***
Evelyn membuka pintu ruangannya dan menghempaskan tubuhnya begitu saja ke atas kursi kerjanya. Evelyn duduk sembari menopang dagunya dengan kedua tangan. Wanita itu terus berpikir untuk membalaskan perbuatan para wanita yang menyiksa Olive kemarin, tapi ia bingung siapa dalang di balik semuanya? Ada berapa orang? Dan siapa yang paling kejam? Evelyn tidak ingin membalas tanpa tahu siapa yang lebih kejam diantara wanita-wanita itu. Ia ingin membalas sesuai takaran yang mereka perbuatan kemarin.
Prinsip Evelyn beda dengan yang lain. Kala semua orang berprinsip, 'Jangan balas perbuatan buruk dengan perbuatan buruk pula, karena itu kau sama saja dengan mereka.' Evelyn berbeda, ia selalu berdecih sinis jika seseorang menyebutkan prinsip itu kala ada yang berbuat jahat. Menurut Evelyn, mereka yang tak membalas adalah mereka yang pengecut. Evelyn menggunakan prinsip, 'Perlakuanku terhadapmu bergantung sebagaimana kau memperlakukanku. Baik ku balas lebih baik. Jahat? Maka ku balas lebih jahat.' Evelyn bukan kejam atau apa, ia hanya realistis. Tapi, walaupun begitu ia tidak pernah memanfaatkan kekuasaan ayahnya untuk membalas perbuatan orang jahat pada dirinya. Evelyn punya caranya sendiri.
Tring...
“Halo, pak?” tanya Evelyn dengan tutur kata yang lembut kali ini.
“Tumben kau begitu sopan?” Evelyn mendengus kecil saat kembali berhadapan dengan bosnya itu.
“Iya, pak? Ada apa?” tanya Evelyn benar-benar menahan emosinya, wanita itu berusaha sabar semaksimal mungkin.
“Antarkan aku berkas yang kau revisi kemarin,” Evelyn hendak memutuskan panggilan dan terhenti karena bosnya kembali berkata, “Lain kali jangan putuskan panggilannya jika bukan aku yang duluan memutusnya.”
“Iy—”
Tut...
Evelyn menatap telepon itu dengan kegeraman yang sudah sangat membuncah. Lalu ia meletakkannya dengan begitu pelan dan mengatur napasnya agar lebih stabil.
“Huh, nasibmu sungguh buruk, Eve.” gumam Evelyn pada dirinya sendiri. Evelyn segera mempersiapkan berkas yang kemarin ia revisi sampai-sampai ia harus lembur. Huh. Evelyn sempat membayangkan, jika nanti ia telah menempati posisi ayahnya di perusahaan, maka akan ia pastikan tak akan menerima kerjasama dalam bidang apapun bersama perusahaan Ethan. Walau perusahaan ini tergolong sangat lumayan bagus diajak bekerja sama, tapi pimpinannya yang menurut Evelyn sangat menyengkelkan itu tak mudah untuk diajak bekerja sama.
Tok... Tok... Tok...
Evelyn mengetuk pintu kerja bosnya itu dan pada ketukan keempat, suara mempersilahkan masuk terdengar dari dalam.
Cklek.
Evelyn membuka pintu dan menyaksikan seorang wanita yang duduk di pangkuan Ethan dengan bergelayut manja bagai seekor kera pada induknya. Cih. Evelyn berdecih, bukan karena ia iri atau tidak suka, ia hanya jijik saat menatap wanita itu yang begitu murahan.
Tapi tunggu dulu. Sejak kapan wanita itu ada di ruangan bosnya? Apa sebelum ia datang tadi? Atau saat ia melamun barusan? Evelyn segera menggeleng untuk tidak berpikiran lebih jauh tentang bosnya itu bersama wanitanya.
‘Urusannya bukan urusanku,’ batin Evelyn. Dan ya, Evelyn segera menaruh berkas di atas meja sang bos tanpa mau menatap wanita itu.
Ethan bahkan tidak merasa keberatan akan wanita yang berada di pangkuannya itu. Ethan membaca revisi yang dikerjakan Evelyn dan hasilnya sungguh memuaskan menurutnya. Ethan menaruh berkas itu kembali dan menatap Evelyn yang menatap padanya. Seketika terlintas sebuah aksi untuk membuat Evelyn marah padanya. Ethan menarik pinggang wanita di pangkuannya untuk semakin mendekatinya dan parahnya lagi si wanita dengan sangat cepat dan agresif segera mencium Ethan tepat di bibir. Ethan tak membalas, ia hanya ingin melihat ekspresi apa yang akan ditunjukkan Evelyn. Dan ketika bibirnya dan wanita itu terpisah, tetap saja Evelyn tidak menampilkan ekspresi lain selain datar.
‘Kenapa dia tidak marah?’ batin Ethan bertanya-tanya. Pria itu merasa sedikit tidak senang saat melihat reaksi Evelyn yang seperti biasa-biasa saja. Apa wanita itu tidak cemburu? Ethan mendengus tak suka.
“Keluar!” ucap Ethan sembari mendorong tubuh wanita di pangkuannya hingga jatuh menyentuh lantai.
“Kau kenapa, honey?” tanya wanita itu.
“KELUAR!” bentak Ethan dan wanita itu segera berlari tergesa-gesa.
Evelyn mengernyitkan dahinya saat menyadari perubahan pada sikap bosnya itu. Ada apa dengan Ethan? Apa dia sudah bosan? Berbagai pertanyaan timbul di kepala Evelyn begitu saja namun ia tidak berani untuk mengatakannya.
“Jika telah selesai, saya pamit.” Evelyn berbalik dan membuka pintu Ethan namun terhenti kala tangan kekar Ethan kembali menutup pintu itu. Evelyn berbalik dan kini tubuhnya sudah di belenggu oleh tubuh tegap milik bosnya. Evelyn mendongak dan tepat saat itu bibir mereka bertemu.
“Lepaskan!” Evelyn berhasil mendorong tubuh bosnya menjauh dari dirinya. “Kau gila?!” sambung Evelyn lagi dengan emosi.
Ethan hanya tersenyum simpul dan kembali menyatukan bibirnya pada bibir Evelyn. Rasa manis itu membuat Ethan semakin ingin lagi dan lagi. Sangat candu menurutnya. Bibir Evelyn beda dari segala bibir yang pernah ia cicipi, rasa manis yang begitu lembut namun tidak begitu pekat sangat terngiang-ngiang di kepala Ethan.
‘s**t!’ Ethan mengumpat kala merasakan ada yang bangkit dari bagian tubuhnya. Pria itu segera melepas tautannya dan menjauh dari Evelyn. Saat melihat ekspresi Evelyn yang begitu menggoda dengan bibir yang lumayan bengkak, membuat Ethan takut tak mampu mengontrol dirinya lagi. Pria itu akhirnya berbalik membelakangi Evelyn.
“Keluarlah,” ucap Ethan dengan suara seraknya.
“Dasar kau, iblis bertanduk seribu!” sebelum keluar, Evelyn melempar punggung Ethan dengan sebuah pot kosong di dekatnya. Evelyn keluar dari ruangan sembari menggerutu dan berkaca. Ia sempat terkejut saat melihat bibirnya sedikit membengkak. Evelyn menatap horor ruangan bosnya dan segera beranjak menuju toilet.
“Dasar bos gila tak beradab! Dia pikir dia siapa yang bisa menciumku seenaknya seperti itu? Cih! Harga diriku terinjak-injak olehnya! Awas saja dia! Akan ku balas suatu saat nanti!” Evelyn terus mengomel dalam perjalanan menuju toilet karyawan.
Setibanya di depan toilet, Evelyn yang hendak membuka pintu toilet pun terhenti kala mendengar suara gosip dari dalam dan terkejut saat nama Olive ikut di bawa-bawa.
“Hiks... Tolong lepaskan aku,”
DEG!
Evelyn terdiam kaku saat mendengar isakan Olive dan permohonannya itu. Dan ketika mendengar suara ringisan yang ia yakini berasal dari Olive, tanpa berlama-lama lagi Evelyn segera membuka pintu itu paksa dan pada dobrakan kedua ia berhasil membuka pintu itu.
Semua wanita yang berada di dalam sana terdiam dengan tubuh menegang. Mereka berdiri tegap membiarkan Olive yang terduduk dengan memar di dahinya. Evelyn menatap nyalang pada wanita yang berada di dalam sana. Dan segera mendekati sosok wanita yang begitu dekat dengan Olive. Sepertinya wanita itu yang baru saja membuat dahi Olive memar, karena Evelyn sempat melihat wanita itu menjambak Olive barusan.
“s****n kau!” Evelyn menarik rambut wanita itu kencang dan membenturkannya ke dinding sana hingga keluar darah segar. Semua yang ada di sana berteriak histeris dan membuat beberapa karyawan mendatangi tempat mereka.
“Kau apakan Olive, hah?!” bentak Evelyn tepat di depan wajah wanita itu.
“Ka-kami hanya sedang bermain-main dengannya,” ucap wanita itu dengan menahan sakit di kepalanya. Evelyn tak merasa kasihan bahkan ia merasa wanita itu pantas mendapatkannya.
“Bermain katamu?” Evelyn dengan mata menyala segera menampar wanita itu dan bertanya kembali, “Bermain ya?” suara Evelyn begitu menyeramkan menurut mereka yang ada di sana.
Semua orang menatap dengan begitu penasaran pada pertengkaran Evelyn melawan lima wanita yang tadi menyiksa Olive. Dan tanpa Evelyn sadari, seorang wanita memukul kepalanya dengan keras dari arah belakang.
PRANG!
“TIDAK!” orang-orang berteriak saat wanita itu berhasil memukul kepala Evelyn sampai terluka dengan menggunakan pot kaca. Evelyn menyentuh kepala bagian belakangnya saat merasakan sesuatu merembes jatuh dari sana.
“Da-darah?” cicit Evelyn. Wanita itu berbalik dan menatap wanita yang berani-beraninya melukai dirinya itu.
“Kau bosan hidup?” tanya Evelyn dengan raut datar namun mengancam nyawa.
“Ka-kau duluan yang menyiksa te-temanku,” gugup wanita itu sembari menjatuhkan pot yang telah pecah tadi.
“KAU INGIN MATI, HAH!” Evelyn menendang perut wanita itu sampai terjatuh tak berdaya. Evelyn berjongkok dan mengapit pipi wanita itu dengan jemarinya dan berkata, “Aku tak akan berbuat jahat tanpa ada sebab! Pikir itu baik-baik!” Evelyn menghempaskan kepala wanita itu dan kembali berdiri.
“Kalian bertiga! Jika kalian tidak ingin terluka seperti teman kalian ini, maka segeralah minta maaf pada Olive! CEPAT!” amuk Evelyn diambang batas.
“Pak Ethan!” pekik salah satu dari wanita itu saat melihat Ethan yang menghampiri tempat keributan ini terjadi. Dengan topeng seolah merasa tersakiti, wanita itu mendekati Ethan dan menangis. Ia berkata, “Nona Evelyn melukai kami, pak. Ia memukul kami membabi buta hingga temanku terluka. Tolong kami, pak!”
‘Cih, wanita licik!’
“Evelyn!” ucap Ethan tegas. “Berani sekali kau membuat kekacauan di kantorku!”
Evelyn berdecih sinis, ia berjalan tegak menantang pada Ethan dan menunjuk tepat di d**a kiri pria itu. Evelyn berkata, “Sebelum kau berkata seperti itu, lebih baik kau lihat dulu siapa yang salah dan siapa yang benar. Kau terlalu bodoh untuk jadi pimpinan ternyata,” sangat sinis dan terkesan dingin. Evelyn hendak menghampiri Olive yang masih terkulai lemas di lantai namun tubuhnya linglung hampir saja jatuh menyentuh lantai, untungnya Ethan segera menahan tubuh wanita itu. Evelyn menepisnya dengan sangat kasar dan berdecih sinis.
“Bodoh,” umpat Ethan entah pada siapa. Pria itu segera menggendong Evelyn ala bridal style dan segera membawanya pergi. Evelyn yang memberontak kini telah jatuh pingsan. Sebelum itu, Ethan memperintahkan bodyguard nya untuk membawa Olive serta dua wanita yang terluka lainnya dan sisanya dibawa ke ruangan tunggu khusus miliknya.
“Baru saja ku tinggal sejenak, tapi kau telah membuat onar dan berakhir dengan terluka, dasar wanita bodoh.” ucap Ethan mencela Evelyn yang pingsan di gendongannya.
Ethan segera memanggil Edward dari alat khusus yang berada di telinga kirinya. Ketika ia berkata 'sambungkan dengan Edward' alat itu segera menelpon nomor Edward dengan otomatis.
“Kau urus mereka yang berbuat ulah itu dan urus juga wanita bernama Olive, dan kuharap kau bisa menggantikanku sementara karena aku akan pulang lebih cepat hari ini.”
“Eh, kena—”
Sambungan panggilan terputus saat Ethan mengatakan ‘Putuskan sambungan’
“Hah, baru kali ini aku khawatir pada seorang wanita.” dengan sorot mata yang mengarah pada wajah Evelyn yang tertidur tenang. “Ah, kau bertambah sangat cantik jika diam seperti ini.”
‘Kupastikan wanita itu mendapatkan hukuman dariku,’
***