Bab 1 - Langkah pertama ke Masa Depan
Aku selalu punya ketakutan aneh terhadap kematian. Bukan takut akan sakitnya, bukan pula takut akan gelapnya, tapi takut akan ketidaktahuan. Semua orang mengatakan kematian adalah misteri, tapi bagiku misteri itu seperti lubang hitam—semakin dipikirkan, semakin menarikku masuk. Aku mulai membaca buku-buku tua, manuskrip terlarang, dan eksperimen kuantum yang seharusnya tidak pernah dicoba manusia biasa.
Hingga suatu malam, di kamar kecil yang bau minyak dan kabel terbakar, mesin itu selesai. Bukan mesin besar seperti di film-film, tapi lingkaran kecil dari logam hitam yang berputar pelan, mengeluarkan dengung rendah. Di tengahnya, cahaya biru seperti air beriak-riak. Aku hanya perlu satu langkah untuk menembusnya. Satu langkah untuk tahu kapan aku mati.
Aku menutup mata, menarik napas panjang, dan melangkah.
Sekejap saja dunia di sekitarku berubah. Bau minyak lenyap, diganti aroma tanah basah dan bunga liar. Angin dingin menggigit kulitku. Aku berdiri di sebuah hutan yang asing, pohon-pohon tinggi menjulang seperti tembok, dan di atas kepalaku burung-burung asing berteriak dengan suara yang tidak pernah kudengar sebelumnya.
Aku melihat sekeliling. Tidak ada kuburan, tidak ada tanda-tanda kematian. Hanya hutan dan bunga putih yang tumbuh liar. Jantungku berdetak lebih cepat—ini bukan masa depan yang kubayangkan.
Aku melangkah pelan, mengikuti jalan kecil di antara bunga-bunga. Dan di sanalah aku melihatnya. Sosok tinggi berjubah hitam berdiri di antara pepohonan. Tinggi, kurus, wajahnya tersembunyi oleh bayangan, tapi aku bisa merasakan auranya—dingin, asing, namun… akrab.
Aku menahan napas. “Apakah… ini aku di akhir nanti?” pikirku. “Apakah ini wujud kematianku?”
Sebelum aku sempat bicara, suara lembut memecah kesunyian.
“Loh, Ayah udah pulang kerja?”
Aku tersentak. Suara itu berasal dari seorang gadis kecil yang duduk di atas tunggul pohon tak jauh dari sosok hitam itu. Rambutnya putih bersih, wajahnya lembut, matanya bening tanpa dosa. Dia melihat ke arahku—atau ke arah sosok hitam itu—dengan senyum paling polos yang pernah kulihat.
Aku menatap gadis itu. “Ayah?” gumamku pelan. “Aku?”
Gadis itu tidak berhenti tersenyum. Sosok hitam itu perlahan mendekat ke arahnya. Bayangannya panjang menjalar di tanah, tapi gadis itu tidak tampak takut. Dia justru mengulurkan tangan kecilnya seolah sudah terbiasa.
Aku merasa lututku lemas. Aku datang ke masa depan untuk melihat kapan aku mati… tapi yang kutemui adalah kehidupan yang tak pernah kubayangkan. Seorang gadis kecil memanggilku ayah.
Aku menoleh lagi ke sosok hitam itu. Dan pada momen itu aku sadar—mata itu, tatapan itu, cara berjalannya—itu semua adalah aku. Aku yang pulang. Aku yang sudah melalui semua yang belum kualami. Aku yang memikul rahasia masa depan.
Dan di sanalah aku berdiri, di antara dua versi diriku: yang penasaran dan yang sudah tahu jawabannya.
Aku tidak lagi takut.
Aku hanya ingin tahu—siapa gadis itu, dan kenapa dia memanggilku ayah.
(Bersambung…)