Karena usil dan perhatian beda tipis.
–Gadis Manja–
"Duh kasian yah Prilly selalu dibully Ali."
"Pengin gue bantuin Prilly tapi kalian tahu sendiri kan terakhir dia dibully ada yang nolongin, eh sekarang koma di rumah sakit karna tulang lehernya patah."
"Iya bener. Gak ada yang berani melawan Ali."
"Kalo kita nolongin si Prilly gue yakin kita semua yang akan jadi gantinya."
"Terakhir Ali bully cowok tulen, terus cuma si Prilly yang berani nolong eh dia kena juga sekarang."
"Lo kalo gosip pelan-pelan. Ali denger mati lo pada."
Suara-suara itu yang kini menyaksikan Prilly sedang dibully pria senior yang terkenal galak dan ditakuti semua orang.
"Delapan lima...."
"Delapan enam...."
"Kak udah yah, aku cape," keluh Prilly yang kini tengah mengayunkan tali skipping atas perintah Ali.
"Delapan tujuh, ayo lanjut! Segitu doang cape!" tandas Ali.
"Aku istirahat dulu deh, yah Kak," pinta Prilly dengan wajah memelas.
Ali meraih bullpoint yang ia letakkan di telinganya. "Gak ada!"
"Delapan delapan...." Ali kembali menghitung hasil loncatan yang sudah dilalui Prilly.
Untuk mencapai angka seratus masih jauh. Prilly sudah lelah. Keringat bercucuran. Kepala pusing. Ia belum sarapan sejak pagi. Siang ini ia malah bertemu Ali dengan berakhir membullynya.
"Delapan sembilan...."
Sambil berhitung Ali memainkan bullpoint itu. Bullpoint yang selalu ia bawa ke mana-mana terutama jika sedang bersama gadis manja itu.
"Sembilan puluh...."
"Udah Kak." Napas Prilly tersengal-sengal.
"Gua bilang lanjut!" tukas Ali tak terbantahkan.
Prilly kembali meloncat dibawah putaran tali yang mengayun dari tangannya.
"Sembilan sa—" Ali berhenti menghitung kala melihat tubuh Prilly ambruk.
Ia tersenyum miring melihat Prilly yang kembali berusaha berdiri.
Dengan wajah yang pucat pasi Prilly kembali mengayunkan skipingnya. Tak peduli akan tubuhnya yang sudah lelah. Ia tetap akan tekadnya menjalani perintah Ali. Prilly mengingat perkataan Ali sembelum memerintah untuk melakukan ini. Ia bilang kalau mau tinggi ya harus melakukan usaha. Dan permainan licik ini Ali gunakan sebagai alat untuk membully gadis itu.
"Gak usah manja! Semua itu perlu pengorbanan." Ucapan Ali, Prilly anggap sebagai cambukkan untuk menyemangatinya.
Setahu Prilly, Ali bukan sedang membullynya tapi sedang memberikan solusi terbaik.
"Aku mau buktiin sama Kakak kalo aku bisa ambil buku di rak perpus tertinggi tanpa bantuan Kakak!" Prilly menyeka keringatnya sejenak.
Ali tersenyum puas. "Mangkanya lo buktiin ke gua."
"Sembilan delapan...."
Prilly memaksakan dirinya tersenyum mendengar hitungan Ali yang sudah mendekati finish. Benar yang Ali bilang kalau dijalani ikhlas semuanya tidak akan terasa.
"Sembilan sembilan...."
"Satu lagi yah Kak!" antusias Prilly mempercepat lompatannya.
"Seratus!" Ali menghadiahkan tepuk tangan untuk Prilly.
"Gua yakin tinggi lo besok nambah 1 cm." Ali meraih skiping itu dan menggulungnya dengan rapi.
"Hah? 100 lompatan skipping cuma dapat 1 cm Kak?" tanya Prilly tak percaya.
"Besok lakukan lagi. Biar cepat tinggi." Tanpa sadar Ali mengelus puncak kepala Prilly.
"Ikut gue!" Ali mengenggam pergelangan Prilly serta menariknya entah ke mana.
"Kak!" Vivi memanggil seseorang yang kini berpapasan dengannya.
"Iya, Dek. Kenapa?" Pria itu tersenyum manis.
"Kak Baja lihat Prilly gak?" ucap Vivi bertanya.
"Tadi sih gue lihat dia dibully Ali. Gak tahu sekarang. Kenapa, Vi?" tanya Baja yang cukup penasaran. Tak biasanya pria ini penasaran dengan urusan orang lain.
"Hehe aku belum ngerjain tugas, Kak. Biasanya aku minta bantuan Prilly," terang Vivi.
Baja tersenyum lagi. "Sini lihat tugasnya kayak apa?"
Vivi memberikan buku tulisnya pada Baja.
"Oh ini gampang Vi. Gue bisa ini." Baja membenarkan kaca mata beningnya.
"Serius, Kak? Bantu aku boleh?" tanya Vivi penuh harap.
"Boleh. Tapi ada syaratnya." Baja menyeringai menatap Vivi.
"Hm ... Perasaan kalo aku minta bantuan Prilly, dia gak pernah ngasih syarat ke aku Kak." Vivi tersenyum kikuk.
"Itu kan Prilly. Gue sama Prilly beda kali. Dia cewek gue cowok. Bener gak?" Baja terkekeh melihat wajah bingung Vivi.
"Jadi syaratnya apa, Kak?" Vivi
"Gampang...."
"Lo haus kan?" Ali menyerahkan botol mineral untuk Prilly.
Prilly tersenyum menerima botol pemberian Ali. "Makasih yah, Kak."
Ia meneguk air dalam botol minum itu, menyisahkan setengahnya. Bila kemarin Ali memberikan botol kosong. Kini ia menerima botol berisi. Besok ia menerima apa?
"Abisin! Gak baik minum setengah-setengah. Biar sehat." Ali mengeluarkan tisyu kering yang ia beli tadi di warung Umi.
"Kayaknya air ini gak akan aku minum lagi Kak." Prilly mengulum senyumnya.
Tangan Ali terulur menyentuh kening Prilly yang penuh keringat. Ia menjelajahi peluh itu dengan bantuan tisyunya.
Merasa ucapannya tak direspons Prilly tetap melanjutkan ceritanya. "Kemarin kan botol kosong, sekarang botol berisi. Besok-besok kasih hadiah buat Prilly yang bagus yah Kak."
Prilly tidak sadar Ali sejak tadi menyusut keringat yang ada di keningnya.
"Lo makan gak?" Ali menarik kursi kantin dan mendudukinya.
Prilly yang melihat Ali duduk segera mengikuti. "Maksud Kakak?"
"Ck!" Ali berdecak kesal. Selain manja dan polos kadang Prilly telat berpikir.
"Kakak nanya Prilly, udah makan atau nawarin Prilly makan? hehe." Prilly menunjukan deretan giginya yang rapih.
"Keduanya," sahut Ali seadanya.
"Belum sarapan sih, Kak. Tapi 5 menit lagi masuk. Kayaknya gak sempat kalau aku makan."
"Bang 2 mangkok bakso!" teriak Ali pada Bang Jack. Penjual bakso yang ada di kantin.
"Besok-besok kalo mau ke sekolah sarapan!" sarkas Ali dengan nada bicara yang tidak terima.
"Tadi pagi aku kerjain tugas Kak. Jadi gak sempat," kilah Prilly membela dirinya.
"Tugas itu dikerjainnya malam bukan pagi!" cetus Ali sudah mirip dengan Bundanya yang bawel.
"Habis susah Kak jadi aku semalam ketiduran," belanya lagi.
"Tugas apa?"
"Geometri Kak."
"Besok ke rumah, belajar sama gua." Ali menaruh bullpoint yang sejak tadi di pegangnya ke saku jas sekolahnya.
"Kakak pasti sudah menguasi materi itu yah?" Prilly memajukan bibirnya. Ia ingin dirinya bisa sepintar Ali
Ali tersenyum bangga. "Sekolah aja udah gua kuasain, gimana geometri."
"Hihi Kak Ali calon CEO hebat nih pasti," tebak Prilly asal.
Bang Jack menaruh 2 mangkuk bakso di atas meja.
"Makan! Gak pake lama. Gua ada urusan." Ali menuangkan sambal dan kecap ke dalam mangkuk miliknya.
Prilly meraih sendok dan garpu lalu mengelapnya dengan tisyu. "Memang Kak Ali gak ke kelas lagi?"
"Gua udah pinter," angkuh Ali. "gua pengin ikut pop kota cabang futsal. Siapa tau pulang bawa piala. Dan nanti pengin latihan."
Prilly tersenyum penuh arti. Tak biasanya Ali berucap lebih dari 1 kalimat. "Semangat, Kak. Pasti bisa kok. Aku akan jadi wanita pertama yang teriakin Kak Ali kalau menang nanti."
"Makasih yah Kak udah ajarin aku materi ini." Vivi menutup buku tulisnya setelah selesai mengerjakan tugasnya.
"Ingat loh nggak gratis." Baja terkekeh lagi.
"Iya Kak. Aku ke kelas dulu yah," pamit Vivi yang langsung berlari kecil.
"Cantik," gumam Baja menatap punggung Vivi dari kejauhan.
Baja berjalan menuju kelasnya. Diperjalanan ia tak sengaja menabrak seseorang.
"Awh!" pekik Baja meringis.
"Ma—maaf Kak...."