Bab 5

2084 Kata
“Iya, Dok, keadaannya sudah membaik kok, terakhir kali dia makan kemarin, pasien yang satu ini susah sekali makan, jadi bagaimana cara untuk menambahkan napsu makan pasien tersebut, ya, Dok?” “Baik, terima kasih sudah dibantu, Sus. Jadi, biar saya saja yang kembali memeriksa kondisi dan keadaannya, kamu boleh pulang karena kemarin sudah hampir seharian kerja shif tak henti, jangan diporsir, nanti kamu bisa sakit,” titah dokter tersebut. Naya pun mengangguk kemudian melenggang pergi untuk bersiap segera pulang, padahal dalam lubuk hatinya masih ingin sekali menemani Zaki, walaupun keadaannya sudah mendingan, tetap saja merasa khawatir, jika sudah diperintah oleh dokter, dia hanya bisa pasrah dan menurut. “Loh, Dok? Kenapa dokter yang ke sini? Suster tadi ke mana?” tanya Zaki. “Suster Nay sudah pulang karena hari ini bukanlah bagiannya, biar saya periksa kembali, ya,” sahut dokter spesialis lambung yang bernama Arofah. Dokter itu dengan cekatan memeriksa dan bertugas layaknya seorang dokter yang sangat profesional, tetapi se profesional apapun seorang dokter, jika sudah melihat d**a besar serta kotak-kotak yang ada di hadapannya, pasti tergiur juga meskipun sudah fakum karena sudah bersumpah di masa awal menjadi dokter dulu. “Dokter kenapa? Saya sudah tak tahan ini kenapa d**a saya ditekan seperti ini hehh?!” Dokter Arofah tersadar dengan apa yang sudah dia lakukan, senyuman manis yang dia tebarkan sebagai permintaan maaf kepada pasiennya kali ini, Zaki hanya bisa menggeleng heran dengan dokter tersebut. “Baik, semuanya sudah lebih baik, nanti saya akan beri resep vitamin supaya Pak Zaki napsu makan nya kembali lagi seperti semula, jika Bapak mau makan sekali saja pagi ini, siang sudah boleh pulang dengan kondisi aman.” “Tapi, saya mau makan kalau yang urus suster Naya, Dok. Ke mana dia? Kenapa disuruh pulang, sih? Ya, saya tahu bukan pekerjaannya lagi, tapi saya bisa bayar rumah sakit ini plus-plus kalau suster Naya mengurus saya lagi!” “Mohon maaf, Bapak, kenapa harus suster Naya, ya? Bahkan di sini banyak sekali suster yang bisa membantu bahkan merawat Bapak.” “Ahhh, dokter tidak akan mengerti, baiklah saya makan sendiri!” Dokter Arofah mengepal kuat, dia benar-benar sudah geram dengan pasien yang satu ini, kenapa harus Naya terus? Kenapa dirinya yang sebagai dokter saja diabaikan seolah-olah tak berbentuk. Zaki melahap semua makanan yang sudah rumah sakit berikan untuk jatah makan pasien pada pagi hari, walaupun Zaki berharap yang akan menyuapinya itu Naya. Setelah dokter itu pamit ke luar, Zaki pun menghubungi sekretarisnya untuk segera menjemputnya di rumah sakit, tak harus menunggu sampai siang, sekarang pun Zaki ingin segera ke kantor jika tidak ada Naya. Tak harus menunggu berjam-jam, akhirnya Zaki bisa pulang dari rumah sakit, tentunya berkat bantuan Humaira juga sang sekretaris yang selalu bisa diandalkan jika urusan membantu dirinya mengenai membujuk. “Pak, tapi Bapak serius sudah makan, kan? Lebih baik, kan, keadaannya?” tanya Humaira yang saat ini tengah menyetir mobil, sedangkan Zaki bersandar di bangku mobil belakang sendirian. “Sudah, kamu fokus menyetir saja. Saya lagi tidak mood membahas apapun, langsung ke kantor jangan ke apartemen saya.” “Bukan maksudnya saya mengatur urusan pribadi Bapak, tapi kata dokter syarat boleh pulang itu jangan dulu bekerja, minimal tiga hari Bapak beristirahat dulu,” ucap Humaira. “Oh, begitu, ya?” Zaki hanya membalas dengan ejekan. “Oh, ayolah, Pak! Aku geram kalau harus profesional di dalam mobil, jangan buat aku nekat kembalikan Bapak ke rumah sakit lagi,” cicit Humaira. “Saya yang bahkan lebih geram denganmu, Aira! Semalam pergi ke mana hah? Dengan siapa coba? Gimana kalau terjadi sesuatu sama kamu! Apa yang akan saya katakan pada orang tuamu nanti hih!” “Ha ha, Bapak masih khawatir juga denganku rupanya.” “Rese kamu, jangan diulangi lagi nanti, ya. Saya mendapat amanah besar untuk menjaga kamu di Turki, selain kamu sekretaris saya, kamu juga anaknya pak Harto, sahabatnya ayah saya, bisa kacau urusannya kalau kamu bikin gara-gara,” cecar Zaki bertubi-tubi. “Hmm, baiklah, ternyata Pak Zaki tidak seburuk apa yang aku bayangkan sebelumnya, bahkan lebih tepatnya menyebalkan, gitu aja, sih.” “Kamu berani, ya? Hah? Buruan, secepatnya antar saya ke kantor.” “Rapat sudah aku cancel semua, Pak, jadi ngapain harus ke kantor?” tanya Humaira. “Mau tidur lah, memangnya katamu mau ngapain? Saya mau tidur di kantor.” “Hihh, dasar gila kerja tapi tidak nikah-nikah.” “Sekali lagi kamu mengatakan seperti itu, gaji kamu saya potong 60%.” “Ancam terus ancam ha ha.” Zaki menggeleng berkali-kali jika sudah berurusan dengan Humaira di luar jam kantor seperti sekarang, mereka memang sering bersikap seperti teman jika tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Sesampainya di kantor pun sudah tak bisa diragukan lagi, kata tidur yang Zaki ucapkan bukanlah tidur terlelap melainkan tidur bicara, tidur melakukan hal-hal lain, selain bekerja dan bekerja, itu istilah khusus yang terdengar aneh, Humaira lah satu-satunya orang yang pengertian akan semua tingkah aneh seorang Zaki itu. “Kayaknya aku harus nekat deh, apa aku aja yang atur kencan buta nya pak Zaki? Hmm, okelah aku daftarkan sekarang juga, maafin, ya, pak, he he.” Berbeda dengan Naya saat ini, diomeli terus-menerus karena kemarin sudah berani bekerja full tanpa memberi kabar kepada orang tuanya, tentu saja imbasnya pada kencan buta yang akan dilangsungkan minggu depan, membuat Naya malas dengan semua itu. “Kamu mau, ya, Sayang, pokoknya Umi akan atur semuanya, dijamin laki-laki yang akan kencan buta sama kamu saleh, baik, dan pandai menghargai seorang wanita, jangan takut akan itu,” ucap uminya. “Terserah apa kata Umi, aku nggak akan mau tuh datang ke tempatnya, malas!” “Naya! Kamu jangan ....” Naya melewati uminya dengan berjalan cepat menuju ke kamarnya, padahal saat ini uminya masih berbicara dengannya, tetapi dengan tidak sopan tidak didengarkan bahkan ditinggal pergi begitu saja. “Dasar anak ini, kalau begitu terus bisa kejadian pindah ke Indonesia lagi, duh semoga abi nggak tahu soal ini, kalau nggak kita semua akan pindah ke Indonesia, pokoknya Naya harus secepatnya menikah.” Naya tentu mendengar itu, dia tersenyum sinis, ternyata selama ini uminya materialistis akan harta, bukan abinya saja yang gila bekerja, uminya pun sama, karena paling tidak mau pindah ke Indonesia lagi dengan rumah yang sederhana, abinya selalu mengancam itu jika Naya tidak mau menikah juga. *** Waktu untuk kencan buta pun tak terasa tinggal satu jam lagi, dengan paksaan uminya yang terus menangis seakan-akan bersedih, Naya terpaksa mendatangi tempat yang sudah diatur untuk kencan buta dengan laki-laki asing entah itu siapa. “Kamu tunggu dulu di sini, ya, sebentar lagi laki-laki yang akan berkencan denganmu, pasti datang, Umi ke luar dulu, oke? Awas jangan kabur lagi.” Naya pun hanya bisa mengangguk seakan-akan menurut, padahal dia akan kabur jika laki-laki tersebut tampangnya seram lagi seperti dulu, bahkan pernah laki-laki yang kencan dengannya lebih cocok menjadi ayahnya. Zaki diseret-seret oleh sekretaris sialannya itu, Humaira memang sering begitu semenjak tahu orang tua mereka ternyata bersahabat dekat, selain berada di luar kantor, saat ini pun Zaki hanya bisa pasrah menuruti permintaan Humaira untuk makan di restoran berbintang. “Masya Allah, kamu ini lagi kenapa sebenarnya? Biasanya juga makan di apartemen kok, kenapa makan di sini, banyak orang.” “Kenapa juga phobia Bapak nggak sembuh-sembuh, belajar menghadapi banyak orang oke? Ayo, kita cari meja yang kosong dulu,” ucap Humaira. “Hmm, baiklah, kalau bukan hari Minggu, saya akan potong gaji kamu! Bahkan leher kamu, Aira!” “Ha ha, tapi untungnya sekarang hari Minggu, jadi gaji dan leherku aman.” “s**t, dasar kamu Markonah. Buruan, di mana ini? Meja yang mana, semuanya penuh,” desah Zaki karena mulai risih. Humaira pun melihat kembali ponselnya, dia kembali menyeret tangan Zaki dengan paksa menuju meja yang sudah dipesan khusus untuk kencan buta hari ini, untung masih siang bolong, jadi Zaki tidak akan pergi dengan alasan akan tidur. “Nah, itu meja nomor 33, Bapak duluan gih, aku pesan dulu,” titah Humaira. “Hah? Itu ada orangnya loh, mana wanita lagi. Kamu ngapain pesan sendiri? Kita bisa ....” “Awww, aduh sakit, perutku mules banget, Pak, pokoknya itu meja udah aku pesan mahal! Sana duluan, aku ke kamar mandi dulu, dadah ... awas kalau kabur, sayang uangnya,” teriak Humaira setelah pergi meninggalkan Zaki. Zaki mematung menatap punggung seorang wanita yang tengah duduk di sana, siapa dia? Bagaimana jika nanti Zaki yang keterlaluan sudah duduk tanpa permisi, bagaimana jika ... ah banyak sekali pikiran aneh berkeliling di pikirannya saat ini. Namun, Zaki berpikir lagi jika dia tidak duduk di sana, kasian Humaira sudah bela-belakan membayar mahal demi mereka bisa makan bersama, bukan karena uangnya bisa saja Zaki mengganti, ini perihal kesetiaan sebagai sahabat sekaligus rekan kerja. “Baiklah, ini demi anak kecil menyebalkan itu, saya bismilah dulu deh.” Pada saat Zaki akan duduk, saat itu juga wanita yang tak lain adalah Naya, terkejut sampai menyemburkan minuman yang sudah dia minum barusan, terkena jas dan dasi Zaki, menjadi basah karena semburannya. “Eh, ya ampun, maaf ... maaf, aku nggak sengaja, aduh basah deh jadinya.” “Naya? Kamu Naya, kan? Kenapa kamu di sini?” tanya Zaki. “Iya, Zak, aku Naya. Hmm, kamu juga ngapain di sini? Mau makan, ya, tapi ... oh ya ampun? Kamu duduk di sini?” Naya membekap mulutnya. “Ini sudah dibayar loh tempatnya, tentunya saya yang harusnya bertanya, kamu ngapain duduk di sini, Naya?” “Nggak mungkin, nggak mungkin. Pasti ada kesalahpahaman ini, pasti salah teknis.” “Salah teknis apa maksudnya, Nay? Coba jelaskan, ada apa?” “Aku lagi kencan buta, dan tempat ini udah dibayar oleh laki-laki tersebut, kamu ... jangan-jangan ....” “Hah? Astaghfirullah, ini untuk kencan buta? Serius? Ya ampun, dasar bocil! Kurang ajar!” “Bocil siapa, Zak? Aku benar-benar nggak tahu loh, kalau laki-laki yang mau kencan sama aku itu kamu,” cicit Naya merasa malu. “Hmm, saya benar-benar syok.” “Syok? Syok apanya, kenapa Zak? Kamu pasti salah duduk, kan?” “Saya dan kamu tidak salah duduk, kita sama-sama dijebak, kamu siapa yang nyuruh kencan buta? Apa kamu sendiri inisiatif?” Zaki menghela napas berat berulang kali. Naya mendelekkan kedua matanya dengan malas ke sembarang arah, dia pun menceritakan dari awal sampai tuntas mengenai semua masalah hidupnya saat ini, membuat Zaki meneguk salivanya dengan susah payah. “Kamu sebegitu menderitanya, Nay? Sampai kencan buta segala.” “Lebih dari menderita hiks, tega banget punya umi kok gini, hiks.” “Eh, jangan nangis dong, ini hapus air mata kamu, Nay,” ucap Zaki memberikan beberapa lembar tisu kepada Naya. “Makasih hiks, aku harus gimana? Katanya, ini kencan buta terakhir kalinya, aku jadi takut kena hukuman lagi huwaaaa.” “Hukumannya apa? Lebih buruk dari pulang ke Indonesia kah? Tapi, menurut saya pulang ke tanah air tidak buruk kok, mungkin bagi umi kamu beda lagi.” “Selain itu, aku nggak akan dianggap anak lagi, Zak, namaku akan dicoret dari kartu keluarga. Hiks, sedih banget jadi aku. Walaupun sering kesal dengan orang tua, tapi jika sampai dibuang seperti itu nggak kuat.” Naya malah curhat sembari sesegukan. “Memangnya kamu mau kencan sama saya, Nay? Saya ....” “Jadi, benar kamu yang kencan sama aku, Zak?” “I-iya, Nay, duh ceritanya panjang.” “Kalau kamu orangnya, aku mau, Zak.” “Hah? Mau? Kok langsung mau?” Kali ini Zaki yang tersedak padahal tidak minum apapun. “Karena kita bisa menemukan titik terang, kamu mau, kan?” Naya pun membisikkan sesuatu yang membuat Zaki beristighfar berkali-kali. “Tidak! Tidak akan mau! Memangnya saya laki-laki apa, Nay? Bisa-bisanya kamu ngajakin saya nikah kontrak, kebanyakan baca novel pasti,” cetus Zaki. Naya memberengut kesal dengan jawaban Zaki, padahal selain ingin berbisnis dengannya, Naya sudah mulai menganggumi sosok Zaki, tetapi sayangnya laki-laki kaku seperti Zaki, sulit diajak kerja sama. “Nay, jangan lakukan hal bodoh seperti itu, saya memang belum menikah, saya juga gila kerja seperti abimu, tapi ... harga diri ini masih ada, lagian pernikahan itu sakral, bukan sebuah permainan.” “Tapi, hanya itu jalan keluarnya untuk membantu aku, Zak.” “Kita nikah resmi, tidak harus kontrak segala!” “Hah? Gila kamu, Zaki! Gila!” “Kamu yang gila, saya hanya bisa membantu seperti itu, kalau tidak mau ya sudah.” “Nikah resmi apa bedanya dengan nikah kontrak? Karena kita nggak saling cinta, Zak?” “Zaki, hei?” Zaki tak menjawab, dia memikirkan kembali ucapannya tadi, kenapa bisa dia mengajak wanita menikah dengan cara seperti tadi? Sialnya lagi dia selalu deg-degan jika berada di sampingnya Naya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN