***
Hari ini tepat hari yang ketujuh Evelyn bekerja di Vincent Company. Evelyn pikir ia akan bekerja dengan lebih baik dan damai saat Ethan yang menolongnya membasmi wanita-wanita pembully seminggu yang lalu. Namun apa yang Evelyn pikirkan tidaklah sesuai dengan yang terjadi saat ini. Bukannya berdamai, Evelyn dan Ethan malah sering bertengkar. Sebenarnya Evelyn telah berusaha untuk tidak terbawa emosi, namun ada saja tingkah Ethan yang membuatnya naik darah seketika. Entah itu menyuruh-nyuruh Evelyn layaknya office girl atau melimpahkan semua tugas kepadanya, bahkan Evelyn disuruh merevisi semua berkas tahun lalu. Rasanya kepala Evelyn ingin pecah saat itu juga. Memangnya untuk apa merevisi berkas-berkas tahun lalu yang bahkan tidak berguna untuk dipakai sekarang ataupun nanti? Ketika melihat Evelyn yang baru saja duduk santai, dipastikan Ethan akan memanggilnya dan segera memberi tugas kembali. Evelyn bingung dengan sifat bosnya itu yang terkadang bossy, dingin, angkuh, tegas namun terkadang manja padanya. Seperti sekarang, Evelyn dan Ethan tengah duduk di sofa dalam ruangan Ethan.
“Suapi lagi,” ucap Ethan terdengar sedikit nada manja di dalamnya.
“Ck! Iya!” ketus Evelyn dan kembali menyuapi bosnya itu dengan pizza di tangannya. Jika saja bukan karena tangan Ethan yang tadi terjepit pintu olehnya, tak akan mungkin Evelyn sudi untuk menyuapi pria itu. Evelyn hanya ingin bertanggungjawab saja atas apa yang telah ia perbuat pada bosnya itu. Tapi tidak diduga hal itu membuat Ethan malah memanfaatkannya.
“Kau membantu ku itu tulus atau tidak, hah?!” balas Ethan bersungut-sungut. Pria itu merajuk layaknya seorang anak kecil yang diabaikan ibunya karena tidak dibelikan mainan baru.
“Ck! Kau itu pria berumur berapa? Kau benar pria kan?” Evelyn berujar dengan sangat sinis. Wanita itu bahkan memasukkan pizza yang berada di tangannya pada mulutnya sendiri.
“Hey! Itu makananku!” kesal Ethan. “Dan lagian aku pria sejati! Apa kau mau melihat milikku, hah!” tantang Ethan yang tak terima dengan perkataan Evelyn yang meragukan kejantanannya.
“Tidak! Aku tidak mau melihatnya. Cih!” bentak Evelyn yang panik.
“Yasudah, suapi aku lagi!”
“Mau? Makan sendiri,” Evelyn meletakkan pizza nya di atas meja, ia membiarkan Ethan yang akan memakannya sendiri.
“Kau bercanda? Tanganku terluka,” Ethan menatap Evelyn dengan tajam namun bukan seperti layaknya ia sedang serius melainkan seperti seorang bocah yang memarahi temannya yang nakal.
“Kau sengaja membuatku gemas?” tanya Evelyn dengan spontan.
Ethan terdiam dengan perasaan yang um... sedikit berdebar. Pria itu kembali mengatur mimik mukanya.
“Apa aku menggemaskan?” harap Ethan dengan tatapan yang membuat Evelyn terasa ingin muntah karena mual.
“Tidak! Kau begitu menjijikan dengan ekspresi itu! Hah, sudahlah. Aku ingin kembali bekerja, permisi bos.” tanpa menunggu satu kata yang keluar dari mulut Ethan, Evelyn segera cepat-cepat keluar. Ia tidak ingin Ethan semakin memanfaatkannya lebih lama. Cih, Evelyn sangat tidak sudi. Tapi jika gajinya dinaikkan, mungkin Evelyn bisa pertimbangkan hal itu.
Dasar wanita realistis!
Evelyn duduk di kursi kerjanya dan kembali mengamati file-file penting yang bosnya itu suruh tadi pagi. Padahal semalam Evelyn baru saja menyelesaikan tugas proposal yang Ethan perintahkan. Dan pagi ini bosnya kembali berulah memerintahkan nya dengan sesuka hati.
“Kalau saja bukan karena kontrak kerja itu, sudah ku pastikan aku telah resign dari perusahaan ini dan memilih menjadi sekretaris Daddy saja!” gerutu Evelyn dengan jemari lentiknya yang bergerak lincah di atas keyboard.
Satu jam kemudian.
Evelyn berhasil menyelesaikan tugasnya dan wanita itu segera berdiri untuk merenggangkan ototnya.
“Ah, akhirnya.” Evelyn menghembuskan napas lega. Wanita itu menyusun beberapa berkas yang tersisa di atas mejanya dan segera keluar untuk makan siang.
“Olive!” panggil Evelyn sedikit kencang karena sahabatnya itu yang terlihat sangat fokus pada kerjaannya.
“Ayo makan siang,” Olive beralih menatap jam tangannya dan benar saja bahwa itu sudah jam setengah satu siang, lima belas menit telah berlalu untuk jam makan siang dan tersisa lima belas menit lagi.
Olive menatap Evelyn dan menggeleng tak enak, “Sepertinya kau harus makan sendiri, Eve. Aku sedang sangat sibuk dan file ini harus ku serahkan segera pada pak Edward setelah jam makan siang berakhir.” Tolak Olive begitu halus, ia tak mau menyinggung perasaan Evelyn.
Olive yang berpikir Evelyn akan marah atau merajuk namun bukan hal itu yang terjadi. Evelyn malah memberinya sebungkus roti kecil berisi strawberry dan menyemangatinya. Evelyn berucap, “Yasudah, kalau begitu aku ke kantin lebih dulu. Ini rotiku ambillah dan makan. Jangan lupakan janji kita pulang ini, Ive. Bye.”
Di lift, Evelyn pikir akan berdesak-desakan seperti hari-hari kemarin, namun yang ia lihat malah sepi. Sedikit orang yang berlalu lalang di sana.
‘Tumben hanya sedikit orang yang istirahat untuk makan siang,’ batin Evelyn heran.
Wanita itu memasuki lift dan tepat saat pintu lift ingin tertutup, seorang pria ikut memasuki lift bersamanya. Evelyn sedikit menjauhi pria itu untuk memberi batasan pada mereka.
“Mau ke kantin juga?” suara pria itu memecahkan kesunyian dalam lift yang berisikan Evelyn dan pria itu saja.
“Hm,” deham Evelyn cuek. Wanita itu tak sabar untuk segera keluar dari dalam lift yang terasa begitu sesak menurutnya. Huh, mungkin pengaruh rasa tak nyaman itulah yang membuat Evelyn sesak dan terganggu.
Ting...
Setelah bunyi itu terdengar, lalu disusul pintu lift yang terbuka. Evelyn bergegas keluar meninggalkan pria itu sendiri. Di sepanjang jalan, Evelyn terus bergidik saat membayangkan kembali tatapan pria itu padanya. Seperti singa yang ingin menerjang seekor rusa, sungguh mengerikan. Evelyn segera memesan makanannya dan duduk di tempat yang selalu menjadi langganan baginya dan Olive.
“Kau sendiri? Apa boleh aku duduk bersamamu?” ucap seorang pria dengan nampan berisi makanan di tangannya.
“Oh ya tidak apa, silah—” ucapan Evelyn terputus saat menyadari bahwa pria yang berada dalam lift tadi ada di depannya. Evelyn duduk dengan tegap dan menatap sekitar. Hanya ada beberapa orang saja dan banyak kursi kosong di sana. Lalu untuk apa pria itu duduk di depannya? Bersamanya. Kenapa tidak duduk di meja lain, toh Evelyn dengan jelas menunjukkan rasa tidak sukanya.
“Umm... Silahkan,” walau dengan berat hati, namun Evelyn tak bisa untuk menolak.
“Kau takut padaku, ya?” tanya pria itu tepat sasaran. Dan dengan begitu lugunya, Evelyn mengangguk spontan dan ketika ia sadar, ia segera menggeleng. “Hahaha, kau begitu lucu.” Evelyn mengernyitkan dahinya tanda tak mengerti dan tidak suka.
“Agar kau tak buruk sangka padaku, maka aku akan memperkenalkan namaku. Aku Deano Xavier Givaro, salah seorang karyawan di bidang administrasi keuangan yang satu bidang dengan temanmu si Olive. Salam kenal,” Evelyn terkesima, ia terkejut dan segera membalas uluran tangan pria itu dengan perasaan tak enak hati karena telah berburuk sangka.
“A-aku Evelyn Fiorenza, maafkan aku karena telah berpikiran negatif tentangmu.” Evelyn dengan begitu tulus meminta maaf pada Dean.
“Ya tidak masalah, mungkin tadi aku menatapmu terlalu serius.” Dean terkekeh kecil.
“Um... Kau benar satu bidang dengan Olive? Tapi kenapa saat aku bertemu atau mengunjungi Olive di kubikel nya, aku tak pernah melihatmu?” tanya Evelyn bingung.
“Ya karena aku satu bidang bukan satu ruang,” Dean tertawa lebar dan begitu lepas saat raut bingung wanita di depannya tampak begitu jelas dan sangat menggemaskan.
“Eh? Apa ruangan mu dan Olive berbeda?” tanya Evelyn memastikan.
“Ya, Olive berada di ruang 1 dan aku di ruang 2, ruangannya bertetangga.” jelas Dean sembari mengunyah makanannya.
Setelahnya, Evelyn terus saja melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang dengan senang hati dijawab oleh Dean, entah itu tentang bidang kerjanya atau pengalaman lucunya bahkan sampai alamat rumahnya. Evelyn yang humble dengan Dean yang begitu ramah sangat mudah untuk berbincang banyak hal tentunya. Tanpa sadar, Evelyn dan Dean telah berbincang diselingi tawa canda hingga jam istirahat makan siang telah berakhir sejak setengah jam yang lalu. Evelyn yang duluan sadar segera berpamitan pergi.
Tanpa mereka sadari, seorang pria yang sedari tadi mengamati mereka melalui layar monitor dengan rahang mengeras dan mata yang menyorot tajam. “Come on over here, girl! I'll give you punishment for that."
***
Evelyn yang baru saja keluar dari dalam lift menuju lantai ruangannya itu, terkejut karena Ethan yang berada di depannya dengan rahang mengeras dan tangan yang terkepal erat. Evelyn hendak melewati bosnya itu begitu saja namun Ethan menahan pinggangnya dan membalikkan tubuh Evelyn lalu menyudutkannya di dinding. Napas berat Ethan begitu terasa di leher Evelyn hingga membuat bulu kuduk Evelyn berdiri. Ada apa dengan bosnya itu? Apa berkas yang ia kerjakan tadi masih salah? Apa ada poin yang tertinggal? Begitu banyak pemikiran yang keluar dari dalam kepala Evelyn namun hanya ditahan tak diluapkan. Evelyn cukup sadar diri bahwa bosnya itu sedang emosi. Tapi kenapa?
“Kau membuatku marah, Eve!” desis Ethan di samping telinga Evelyn. Akibatnya, Evelyn menahan napas dan menggigit bibir bawahnya.
“Ada apa denganmu?” ucap Evelyn memberanikan diri.
“Kau bertanya apa salahmu? Kau bodoh atau pura-pura bodoh?” sarkas Ethan tanpa mengurangi tatapan tajamnya.
“Maksudmu? Oh ayolah, menjauh dariku sekarang. Aku ingin menyelesaikan tugasku yang tinggal sedikit lagi.” Evelyn mendorong d**a Ethan namun tak bisa, ia terlalu lemah untuk melawan kekuatan Ethan yang notebene nya seorang pria.
“Kau membuatku marah, Eve!” Ethan menyeruakkan kepalanya di leher Evelyn hingga tanpa sadar membuat Evelyn bergerak gelisah.
“Siapa dia?” tanya Ethan.
“Dia?” bingung Evelyn.
“Pria yang tadi makan bersamamu,” terdengar nada tidak suka dari Ethan dan Evelyn menyadarinya. Lalu entah kenapa, Evelyn merasa bahwa Ethan sedang cemburu padanya.
“Apa kau cemburu?” tanya Evelyn.
Ethan melepas pelukannya dan menjauhkan dirinya namun tidak melepas Evelyn dari kurungannya di dinding.
“Aku cemburu? Mana mungkin!” sarkas Ethan tak percaya.
“Oh begitu, lalu kenapa kau menanyakannya? Mau aku makan bersama siapa? Di mana dengan siapa entah itu pria atau wanita, memangnya ada hubungannya denganmu?” tanya Evelyn beruntun yang tanpa sadar telah membungkam Ethan seketika.
“Karena aku tidak ingin mempunyai seorang sekretaris yang jalan!” ucap Ethan dengan pembelaan dirinya.
“Kalau itu yang kau permasalahkan, tenang saja. Aku wanita karir berpendidikan bukanlah seorang jalang rendahan.” Ethan merasa sedikit senang dan bangga. Namun terhenti karena Evelyn kembali berkata, “Hm, bukan seharusnya aku yang berkata seperti itu ya? Kau pria b******k yang dengan begitu mudah disentuh w***********g, apa tidak seharusnya aku memiliki bos sepertimu?”
SKAK MAT!
Ethan merasa tersudutkan sekarang, ia menatap sorot mata Evelyn yang begitu merendahkan menyorot padanya.
‘Lah, kenapa jadi begini?’
***