PART 13 [DADDY ANEH? BOS GILA!]

3284 Kata
*** Tanpa sadar Evelyn, Olive dan Serra telah menunggu kepulangan Sean sejak tiga jam yang lalu. Evelyn yang notabene nya adalah orang yang tidak bisa diajak sabar menunggu apalagi berjam-jam malah berjanji pada dirinya sendiri akan melontarkan seribu satu macam pertanyaan kenapa ayahnya itu terlambat dan akan memberikan hukuman jika alasannya tidak masuk akal. Evelyn mengamati Serra yang sejak tadi menonton sebuah film roman di televisi dengan senyum tipis lalu beralih pada Olive yang telah tertidur di sofa. Evelyn menguap dan ikut merebahkan dirinya di sofa untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa pegal dan sangat letih. Namun, baru saja Evelyn menutup matanya sejenak, tiba-tiba lintasan tugas yang Ethan berikan terngiang-ngiang di kepalanya. Evelyn membuka matanya dengan melotot horor. Wanita itu segera berdiri tegak dari duduknya dengan wajah panik. Ia menengok jam tangannya dan rasanya ia ingin menangis sekarang. Jarum pendek dalam jam tangannya menunjukkan pukul sepuluh malam dan proposalnya untuk besok belum selesai ia kerjakan. ‘MATI AKU!’ batin Evelyn histeris. “Mom, apa Daddy masih lama?” tanya Evelyn terdengar terburu-buru, hingga membuat Serra yang tadinya fokus pada film menjadi mengalihkan atensinya kepada Evelyn dengan mimik muka yang begitu kentara bahwa sedang bingung seolah berkata, ‘Kau bicara apa?’ Evelyn menghela napas panjang, ia maklum jika ibunya itu tidak mendengar perkataannya barusan. Karena Evelyn paham betul jika ibunya itu telah memiliki kegiatan yang begitu mengasikan maka ia tidak akan bisa fokus dengan apapun. Bahkan pernah saat mereka berlibur ke Bali, Indonesia. Malam waktu itu sedang terjadi hujan yang begitu lebat disertai petir yang menggelegar namun dengan santainya ibunya malah asik menonton televisi dengan suara yang mengalahkan suara hujan dan petir di luar sana, saking fokusnya, Serra tidak sadar bahwa ada hujan di luar sana. Dan alhasil, televisi yang Serra tonton malah meledak. Sampai saat ini Evelyn masih bertanya-tanya, kenapa bisa televisi itu meledak? Apa karena powernya terlalu besar atau petir yang menyambar? Dan untuknya, tidak terjadi masalah lain seperti kebakaran saat hal itu terjadi. Tapi yang membuat Sean dan Evelyn tercengang adalah Serra yang menangis karena filmnya yang belum sempat ia tonton habis. Uh, sungguh ajaib! Evelyn menghempaskan flashback nya barusan dan kembali ke masa sekarang. Ia menatap ibunya yang seolah meminta penjelasan atas apa yang ia ucapkan barusan dan alhasil Evelyn mendekat pada ibunya dan berkata, “Apa Daddy masih lama, Mom?” begitu lembut dan perhatian, takut-takut jika ia berkata salah sepatah kata saja, Serra akan terbawa perasaan dan mengutuknya menjadi batu. Uh, mimpi buruk! “Oh, Daddy mu. Entah—” “Mommy,” panggil Sean yang baru saja memasuki rumah dengan sekantung mangga muda. Serra segera berdiri dari duduknya dan menghampiri sang suami. “Woah, banyak sekali. Kau membelinya di tempat yang aku suruh kan?” ucap Serra dengan berbinar senang. “Iya,” jawab Sean yang terlihat kelelahan dan mengantuk berat. “Memangnya Daddy beli di mana?” tanya Evelyn menimbrung. “Di Trader Joe's,” Serra menatap tajam suaminya saat mendengar nada yang seperti kesal karena ia suruh membeli buah itu. Sean yang menyadari bahwa istrinya menatap tajam, malah menyengir dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Bukankah itu tidak terlalu jauh dari rumah kita?” “Mommy mu ingin buah dari toko Trader Joe's yang berada di jalan Willie Ave, padahalkan mau itu di pusat kota atau di Willie Ave, buahnya tetap sama saja.” rutuk Sean. Evelyn yang mendengarnya malah tertawa kencang hingga membangunkan Olive yang tadinya tidur di sofa. “Tapikan di Willie Ave lebih enak dan segar!” sanggah Serra yang tak mau kalah. “Iya sayang, iya.” ucap Sean pada akhirnya. “Ah, duduk dulu. Ku tau kau pasti lelah,” Serra menuntun Sean untuk duduk di sofa. Saat pandangan Sean dan Olive bertemu, Sean segera mencuramkan alisnya bingung. Pria paruh baya itu menatap Olive dengan pandangan begitu menilai dan hal itu tidak Evelyn sukai. Evelyn berkata, “Daddy, jangan tatap Olive seperti itu!” Sean mengalihkan pandangannya pada Evelyn dan seolah bertanya tanpa suara sehingga membuat Evelyn berdecak sembari berkata, “Dia sahabatku, Olive.” “Sahabatmu? Apa kau yakin?” terdengar nada tidak percaya dalam ucapan Sean yang berefek membuat Olive menjadi down dan tidak percaya diri. “Apa maksudmu, Daddy?” balas Evelyn tak suka. Ia sudah melotot pada ayahnya itu. “Aku hanya heran, biasanya orang-orang tidak betah berteman denganmu karena tingkahmu yang nakal itu, honey. Dad hanya bingung saja saat kau mempunyai sahabat.” Sean menatap Olive dan berbisik sedikit kencang, “Kau terkena jampi-jampi nya, nak?” Olive mendongak. Ia pikir ayah Evelyn tidak menyukainya, ternyata bukan seperti itu. Olive merasa bersalah karena telah berburuk sangka pada Sean tadi. “MANA ADA AKU PAKAI JAMPI-JAMPI, DAD!” teriak Evelyn tak terima. “Au, sakit sayang.” keluh Sean saat Serra mencubit pinggangnya. “Pergi sana tidur!” perintah Serra pada Sean. “Oke, tapi jangan lupa janjimu malam ini, darling.” Sean mengedipkan mata nakal pada Serra. Saat Sean baru saja beranjak menginjak tangga untuk menuju lantai dua, suara Evelyn menghentikannya. “Kenapa Daddy memecat bodyguard milik Eve?” Sean berbalik dengan tampang yang berubah datar, ia berkata, “Tanyakan pada mereka, kenapa berkhianat pada Daddy? Bahkan mereka telah kita perlakukan layaknya keluarga tapi malah dibalas dengan pengkhianatan. Air s**u dibalas air tuba. Sungguh miris,” tanpa mendengar balasan Evelyn, Sean kembali melanjutkan langkahnya. Ia sempat melirik Olive tadi, namun karena Olive terlihat seperti wanita baik-baik, maka Sean tidak akan melarang Evelyn berteman dengan wanita itu. ‘Namun bukan berarti aku tidak mencurigainya,’ Evelyn yang tidak paham menoleh pada Serra dengan ekspresi meminta penjelasan lebih, “Apa maksudnya tadi, Mom?” “Sudahlah, kau tidak perlu berpikir yang tidak-tidak pada Daddy mu. Semua yang ia lakukan adalah bentuk kasih sayangnya kepada kita, jadi biarkan apa yang akan ia lakukan. Paham, nak?” walau banyak beribu pertanyaan di kepala Evelyn, namun wanita itu tidak berusaha menanyakannya semakin jauh. Ia tidak ingin membuat Serra kepikiran dan berujung pada calon adiknya nanti. “Kalau begitu, Eve pulang ya, Mom?” Evelyn memeluk ibunya dan tak lupa mencium pipi wanita yang hampir berumur setengah abad itu. Dan disusul Olive. “Ya, hati-hati.” *** “Olive,” panggil Evelyn yang kini berada di mobilnya bersama dengan Olive di sampingnya. Olive menoleh dan membalas lirih, “Ya?” “Apa kau merasakan yang sama dengan apa yang aku rasakan terhadap Daddy ku? Dia sedikit berbeda dan tampak lebih waspada,” ungkap Evelyn membagi keresahannya pada Olive. “Mungkin dia lelah karena mencari buah mangga muda untuk Mommy mu tadi. Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Sebaiknya kau pikirkan bagaimana cara menyelesaikan tugas proposal yang pak Ethan berikan itu agar kau mampu mengumpulkannya dengan tepat waktu besok, hm.” Evelyn menoleh dengan begitu cepat pada Olive, ia kembali terpikirkan akan tugas proposal itu. Sungguh ia tadi sudah lupa akan tugasnya. ‘Oh Tuhan! Bagaimana mungkin Kau kirimkan aku seorang bos yang seperti Lucifer itu!’ Evelyn mempercepat laju mobilnya hingga membuat Olive terpekik kaget dan memegangi seatbeat nya erat-erat. “EVELYN PELANKAN LAJU MOBILNYA, HUAA!” teriak Olive dengan wajah yang memucat. Bukannya memelankan Evelyn malah semakin mempercepat laju mobilnya. Ia terkekeh saat melihat ekspresi lucu Olive dalam tumpangannya. “Tenang saja, Ive. Ini sudah sangat malam dan dijamin tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang.” Olive melongo saat wanita di sampingnya menjawab dengan begitu tenangnya, “JIKA TIDAK ADA YANG BERLALU LALANG, LALU APA ITU YANG KITA LEWATI?! EVELYN PELANKAN LAJU MOBILNYA SEKARANG!” Evelyn yang tidak tega melihat raut Olive yang begitu pucat segera memelankan laju mobilnya. Olive mengatur napasnya yang memburu dan menatap Evelyn dengan begitu tajam, “Jika kau ingin mati, matilah lebih dulu sendirian tanpa mengajak ku. Aku masih ingin hidup merasakan menikah lalu hidup tua bahagia bersama pujaan hatiku nanti.” Evelyn menatap Olive dengan tampang seolah menemukan berlian, ia tak menyangka Olive akan begitu cerewet seperti ibunya dan Evelyn senang karena itu. Saat menyadari bahwa suasana menjadi hening, Olive segera tersadar dari nasihat singkatnya untuk Evelyn. Wanita itu sadar bahwa apa yang ia ucapkan barusan adalah kesalahan. Bagaimana jika Evelyn tersinggung? Bagaimana jika Evelyn membencinya? Bagaimana jika ekspektasi Evelyn tentang dirinya tidaklah sesuai? Dan masih banyak lagi pertanyaan mengenai 'bagaimana' Evelyn menilai tentang nya. “Ma—” “Tidak perlu minta maaf! Aku senang kau yang seperti ini, tidak perlu sungkan dan tidak usah jaim. I like it!” “Benarkah? Kau tidak menilaiku buruk, kan?” “Ya Tuhan, kau ini! Tentu saja tidak, bodoh!” “Heh, bodoh? Kau yang bodoh,” Evelyn dan Olive saling menatap dan seketika tawa mereka pecah. Entahlah apa yang mereka tertawakan, tapi menurut mereka itu sangat lucu. *** “Hoam, pukul berapa sekarang, Eve?” tanya Olive yang sejak tadi duduk menemani Evelyn menyelesaikan tugas dan berujung tertidur di sofa. Evelyn melirik sebentar pada jam dinding di ruang tamu dan di sana menunjukkan pukul setengah empat pagi. “Pukul setengah empat dini hari,” Olive mengangguk paham. 1 detik... 2 detik... 3 detik... “WHAT?! PUKUL SETENGAH EMPAT?!” pekik Olive. “Hm,” Evelyn hanya berdeham. Wanita itu terus saja menguap berulang kali dengan mata pandanya yang begitu kentara. Sebenarnya ia sudah sangat mengantuk dan ia ingin segera merebahkan tubuhnya, namun tugas itu belum selesai sedari tadi. Jemari lentiknya terus bergerak lincah di atas keyboard laptop miliknya tanpa mempedulikan seberapa butuhnya ia tidur sekarang. “EVE, KAU BELUM TIDUR SEMALAMAN!” “Tenanglah, aku akan tidur sebentar lagi. Tugasnya tinggal sedikit lagi.” Evelyn menyahuti ucapan Olive dengan pandangan terus pada layar laptopnya. “Sini biarkan aku yang menyelesaikan sisanya, kau tidurlah.” Olive hendak mengambil laptop Evelyn namun Evelyn dengan cekatan segera menjauhkan laptopnya. “Tidak perlu, aku hanya butuh empat paragraf lagi agar proposal ini selesai.” tolak Evelyn dan Olive pun tak mampu berkutik lagi. Setelah satu setengah jam lamanya berlalu, akhirnya tugas Evelyn telah selesai. Wanita itu mengirimkan filenya ke email sang bos dan segera menutup laptopnya itu. Ia merenggangkan ototnya dan tepat ketika ia menoleh ke samping, ia menatap Olive yang sibuk menonton televisi. “Sudah?” tanya Olive tanpa menoleh. “Hm,” gumam Evelyn. “Itu ada coklat panas di sampingmu, minumlah.” “Eh? Sejak kapan kau membuatnya?” heran Evelyn sembari mengambil cangkir berisi coklat panas itu dan menyesapnya sedikit demi sedikit. “Sejak kau bilang tugasmu itu tinggal empat paragraf yang ternyata menghabiskan waktu satu jam lebih,” kesal Olive. “Hehe, jangan salahkan aku, salahkan bos yang tidak tau diri itu yang terus menyiksaku dengan memberikan berbagai tugas yang berat padaku.” Ucap Evelyn membela diri. “Kau tidak tidur semalaman, apa kau tidak takut akan sakit?” “Yasudah aku tidur dulu, satu jam tidur sepertinya cukup. Bye, oh ya bangunkan aku nanti jika sudah pukul enam.” “Ya.” *** “EVELYN BANGUN!” Olive mengguncang tubuh Evelyn dengan sangat tergesa-gesa. Namun sekuat apapun ia berusaha untuk membangunkan Evelyn, sayangnya wanita itu tidak juga terbangun dari mimpinya. “BANGUN EVELYN!” usaha Olive sekali lagi untuk membangunkan sahabatnya itu. Dan karena kehabisan akal, akhirnya Olive menaiki ranjang dan melompat-lompat hingga membuat ranjang itu bergoyang kencang. “EVELYN BANGUN! BANGUN EVELYN! EVELYN! HEY, BANGUN!” Dan hasilnya Evelyn menggelinjang dari tidurnya dan sedikit demi sedikit mulai membuka matanya. “Ng?” lenguh Evelyn saat matanya terkena sinar mentari yang lewat dari gorden kamarnya. “Ada apa?” dengan keadaan yang begitu acak-acakan, mata yang memerah karena kekurangan tidur, mata panda yang sangat mengerikan dan rambut yang seperti hantu. Olive meloncat turun dari ranjang Evelyn dan menarik wanita itu menuju kamar mandi. Setibanya di sana, Olive memerintah Evelyn untuk segera mencuci muka dan gosok gigi. “Ah, sepertinya aku ingin mandi saja.” Olive mengangguk saat mendengar ucapan Evelyn barusan dan ia beranjak meninggalkan Evelyn sendiri. Evelyn yang sibuk mandi sedangkan Olive yang sibuk menyiapkan sarapan. Dan ketika Evelyn selesai mandi, Olive pun juga selesai menata makanan di atas meja makan. “Ayo, makan.” Ajak Olive saat Evelyn yang baru saja keluar dari dalam kamar. “Iya,” walau sudah mandi, tetap saja nada lelah itu terdengar. Olive sangat khawatir saat melihat raut Evelyn yang begitu suram. Wanita itu mendekati Evelyn dan menaruh punggung tangannya pada leher Evelyn. Dan untungnya suhu Evelyn tidak begitu panas, normal seperti biasa. “Kau sangat kelelahan, sepertinya kau tidak usah masuk kerja hari ini. Aku akan minta izin pada pak Ethan nanti.” Evelyn tersenyum dan menggeleng kecil, “Tidak, aku ingin berangkat kerja saja. Lagian jika aku berdiam diri di rumah, maka akan kupastikan aku mati kebosanan.” Canda Evelyn. “Kau... ah sudahlah, jika itu maumu maka cepatlah habiskan makananmu itu.” Ucap Olive pada akhirnya mengalah. “Hm,” *** “Selamat pagi, pak!” seru semua karyawan kompak saat Ethan baru saja memasuki kantornya. Dengan tampang datarnya itu, mampu membuat para karyawan wanita berteriak histeris saat melihat bos mereka itu. Dan itulah sebabnya, Ethan menjadi sangat suka menebar pesona serta angkuh di waktu bersamaan. Berbeda dengan karyawan lainnya, saat Ethan memasuki lantai ruangan kerjanya. Ia melihat Evelyn yang duduk di kursinya dengan wajah yang sangat tidak bersemangat. Ethan mengernyitkan dahinya, ia sedikit tidak senang saat menyadari Evelyn yang tidak menyambutnya bahkan tidak menyadari keberadaannya. Ethan berjalan mendekati ruangan sekretarisnya itu dan berhenti tepat di depan Evelyn yang tengah fokus pada laptopnya. Ethan semakin geram saat wanita itu masih belum menyadari keberadaannya. “EKHEM!” dengan sengaja, Ethan membesarkan suara batuknya yang dibuat-buat itu. Evelyn sepertinya sangat tidak mempunyai energi lagi walau hanya untuk mendongak saja, hingga pada akhirnya ia mengabaikan suara itu. “Kau mengabaikan ku, Ms.Fiorenza?” tekan Ethan bertanya. “Hm?” dengan begitu malas, Evelyn mendongak. “Ada apa, Mr.Vincent?” tanya Evelyn pelan dan terlihat sangat lelah. Ethan terdiam saat menatap mata itu. Ethan sedikit mengernyitkan dahinya, dalam benaknya bertanya, ‘Ada apa dengan wanita ini?’ “Kau kenapa?” tanya Ethan. “Tanyakan pada dirimu, kenapa memberiku tugas yang begitu banyak hingga aku tidak tidur semalaman, hm?” Ethan meringis saat mendengar perkataan Evelyn yang pelan namun menohok dirinya. “Apa karena proposal ku kemarin?” tebak Ethan. “Hm,” balas Evelyn singkat. “Oh, sebenarnya aku mau bilang jika proposal nya bisa kau kumpulkan lusa nanti.” sahut Ethan dengan santainya tanpa rasa bersalah sedikitpun. Evelyn mendongak dan melemparkan tatapan yang begitu tajam, ia sangat ingin berteriak marah namun energinya tak cukup. Dan hasilnya ia hanya mampu menghembuskan napas kasar. “Sudahlah, lagian salah kau sendiri begitu rajin menyelesaikannya satu malam.” ucap Ethan yang tak ingin disalahkan. “Ya, kau benar.” balas Evelyn malas. Ethan sebenarnya ingin menyuruh wanita itu untuk pulang saja, namun karena gengsinya yang begitu tinggi, makanya ia urungkan itu. Sepanjang jam kerja, Evelyn berasa waktu berjalan begitu lambat. Sejak tadi ia terus menatap jam tangannya dan tidak ada perubahan sedikitpun dari jarum jam itu. Evelyn yang tadinya berusaha mati-matian menahan kantuk, namun pada akhirnya tetap tak bisa menahannya lebih lama. Kepala Evelyn terjatuh menghempas meja kerjanya dan tertidur di sana dengan posisi duduk. Sedangkan di seberang ruangannya, Ethan tengah mengamati wanita itu dengan pandangan yang sangat sulit diartikan. Pria itu berdiri dari duduknya dan beranjak mendekati Evelyn yang tertidur. Saat ia telah sampai di samping kursi Evelyn, pria itu segera berjongkok dan meraih dagu wanita itu untuk menoleh menghadapnya. Sangat kalem dan tenang. Ethan suka ekspresi itu. Pria itu lalu mengelus pipi halus Evelyn dan beralih pada dahi Evelyn yang tadi sempat membentur meja, di sana terlihat memerah. Ethan berdecak dan mengusapnya begitu lembut. Ethan berdiri dari jongkoknya dan segera menyelipkan tangan kirinya di leher belakang Evelyn sedangkan tangan kanannya di lipatan lutut wanita itu. Ethan menggendong Evelyn dengan bridal style dan membawanya menuju ruangan miliknya. Ethan menidurkan tubuh Evelyn di dalam kamar pribadi miliknya di dalam ruangan kerja itu. Setelah merasa Evelyn telah mendapat posisi yang nyaman, pria itu kembali mengamati wajah Evelyn. Ia terus-terusan berdecak saat melihat ciptaan Tuhan yang begitu sempurna di depannya ini. Tangannya terulur menyentuh kedua kelopak mata Evelyn yang tertutup, lalu ke alis setelahnya hidung dan berakhir di bibir tipis wanita itu. Ethan sadar bahwa bukan hanya dia yang menginginkan Evelyn, namun banyak pria di luar sana yang menginginkannya juga. Tapi bedanya, Ethan yang hanya ingin mendapatkan tubuh wanita itu dan mencicipinya sedangkan pria di luar sana ingin memiliki serta memenangkan hati wanita ini. Ethan hanya ingin mencicipi tubuh Evelyn saja, karena rasa penasarannya yang terus berkembang saat Evelyn menolaknya terus-menerus. Tidak ada rasa lebih untuk Evelyn menurutnya. Ia bukan tipe pria yang ingin memiliki komitmen dengan seorang wanita. Menurutnya, wanita itu tidak ada yang layak menjadi pendamping hidupnya. Semua wanita itu licik dan penuh tipu muslihat. Ia beranggapan seperti itu bukan karena ia memiliki pengalaman buruk dengan wanita. Ia tidak pernah memiliki masa lalu dengan seorang wanita selain malam-malam dengan jalang tentunya. Ia suka bermain tapi ia tidak suka dipermainkan. Itulah Ethan. Pria itu berdiri menatap Evelyn dengan ekspresi datar dengan kedua tangan yang berada dalam saku celana kerja katun miliknya. “Kau begitu naif dan sialnya aku semakin tertantang untuk mendapatkan mu! Ralat maksudku tubuhmu.” ucap Ethan tak mempedulikan apa Evelyn akan mendengarkan ucapannya atau tidak. Ethan berbalik hendak meninggalkan ruangan pribadi itu namun ia terkejut saat melihat Edward yang menatapnya datar. “Mari kita bicara,” ucap Edward dengan ekspresi yang sangat datar dan nada yang terkesan dingin. Ethan keluar dari ruang itu dan tak lupa menutupnya. Pria itu berjalan menuju kursi kebesarannya yang mana telah ada Edward di depan kursi itu. “Ada apa?” tanya Ethan saat b****g miliknya telah menyentuh kursi itu seutuhnya. “Aku tau apa yang ada di kepalamu itu,” “Memangnya apa?” tanya Ethan sembari menaikkan alis kanannya. “Kau ingin menjadikan Evelyn mangsa mu, bukan? Hm maksudku, wanita incaran untuk memuaskan nafsu b***t mu itu,” ucap Edward tepat sasaran. “Iya, lalu kenapa?” Edward menggertakkan rahang nya dan mengepalkan kedua tangannya. Raut wajahnya begitu tampak jelas sangat emosi. “Kau tidak ingat tentang seorang gadis yang mati bunuh diri karena tidur bermalam denganmu waktu itu? Gadis yang bahkan tengah mengandung anakmu!” bentak Edward. “Hey! Santai, dude. Lagian itu adalah masa lalu dan aku tidak pernah menyuruh gadis itu untuk tidur bersamaku. Dia sendiri yang datang padaku dan bermohon untuk tidur bersamaku, lalu di mana letak salahku? Toh jalang kecil itu yang melempar dirinya sendiri ke dalam kandang singa,” balas Ethan yang sangat tenang. Dalam matanya tidak ada setitik rasa penyesalan pun, walau sekecil apapun itu, ia tidak pernah merasakannya. “Kau begitu kejam, bro!” “Bukan aku yang kejam, tapi kehidupan.” “Lalu untuk apa kau mendekati Evelyn? Padahal kau tau betul bahwa wanita itu tidak ingin tidur bersamamu. Dan juga, ia BUKAN seorang jalang.” Ethan mengernyitkan dahinya saat Edward yang begitu peduli terhadap siapa yang akan ia jadikan target. Tumben sekali pria itu peduli pada wanita yang akan ia tiduri suatu saat nanti. “Ada apa denganmu, heh? Kau menyukai wanita itu?” SKAK MAT! Edward terdiam seketika, mulutnya tiba-tiba terkunci tak mampu mengelak sebuah fakta. Fakta bahwa ia menyukai Evelyn. Wanita yang begitu tulus dan berani menurutnya. “Ya, aku menyukainya, bahkan bukan hanya sekedar suka melainkan cinta. Aku mencintainya.” Hening. Suasana menjadi mencekam, Ethan dan Edward saling bertatapan dengan sirat yang tak mampu di tebak. Raut wajah mereka sama-sama datar dan tatapan sama-sama menusuk. “Hahaha, apa kau serius?” ucap Ethan dengan tawa sarkasnya. “Aku tak pernah berbohong soal rasa, kau tau itu.” Keadaan kembali hening. Atmosfer bumi terasa sangat menyesakkan di dalam ruangan itu. Ethan lalu duduk dengan tegap dan menyangga dagunya dengan satu tangan. “Baiklah, bagaimana kalau kita lihat siapa yang akan dipilih oleh Evelyn nantinya. Kau atau aku?” senyuman menyeringai muncul dalam bibir seksi Ethan, yang malah membuat Edward semakin geram. Pria itu berdiri dari duduknya dan meninggalkan pria itu begitu saja. “Terserah apa mau mu, tapi aku tidak ingin kita bermusuhan hanya karena seorang wanita. Ingatkan dirimu untuk tidak menyesal nantinya,” ucap Edward sebelum benar-benar pergi meninggalkan ruangan bos sekaligus sahabatnya itu. “Apa dia memilih mundur sebelum berperang? Ah, lemah.” Ethan menyenderkan bahunya di kursi kebesarannya dan terus menimang tentang apa yang Edward katakan tadi. “Menyesal, ya?” gumam Ethan. “Ah, sepertinya itu tidak ada di dalam kamus kehidupan seorang Ethan Vincent.” “Cinta hanya sebuah rasa fana dan tidak ada yang perlu disesalkan atas cinta.” Dengan begitu angkuhnya, Ethan menyepelekan sebuah rasa cinta dan penyesalan di satu waktu yang sama. Untukmu dan kita semua, Ingatlah, menuruti emosi dan hawa nafsu hanya akan merugikan dan penyesalan adalah hadiah yang pasti akan diterima nantinya. Yang Ethan lakukan adalah salah namun kita tak bisa menyalahkannya begitu saja, karena hidup seseorang itu tergantung orang itu sendiri. Jika menurut Ethan yang ia katakan benar, maka kita lihat keesokannya. Sampai mana prinsipnya itu bertahan? Terus teguh dalam pendirian atau jatuh dalam kesakitan akan kenyataan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN