Bab 7

2021 Kata
Cindy menggeleng sambil tersenyum tidak mau turun dari mobil apalagi meminta maaf pada Zaki karena sudah keterlaluan seperti tadi, sikapnya selalu saja begitu seakan-akan dirinya adalah pasangannya Zaki, padahal hanya sahabat saja. “Buruan ke luar! Saya tidak mau kasar sama kamu, makanya ke luar dari ....” “Ihhh, nggak mau tahu. Pokoknya antar aku ke balon udara dulu, sekarang,” rengek Cindy. “Masya Allah itu muka apa karedok, campur aduk banget ekspresi nya, aku tahu kok kamu nggak akan tega turunin aku sendirian di pinggir jalan, Zak.” “Ya, makanya jangan macam-macam lah. Ingat, batasan! Mengerti?” Zaki enggan untuk menoleh. “Tapi, nggak jadi turunin aku dari mobil, kan?” “Asal kamu janji dulu, Cin, jaga batasan.” “Emang kenapa, sih, kalau cium pipi? Kan, cuma pipi doang, Zak.” “Apa katamu? Cuma pipi doang? Pipi juga pamali,” cecar Zaki. “Masa? Terus itu apa coba selera kamu dari dulu si Karina yang sexy, itu namanya lebih pamali.” “Itu, kan, dulu. Sekarang selera saya bukan seperti itu lagi.” “Lah? Emang nggak jadi nikah sama Karina, heh?!” Zaki menggeleng, dia malas sekali jika harus menceritakan semuanya dari awal, cukup sudah di masa lalu dia menderita karena cinta, walaupun masih sedikit menyayangi Karina. “Maaf, aku benar-benar nggak tahu kalau kalian ....” “Biasa saja, tidak usah merasa bersalah karena emang kamu tidak tahu apa-apa, makanya jangan dibahas lagi, dan jangan macam-macam.” “Oke deh oke, jadi selera kamu sekarang seperti apa, Zak? Kepo dong aku.” “Yang jelas kamu bukan tipe saya.” “Ihhh, nyebelin banget!” Cindy memukuli pundak Zaki dengan kedua tangannya, sedangkan Zaki hanya terkekeh melihat kelakuan sahabatnya itu. Tadi memang sempat kesal karena berani-beraninya Cindy cium pipinya tanpa seizin dirinya dulu, di balik rasa kesal tersebut, ada perasaan kasihan kepada sahabatnya itu, jika mengingat kembali apa yang sudah terjadi pada masa lalunya dulu. Zaki mengelus kepala Cindy dengan penuh ketulusan, dia menatap Cindy sekilas lalu fokus kembali pada kemudinya, orang yang diperlakukan seperti itu tentu saja baper, bawa perasaan, hanya saja status mereka akan seterusnya sahabat tidak akan mungkin berubah menjadi kekasih. Cindy tahu, dia memang tidak menganggap serius, lebih baik tetap berhubungan sebagai sahabat, karena jika berani melangkah yang lebih dari itu, persahabatan mereka akan hancur jika salah satu diantara mereka tidak memiliki perasaan yang sama. “Heh, tumben kamu diam. Biasanya nyerocos.” “Gapapa, kamu fokus aja nyetir. Aku diam aja deh biar kamu nggak turunin aku di pinggir jalan.” “Lagian mana tega saya seperti itu, saya bukan laki-laki jahat yang tega turunin wanita di pinggir jalan, apalagi orangnya kamu, Cin.” “Emangnya aku kenapa hmm?” Kini mereka saling tatap lagi, Zaki yang lebih dulu memalingkan wajahnya ke arah lain, entah kenapa rasanya berbeda, dekat dengan Cindy tidak merasakan debaran apapun dalam dadanya. “Karena kamu sahabat terbaik saya, jangan pede kamu huh.” “Yey, memangnya siapa yang pede. Aku, kan, cuma tanya aja.” “Ya, itu, kan, sudah dijawab. Nanti kalau sudah sampai mau ngapain, hmm? Saya malas main-main ah.” “Lagian siapa yang mau ke sana? Pulang aja deh.” “Hah? Ini sebentar lagi mau sampai loh, gimana, sih, Cin?” “Antar aku pulang deh, tiba-tiba nggak enak badan.” Zaki menahan rasa kesalnya dan tetap tersenyum, apalagi saat ini aneh sekaligus heran, kenapa wanita yang tadinya berisik berubah total menjadi pendiam? Apakah Zaki ada salah ucap? Sampai membuat wanita yang ada di sampingnya berubah seketika. “Cin? Kenapa? Tangan kamu dingin banget, sih? Perasaan AC mobil tidak full tuh.” “Ish, jangan pegang-pegang aku ah.” “Heh, ini beda. Bukan pegang seperti itu, kenapa kamu dingin banget badannya?” tanya Zaki lagi. Cindy hanya menggeleng saja, dia sebenarnya masih memikirkan perasaannya sendiri terhadap Zaki seperti apa, entah kenapa juga tiba-tiba badannya membeku dingin sedingin es. “Kalau kamu emang benar-benar sakit, kita ke rumah sakit saja, ya? Saya khawatir kamu jadi kenapa-kenapa loh, nanti urusan mobil kamu yang masih ada di parkiran resto tadi, biar asisten saya yang urus untuk diperbaiki.” “Kalau urusan mobil bantu urus, ya, Zak, tapi aku nggak mau ke rumah sakit, ini penyakit biasa kok.” “Sakit apa? Biasanya juga paling kuat kok kamu.” “Gapapa, Zak, antar aku ke alamat yang aku arahkan, itu apartemen baruku.” “Tinggal sendirian? Kamu gimana coba nanti kalau semakin parah, perasaan setiap berduaan selalu dingin deh, kenapa, sih itu?” tanya Zaki yang merasa aneh dengan semua itu. “Aku hanya seperti ini saat sama kamu aja, Zak. Berduaan sama yang lain gapapa.” “Lah? Kenapa?” “Gapapa ih, kalau ngobrol terus mau sampai kapan nyampenya? Tega banget deh, pengen rebahan aku.” “Tapi, kalau ada apa-apa langsung kabarin, nomor saya masih yang lama, nomor luar negeri ingat! Jangan hubungi nomor Indonesia.” “Emang iya masih yang lama?” “Iya, Cindy.” “Makasih, Zaki.” “Hmm, iya.” Tak ada yang membuka pembicaraan lagi, karena di saat Zaki akan memulai pembicaraan baru, dia melihat Cindy sudah menutup kedua matanya, secepat itukah dia tidur? Zaki pun merasa bersalah walaupun tidak merasa melakukan apapun, tiba-tiba membuat anak orang sakit begitu saja. Aneh, dia kenapa, sih? Harusnya itu saya yang panas dingin karena dia tadi cium saya tiba-tiba, lah malah dia yang tepar? Apa selama ini dia sering melakukan hal yang sama pada laki-laki lain, hmm. Zaki tersadar kembali dari lamunannya, notif sss yang masuk dari Humaira mengenai meeting hari ini, ternyata dengan baiknya sudah ditangani olehnya, Zaki tersenyum bangga akan semua itu. “Pintar sekali itu anak, saya pikir hari ini akan kehilangan kesempatan besar itu, tapi ... Allah berkehendak lain, alhamdulilah. Aneh sekali mengenai bisnis selalu berhasil, sedangkan urusan cinta? Pasti gagal sebelum perang.” Mungkin belum saatnya Zaki berkecimpung dalam dunia percintaan, dia hanya bisa bersyukur dan tetap berpasrah pada Allah SWT tentang kelangsungan hidupnya, mengambil hikmah dari semua yang sudah terjadi. *** Sekitar satu jam setengah akhirnya sampai di apartemen Cindy, orangnya masih tidur pulas. Andai saja mereka pasangan muhrim, pasti sudah Zaki angkat sampai ke kamar. “Lama banget tidurnya, mana badannya masih dingin, saya jadi serba salah.” “Cin, bangun dong sudah sampai. Saya harus pulang belum mandi juga nih, ayolah bangun.” Zaki mendengar suara azan ashar di ponselnya yang sengaja dia suarakan pada jam-jam tertentu seperti pada saat dirinya sedang jauh dengan tempat ibadah di Turki, antara harus mengendong Cindy sampai ke kamarnya, dan menunggu lama entah sampai kapan. “Sandi pintu sudah dikasih tahu, sih, sebelum dia tepar, tapi masa iya saya harus ... ahhhh harus deh, daripada jadi telat salat ashar. Maaf banget, Cin, tidak bermaksud apa-apa.” Zaki ke luar dari mobilnya lebih dulu, lalu mengeluarkan sahabatnya itu dengan cara membopong tubuhnya seperti anak bayi, dibawanya sampai masuk ke dalam kamar apartemen tersebut, di dalam sana Zaki terkejut kenapa banyak sekali photo dirinya, tanpa dia ketahui kapan itu photo bisa ada? Zaki menggeleng sambil istighfar, mungkin saja dia yang lupa. “Akhirnya sampai juga, tidur yang nyenyak, ya, maaf banget pokoknya. Kalau saya tinggal gapapa, kan, ya? Duh, jadi serba salah juga.” “Hmmm, aku di mana ini?” “Hei? Kamu bangun juga akhirnya, ini sudah di kamar kamu.” “Hah? Kamar aku? Ihhh, kamu kok bisa bawa aku ke sini?!” “Abisnya kebo banget lama tidurnya, saya harus mandi dan salat nih, kamu bikin saya ngaret.” “Kamu gimana cara bawa aku sampai ke kamar ihhh.” “Saya seret kamu sampai sini, saya pulang, ya, kamu kalau ada apa-apa langsung kabarin saja.” “Ihhh, jawab dulu tadi gimana caranya, Zak?” Zaki pun pasrah dan ikut duduk di tepian ranjang tersebut, mengelus surai rambut yang sebagian menutupi wajahnya Cindy, tersenyum tulus seperti biasanya membuat wanita yang diperlakukan seperti itu kerap salah paham. “Maaf, saya bawa kamu dengan cara yang mungkin kalau dilihat orang bisa salah paham, tapi itu demi kebaikan kamu saja kok, maaf, ya.” “Tapi, itu gapapa, kan? Nggak bikin kamu benci sama aku, kan heh?” “Tidak kok, apaan, sih, sudahlah jangan lebay cuma perlakuan kecil. Saya pulang oke? Mobil kamu sudah diurus nanti secepatnya diantar ke depan apartemen kamu.” “Ihhh, baik banget, sih, kamu, sayang deh aku sama kamu,” ucap Cindy tak sadar dirinya sudah memeluk Zaki. “Eh, maaf Zak maaf, refleks he he.” “Kamu ah kebiasaan deh, sudah saya pulang, jangan lupa makan istirahat tuh, gimana, sih, masa polisi lembek, kuat dong, hati-hati, assalamualaikum,” pamit Zaki. “Dadah Zakun, hati-hati di jalan, waalaikumussalam,” sahut Cindy sambil dadah-dadah. Zaki hanya mengulas senyuman lalu melenggang menuju ke parkiran mobil, dia sendiri tidak terlalu memikirkan apa yang sudah terjadi tadi, mungkin itu memang hanya pelukan sebagai sahabat saja, toh katanya pun hanya refleks. Dari dulu cuma Cindy yang selalu mendengarkan keluh kesahnya di saat Zaki tahu dulu Karina sudah mempunyai pasangan yang tak lain adalah Fatih, dulu juga hanya Cindy yang selalu ada untuk Zaki, padahal dari dulu Cindy selalu merelakan pasangannya pergi karena dirinya terlalu fokus pada kehidupannya Zaki. Mengingat itu semua, yang membuat Zaki tak tega jahat pada sahabatnya yang satu itu, selalu mengingat kembali kebaikannya selama ini. Zaki pun benar-benar sangat berterima kasih untuk itu semua. Malam harinya, Zaki tak bisa tidur karena dia benar-benar sibuk dengan pekerjaannya di laptop, apalagi Humaira mengirimkan beberapa kerja sama baru dengan beberapa sponsor, perusahaan, dan cabang yang baru. Membuat Zaki lupa dengan makan, dan jam tidurnya lagi. “Banyak sekali, ini sampai kapan coba selesainya, ahhh.” Totot. “Nomor baru? Siapa nih.” Assalamualaikum, Zakun, ini nomor aku loh, Cindy. Makasih banyak untuk hari ini, mobil aku pun udah ada, dibenerin pula. Jangan lupa makan heh, kamu jangan lupakan riwayat manja kamu itu, lambung manja, harus makan, titip balon ya, Zaki, nanti beliin balon di mana kek, pasar juga gapapa, see you. “Ini anak luar biasa gajelas deh, dasar. Untung sahabat, kalau bukan duh geram saya.” Waalaikumussalam, sama-sama babon, kamu pun jaga kesehatan heh, jangan lupa tugas dilaksanakan dengan benar, see you to. Zaki menutup ponselnya lalu kembali berkutat dengan segudang pekerjaannya, dia lupa dengan kata 'jangan lupa makan' padahal malam ini sudah ada dua orang yang mengingatkan, pertama Humaira kedua Cindy, tetap saja tidak dipedulikan olehnya, malas jika harus masak malam-malam, pikir Zaki seperti itu. Sampai terdengar bel apartemen dari luar terus saja berbunyi, entah siapa yang datang malam-malam seperti ini, sudah hampir setengah sebelas malam, tidak mungkin jika itu Humaira. “Siapa, sih? Ahhh, ganggu astaghfirullah kalau begini caranya.” Zaki pun membuka pintu, yang datang dengan kondisi mabuk ya siapa lagi kalau bukan temannya yang begajulan, Lenovo namanya, seorang laki-laki sukses tetapi selalu menghabiskan uangnya dengan berpoya-poya seperti mabuk dan main perempuan. “Ya ampun, kau? Kenapa lagi, sih?!” “Aaaa gue pusing a***y, bawa gue ke surga sialan.” “Idih aneh, istighfar kamu Len, ini apartemen saya.” Lenovo yang terus saja meracu tidak jelas langsung masuk ke dalam tanpa seizin Zaki seperti biasanya, Zaki menutup pintu dan mengejarnya sebelum benar-benar tidur lagi di ranjangnya dengan kondisi mabuk. Benar saja, jika telat sedikit pasti langsung merebahkan tubuhnya, untung saja Zaki lebih cepat mencegahnya, bukan karena perhitungan pada seorang teman, Zaki paling anti mencium bau alkohol seperti itu. “Apa yang kau mau, sih? Banyak uang itu sedekah kek, apa kek gitu. Jangan terus seperti ini, Len. Sayangi tubuh, sayangi diri sendiri.” Orang yang diceramahi tak mendengarkan, bahkan sudah ngorok tidak jelas di lantai seperti biasanya jika ke apartemen Zaki pada malam hari, dia mempunyai mansion di Turki, hanya saja keluarganya selalu mengekangnya untuk menikah, membuat Lenovo malas untuk pulang ke mansion nya. Zaki dengan baiknya menggotong tubuh temannya itu ke kamar tamu, jika saja kamar hanya satu mungkin sampai pagi pun temannya tidur di lantai sampai kedinginan, Zaki menyelimuti tubuh temannya itu dengan selimut lalu menggeleng karena keadaan temannya sangat kusut. “Semoga kelak kamu sadar, dunia itu hanya sementara, yang abadi adalah akhirat, saya kasian sama kamu, Len.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN