.
"Kak Ali mana ya? Kok belum berangkat? Ini kan udah seminggu," batin Prilly sedih.
"Apa aku mesti ke rumah Kak Ali?"
"Cewek Manja!"
Prilly mengenali suara ini. Suara yang selalu meledeknya dengan embel-embel Manja
"Kak A—" Bibir Prilly berhenti berucap.