PART 12 [CEMBURU 2]

2017 Kata
*** Evelyn dan Olive memasuki sebuah toko pakaian di dalam sebuah mall di pusat kota New York dengan banyak paper bag di tangan mereka. Olive dengan sepuluh buah paper bag dan Evelyn dengan 5 buah paper bag. Sebenarnya Olive sungkan jika dibelanjakan terlalu banyak daripada Evelyn, namun karena Evelyn berkata bahwa yang begitu membutuhkan banyak perlengkapan adalah Olive bukan dirinya sehingga membuat Olive menjadi terima-terima saja. Dan Evelyn selalu memarahi Olive jika menolak barang yang akan ia belikan. “Aksesoris, sudah. Pakaian santai, sudah. Pakaian kerja, sudah. Sepatu, sudah. Ponsel juga sudah. Lalu apalagi yang belum kita beli?” ucap Evelyn sembari mengingat apa saja yang akan ia beli lagi. “Sudah cukup, Eve. Ini sudah terlalu banyak dan sangat berat. Tanganku serasa ingin patah.” keluh Olive. Evelyn berbalik menatap Olive yang berada di belakangnya dan segera menepuk jidatnya. Ia berkata, “Ya Tuhan, kau lelah karena bawaan mu berat, ya? Ck, kenapa tidak bilang dari tadi, heh?” Olive hanya mendengus atas ucapan Evelyn barusan. Evelyn terlalu antusias untuk membelikannya berbagai macam belanjaan sampai-sampai tidak tahu jika bawaan Olive sudah begitu menumpuk. “Aku sudah menelpon seseorang, kita tunggu saja di sana.” Evelyn menunjuk tempat duduk dan segera menuju sana disusul Olive. Evelyn terus saja mengoceh karena orang suruhannya tak kunjung datang sejak dua puluh menit yang lalu, sedangkan Olive menunggu dengan wajah lugunya yang tak tahu apa-apa. Karena sebal, Evelyn kembali menelpon orang suruhannya itu. “Kenapa lama sekali?” kesal Evelyn ketika panggilannya tersambung. “Maaf, Nona. Saya mendapat panggilan darurat dari Tuan besar jadi tidak bisa menemui anda tadi.” ucap orang di seberang sana memberi penjelasan. “Daddy? Kenapa Daddy memanggilmu?” “Bukan hanya saya namun banyak dari para bodyguard yang dipanggil, Nona.” “Ya, lalu kenapa? Ada apa Daddy memanggil kalian semua?” tanya Evelyn mulai kembali kesal. “Tuan besar memecat beberapa bodyguard, Nona.” suara di seberang sana terdengar sedih. “Apa kau juga termasuk yang dipecat?” tanya Evelyn pelan, ia memiliki firasat buruk. “Iya,” jawaban dari seberang sana membuat Evelyn terkejut. Kenapa ayahnya memecat bodyguard kesayangannya itu? Bukankah ayahnya tahu jika Evelyn sudah begitu menyayangi semua bodyguard khusus miliknya. Lalu kenapa dipecat? Tanpa banyak bertanya dalam batinnya, Evelyn segera memutuskan panggilan ponselnya. “Ada apa?” tanya Olive heran saat mengamati mimik muka Evelyn yang tadinya kesal malah menjadi datar. “Tidak, hanya saja bodyguard ku tidak bisa membantu kita. Lebih baik kita pulang saja, ya? Kau masih kuat kan membawanya? Kalau tidak, sini aku bantu bawakan setengahnya agar bawaan mu tidak terlalu banyak.” baru saja tangan Evelyn terulur untuk mengambil paper bag Olive, Olive malah menjauhkan paper bag nya agar tak bisa dijangkau Evelyn. Sudah cukup Evelyn membelanjakannya dan menanggung tagihan belanjanya, jangan lagi untuk membawa paper bag miliknya. Jika seperti itu, Olive menjadi sangat begitu berhutang budi dan merasa sangat tidak pantas bersanding dengan Evelyn karena terlalu menyusahkan. “Aku masih kuat, ayo kita pulang.” Evelyn menghela napas dan berdiri, namun karena seseorang yang tiba-tiba berdiri di depannya itu malah membuat ia terkejut dan kembali duduk dengan degupan jantung yang seperti ingin copot. “Kau!” baru saja Evelyn ingin mencaci maki orang yang berdiri sembarang di depannya, namun terhenti kala wajah tampan nan arogan itu menatapnya dengan pandangan heran. “Kenapa kalian di sini?” tanya orang itu. Evelyn tanpa sadar berdecak kesal sembari menatap orang itu sinis. “Kami sedang bercocok tanam di sini!” sarkas Evelyn. “Bercocok tanam? Di sini? Apa kau yakin?” dengan pertanyaan konyolnya itu malah membuat orang itu seperti orang d***u di hadapan Evelyn. Sedangkan, Olive. Wanita itu malah menundukkan kepalanya hormat. “Ck! Selain kau adalah pria m***m, kau juga bodoh ternyata. Memangnya kau pikir, jika ke mall itu ingin apa? Ingin bercocok tanam, hah? Ya ingin belanja lah!” rasa ingin mencekik leher pun muncul dalam benak Evelyn. “Hey! Kau kasar sekali menjadi seorang wanita, dasar d**a rata!” balas orang itu. “Apa kau bilang!” akibat suara Evelyn yang menggelegar, membuat ia, Olive dan orang itu menjadi pusat perhatian. “Benarkan yang kubilang?” “AKH!” Evelyn berusaha mengatur emosinya dan kembali berkata dengan perkataan yang begitu sopan, “Kau jika tidak ada keperluan sebaiknya pergi dari sini, Pak.” ‘Aku sopan kan?’ batin Evelyn. “Hey! Kau ingin ku pecat? Aku bosmu dan kau sekretarisku. Sopanlah sedikit denganku, jika tidak ingin kau dipecat olehku.” Ya, orang itu adalah Ethan Vincent. Bosnya Evelyn. “Ini di luar kantor dan jika di luar kantor kau bukan bosku dan aku tak perlu hormat padamu.” balas Evelyn tak ingin kalah. “Cepatlah pergi, husst sana!” usir Evelyn layaknya mengusir seekor anjing nakal. “Terserah katamu, aku hanya ingin membantu karyawan ku yang begitu kesulitan karena mu.” Ethan segera mengambil semua paper bag yang di pegang Olive, 5 di tangan kanan dan 5 di tangan kiri. “Oh, mau membantu ternyata. Baiklah ini,” Evelyn mengulurkan paper bag miliknya pada Ethan, namun pria itu malah menjauh dan menolak dengan tegas. “Aku hanya membantu mereka yang memiliki hati nurani,” “Hah? Lalu kau pikir aku tidak punya hati nurani? Begitu maksudmu?” amuk Evelyn. ”Kau saja yang be—” “Sudah, jangan bertengkar terus, Eve. Tidak enak dilihat semua orang,” ucap Olive menengahi. Evelyn yang ditegur Olive malah merasa disudutkan, apalagi ketika melihat senyuman penuh kemenangan yang Ethan tunjukkan semakin membuat ia kesal. “Terserah!” Evelyn berjalan lebih dulu meninggalkan Ethan dan Olive begitu saja. Dan tak lama kemudian disusul Olive dan Ethan di belakangnya. Olive sedikit demi sedikit mulai tahu sikap dan sifat Evelyn. Menurutnya, Evelyn itu sangat baik jika orang itu berbuat baik pula pada Evelyn. Istilahnya adalah sikap Evelyn tergantung sikap orang itu sendiri pada dirinya. Namun tak sedikit menurut orang lain yang membenci Evelyn atau yang mendengar kabar burung atas sifat Evelyn, malah akan beranggapan bahwa Evelyn sangat kejam. Padahal yang dari Olive amati, Evelyn adalah sosok manusia berhati malaikat yang begitu baik. ‘Mungkin ini yang dimaksud, tak kenal maka tak sayang.’ “Um... Pak, maafkan atas sikap Evelyn yang begitu pada anda barusan. Saya mewakili Evelyn mengucapkan maaf pada anda.” Ethan yang tadi mengamati Evelyn yang berjalan di depannya malah menoleh menatap wanita di sebelahnya itu. “Ya, tidak masalah. Aku sudah kebal,” belum sampai begitu lama Ethan memalingkan wajahnya dari Evelyn, wanita itu malah sudah terlihat berbincang dengan seorang pria. Genggaman Ethan pada tali paper bag nya semakin mengencang. Ethan menyorot pria yang berdiri membelakanginya itu yang kini sedang berbincang akrab dengan Evelyn. Ethan mengernyit saat sebagian wajah pria itu terlihat olehnya. ‘Bukankah itu pria yang makan siang bersama Evelyn?’ rahang Ethan mengeras. Saat Ethan ingin berjalan semakin dekat pada mereka, Evelyn terlihat menatapnya sekilas lalu kembali beralih pada pria itu. ‘Apa-apaan ini! Aku diabaikan?! Kurang ajar!’ Ethan hendak memaki Evelyn namun terhenti saat batinnya berkata, ‘Kenapa kau marah? Apa kau cemburu, Eth?’ Ethan tercenung, ia juga kepikiran atas apa yang terlintas tadi di benaknya. “Ah, tidak. Aku bukan cemburu, hanya kesal saja.” gumam Ethan meyakinkan. “Ha? Apa kau bilang sesuatu, Pak?” tanya Olive. “Tidak, mungkin kau salah dengar.” balas Ethan cuek. Gelora panas dalam dadanya semakin membara saat pria itu malah membantu Evelyn membawakan paper bag wanita itu, dan berjalan beriringan. Evelyn dan pria itu berjalan di depan sedangkan Ethan dan Olive berjalan di belakang mereka. Ethan yang tadinya ingin menjahili Evelyn pun menjadi tidak mood lagi saat pria itu datang. Evelyn dan pria itu berjalan sembari bercerita dan tawa Evelyn terdengar sampai ke telinga Ethan yang berjarak sekitar dua meter darinya. ‘Apa-apaan dia itu! Sok asik!’ sinis Ethan pada pria di samping Evelyn. Ethan yang sudah tidak tahan lagi malah mempercepat langkahnya agar berjalan berdampingan di sebelah Evelyn dan meninggalkan Olive di belakang. Kini, Evelyn diapit oleh dua pria sekaligus, Ethan di sebelah kanan dan Dean di sebelah kiri. “Ekhem! Jangan lupa proposal yang ku pinta harus selesai besok pagi!” ketus Ethan. Evelyn yang tadinya asik mengobrol kini mengalihkan atensinya pada Ethan dengan tak lupa mimik muka syok nya. “APA KAU GILA!” pekik Evelyn. “Aku tidak gila! Jika aku gila, mana mungkin aku menjadi bosmu!” balas Ethan tak kalah sinis. “Eh ada bos, selamat sore, Pak.” sapa Dean ramah. Bukannya membalas sapaan itu, Ethan malah melemparkan tatapan tak sukanya. Pria itu menatap Dean seolah mengibarkan bendera perperangan. “Terserah,” ketus Evelyn. “Eh, di mana Olive?” panik Evelyn sembari mencari keberadaan Olive di sekitarnya dan saat ia berbalik, Olive malah berada di belakang mereka sembari berjalan menunduk. Evelyn mendekati wanita itu dan menarik dagunya agar tidak lagi menunduk, “Jangan biasakan untuk terus menunduk! Kau mengerti?!” peringat Evelyn. Bukan tanpa sebab Olive berjalan menunduk sedari tadi. Ia hanya merasa tak pantas untuk berada di sekitar Evelyn karena gadis itu begitu berkelas sedangkan ia hanya wanita pinggiran. “Aku hanya merasa tidak pantas untuk bersahabat denganmu dan aku tidak percaya diri karena itu,” jujur Olive. “Siapa peduli tentang siapa kau di mata orang. Yang ku tau, kau adalah Olive. Olive gadis yang lugu dan tulus. Jangan dengarkan perkataan orang yang menghinamu karena itu tidak perlu. Jangan buang waktu berhargamu hanya untuk mendengarkan segala hinaan mereka, Ive. Selagi kau tidak mengusikku, aku tidak keberatan untuk bersahabat denganmu. Kau mengerti?!” dengan begitu lantang, Evelyn lagi dan lagi memperingati Olive agar terus percaya diri bersamanya. Terkadang ucapan seseorang memanglah begitu tajam layaknya sebuah belati. Maka jika kau ingin bertahan di dunia yang kejam ini, maka kau haruslah menguatkan hati. Jika kau lemah, maka akan dengan mudah dimusnahkan oleh musuh, tapi jika kau kuat, musuh pun akan menjauh dan pergi karena lelah dengan usahanya sendiri. Tak semua orang mampu mengabaikan kritikan orang lain namun tak sedikit juga yang mampu membalas kritikan itu lebih tajam untuk membuat lawan bungkam. Dan Evelyn contohnya, wanita baik yang apabila dijahati, maka ia akan lebih jahat. Dan apabila diperlakukan baik maka akan memperlakukan lebih baik. “Sudahlah ayo kita pulang,” ucap Evelyn pada akhirnya. Dua orang pria yang tadi mengamati Evelyn menjadi terbungkam karena motivasi Evelyn barusan, Dean dengan ketakjubannya sedangkan Ethan dengan pemikirannya yang entahlah. ‘Aku harus mendapatkanmu!’ *** “Daddy!” pekik Evelyn begitu ceria saat mengetuk pintu rumah kedua orang tuanya. “Eh, Mommy.” Ucap Evelyn cengengesan saat yang menyambutnya adalah Serra, ibunya. “Kau ini dasar bocah nakal! Sudah seminggu tak pulang, kenapa baru pulang sekarang?!” Serra memukul bahu Evelyn gemas. “Ya maaf, Mom. Evelyn banyak kerjaan dan semua itu karena bos Evelyn yang menyerupai setan itu!” dengus Evelyn saat memikirkan Ethan dan kembali tersenyum saat ibunya mengelus kepalanya sayang. “Yasudah, ayo masuk.” “Yes, Mom.” “Eh, siapa dia?” tanya Serra saat melihat Olive yang berada di belakang anaknya. “Oh, ini sahabatku, Olive. Olive ini adalah Mommy ku,” ucap Evelyn sembari saling memperkenalkan kedua wanita itu. “Olive, bibi.” ucap Olive begitu sopan. “Oh jangan panggil aku bibi, nak. Panggil Mom saja,” ucap Serra sembari mengelus puncak kepala Olive penuh sayang. Olive yang tak mampu menahan haru malah menangis di depan mereka. “Eh? Kenapa kau menangis? A-apa kau tidak suka memanggilku Mom?” ucap Serra tak enak hati. Olive menggeleng dan berkata, “A-aku jadi merindukan Mommy ku.” Serra terkejut dan ia menatap Evelyn tak percaya, seolah berkata apa dia tidak memiliki ibu? melalui telepati bersama Evelyn dan Evelyn mengangguk. Serra menjadi sedih dan segera memeluk Olive, “Tenanglah, nak. Ada kami di sini untukmu. Aku minta maaf karena telah membuatmu sedih.” “Tidak apa-apa, seharusnya aku yang meminta maaf karena tiba-tiba menangis.” “Yasudah ayo masuk, tidak baik di depan pintu lama-lama.” Mereka memasuki rumah bersama dengan Serra yang merangkul Olive penuh sayang. Evelyn tidak cemburu, ia bahkan senang ibunya menerima Olive. “Di mana Daddy, Mom?” tanya Evelyn saat tak melihat ada ayahnya sedari tadi. “Um... Daddy mu tadi keluar membelikan Mom mangga muda,” “Mangga muda?” bingung Evelyn dengan menatap Serra begitu intens dan terbelalak saat sesuatu terlintas dalam benaknya, “OH ASTAGA! APA MOMMY HAMIL?!” Serra yang ditanya seperti itu malah tersipu malu dan mengangguk pelan, Olive dan Evelyn tercengang seketika. “WHAT THE—!!! YANG BENAR SAJA MOM?!” Serra kembali mengangguk untuk memperjelas bahwa ia tidak berbohong. “Ck! Aku bahkan baru meninggalkan kalian selama seminggu dan hasilnya aku akan mendapatkan seorang adik? KENAPA TIDAK DARI LAMA SAJA AKU TINGGALKAN KALIAN HIDUP BERDUA,” Evelyn tersenyum senang dan memeluk Mommy nya. Setelah itu ia mengelus perut sang ibu sembari berkata, “Jangan membuat Mommy kesulitan karena mu, ya adik kecil. Awas saja jika kau menyusahkan mereka, akan ku pukul bokongmu ketika lahir nanti.” dengan spontan Olive dan Serra tertawa karena candaan yang dilontarkan Evelyn. ‘Begini rasanya memiliki keluarga harmonis?’ ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN