PART 10 [RASA PEDULI]

1636 Kata
*** Bunyi denting jarum jam terdengar sangat jelas di dalam ruangan yang gelap dan sunyi itu. Seseorang duduk di sofa single sembari menatap ranjangnya yang terbaring seorang wanita dengan balutan kain putih di kepalanya. Sosok itu kemudian mendekat pada wanita yang berada di ranjang. Tangan kekarnya menyentuh helai rambut hitam legam nan halus itu dengan begitu pelan, lalu turun ke leher dan berhenti di sana. “Ng...” suara lenguhan tanda bahwa wanita terbangun menjadi sebuah alarm tersendiri bagi pria itu. Ia menjauhkan tangannya pada leher wanita itu dan duduk tenang di sisi ranjang sembari menanti wanita itu membuka mata. “Aush... Di mana ini?” gumam wanita itu setelah membuka mata. Ia berusaha mengamati sekitar namun terlalu sulit baginya karena dengan posisi tidur terlentang. Wanita itu hendak duduk namun denyutan hebat di kepalanya membuat ia meringis kuat dan mengurungkan niatnya. ‘Kenapa ruangannya begitu gelap?’ batin wanita itu. “Apa kepalamu masih sangat sakit?” Wanita itu terlonjak kaget sampai-sampai ia meringis karena tanpa sengaja memaksa tubuhnya menjauh dari sumber suara. “Ethan?” Evelyn duduk dengan bersenderkan kepala ranjang. Tangan kanannya memegang kepalanya yang berdenyut dan tangan satunya meraih selimut untuk menutupi setengah badannya. “Apa kepalamu masih sangat sakit?” tanya Ethan tak mempedulikan ucapan Evelyn barusan. “Oh, iya.” Evelyn sedikit ragu menjawab iya, namun karena tidak ingin berlama-lama berdua dalam satu ruang bersama Ethan. Evelyn memaksakan diri untuk terlihat baik-baik saja. Wanita itu bahkan hendak turun ranjang namun segera dicegah Ethan. Evelyn berkata, “Minggir, aku ingin pulang menemui Olive.” Ethan melepas kaos yang ia pakai sejak pulang tadi. Dengan tubuh atas yang tak terbalut apapun, pria itu mendekati Evelyn. Evelyn menatap horor pada Ethan dan menjauhkan dirinya dari jangkauan Ethan. “Mau apa kau!” ucap Evelyn sangat kentara bahwa ia sedang panik. Ethan tak menjawab melainkan segera meraih tubuh Evelyn dan mendekapnya erat, menyalurkan kehangatan tubuhnya pada tubuh Evelyn yang dingin. Evelyn yang awalnya bersikap awas kini menjadi sedikit merasa nyaman dan aman karena dekapan hangat Ethan, bosnya itu. “Tidurlah,” bisik Ethan dengan suara beratnya. Bukannya Evelyn tertidur, ia malah semakin terjaga dalam dekapan Ethan. Ia merasa khawatir pada Olive dan ia tak bisa membayangkan bahwa Olive tengah kesakitan di luar sana tanpa ada yang mau menolongnya. Ethan yang Evelyn yang bergerak gelisah dalam dekapannya segera melepaskan wanita itu. Ethan menatap mata Evelyn yang begitu tampak khawatir, “Kenapa?” tanya Ethan. “Di mana Olive?” tanya Evelyn. “Siapa Olive?” tanya Ethan bingung. “Wanita yang berada di toilet saat itu, wanita yang terkulai lemas di bawah dengan memar di dahinya. Di mana dia?” Evelyn memberikan tatapan tajam pada Ethan, takut-takut jika pria itu malah mengabaikan Olive dan membawa ia pergi begitu saja. “Oh wanita itu, dia aman bersama temanku.” balas Ethan. “APA?!” pekik Evelyn dengan spontan. Wanita itu semakin menatap horor pada Ethan. “Tenanglah, dia orang baik.” Ucap Ethan menenangkan. Pria itu berusaha menjangkau Evelyn kembali namun Evelyn segera menolak dengan menepis kasar tangan pria itu. “Tenang katamu? Kau saja begitu m***m dan tidak tau etika, apalagi temanmu itu. Bisa saja kalian sama-sama b******k dan atau lebih parahnya dia lebih b******k darimu! Aku harus pulang,” Evelyn turun dari sisi ranjang di sebelahnya dan menuju pintu ruangan itu. Namun ketika tangannya berusaha memutar kenop pintu, sayang sekali ia tak bisa, pintu itu terkunci. Evelyn berbalik menatap Ethan, “Buka pintunya!” sentak Evelyn. “She is fine, calm down!” ucap Ethan dengan tekanan ditiap katanya. Namun tetap saja Evelyn tidak percaya, bahkan ia berdecak kesal. “Huh, kemarilah.” Ethan memerintahkan Evelyn untuk mendekat dengannya namun tak ada pergerakan dari wanita itu yang membuat Ethan sedikit gemas dan bercampur geram. Ethan berdiri dan menghampiri Evelyn lalu menggendong wanita itu dengan paksa dan menaruhnya pelan di ranjang. Evelyn memberontak dan ingin berteriak penuh u*****n namun Ethan mengisyaratkannya untuk diam. “Iya ada apa?” tanya seorang pria dari seberang sana. “Apa wanita yang itu sudah bangun?” tanya Ethan tanpa berbasa-basi dan langsung ke poin topik yang ingin ia bahas. “Wanita yang mana? Ada tiga wanita yang ku urus sekaligus, jadi wanita mana yang kau maksud?” Ethan menatap pada Evelyn karena ia tidak tahu ciri-ciri teman Evelyn itu. “Kemarikan,” Evelyn merampas ponsel Ethan dan segera berkata, “Dia wanita yang paling cantik di antara wanita siluman lainnya.” Ethan menggeleng saat mendengar Evelyn yang mendeskripsikan temannya dengan begitu percaya diri. Namun tak khayal, ia terkekeh saat melihat ekspresi menggebu-gebu yang Evelyn tunjukan. “Umm... tunggu,” Evelyn mendengar bahwa pria yang ada di seberang sana tengah berjalan. Dan setelah menunggu sedikit lama, akhirnya suara di seberang sana terdengar suara seorang wanita. “Ha-halo?” Evelyn bernapas lega, benar itu adalah suara Olive. “Apa kau baik-baik saja? Apa sakitmu parah? Apa kau pusing? Bagaimana keadaan sekitarmu? Apa mereka masih menjahatimu? Di mana kau sekarang?” tanya Evelyn beruntun tanpa mementingkan keadaannya yang bahkan lebih parah dari Olive. ”Kau tenang saja aku baik-baik saja di rumah sakit ini.” Evelyn menghela napas lega. Ia terus berbincang dengan Olive sampai-sampai mereka berdua lupa bahwa ada dua pria yang menunggu mereka. Pria pertama yang menunggu untuk segera kembali melanjutkan tidur, sedangkan pria kedua ingin segera mengambil ponselnya dan segera pulang. “Baiklah, jaga dirimu baik-baik. Bye!” Evelyn menutup panggilan dan ia terkejut karena tanpa sadar mereka bertelepon ria sudah satu jam lewat sepuluh menit. Saat Evelyn ingin memberikan ponsel Ethan, ternyata pria itu telah tertidur di samping ranjang dengan kepala yang bertumpu pada kedua tangan yang terlipat di sisi ranjang dekatnya. Evelyn merasakan sedikit rasa bersalah karena sudah berpikir yang tidak-tidak pada Ethan yang ternyata telah menolongnya dan Olive. “Bos,” panggil Evelyn lembut. Wanita itu mengguncang bahu Ethan dengan pelan. Lalu beralih mengelus rambut Ethan. Tiba-tiba Evelyn terkejut karena tangannya yang sedang mengelus kepala Ethan malah dicekal oleh Ethan sendiri. Dan ketika Ethan mendongak menatapnya, Evelyn terpesona dengan tampang Ethan yang begitu polos kala bangun dari tidur singkatnya. “Apa sudah selesai?” tanya Ethan dengan suara serak khas orang bangun tidur. “Ya, maaf membuatmu menunggu lama sampai kau tertidur dengan posisi seperti itu.” Ucap Evelyn penuh rasa bersalah. Ethan segera beranjak berguling ke sisi ranjang di samping Evelyn dan kembali mendekap Evelyn untuk tidur kembali. Evelyn tak menolak, ia menerima begitu saja perlakuan Ethan sampai matanya memberat dan kantuk mulai berhinggapan. Evelyn pun tertidur. *** Mentari bersinar cerah pagi itu. Evelyn yang telah terbangun dan sudah siap-siap segera turun menuju dapur saat mencium bau yang begitu harum, bau makanan tentunya. Evelyn pikir itu adalah aroma masakan seorang Ethan namun ternyata bukan Ethan yang memasak, melainkan seorang maid di sana. “Kau sudah bangun?” tanya Ethan dengan bodohnya. Evelyn berdecak sinis dan memandang Ethan dengan merendahkan, “Tidak! Aku masih tidur. Ini senang mimpi berjalan.” Sarkasnya. Ethan yang menyadari pertanyaannya yang tak berguna itu malah tertawa kencang. Pria itu menepuk kursi di sebelahnya yang mengisyaratkan untuk Evelyn di sampingnya. Tanpa banyak protes, Evelyn segera duduk di tempat yang Ethan perintahkan. Wanita itu menikmati sarapan pagi yang disiapkan oleh maid tadi. Dan ketika makanan itu masuk ke mulut nyess... rasanya begitu nikmat hingga Evelyn ingin terus mengunyah tanpa menelannya. Evelyn memandang maid yang berdiri di belakang Ethan dengan kepala menunduk. Evelyn heran, kenapa maid itu begitu patuh pada Ethan? Jikalau saja maid itu adalah Evelyn, sudah Evelyn pastikan bahwa Ethan telah tewas sehari setelah ia bekerja. Mana betah ia memiliki majikan se-m***m dan se-menyebalkan Ethan. “Ayo berangkat,” ucap Ethan tiba-tiba. Namun karena tidak rela meninggalkan sarapannya yang begitu lezat, Evelyn malah membawanya sebagai bekal untuk makan nanti sekalian ia juga membawakan untuk Olive. Bukan Evelyn norak atau apa, ia hanya tidak ingin menyia-nyiakan makanan lezat itu. Daripada dibuang, lebih baik ia makan kan? “Kau seperti tidak pernah mencicipi makanan itu saja,” sinis Ethan mulai memancing Evelyn untuk marah. Namun karena mengingat kebaikan Ethan padanya kemarin, akhirnya Evelyn menahan amarahnya itu. “Kusarankan jangan pernah kau pecat maid itu, jika kau bosan dengan masakannya. Berikan saja dia padaku,” ucap Evelyn mengabaikan perkataan Ethan sebelumnya. “Terserah,” *** Evelyn turun dari mobil bosnya itu dan segera memasuki kantor agar tidak banyak orang yang melihatnya. Sayang tapi sayang, ia telah tercyduk oleh beberapa orang yang memiliki penglihatan begitu tajam apalagi berurusan dengan seorang Ethan Vincent. Orang-orang atau lebih tepatnya para wanita mulai bergosip ria dan menatap iri pada Evelyn. Tatapan permusuhan begitu terang-terangan mereka tunjukkan untuk Evelyn. Sedangkan Evelyn? Wanita itu malah mengeluarkan decihan sinisnya. “Apa mereka begitu tergila-gila pada pria m***m itu, heh?” gumam Evelyn. “Kau meninggalkanku, gadis nakal.” Evelyn terkejut sedangkan para wanita berteriak histeris saat menyaksikan Ethan yang merangkul pinggang Evelyn begitu posesif. Evelyn melotot dan berusaha melepaskan rangkulan Ethan walau tak secara terang-terangan, namun hasilnya tetap saja kalah kuat jika dibandingkan dengan tenaga pria itu. “Lepaskan rangkulan mu, bodoh!” desis Evelyn namun diabaikan oleh Ethan. “Kau tuli?!” desis Evelyn lagi. “Evelyn?” panggil Olive tepat saat Olive ingin memasuki lift. Dengan begitu terpaksa, Ethan ikut berhenti. “Apa kau sudah baik-baik saja?” tanya Olive lagi. Evelyn hanya mengangguk walau ia tahu kepalanya memang sedikit terasa berat. “Iya, kepala ku sudah lebih baik, sepertinya besok akan ku lepas perbannya.” ucap Evelyn menenangkan. “Oh ya, bagaimana?” lanjut Evelyn bertanya. “Bagaimana apanya?” heran Olive. Wanita itu memandang Evelyn dengan tampang lugunya. “Para wanita ular itu, apa masih mengganggu mu?” dari sorot mata Evelyn, Olive tahu bahwa wanita itu masih memendam rasa dendam. “Tidak, mereka sudah tidak terlihat lagi. Entahlah mungkin mereka izin tidak masuk.” “Mereka sudah ku pecat,” Dengan kompak, Evelyn dan Olive menatap pada Ethan dengan mulut ternganga. Olive dengan tampang bersalahnya sedangkan Evelyn dengan smirk nya. “Aku tidak suka jika ada yang berbuat rusuh di dalam kantorku,” sahut Ethan lagi. ‘Apalagi berusaha mengganggu dan menyakiti calon wanitaku,’ sambung Ethan lagi dalam batinnya. “Ah, ternyata kau sebagai bos bisa diandalkan juga. Baguslah kalau begitu, setidaknya kerjaanku sudah berkurang.” Evelyn berniat mengucapkan kata terima kasih namun lidahnya begitu kelu. Ia begitu gengsi hanya untuk mengucapkan kalimat singkat itu. Dan pada akhirnya, Evelyn hanya bergumam pada batinnya. ‘Terimakasih, Ethan.’ ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN