Untuk apa mengejar sesuatu yang mahal, bahkan barang bekas saja mampu membuat kita bahagia.
-Gadis Manja-
Bugh!
"Akh!" Prilly memekik saat tubuhnya limbung.
Ia merasa pusing di bagian kepalanya yang baru saja terlempar bola basket.
"Heh! Lo punya mata gak sih! Udah tau ini tempat latihan! Kenapa lo ke sini!" sinis seorang pria yang menghampirinya.
Bukannya membantu Prilly bangun, dia malah sibuk mengambil bola yang menggelinding jauh di sana. Prilly mencoba bangun dari jatuhnya.
"Maaf, Kak ... Aku cuma mau nganterin ini. Tadi aku ke kantin terus di suruh Umi nganterin air pesanan Kak Ali. Dia gak bisa nganterin karna kantin lagi rame," jelas Prilly saat Ali kembali di hadapannya.
Ali mengambil botol mineral yang Prilly bawa. "Thanks." Ia langsung meneguknya hingga tandas.
Kini Ali meraih telapak tangan Prilly. "Lo bawa pulang!"
Prilly melongo saat Ali kembali memberi botolnya yang sudah kosong.
"Kenapa harus dibawa pulang, Kak?" tanya Prilly dengan polosnya.
Ali tersenyum kecil. "Buat kenang-kenangan."
Prilly tidak sadar jika Ali telah mengerjainya.
"Oh gitu yah, Kak?" Prilly mengangguk paham. "Kak Ali kalo mau ngasih aku hadiah yang bagus dikit dong," lanjut Prilly menggerutu.
"Tapi ... Aku kan anak baik. Kata Bunda anak baik itu harus menghargai pemberian orang lain."
Ali hanya tersenyum meledek mendengar penuturan Prilly seperti itu.
"Terus Kak Ali gak mau minta maaf gitu?" Prilly menggembungkan pipinya.
"Emang gua ada salah sama lo?" tanya Ali dingin.
Prilly memanyunkan bibirnya. "Kak Ali udah lempar bola ke aku."
"Gua gak sengaja."
"Tapi kan sakit."
"Heh Manja! Kurangin dikit manja lo bisa gak sih!" sinis Ali tak lama pergi.
Prilly tersenyum melihat kepergian Ali. Hatinya bersorak ria mendapat botol kosong pemberian Ali. Sumpah demi apapun Prilly akan memajang botolnya di kamar miliknya.
"Assalamualaikum, Bundaaa," teriak Prilly yang baru saja datang di rumah.
Ia buru-buru melepas sepatu dan menaruhnya di rak sepatu.
"Waalaikumsalam, Sayang." Prilly mencium punggung tangan sang Ibu. Tak lama ia memeluknya.
"Kamu tumben pulang-pulang seneng gini. Biasanya kamu nangis," ejek Ully dengan kekehannya.
Prilly mendengus kesal. "Ish Bunda...."
"Ada apa, Sayang?" tanya Ully penasaran.
"Yuk kita masuk dulu Bunda, nanti Prilly ceritain." Prilly sangat bersemangat menarik lengan Ully.
"Anak Bunda lagi seneng nih kayaknya," goda Ully membuat pipi Prilly merona.
"Bunda aku malu." Prilly duduk di ujung kasur begitu pun dengan Ully.
"Tau gak Bun, Prilly dapat hadiah dari Kak Ali, hehe." Prilly mengulum senyumnya membayangkan kejadian tadi.
"Ali? Siapa dia? Pacarmu?" tanya Ully tertawa ringan.
Mata Prilly berbinar saat ibunya menyebut kata pacar. "Kakak kelas Prilly, Bunda."
"Lalu? kamu suka?" Ully tersenyum menatap putrinya yang kini mulai beranjak lebih dewasa.
Prilly menggeleng sebagai jawaban.
Kening Ully berkerut heran. "Kalo gak suka kok seneng banget? Kamu bohong nih sama Bunda." Ully terus menggodanya.
"Prilly senang aja bisa dekat dengannya Bun. Walaupun Kak Ali jutek, dingin, cuek, kalo bicara sama Prilly gak pernah halus selalu uratnya keluar," adu Prilly membuat Ully tersenyum.
"Itu tandanya kamu cinta sama dia, Nak."
"Ih tidak, Bun. Aku menganggap Kak Ali itu teman. Karena Prilly tidak punya teman."
"Iya terserah kamu aja, Sayang. Kapan-kapan kamu bawa dia ke sini yah."
Mata Prilly berbinar. "Nanti Prilly seret Kak Ali buat maen ke sini hiha."
"Kamu hari ini beda Prilly, kamu jarang banget bahagia seperti ini. Bunda akan sangat berterima kasih pada orang yang membuatmu tersenyum," batin Ully terharu.
"Nah, kamu diberi hadiah apa sih?"
"Bunda mau tahu atau penasaran?" gurau Prilly.
Ully terkikik geli. "Keduanya."
Prilly membuka resleting tas punggungnya mengeluarkan sesuatu.
"Ini Bunda hadiahnya, hehe." Prilly memperlihatkan botol kosong itu
Ully terkaget. "Ini hadiahnya? Kamu serius?"
"Iya, Bunda. Nanti Prilly pajang di situ." Prilly menunjuk nakas di kamarnya.
"Ya sudah Bunda ke luar dulu. Kamu jangan lupa habis ini makan yah, terus belajar biar pinter." Ully mengusap ujung rambut Prilly sebelum melangkah pergi.
"Kak Ali kalo mau ngasih aku hadiah yang bagus dikit dong."
Ali tersenyum mengingat suara Prilly yang terdengar sangat lucu.
"Hm, gadis manja." Ali bergumam sendiri di kamarnya
"Li ... Dari tadi suruh makan. Kok masih aja di kamar?" Eci menepuk pundak Ali membuat putranya kaget.
Reflek Ali menyembunyikan foto yang sejak tadi di pegangnya.
"Mama! Kok gak ketuk pintu sih, Ma! Ali kan kaget."
"Dari tadi Mama udah ketuk. Kamu tuh gak denger. Lagi lihatin foto siapa sih? Coba lihat." Eci mencoba merebut foto yang sedang disembunyikan Ali.
"Eh ... Mama apaan sih. Ini gak penting, Ma," elak Ali.
Eci yang sudah terlanjur penasaran memaksa Ali menyerahkan fotonya.
"Hmm ... Cantik! Cepet-cepet kenalin ke Mama ya, Li! Mama gak sabar ketemu dia!" surak Eci bersemangat.
"Apaan sih, Ma? Apa pentingntnya coba!"
"Jelas penting lah. Masa Mama gak boleh ketemu calon mantu sih," celetuk Eci membuat Ali melongo. "dia pasti—"
"Itu adik kelas Ali yang mau Ali bully besok, Ma. Jangan mikir yang aneh-aneh deh."
Eci tersenyum dengan cibirannya.
"Besok jadwalnya Ali bully dia!"
Tak!
"Sakit, Ma!" pekik Ali saat Eci menghentakkan foto itu tepat di kening Ali.
"Jangan coba bully calon mantu Mama! Kamu tuh gak bosen-bosen yah bully anak orang! Tuman!"
"Jadi anak itu jangan terlalu baek, Ma. Nanti diinjak orang lain. Ali bandel juga tahu aturan, Ma. Bandel itu gak gampang. Bener gak?" tanya Ali dengan menaikkan bahunya.
"Lagian Ali masih remaja, kapan lagi Ali bisa kayak gini kalo gak sekarang." Ali menyela dengan ocehannya sebelum Eci bersuara. Ia sudah tahu ibunya itu akan berceramah panjang lebar.
"Terserahmu, Li! Yang penting Mama gak mau tahu, ingin cepat dipertemukan dengan gadis itu! Mama gak mau kamu sama cewek lain! Dia udah bikin Mama jatuh hati!" teriak Eci posesif.
Wanita yang dimaksud Eci berhasil memikat hatinya. Ali sampai tidak diperbolehkan dengan wanita lain kecuali gadis di foto itu.
"Ali akan melakukan apa yang Ali mau Ma, termasuk dengan gadis ini. Mama tenang aja Ali gak akan bunuh dia kok." Ali tersenyum miring.
"Kamu lagi bicara sama Mama, Li! Bukan sama temanmu!" sahut Eci kesal.
"Terus Ali harus apa Ma? Harus gini 'Ma Ali pengin diajak Mama jalan-jalan' begitu, Ma?" Ali menirukan gaya bicara Prilly tadi siang dengan suara manjanya.
"Semoga anakku diberi hidayah setelah bersama gadis itu Ya Allah," doa Eci menengadahkan tangannya tak lama diraupkan ke wajahnya.
"Sana Ma ke luar," usir Ali halus.
"Dasar anak durhaka!" umpat Eci sebelum ke luar dari kamar Ali.