“Apa? Cakra sudah pindah? Ma-maksudnya berhenti apa hah?!” Cindy, wanita yang saat ini tengah berteriak pada atasannya pun sangat merasa tidak baik-baik saja. Mencoba untuk tetap tenang tetapi nyatanya emosi dalam jiwanya tak dapat lagi dia kontrol, menggebrak meja dan menendang nya sampai terpental jauh. Mengusap wajahnya dengan kasar, lalu membasuhnya berulang kali di wastafel. “Kamu benar-benar tega! Nggak ada akhlak! Bisa-bisanya pergi tanpa izin dengan jelas, ah!” “Aku harus bagaimana sekarang? Apartemen dan rumah nya pun kosong, bahkan tak ada yang tahu di mana Cakra, satu-satunya yang aku andalkan musnah. Harus apa aku sekarang.” Mencoba untuk kembali menghubungi nomor laki-laki itu, tak berdering sama sekali. Mungkin sudah mengganti nomornya dengan sengaja, Cindy tak habis piki

