Zaki tetap saja tidak bisa memutuskan suatu keputusan secara tiba-tiba seperti itu, dia kembali mengalihkan pembicaraan untuk tidak memperpanjang perkara yang tadi sempat dia bahas dengan Naya.
Bahkan pesanan mereka sudah datang tertata rapi di meja saat ini, membuat Zaki dengan mudah mencari alasan yang tepat agar tak ada yang tersakiti.
“Wah, makanannya sudah datang, ayo, makan dulu makan,” ucap Zaki.
“Nggak gitu juga, Zak, kamu kalau emang belum siap buat nikah, ya, nggak usah ngajakin.”
“Hmm? Maksudnya, Nay?” Zaki masih saja berpura-pura tidak mengerti.
Padahal tanpa sepengetahuan Zaki, sebenarnya dulu wanita yang saat ini ada di dekatnya mantan psikolog, hanya saja takdir yang membuatnya menjadi perawat di rumah sakit.
Naya tahu saat ini, Zaki tengah mencari alasan untuk tidak kembali membahas yang tadi, masalah nikah dadakan itu. Zaki yang terperangkap pun gelagapan karena baru pertama kalinya dia gugup di hadapan wanita, dulu tidak seperti itu.
“Ngaku aja deh, kamu belum siap nggak usah gitu banget mukanya. Aku paham apa yang saat ini ada dipikiran kamu, Zak, selow dan nggak usah panik,” cicit Naya.
“Kamu kok bisa tahu, sih? Bukan paranormal, kan, Nay?” Tanyanya.
“Ha ha, ya, bukan lah. Ya kali aku paranormal. Cuma emang paham dan ngerti aja soal kebohongan yang saat ini tengah kamu lakukan.”
“Ish, siapa yang bohong, tidak benar itu ngarang pasti,” cecar Zaki yang saat ini sudah memerah pipinya.
Naya dengan berani mencoel pipi kanan Zaki dengan jari telunjuknya, tentu saja itu membuat Zaki tambah gugup, sedangkan Naya cekikikan melihatnya.
“Ha ha, kayak pertama kali deket sama lawan jenis aja ih, kaku banget. Punya mantan berapa, sih?” Naya iseng bertanya seperti itu, hanya ingin tahu selanjutnya Zaki akan jujur atau sebaliknya.
Zaki mengetuk-ngetuk meja seraya menatap Naya dengan berani, dia hanya bisa melakukan itu, di saat dirinya tak bisa menjawab pertanyaan dari lawan bicaranya.
“Hah? Serius? Demi apa? Yakin? Kamu benar-benar nggak punya mantan, Zak? Oh nggak mungkin, sih.”
“Apaan, sih, Nay, orang saya belum jawab apapun kok, sudah sok tahu saja deh.”
“Lah kamu itu ngetuk meja sambil natap aku, itu udah menjawab semuanya, Zak. Emang benar-benar gila kamu, ya.”
“Bisa ngaceng, kan?”
“Hehhh, astaghfirullah. Jaga bicaramu, Naya! Enak saja bertanya seperti itu, hmm bisa kok bisa.”
Naya lagi dan lagi menertawakan lawan bicaranya yang tengah malu ditanya seperti itu olehnya, kali ini memang terlihat jujur, hanya saja Naya bisa melihat ada masalah yang masih terpendam dalam kehidupan Zaki, entah itu apa yang jelas masalahnya sulit untuk dilupakan.
“Oke deh oke, percaya aku. Maaf, he he. Ya udah ayo, deh makan dulu. Kamu mahal-mahal pesan makanan ini, sayang kalau nggak dimakan,” ucap Naya.
“Lagian bukan saya yang pesan hmm,” lirih Zaki.
“Apa, Zak? Kamu tadi barusan ngomong apa?”
“Ah, tidak kok tidak. Silakan, selamat makan,” sahut Zaki meneguk salivanya, di saat tak senjaga kedua matanya melihat bagian d**a Naya sedikit terbuka karena tertiup angin dari luar.
Astaghfirullah, bisa gila, ke mana bocil sialan itu, katanya cuma ke kamar mandi kok lama sekali.
“Makan juga dong, masa kamu sendiri yang bayar cuma lihatin doang,” sindir Naya yang sudah tahu bukan Zaki yang membayarnya.
“Iya, kamu saja. Yang banyak, saya tidak makan makanan manis, takut diabetes.”
“Yakin, nggak mau makan? Toh di hadapan kamu juga ada gula kok, nanti juga lama-kelamaan diabetes kalau diam-diam perhatikan aku terus.”
“Yey, siapa juga yang perhatikan kamu, pede.”
“Ha ha, iya deh iya, seru juga, sih, kamu seru orangnya, Zak.”
“Apanya yang seru, kamu sendiri yang tertawa, saya diam dari tadi.”
“Seru banget lihat kamu berdiri tapi duduk ha ha.”
Zaki ingin sekali membekap mulut nyinyir itu, bisa-bisanya dia selalu ketahuan padahal tidak memperlihatkan semua itu, benar-benar memalukan.
Tak ingin berlama-lama ketahuan, Zaki pun pamit untuk ke kamar mandi terlebih dahulu sebelum Naya tahu semuanya tentang dia hari ini, terutama adiknya masih saja berdiri padahal cuma lihat d**a KFC bukan paha.
“Jangan lama-lama ... nanti kamu pingsan ha ha,” teriak Naya.
Setelah Zaki pergi, Naya pun menulis surat dari buku diary yang sengaja dia bawa, itu pesan bahwa dirinya akan pergi tidak akan melanjutkan kencan buta bersama Zaki lagi, Naya tahu bahwa laki-laki baik hanya untuk wanita yang baik juga.
“Maaf, aku pergi tanpa pamit secara langsung, semoga kamu nggak akan marah.”
Sedangkan yang dilakukan oleh Zaki saat ini sudah menidurkan kembali adiknya, dia tidak melakukan hal-hal yang berdosa, dia punya cara tersendiri untuk menidurkan kembali adiknya.
Di saat sudah kembali ke meja tadi, tidak ada Naya di sana, tetapi makanan sudah habis, pasti ulahnya Naya juga, awalnya ingin langsung pergi, tetapi kedua matanya melihat secarik kertas di atas meja.
“Apa ini? Surat? Duh, lupa. Belum sempat saling tukar nomor ponsel.”
Zak, aku pulang, ya, gapapa kok kalau aku harus dibuang sama orang tua karena gagal kencan buta lagi. Asalkan kamu nggak jadi tameng masalah ini, kamu orang baik, aku bisa baca pikiran kamu. Maaf, aku pergi tanpa pamit, jaga kesehatan kamu, ya, makan jangan telat, tapi maaf banget makanan hari ini aku bungkus buat stok di rumah ha ha, pasti aku nggak diizinkan makan sama orang tua soalnya duh ngenes, ya. Hati-hati, adiknya jagain, jangan bangun di saat banyak orang lagi, jiaaaah malu, kan, kamu. Dah, dari Naya yang selalu dibuang.
“Gila emang, huh untung saja dia pergi duluan, kalau tidak? Mati saya. Ah, bodo amat lah di manapun si Humaira, saya pulang duluan, siapa suruh dia main api seperti ini.”
Zaki dengan gagahnya mengantongi surat itu pada saku celananya, langsung pergi begitu saja karena sangat yakin Humaira sudah pergi juga dari tempat itu, karena semua makanan sudah dibayar.
Namun, pada saat Zaki akan mengemudikan mobilnya, ada seorang wanita yang dengan pedenya bercermin di kaca mobil Zaki, dengan gayanya yang dimenyonkan, dimonyongkan, imut memang, tetapi membuat Zaki merinding melihatnya, heran kenapa di Turki banyak wanita sedeng seperti itu, pikir Zaki.
***
Tin, Tin, Tin.
“Ih, rese banget. Sudah diklakson tetap saja diam di situ, mau rapat ini mau rapat.”
Zaki kehabisan stok kesabaran, dia ke luar dari mobil dan berkacak pinggang menatap wanita itu. Tentu saja wanita yang saat ini gelagapan karena malu hanya bisa cengengesan.
“Awas! Minggir! Mobil saya mau lewat nih, ngapain juga ngaca di mobil orang!”
“Oh, rupanya masih orang Indonesia. Sombong banget situ hi hi, kayak tempat ini punya nenek moyangnya aja deh.”
“Iya memang, ini tempat milik kakek moyang saya, kenapa? Mau beli? Oh tidak bisa, tidak diperjualbelikan. Awas, minggir.”
“Hidih, sombong banget, sih, gemuk banget pula jadi laki, pasti banyak lemak deh.”
Zaki mengepalkan tangannya kuat-kuat, untung saja itu wanita, kalau laki-laki sudah dia tendang sampai ke Afrika. Wanita itu lebih gila dibandingkan Naya dan Humaira, membuat kepala Zaki menjadi pening.
“Eh, bentar deh. Kamu itu si Zaki bukan, sih?” tanya wanita itu padahal sudah tahu dari awal.
“Hmm, bisa tahu nama saya dari mana?” Zaki sangat berhati-hati, bisa saja wanita itu orang jahat yang niatnya buruk mau begal mobilnya, bisa jadi, kan.
“Coba keluarkan KTP, pasport, dan STNK ini mobil! buruan!” titah wanita itu.
“Lah? Untuk apa semua itu? Tidak jelas.”
“Nggak jelas gimana lagi, heh? Coba lihat nih, siapa aku dan apa tujuan utama aku datang ke mobil kamu,” cecarnya sembari memperlihatkan indentitasnya.
Zaki tercengang melihat identitasnya, ternyata wanita gila itu bukan sembarang wanita, dia adalah polisi Turki yang entah apa urusannya tiba-tiba mencari masalah dengan Zaki yang terkenal tidak pernah berbuat onar di negara mana pun.
“Lah? Emangnya saya salah apa, ya? Heran, ini maksudnya gimana, saya ....”
“Ayo, bawa aku pergi, nanti diceritakan di perjalanan, buruan,” titah wanita itu tanpa izin pun sudah masuk ke dalam mobil, dan duduk di depan.
Mau tidak mau pun Zaki menurut, seakan-akan Zaki adalah sopirnya. Sepanjang perjalanan pun mereka masih diam, sampai wanita itu sendiri yang menjelaskan semuanya.
“Namaku Cindy, kamu lupa?”
“Ya, saya tahu nama kamu Cindy, orang tadi dikasih lihat identitasnya, yang tidak mengerti itu ngapain Bu polisi sekarang nyuruh saya seperti ini? Saya bukan sopir.”
“Kamu orang Bandung, kan? Asli orang Sunda, kan? Iya, kan?”
“Ya, benar, terus apa? Coba jelaskan deh, saya banyak urusan, jangan bertele-tele, tolong.”
“Kamu lupa sama aku hah? Lupa? Bodoh banget anjir, aku Pamela Cindy Bernadette, sahabatmu! Kamu yang naksir berat sama si Karina adik kelas kita, kan? Sialan banget mentang-mentang udeh sukses dilupakan.”
“Pamela? Lah tadi kenapa di identitas namanya Cindy Yuvia? Lieur emang nage,” cetus Zaki.
“Ya nama asli, kan, emang Cindy Yuvia, kita sahabatan tanpa satu kelas jadi kamu nggak tahu itu. Yang kamu tahu cuma nama panggung pada masanya doang.”
“Lah kok kamu kurusan? Dulu segede gentong,” ledek Zaki.
“Sialan lohhh, enak aja gentong. Gentong kok bilang gentong.”
“Saya, sih, gagah perkasa bukan gentong.”
“Masa bodo lah, yang penting sekarang antarkan aku pulang ke kantor polisi, jangan banyak tanya, mobil aku mogok asli, mana lupa bawa dompet.”
“Idih amit-amit, sudah merepotkan, sudah mengejutkan, dan bahkan sekarang nyusahin, ya ampun sekian lama berpisah, pas ketemu gini banget,” rengek Zaki.
“Anggap aje ini hukuman karena kamu ingkar janji, katanya setelah jemput calon istri ke Bandung mau balik lagi ke Turki, eh lama banget dah baru ketemu sekarang mana nggak kasih kabar sama sekali, untung tadi sempat lihat lagi kencan sama wanita di resto.”
Zaki terdiam, tadinya dia kembali happy sekian lama akhirnya bertemu lagi dengan sahabat durjananya. Tetapi, sayangnya Cindy justru mengingatkan dia pada Karina lagi, membuatnya kembali sesak.
“Zakun? Gapapa, kan? Masih bernyawa, kan, heh?” Cindy mengeplak kepalanya Zaki dengan ujung ponselnya.
“Ahhh, apaan, sih, jelas-jelas ini mobil masih berjalan, kalau tidak bernyawa bagaimana bisa selamat ini, hmm.”
“Ya, bisa aja mobil ini kayak robot bisa jalan sendiri, bisa aja tuh. Lagian hidup jangan kebanyakan melamun deh ah, gimana? Udah jadi istri dong, ya, si Karina? Gimana malam pertamanya heh?”
“Berisik banget, sih, Cin! Saya fokus mengemudi.”
“Alahhh, lebay maneh. Biasanya juga nabrak tukang bajigur yang lagi mangkal juga sosoan fokus nyetir.”
“Bodo amat, Cindy! Karepmu!”
Mereka pun akhirnya terkekeh bersama, sudah hampir tujuh tahun mereka bersahabat, entah dulu bagaimana awalnya bisa bersahabat dengan wanita sedeng seperti dia, yang jelas Zaki selalu tertawa bersamanya. Kuliah mereka beda jurusan, tetapi sering sekali hangout bareng karena dulu apartemen mereka berdekatan.
Entah bagaimana juga awalnya dari fakultas hukum jadi polisi, Cindy memang wanita sedeng yang masih berkeliaran dipikirannya Zaki walaupun sempat tak mengenalinya, karena ukuran tubuhnya mengecil tidak seperti dulu lagi.
“Di mana tempat tinggal kamu sekarang? Ini sudah muter-muter Istanbul dodol.”
“Ihhh dodol mah adanya di Garut, di sini mah terkenalnya juga balon.”
“Hah?” Zaki untung sabar.
“Iya balon udara itu hih, jangan bilang belum pernah ke sana, Kinan aja tuh pengen ke sana, lah kamu di Turki bertahun-tahun belum pernah, kurang jauh ah mainnya.”
“Siapa Kinan?” tanya Zaki.
“Itu loh yang diselingkuhi sama suaminya, pokoknya sebel aku.”
“Gajelas banget, buruan di mana alamatnya?” tanya Zaki lagi.
“Oke, kita sekalian deh ke balon udara yuk, udah lama nggak hangout.”
“Ai maneh kunaon, sih? Buruan, saya mau meeting setengah jam lagi.”
“Cancel aja deh, aku kangen banget sama kamu, Zakun. Ayolah, kapan lagi coba diajakin jalan-jalan sama polisi cantik kayak aku? Hmm? Ayo, kuy.”
“Besok.”
“Maunya sekarang ih, besok aku ada kerjaan berat, makanya ayo jalan-jalan hari ini.”
“Lah ngapa, sih? Oke oke, kita jalan-jalan, tapi ganti rugi, karena kamu hari ini ngeselin, saya jadi kehilangan proyek besar seharga ....”
“Aihhh, itu ada apa di sana?” teriak Cindy.
Zaki dengan bodohnya melirik juga ke arah yang diarahkan oleh Cindy, tahu-tahunya sudah dikecup saja pipinya.
“Cindy!!! Turun dari mobil saya sekarang juga!” teriak Zaki sangat-sangat stres.