19. Calon Mantu Idaman

1066 Kata
Ali tersenyum kecil ketika telah sampai di rumah Prilly. Ia sudah tak sabar menyapa gadisnya. Tok-tok! "Assalamualaikum, Bunda." Pintu dibuka dari dalam menampilkan wanita paruh baya yang kini tersenyum begitu melihat siapa yang datang. "Waalaikumsalam, Nak Ali. Masuk yuk." Ali segera meminta lengan Ully untuk ia cium. "Bunda ini Ali bawa sesuatu untuk Bunda." "Masha Allah ini apa, Nak? Kamu gak usah repot-repot." "Ehehe gak papa Bunda. Ini kue buatan Mama Ali. Sama ini Ali gak sengaja ketemu pedagangnya tadi. Kata Prilly Bunda suka banget sama kebab. Ali jadi ingat aja gitu." "Makasih banyak ya Ali. Bunda panggil Prilly dulu sekalian ambil minum untuk kamu." Ali menatap ke sekitar rumah ini. Tak sengaja matanya menangkap sosok Prilly dalam bingkai yang terpajang cantik di rumah ini. "Cantik." Ali bergumam setelah ia berhasil memegang bingkainya. "Kakak ih." Prilly merebut bingkainya kala menyadari Ali sedang tersenyum-senyum. "Kakak kok liat-liat sih aku kan malu," gerutu Prilly yang tampak kesal. Ali malah memberikan lengan kanannya. Karena Prilly kesal ia tak menanggapi. "Gak mau salim? Ya udah gua pergi." "Jangan ih." Prilly menghadang Ali agar tidak jadi pergi. Tak lama Prilly meminta kembali lengan Ali dan segera diciumnya seperti pasangan suami istri. "Gitu aja marah." Prilly melingkari lengannya di sekitar pinggang Ali "Lagian calon suaminya dateng bukannya disambut." Perkataan Ali sukses membuat Prilly mengulum senyumnya yang sudah tidak bisa ia tahan. "Aku kan gak suka Kakak liat-liat foto aku!" "Kenapa harus gak suka, Sayang." Ali mengusap anak rambut Prilly dan sedikit dibereskan agar tidak menghalangi dirinya untuk menatap intens wajah Prilly. "Aku jelek." Ali malah terkekeh. Di mata Ali, Prilly tidak pernah jelek sekalipun ia tidak melihat wujud asli saat Prilly di foto itu. "Anak-anak diminum ya." Ully meletakkan dua gelas minuman dingin serta camilan kecil. "Bunda gak usah repot. Ali mau ajak Prilly keluar sebentar lagi. Boleh kan Bun?" "Boleh. Tapi diminum dulu yang di sini. Ya udah Bunda tinggal ya." Ali meraih toples berukuran mini itu dan membuka bagian tutupnya. Kripik pisang. Ia tersenyum sebelum akhirnya menyodorkan ke arah Prilly. "Buka." Ali memerintah Prilly membuka mulutnya. Dengan menurut, Prilly membuka mulutnya sesuai perintah Ali. "Enak?" Prilly mengangguk sambil tersenyum saat baru saja Ali menyuapi dirinya dengan kripik pisang. "Emm ... Padahal Kakak gak perlu ke sini." "Jadi lo gak suka gua ke sini?" "Bu-bukan gitu, Kak. Aku kasian aja sama Kakak. Kak Ali pulang sekolah kan cape. Tapi malah luangin waktu ke rumah demi memenuhi keinginan aku yang sudah rindu sama Kakak sejak semalam." Ali mencubit ujung dagu Prilly. "Denger ya, gua gak butuh rasa kasian dari lo. Gua ke sini karena gua juga kangen sama pacar gua yang manja ini." Prilly kembali menahan senyuman di bibirnya agar tidak terbit sekarang. Ia malu ditatap Ali dengan jarak yang begitu sangat dekat. "Gak usah ditahan kalo mau senyum." Ali meraih gelas minuman yang disediakan calon mertuanya tadi. "Oh iya gadis manja. Tadi gua udah bikin perhitungan sama dua manusia yang berusaha nyakitin pacar gua kemaren. Besok gua akan laporin mereka biar mereka diskors sama guru. Jadi...," Tangan Ali meraih lembut lengan Prilly dan digenggamnya. "Lo jangan takut lagi. Karena ada gua selalu di samping lo." Prilly ingin menangis kala mendengar suara bisikan Ali yang terdengar sangat perhatian di telinga Prilly. "Jangan nangis." Ali mengusap pipi Prilly yang sudah lembap karena air mata. "Bilang sama gua kalo ada yang nyakitin lo lagi. Jangan diam aja. Ngerti?" "Ngerti, Prilly?" ulangnya karena Prilly tak segera menjawab. "Aku ngerti, Kak." Prilly menyandarkan tubuhnya di d**a bidang Ali. Ia menangis lepas saat Ali juga menarik lengannya ke belakang. Ali begitu erat memeluk Prilly seolah khawatir akan kehilangannya. "Jangan lagi takut diancam. Mereka gak ada yang berhak untuk mengancam lo." Ali menenangkan Prilly dengan mencium rambutnya tepat di puncak kepala. "Besok aku udah boleh sekolah kan, Kak?" Prilly berharap banyak Ali mengizinkannya. Ali memperlihatkan reaksi wajah seperti tampak berpikir. "Boleh gak ya...." "Boleh, Kak. Harus boleh ya ... Aku bosan di rumah seharian." "Yuk." Ali mengalihkan pembicaraan. "Ke mana?" "Mau ikut gak?" Ali sudah berdiri dari kusri. Ia memberikan telapak tangannya agar Prilly mau ikut dengannya. Prilly mengulum senyumnya sebelum meraih tangan Ali. "Kita mau JSH ya Kak?" "Apaan tuh?" "Jalan Sore Hari." Prilly mengedipkan satu matanya. *** Prilly duduk di kursi taman dengan perasaan penuh takut. Ali bingung tak biasanya Prilly menjadi pendiam seperti sekarang ini. "Lo kenapa?" Ali menaruh telapak tangannya di atas punggung tangan Prilly. "Hehe gak papa, Kak." "Ada ice cream tuh. Lo gak pengin?" tawar Ali semakin heran. Biasanya Prilly akan semangat jika sudah melihat pedagang ice cream keliling. "Aku ... Aku lagi gak pengin, Kak." "Ya udah bentar lagi gelap. Pulang yuk." "Kak," tahan Prilly ketika melihat Ali sudah ingin bangun. "Lo baik-baik aja?" "Emm ... Prilly kenapa berdarah, Kak?" Ali syok mendengar pernyataan Prilly. "Maksud lo?" Mendengar pertanyaan seperti itu membuat Prilly semakin takut. Ia meremas kencang baju yang ia kenakan. "Prilly takut, Kak." Ali mengikuti arah pandang Prilly. "Coba lo berdiri." Dengan gerakan pelan ia menuruti perintah Ali. Seketika Ali menghela napas lega. Ia pikir terjadi sesuatu dengan kekasihnya. "Jangan takut, Sayang. Ini gak bahaya. Lo belum pernah menstruasi?" Prilly melongo mendengar penjelasan Ali. Apa katanya? Menstruasi? Prilly pernah belajar hal itu ketika di sekolah. Tapi selama ini ia tidak paham jikalau hal itu akan terjadi padanya dan remaja lain. "Jadi dari tadi lo gak mau bangun karena malu sama darah?" "Iya, Kak." Wajah Prilly semakin memucat. Perlahan Ali melepas cardigan yang dikenakan Prilly dan ia lilitkan di bagian pinggang Prilly untuk menutupi sebagian dres Prilly yang terkena darah. Tak lama ia juga melepas jaket dirinya dan ia pakaikan di tubuh Prilly sebagai gantinya karena ia tak mau Prilly sampai kedinginan. "Udah aman. Yuk pulang." Ali merangkul bahu Prilly. Meyakinkan kalau ini semua baik-baik saja. Di perjalanan menuju pulang, Ali memarkirkan motornya di depan minimarket. "Lo tunggu di motor ya." Lima menit berjalan, akhirnya Ali keluar dan memberikan sesuatu untuk Prilly. "Ini apa, Kak?" Prilly bertanya pelan. "Ini pembalut. Nanti lo minta ajarkan Bunda cara pakenya. Jangan cemas, Sayang." "Makasih banyak ya, Kak." "Lo punya kata-kata selain makasih gak?" Prilly menahan senyumnya. Ia sangat bersyukur bisa dikenalkan pria seperti Ali. *** "Ali belikan pembalut untuk kamu?" Ully bertanya pada putrinya dengan raut wajah kaget. "Iya, Bunda." "Sudah ya, Prill. Kamu gak perlu cari laki-laki lain lagi," pungkas Ully tersenyum kagum. Setelah diceritakan kejadian di taman tadi, Ully semakin yakin untuk mempercayakan putrinya pada pria muda itu. "Memang kenapa Bunda?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN