"Awh!" pekik Baja meringis.
"Ma-maaf Kak.. Aku gak sengaja," lirih Prilly, ia takut orang yang ia tabrak adalah pria senior yang pernah atau bahkan sering membullynya.
"Prilly!"
"Kak Baja! Maaf Kak aku ga sengaja nabrak hehe."
"Selow elah Prill. Ali mana ya?" tanya Baja basa-basi.
"Mau latihan futsal katanya Kak." Prilly memperlihatkan deretan gigi rapihnya.
"Oh iya, lo abis diapain sama si batu Ali?" kelakar Baja.
Prilly mengeryit bingung, ia kurang paham maksud pertanyaan Baja. "Diapain gimana maksudnya Kak?"
"Lo abis di bully sama dia kan?"
"Nggak kok. Kak Ali gak abis bully aku. Justru aku itu abis les privat gratis loh Kak, hihi," ungkap Prilly dengan polosnya.
"Ali bilang gitu sama lo?" tanya Baja tak percaya. Ia menggaruk tengkuknya. Kadang ia kesal sendiri melihat kepolosan Prilly yang mau saja di begoin oleh sahabat seperjuangannya.
Prilly memamerkan senyuman manisnya. "Iya Kak. Kak Ali lagi ajarin aku biar cepet tinggi hehe."
Baja menepuk jidatnya, "Kebangetan tuh anak!"
"Ya udah Kak Baja, aku duluan yah."
Prilly mengusap keringat yang menempel di keningnya, sesekali ia mengibaskan tangannya di depan wajah. Menunggu angkutan umum di bawah terik matahari sudah menjadi kebiasaan setiap harinya saat pulang sekolah.
"Mana sih angkot gak dateng-dateng!" gerutu Prilly kesal.
"Naik!" seru seseorang yang mengehentikan motornya tanpa mematikan mesinnya.
"Kak Ali!" Mata Prilly berbinar. Entah kenapa Prilly selalu ingin terus tersenyum bila sudah disamping Ali. Tak jarang Ali memperlihatkan sikap juteknya, namun Prilly tetap merasakan nyaman jika berada di dekat Ali.
"Salim dulu Kak." Prilly mengulurkan tangannya meminta Ali menyalaminya. Ini sudah menjadi kebiasaan Prilly bila berjumpa atau berpisah dengan kakak kelas yang satu itu.
Akhirnya Ali mengururkan tangan yang disambut senang oleh gadis itu. Prilly mencium punggung tangan Ali bagaikan suami istri.
"Mama pengin ketemu sama lo, sekalian benerin otak lo biar gak terlalu b**o!"
Prilly mengerucutkan bibirnya saat Ali memakinya dengan sebutan b**o. Prilly sadar jika kemampuan belajarnya tidak sepintar dan sehebat Ali, tapi bisa kan Ali menjaga perasaannya?
"Cepat naik!"
"I-iya Kak." Prilly naik ke motor Ali tanpa menggunakan helm. Ali sudah hafal dengan kebiasaan Prilly, jika dirinya menawari wanita itu ingin memakai helm atau tidak. Prilly selalu menolaknya.
Ali menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi. Prilly memejamkan mata karna takut. Rambutnya yang tergerai seperti di lahap angin. Tak lama ia merasakan Ali menarik pelan lengannya yang kini terlilit di pinggang pria itu.
"Kak?"
"Nanti lo jatuh," pungkas Ali. Ia sudah menebak jika Prilly akan mempertanyakan apa maksud perlakuan Ali.
Prilly tersenyum merasa diperhatikan oleh Ali. Ia tak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Tanpa ragu ia menyandarkan kepalanya di punggung Ali.
Hati Ali seperti tersengat listrik tiba-tiba. Ia merasakan gejolak aneh dalam dirinya. Bibir Ali tertarik mengulur senyumnya. Ia tidak memerintah Prilly untuk bersandar padanya. Tapi wanita itu melakukannya. Dan anehnya Ali tidak marah.
Motor Ali kini terparkir di halaman rumahnya. Ia merasa Prilly masih nyaman bersandar sampai Prilly tidak juga bangkit. Dilihatnya dari kaca spion, Prilly tertidur dengan pulasnya. Lagi senyum Ali tercetak melihat wajah polos Prilly yang kini tertidur.
"Udah sampe!" Ali memasang wajah juteknya kala melihat Prilly yang terbangun. Ini bentuk refleksi karna ia takut ketahuan jika sejak tadi Ali mengukir senyum manisnya.
"Maaf yah Kak, aku ngantuk hehe." Prilly turun dari motor Ali sembari mengucek matanya.
"Kalo nyokap gua tanya lo pacar gua bukan, lo jawab iya. Paham?" terang Ali setelah melepaskan helm full facenya.
"Pacar itu apa sih Kak?" Prilly membenarkan tatanan rambut panjangnya yang sedikit berantakan.
"Em.." Ali grogi atas pertanyaan Prilly. Ia sepertinya sudah panas dingin saat ini. Belum lagi pacuan jantungnya yang terasa lebih cepat. "Itu.. Cewek sama cowok kalo temenan disebut pacaran, iya gitu." Ali memberikan definisi pacar sedapat dari otaknya yang terlontar begitu saja dari mulutnya.
"Oh gitu yah Kak. Berarti waktu Bunda tanya soal pacaran, harusnya aku jawab iya."
"Bunda lo bilang apa?"
"Katanya, 'Kamu pacaran sama Ali?' gitu Kak."
"Oh," singkat Ali.
"Ayo masuk!" Ali merangkul pundak Prilly dan berjalan bersamaan.
Brak!
Ali menendang sedikit pintu rumahnya, namun pintu itu tidak terbuka karna terkunci. Akhirnya ia menggedornya dengan keras seperti orang penagih hutang.
Prilly dibuat bingung dengan apa yang Ali lakukan barusan. "Kak Ali kalo mau memasuki rumah, gak gitu caranya."
"Ma! Buka pintunya!" teriak Ali mengabaikan perkataan Prilly.
Prilly membantu Ali, tanpa diminta Prilly mengetuk pintu rumah beberapa kali. "Assalamualaikum, Tante."
Pintu akhirnya terbuka dari dalam menampilkan wanita paruh baya.
"Ali, masuk Nak. Maaf Mama ketiduran tadi." Eci tampak masih mengumpulkan nyawanya karna masih mengantuk. Sesekali ia mengucek matanya.
"Assalamualaikum Tante." Prilly mencium tangan Eci.
"Waalaikumsalam.. Li ini cewek yang ada di fo-"
"Ma!" Ali hampir melupakan peristiwa di mana saat Eci memergoki dirinya yang saat itu sedang memegang foto seorang gadis.
"Kenapa Li?" tanya Eci bingung yang tiba-tiba diteriaki anaknya.
"Mama bikinin minuman aja dong," pinta Ali mengalihkan pembicaraan antara Prilly dengan ibunya.
"Kak Ali kok nyuruh-nyuruh orang tua sih," tegur Prilly, "kalo aku mau minum aku ambil sendiri aja kok."
"Ayo masuk Nak, Li."
Ketiganya masuk ke dalam. Prilly memerhatikan ke sekeliling rumah Ali.
"Ma, Ali ganti baju dulu," pamit Ali berlalu.
"Namamu siapa Nak?" tanya Eci tersenyum.
"Aku Prilly, Tante. Ini Tante Eci yah?" Prilly bertanya balik.
"Iya Nak benar, kamu pacarnya Ali yah?" Seperti dugaan Ali, Eci akan menanyakan perihal itu pada Prilly.
Prilly masih tidak terlalu paham apa itu pacar. Yang ia tahu dari televisi pacaran adalah di mana pasangan anak remaja yang menjalin kasih dan sayang. Tapi ia lebih percaya apa yang dijelaskan Ali tadi. Prilly yakin Ali bukan pria yang suka bohong.
"Hehe." Prilly hanya tersenyum memberikan jawaban atas pertanyaan Eci.
"Kamu jangan panggil Tante yah, kamu panggil Mama aja. Nanti kan kamu akan jadi anak Mama juga." Eci mengusap rambut panjang Prilly dengan sayang.
"Iya, Ma hehe." Prilly banyak tersenyum kali ini.
"Kamu ini wanita pertama loh yang diajak Ali untuk berkujung ke rumah ini dan bertemu Mama."
"Iya kah?" Prilly nyaris tak percaya. Sebegitunya ia diperlakukan spesial oleh orang lain selain keluarganya.
"Kamu sangat cantik Nak, semoga Ali bisa bahagiain kamu yah."
"Di samping Kak Ali aja, Prilly bahagia Ma."
"Alhamdulillah, semoga kamu orang yang berhasil merubah sikap jelek Ali yah Prill, Ali itu berubah semenjak ditinggal Alm. Abah jadinya nakal. Mama gak ngerti harus pakai cara apa lagi biar Ali kembali seperti semula," cerita Eci membuat Prilly tertegun. Ia baru tahu jika Ali sudah tidak punya sosok Ayah. Prilly merasa penuh syukur, hidupnya masih dikelilingi kedua orangtua yang lengkap.
"Nanti Prilly ajarin Kak Ali pelan-pelan, Mama jangan sedih yah." Prilly merangkul pundak Eci dan mengelus punggungnya.
"Nak Prilly ke sini mau belajar sama Ali yah?" tebak Eci membuat Prilly tersenyum malu.
"Hehe, iya Ma. Kak Ali nawarin Prilly untuk belajar bareng, soalnya nilai Matematika Prilly kacau hihi," jujur Prilly tanpa rasa gengsi.
"Ya sudah kamu samperin Ali geh. Mama buatkan minum untuk kamu yah."
"Prilly ke sini gak ingin repotin siapapun termasuk Mama."
"Nggak Prill, gak repot kok. Mama tinggal yah."
Eci melangkah pergi meninggalkan Prilly seorang diri. Ia masih membayangkan perkataan Eci tadi. Apa dia bilang? Ia akan menjadi anak Eci? Apa maksudnya? Prilly tidak mengerti akan semua ini. Fiks, pulang-pulang Prilly harus menanyakan perihal ini dengan Bunda tercinta. Bicara soal Bunda, Prilly jadi lupa. Ia belum memberi kabar kalau hari ini akan pulang lebih sore karna ingin belajar bersama Ali.
Yang boleh masuk, hanya Ali, Mama dan cewek yang berinisial 'P'
Prilly mengeja tulisan kecil yang tertempel di pintu kamar Ali. Ia terkikik geli, di rumah ternyata Ali seperti memiliki kepribadian lain.
"Inisial P? Berarti aku boleh masuk dong, hihi."
Tulisan itu bukan seperti tulisan baru, kelihatannya sudah lama. Ali memang sudah lama menempelnya saat pertama kali mengenal gadis itu. Dan hari ini ia banyak melakukan hal ceroboh, selain perihal foto ia melupakan hal ini. Seharusnya tadi Ali melepas tulisan aneh itu. Ali beruntung, Prilly gadis polos sehingga tidak langsung mengerti hal-hal kecil aneh yang sering Ali lakukan.
Tok.. Tok..
"Kak Ali..," panggil Prilly dari luar. Walau sudah dipastikan ia boleh masuk ke kamar itu, tetap saja Prilly tidak akan sembarangan masuk kamar orang lain tanpa seijin pemiliknya. Begitu hebatnya keluarga Prilly mengajarkan Prilly arti sopan santun, hingga wanita itu tumbuh menjadi gadis yang begitu apik dengan tata krama.
Krekk..
"Masuk!"
Ali menggosok-gosok rambut dengan handuknya, rupanya ia baru selesai mandi.
Prilly kaget melihat isi kamar Ali. Berantakan seperti kapal pecah, buku-buku tampak berserakan di atas kasur, bungkus camilan makanan, kulit kacang terhampar di lantai. Belum lagi pakaian yang seharusnya menggantung di atas kapstok, ini malah tersangkut di mana-mana. Ada yang di belakang knop pintu, di dekat kasur, ada juga di atas rak repatu. Prilly mengenggeleng kepala. Ali siswa pintar di sekolahnya, tapi mengapa pribadinya begitu buruk.
"Aku boleh bantu beresin kamar Kakak?" tanya Prilly dengan bibir bawah yang sengaja ia gigit. Ia takut menyinggung perasaan Ali.
"Nggak!" singkat Ali.
"Kak, aku boleh pinjam ponsel Kakak?"
"Buat apa?"
"Em.. Mau kasih tau Bunda kalau aku lagi belajar bareng sama Kakak."
Ali berjalan meraih ponselnya yang ia letakkan di atas nakas, tanpa berkata apapun ia menyerahkan ponselnya.
Prilly tersenyum kikuk melihat layar ponsel itu yang terkunci. "Kodenya apa Kak?"
"AP huruf kecil semua."
Prilly bingung, lagi dan lagi ia bertemu dengan huruf P.
"Makasih yah Kak." Prilly mengembalikan ponsel Ali setelah selesai memberi kabar sang Bunda.
"Lo gak bawa hape?" tanya Ali cukup penasaran.
Prilly tertawa ringan. "Gak punya Kak, hehe."
Kening Ali berkerut bingung. Gadis remaja seperti Prilly tidak pegang ponsel? Yang benar saja.
"Besok ke mall ya. Gua beliin lo hape. Em.. Biar itu.. Gua bisa hubungin lo kalo gua butuh," jelas Ali menahan rasa gugupnya.
"Gak perlu Kak." Prilly menolak halus.
"Kenapa?"
"Aku gak diijinkan Bunda pegang hape. Nanti aku malas belajar," terang Prilly tak menghilangkan senyuman manisnya.
"Mangkanya lo harus pintar, biar lo bisa buktiin ke Bunda, dengan lo punya hape gak menghambat ke pelajaran," terang Ali. Ia meraih buku paket Matematika kelas X di atas kasur. Ali masih menyimpan banyak buku-buku sekolah dari jaman ia SMP.
"I-iya Kak. Aku akan rajin belajar kok."
Prilly duduk di kursi kosong kala melihat Ali yang sudah memakai kacamata beningnya, Ali akan memakai benda itu saat sedang ingin belajar.
"Apa yang gak lo paham?" tanya Ali membuka buku paketnya.
"Banyak Kak, tapi besok mau ulangan geometri."
Mata Ali menyusuri daftar isi, bab Geometri dan membuka halamannya.
"Sekarang gua tanya, kenapa ini hasilnya segini?" tanya Ali menujuk deretan angka itu yang tertera di buku sebagai contoh soal.
"Kalo aku hitung, akarnya dipecahin dulu baru turunin kuadratnya Kak."
"Salah. Gak salah sih, tapi cara kayak gitu bikin lama, dan kalo gua pake jarang ketemu hasilnya. Lo pake cara gua deh, harusnya lo turunin dulu kuadratnya baru lo akarin." Prilly mengangguk-angguk.
"Gua bikinin contoh soal ya, lima menit harus selesai."
"Hah? Aku biasanya 1 soal 15 menit loh Kak."
"Kalo gitu terus, nanti waktunya ulangan lo cuma dikasih 45 menit lo cuma bisa kerjain 3 soal gitu?"
"Ya udah deh terserah Kakak. Tapi jangan susah-susah dong Kak," pinta Prilly dengan wajah di tekuk.