Tok.. Tok..
"Masuk Ma!" teriak Ali dari dalam.
"Prill.. Minum dulu Nak." Eci menaruh nampan berisi minuman segar dan camilan kecil.
"Makasih Ma.. Nanti aku minum kok." Eci kembali ke luar dari kamar Ali karna tak ingin mengganggu calon menantunya.
Prilly melanjutkan aktivitasnya menjawab soal yang diberikan Ali.
"Waktu lo tinggal 2 menit. Udah berapa soal yang udah lo kerjain?"
"Baru 5 soal Kak, susah banget ini," keluh Prilly sembari menggigit bibir bawahnya berharap pria itu menghentikan semuanya.
"Gak ada yang susah. Adanya lo malas mikir. Iya kan?" Ali merebut buku tulis serta pinsil yang di pegang Prilly.
"Aku kan udah usaha Kak." Prilly mencebikkan bibirnya.
Dengan gerakan cepat Ali mengisi sisa soal yang belum Prilly selesaikan.
"Nanti malam soal ini lo pelajarin ulang sendiri. Pikirin gimana hasilnya bisa segitu. Sama ini gua pinjamin buku buat lo belajar. Semuanya ada di situ. Dulu gua les pake buku itu. Lo harus pintar biar nanti gak di injak orang." Ali menyerahkan buku tebal ke hadapan Prilly. Buku itu berjudul "Metode Menghitung Secepat Kilat."
"Makasih yah Kak." Prilly memasukkan alat belajar serta buku itu ke dalam tas punggungnya.
"Ini.. Aku minum yah Kak," ijin Prilly meraih gelas yang disediakan Eci tadi.
"Eh," tahan Ali merebut gelas itu, "jangan diminum."
Ali meraih gelas miliknya. "Lo minum ini aja."
"Memang kenapa aku harus minum yang ini?" Prilly bertanya bingung.
"Itu ada es batunya. Lo jangan minum dingin. Gak baik, ntar lo sakit. Besok lo ulangan katanya. Kalo lo sakit, lo gak dapat nilai. Gue sia-sia ajarin lo sekarang," tutur Ali sebisa mungkin ia menghilangkan rasa gugupnya.
"Ya udah Kak, aku minum yang ini aja hehe." Prilly memegang gelas milik Ali yang isinya teh hangat. Minuman sederhana favorit Ali.
"Kak di daerah sini ada angkutan umum?" tanya Prilly disela-sela makan kripik singkong.
Ali melepaskan kacamata beningnya. "Udah sore gini gak akan ada. Kenapa?"
"Kalo naik taksi pulang ini, aku besok gak bisa jajan di sekolah."
"Gua anter lo sampe rumah." Ali melarikan tatapan dari Prilly. Ia kembali dengan wajah dingin seperti biasanya.
"Memang gak merepotkan Kak? Aku udah di ajak belajar aja udah seneng banget."
"Ngerepotin sih, cuma biar uang lo bisa ditabung," kilah Ali. Ia bukan perhatian dengan Prilly, hanya saja ia tau sulitnya mencari uang. Ali jadi teringat akan Alm. Abahnya yang mana sangat pekerja keras hingga bisa menghidupi keuangan Ali sampai saat ini.
"Kak Ali kenapa baik sama aku?" tanya Prilly tiba-tiba
"Gua gak sebaik itu."
"Ya udah Kak, aku takut dicariin Bunda."
Ali yang mengerti maksud ucapan Prilly, ia segera meraih kunci motor dan jaketnya.
???
"Prill, tadi lo bisa gak jawab soal ulangannya?" Vivi mengeluarkan tepak nasi dari kolong meja belajarnya.
"Alhamdulillah bisa, kemaren aku abis belajar sama Kak Ali. Jadi lumayan ngerti Vi." Prilly memasukkan alat tulis yang berserakan di atas meja
"Kak Ali sama Kak Baja sama baiknya ya Prill.." Vivi tiba-tiba mengulum senyumnya.
"Oh ya? Memang Kak Baja kenapa Vi?"
"Gue juga kemarin dibantuin ngisi tugas Prill, jadi gue paham." Vivi menyuapkan potongan sandwich dari tempat makannya. "Eh Prill, mau gak?"
"Nggak Vi makasih. Aku mau ke perpus ya."
"Kamu gak makan dulu Prill? Nanti lapar loh."
"Aku gak suka ngantri di kantin Vi. Nanti aja kalo udah sepi, hehe."
Alasan itu lah yang selalu Prilly berikan pada temannya.
Prilly mengelilingi perpustakaan mencari buku yang menarik. Tapi sampai sekarang ia belum menemukannya.
"Kak Ali.." Prilly bergumam saat melihat Ali yang juga ada di sana. Pria itu sedang asik menulis ntah menulis apa Prilly tidak tahu.
"Hy Kak.." Prilly menyapa Ali dan duduk di sampingnya.
Ali menoleh sekilas dengan tatapan datarnya.
"Bisa ulangannya?" tanya Ali tetap fokus akan aktifitasnya.
"Hehe semua karna Kak Ali." Prilly membuka buku yang sedang dipegangnya. Ia tengah pura-pura mencari halaman. Karena melihat Ali yang sibuk sendiri, Prilly jadi canggung kalau harus terus mengoceh.
"Nggak geratis itu." Ali meneruskan tulisannya yang hampir selesai.
"Diuangkan yah Kak?" Prilly membenarkan tatanan poni rambutnya yang sedikit berantakan.
"Gua gak matre kali."
"Lantas?"
"Lo temenin gua makan di kantin. Mudah kan?"
Prilly tampak berpikir. "Oke deh Kak. Kapan?"
"Nunggu lo tumbuh uban ya gak papa." Ali melangkah pergi menaruh buku yang baru saja dipinjamnya.
"Ayo!" Ali menarik pelan lengan Prilly yang masih diam itu.
"Lo makan apa?" Ali menarik kursi kantin yang kosong.
"Nggak Kak." Prilly ikut duduk berhadapan dengan Ali.
"Kenapa?"
"Aku tidak lapar, hehe."
Ali mengeluarkan uang dari sakunya. "Beliin bubur ayam gak pedas, gak pake kacang, gak pake sayuran, tambahin kecap, yang asin tapi jangan sampe keasinan juga. Sama air mineral jangan dingin."
Prilly menelan ludahnya susah payah, matanya tak berkedip menatap Ali yang sungguh aneh itu. Pesanan Ali banyak ini dan itu. Satu lagi yang membuat aneh menu bubur ayam yang Ali pesan persis seperti favoritnya.
Prilly menerima uang itu dan berlalu pergi.
"Lama banget sih," protes Ali saat kembali dengan membawa seluruh pesanan Ali.
"Maaf Kak tadi antrian aku di rebut Kakak kelas."
Ali menyendok bubur dihadapannya.
"Uhuk!.." Buru-buru Ali membuka botol air mineral itu dan langsung meneguknya.
"Pelan-pelan Kak." Prilly mengusap punggung Ali tanpa sadar.
"Ini keasinan! Kan gua bilang jangan keasinan." Ali meraih tisyu yang tersedia di meja kantin dan segera mengusap mulutnya.
"Maaf Kak, aku udah bilang padahal sesuai yang Kakak mau." Prilly merasa bersalah.
"Coba deh lo makan!" Ali menggeser mangkuknya ke arah Prilly.
Prilly yang penasaran akhirnya mencoba bubur itu. Tidak keasinan seperti yang Ali bilang. Lalu? Prilly tak mengerti.
"Gimana?" tanya Ali melihat respon Prilly yang hanya diam.
"Ini enak kok." Prilly menaruh sendoknya lagi.
"Ya udah kalo enak lanjutin. Gua mau pesan yang lain."
Prilly merasa heran dengan tingkah Ali. Makanan seenak itu dibilang keasinan? Yang benar saja?
Saat sedang asiknya makan, Prilly dikejutkan dengan 2 pria senior yang menghampiri ke mejanya.
"Cewek! Sendirian aja. Gue temenin makan boleh?" Pria bernama Tio ini duduk di hadapan Prilly dengan satu kaki yang ia angkat ke atas.
"Yo! Kita ke sini bukan mau godain dia kali! Langsung aja sikat! Gak usah basa-basi!" tandas Roni—pria yang satu kelas bersama Ali.
"Ka—kalian mau apa?" Prilly melirik arah sekitar mencari sosok Ali.
"Kalem Ron. Ini namanya sambil menyelam minum air." Tio menyeringai menatap Prilly.
"Heh! Keluarin semua duit lo!" Tio memainkan tusuk gigi yang tak pernah lepas dari giginya.
"Ma—af Kak, aku gak punya uang," jawab Prilly gemetar.
Brak!
Roni menggebrak meja membuat Prilly memejamkan matanya.
"Gak punya uang lo bisa makan? Bagus!" Tio melirik kiri kanan memastikan tidak ada yang melihatnya. Kebetulan kantin mulai sepi. Hanya ada satu dua orang saja.
"Kita apain Yo?" Roni tersenyum miring.
"Kita seret ke belakang sekolah! Pegang tangannya!" Tio memerintah Roni yang langsung cepat dilaksanakan.
"Kak! Jangan Kak.. Lepasin aku! Tol—" Roni membungkam mulut Prilly dengan tangannya.
"Hummm!" Prilly bergumam tak jelas di sana.
Tio mengusap halus pipi Prilly yang mulus itu.
"Lo akan merasakan kenikmatan yang hakiki, juniorku," bisik Tio dengan seringai jahatnya.
"Bawa dia!" Tio berjalan mendahului Ronu di depan.
"Humm!!" Prilly berusaha membuka bekapan pria ini.
Bugh!
Ali mendaratkan pukulan tepat di kepala Roni dari arah belakang.
Roni tersungkur di bawah. Ali mengangkat Roni dengan paksa. Ia mencengkram kerah bajunya.
Bugh!
Tak puas dengan pukulan pertama, Ali melayangkan bogem mentahnya kali ini di wajah Roni.
"Berani lo bully dia! Abis lo sama gua!" Ali berteriak setelah berulang-ulang memukul Roni.
"Kak Ali!" Prilly berteriak saat Tio hampir memukulnya dari belakang.
Jangan remehkan kemampuan Ali. Ia sudah membaca pergerakan Tio walau ia membelakangi pria itu. Alhasil Ali berhasil menangkis pukulan yang saja kalau kena akan membuat Ali pingsan.
Bugh!
Kali ini Ali menghantam perut Tio. Ini bukan pertama kali Ali menghajar 2 manusia itu. Ali tau kelemahan Tio terletak di bagian perutnya.
"Pergi lo! Sebelum lo pada abis sama gua!" teriak Ali pada kedua pria yang baru saja menggoda Prilly, bahkan hampir mencelakakan gadis itu.
"Lo di apain?" Ali menarik bahu Prilly dan menepikan wanita itu kembali duduk di kursi kantin.
"A—ku cu—cuma di palak Kak." Bibir Prilly bergetar hebat. Ia masih shock melihat langsung adegan Ali memukul pria tadi.
"Sory lama. Gua abis ke toilet dulu tadi." Ali meraih mangkuk yang sempat ia taruh di meja lain.
"Gak papa Kak. Makasih udah nolong aku. Kak Ali baik-baik aja?" tanya Prilly khawatir.
"Lanjutin makannya." Ali memakan mie ayam pesanannya dengan buru-buru. Entah apa penyebabnya ia merasa hatinya panas melihat Prilly yang hampir dibawa oleh dua pria tadi.
Ali cemburu?