Bab 8

2045 Kata
Sampai waktu subuh pun tetap saja menimbulkan masalah yang entah sampai kapan akan selesai. Zaki mencoba untuk bersabar dalam menghadapi temannya itu, tidak ada cara lain selain menyiprati wajah temannya dengan air yang dia bawa dari kamar mandi. “Salat hei, salat. Sebelum kau benar-benar disalatkan. Buruan bangun.” “Eh, ini anak kurang asem. Dikasih air malah diminum, hmm maafkan saya, ya, terpaksa harus melakukan cara kedua.” Zaki mengoles balsem yang sama sekali tidak disukai oleh temannya itu, mungkin bisa dibilang salah satu kelemahannya yang tidak banyak orang ketahui selain Zaki. Mencium bahkan mengendus aromanya, membuat kedua mata Lenovo terbelalak melihat apa yang saat ini tengah Zaki lakukan padanya. Tentu, melihat jelas dengan matanya, Lenovo bangkit menghindar dari balsem tersebut. “Ahhh, apaan, sih, kenapa kau dekatkan saya dengan balsem!” “Ya, lagian tidur kok sampai segitunya. Buruan salat, bentar lagi matahari akan terbit, buruan, mumpung Allah masih kasih waktu,” titah Zaki yang sudah merapikan kembali peralatan salatnya. “Dih, sejak kapan saya salat? Hello, dunia kiamat dah kalau saya salat tiba-tiba.” Zaki menggeleng sambil mengelus dadanya, “Aihhh, istighfar kau, hati-hati dengan ucapan.” “Ah, lebay. Saya mau mandi, pinjam pakaian seperti biasa yo,” cicit Lenovo dengan santai langsung masuk ke dalam kamar mandi. “Hmm, untung sabar. Gapapa setidaknya saya sudah mengingatkan dia. Semoga saja ke depannya bisa berubah lebih baik lagi,” ucap Zaki lirih. Seperti biasa, setelah Lenovo menginap dan meminjam pakaiannya, Zaki selalu mengikhlaskan apa yang sudah dipakai oleh temannya, pantang untuk memakai kembali barang yang sudah orang lain pakai atau hanya sekadar meminjam pun tetap tidak mungkin Zaki pakai lagi. Bukan karena sok kaya, Zaki hanya berprinsip seperti itu dalam hidupnya selama bertahun-tahun, belum pernah dia melanggar prinsip tersebut. Lenovo pun sering kali menghujat Zaki seperti sok baik, tetapi Zaki tetap mengabaikan semua hujatan tersebut. “Mau ke mana kau?” tanya Zaki. “Mau balik, entah balik ke mana. Terima kasih tempat tidur dan pakaiannya kawan, bye!” “Rese sekali kau, benar-benar menguras tenaga jika diladeni orang seperti itu. Lebih baik fokus saja pada kerjasama dengan klien baru,” ucap Zaki menutup kedua telinganya dengan earphone lalu fokus pada laptopnya. Tak mendengar ada panggilan masuk yang terus-menerus berdering, Zaki mendengarkan shalawat kesukaannya sampai dirinya sendiri bisa menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk itu. Orang di sebrang sana pun nampak geram karena teleponnya tidak diangkat sama sekali oleh seseorang yang saat ini tengah dia butuhkan. “Ini orang ke mana, sih? Ya udahlah, aku nugas dulu, pulang nanti baru hubungi dia lagi,” ucap Cindy yang kembali ke kantor polisi, tempat di mana dia bekerja. Seorang laki-laki tampan berkulit putih terlihat sangat menyukai Cindy, entah sampai kapan dia bisa memendam perasaannya, yang jelas dia lebih memilih mencintai dalam diam, tanpa harus menyatakan, karena trauma penolakan dari wanita yang pernah ada di masa lalunya. “Hmmm ah, nugas coy, malah melamun gitu,” sindir Cindy. “Eh, iya, siapa yang melamun. Tidak kok.” “Alah, jangan ngelak, sini dah duduk, ada yang pengen aku ceritakan, mumpung yang lain belum pulang sarapan,” titah Cindy. Laki-laki yang bernama Cakra pun mendekati Cindy, mereka tengah duduk berhadapan seperti tidak ada jabatan sama sekali, lebih tepatnya malu-maluin. “Siapa yang suruh kamu duduk di situ, hei ... duduk di sebelah aku, Pak Cakra!” “Jangan panggil saya Bapak, kamu lupa saya nggak suka itu.” Cindy hanya manggut-manggut saja, dia lebih tidak sabaran untuk menceritakan apa yang ingin sekali dia ceritakan pada teman kerjanya itu, situasi kantor pun masih sepi, jadi tidak ada salahnya jika Cindy berbagi cerita pada temannya itu. Sedangkan yang Cakra perhatikan hanyalah wajah manis Cindy, wanita yang sudah lama dia sukai, kagumi, bahkan dengan lancangnya dia sudah mencintai wanita tersebut tanpa sepengetahuan siapapun. “Mau cerita apa memang? Kayaknya serius banget,” tanya Cakra. “Kamu masih ingat, kan? Laki-laki yang pernah aku ceritakan sebelumnya? Namanya Zaki itu loh,” sahut Cindy. “Iya, lalu dia kenapa?” tanya Cakra lagi, nada bicaranya mulai berbeda. Dari dulu selalu dia yang setia mendengarkan apapun yang bersangkutan dengan laki-laki yang bernama Zaki itu, meskipun belum pernah bertemu langsung, tetap saja hati Cakra selalu sakit jika sudah berurusan dengan nama tersebut. “Aku ketemu dia lagi, akhirnya ... sekian lama cuma bisa curhat sama kamu, eh kemarin pas mobil aku mogok, dia ada dan ... yang paling wow lagi, dia gendong aku sampai ke dalam kamar, wow banget, kan? Hi hi, pasti kamu terkejut deh.” “Terus?” Cakra mulai memerah wajahnya, menahan rasa sakitnya. Cindy terus saja menceritakan apa yang sudah terjadi kemarin bersama Zaki, dia tanpa beban dan bahkan tanpa rasa bersalah menceritakan semuanya pada teman kerjanya itu, orang yang mendengarkannya pun terkejut karena bisa-bisanya seorang wanita mencium laki-laki lebih dulu padahal bukan sepasang kekasih. Apa dia sudah menyukai wanita yang salah? Entahlah, saat ini Cakra hanya diam sesekali dia tersenyum untuk menghindari kesalahpahaman baru nantinya. “Gimana? Seru, kan, apa yang aku ceritakan,” tanya Cindy. “Hmm, iya, iya seru kok.” “Kok cuma gitu doang, sih? Aku cerita panjang lebar loh tadi, kenapa respon kamu cuma seperti itu aja?!” “Terus saya harus bagaimana? Hmm?” tanya Cakra. “Apa kek gitu, setidaknya antusias dikit kek. Kamu doang loh polisi di sini yang kebangsaan Indonesia sama seperti aku, masa aku harus cerita sama yang lain?” Cindy geram kali ini, dia dengan tampang judesnya malas untuk menoleh ke arah temannya itu. “Kamu satu-satunya polisi wanita di sini, Cin, yang kebangsaan Indonesia, polwan itu seharusnya lebih fokus ke tugas-tugas yang ada, dan bersiap untuk tugas yang akan datang nantinya. Jangan terlalu fokus pada percintaan masa sekolah seperti ini,” cecar Cakra. “Gitu, ya? Nyesel aku cerita sama kulkas kayak kamu, udah ah ... aku mau ke ruangan sendiri, malas lihat kamu,” cicit Cindy yang kini sudah melenggang meninggalkan Cakra seperti tidak ada rasa bersalah sama sekali. Cakra mengelus dadanya dengan sabar, jangan sampai dia menjadi tidak profesional pada pekerjaan, hanya karena urusan hati yang entah harus dia bawa ke mana. Antara tetap diam seperti biasanya, atau melangkah lebih maju lagi untuk segera mendapatkan apa yang ingin dia dapatkan. “Saya harus bisa profesional, ibuku banting tulang menghidupi saya puluhan tahun seorang diri, untuk gelar saat ini, bukan untuk bercinta terus-menerus dengan wanita, untuk hal seperti itu pasti ada saatnya,” lirih Cakra. *** “Apa? Kamu gagal lagi? Ya Allah, Nak, mau sampai kapan kamu menggagalkan kencan buta yang Umi atur? Hmm?” “Lagian kenapa juga harus kencan buta? Aku bisa cari pasangan sendiri, Umi. Nggak mau melakukan itu lagi, malu-maluin tahu nggak.” “Coba kamu buktikan, gimana coba caranya supaya kamu cepat-cepat mendapatkan jodoh? Pasangan yang kamu inginkan? Silakan, kalau kamu bisa, Nak.” “Aku pasti bisa, Umi. Masalahnya ....” “Masalahnya apa hmm?” Uminya sampai tak habis pikir dengan anaknya itu. Naya menghadapi uminya sendiri sudah seperti berhadapan dengan jaksa ataupun hakim, dia sampai gemetaran mencari alasan apapun itu yang bisa dia katakan pada uminya, untuk tidak diatur lagi kencan butanya dengan laki-laki lainnya. Sudah hampir sepuluh menit dia berpikir, tetapi tak menemukan solusi satu pun, uminya sampai geleng-geleng melihat anaknya itu berpikir sangatlah lama, padahal hanya sekadar memikirkan pasangan saja. “Percuma Umi dan abi menyekolahkan kamu setinggi itu, kalau cara berpikir kamu lambat, pikirkan baik-baik, kalau besok kamu belum mendapatkan pasangan juga, jangan harap bisa menolak apa yang nantinya akan Umi lakukan untuk kamu, besok sampai selesai salah ashar, Umi tunggu, bawa laki-laki itu ke rumah.” “Umi ... ayolah, jangan seperti itu, Naya ....” Uminya sudah pergi tak mendengarkan dia berbicara lagi, entah harus bagaimana caranya mendapatkan pasangan dalam waktu yang tidak memungkinkan itu. Jangankan sehari, bertahun-tahun pun Naya selalu gagal mendapatkan yang terbaik, belum satu pun mendapat apa yang dia inginkan. “Gimana caranya? Duh, berpikir ayo ... kamu pasti bisa, Nay. Pikirkan baik-baik bagaimana caranya.” Sedangkan di dalam kamar, sepasang suami istri sedang beradu argument yang sangat bertentangan, si istri tidak mau kalah sedangkan si suami yang tetap saja membela anaknya, tak ada keputusan yang dapat mereka pecahkan, terlebih lagi keduanya sama-sama saling egois. “Jangan terlalu keras mendidik anak perempuan! Kamu bisa membuatnya semakin menjadi-jadi, jangan lakukan itu ... ayo, cepat kamu katakan padanya, membatalkan semua ide gilamu itu.” “Apa kamu bilang? Ide gila? Aku nggak gila, harusnya kamu dukung aku, jangan terlalu memanjakan anakmu itu!” “Kamu lupa dengan kejadian Nara dulu hmm? Dia meninggal dunia karena kesalahan kita! Yang terlalu mengekang dia, sampai lalai dalam menjaganya, kesehatannya memburuk pun kita tidak tahu! Orang tua macam apa kita, Umi!” Benar, apa yang dikatakan oleh suaminya memang benar begitu adanya, mungkin kata maaf pun tak akan pernah cukup untuk menebus semua kesalahan yang sudah terjadi di masa lalu, terlebih lagi Naya sangat membenci kejadian waktu itu. “Kenapa nangis? Mikir! Jangan terlalu keras sama dia, mana bisa dia mendapatkan pasangan dalam waktu sehari, ini di negara orang! Lebih berpikir lagi, Umi! Anak kita bukan jalang, yang bisa mendapatkan pasangan dalam waktu secepat itu!” Kali ini, lagi dan lagi benar. Namun, keegoisan seperti seorang ibu kandung yang keras kepada anaknya, tak bisa digoyahkan begitu saja walaupun hatinya sempat tersentuh dengan semua ucapan suaminya tadi. Naya pun sudah ke luar rumah untuk segera menyelesaikan tugas dari uminya itu, apapun itu caranya, Naya harus bisa mengalahkan uminya. Jangan sampai hidupnya terus-menerus diatur begitu saja, dia sudah dewasa, bukan lagi anak kecil. Pada saat Naya akan mengambil cemilan berwarna hijau itu, ada tangan kekar yang lebih dulu sudah mengambilnya, keduanya saling tatap dan mulai tersadar di saat Naya mengedipkan matanya ke arah laki-laki itu. “Eh, ada Zaki lagi. Gimana? Perutnya udah baikan?” tanya Naya. “Ah, iya itu sudah membaik kok. Kamu belanja juga?” Zaki tetap cool walaupun dirinya sendiri dag-dig-dug berada di dekat Naya. “Menurut kamu ... kalau ada orang yang masuk ke supermarket, dia ngapain selain belanja hmm?” Naya sengaja menggoda Zaki lagi, karena kejadian di restoran waktu itu membuatnya ketagihan menggoda Zaki. “Ada tiga kemungkinan, sih, pertama untuk belanja, kedua untuk melihat-lihat saja karena uangnya tidak cukup, dan yang ketiga ....” Zaki menggantung ucapannya. “Yang ketiga apa hayo ... apa tuh,” cicit Naya. “Hmm, tidak mungkin kamu lakukan yang ketiga, sih.” Naya lebih mendekatkan diri lagi dengan Zaki, sampai tak tahu berapa jarak diantara mereka lagi saat ini, napas Zaki memburu entah kenapa dia hanya bisa seperti itu bersama Naya saja. Dulu memang pernah merasakan hal seperti itu, dengan wanita yang bernama Karina, tetapi sudah hilang seiring berjalannya waktu, sekarang kembali bangkit dengan wanita lain, yang tak lain adalah Naya. “Yang ketiga apa ih, lama banget.” “Kamu wanita baik, tidak mungkin melakukan itu, karena yang ketiga perbuatan kriminal,” cecar Zaki. “Wahhh, oh, iya? Apa tuh, Zak?” “Mencuri,” jawab Zaki pelan. “Mungkin loh itu, mungkin aja, kan? Aku nggak bawa uang dan kartu apapun lalu ... mencuri.” “Untuk orang kaya tidaklah mungkin, Nay.” “Emang masih yakin kalau aku ini anak orang kaya hmm?” “Yakin, tidak tahu kenapa bisa seyakin ini. Tidak mungkin juga kamu mencuri soalnya ....” “Benar apa kata kamu, Zak, aku nggak mungkin mencuri barang-barang yang ada di sini, tapi mungkin aja aku berniat untuk benar-benar mencuri hati kamu.” “Hah? Maksudnya, Nay?” Zaki terkejut bukan main. Naya tersenyum manis, lalu mencubit pelan pipi Zaki dan membisikkan kata-kata, “Bisa aja, kan? Kalau kita jadi aku dan kamu? Lalu menjadi kita.” “Ah, kamu apaan, sih, astaghfirullah. Sudah, ya, saya duluan mau bayar dulu, permisi.” Zaki terbirit-b***t menuju ke kasir sembari mendorong troli tersebut, sedangkan yang dilakukan Naya saat ini adalah tertawa terbahak-bahak, benar-benar unik dan langka laki-laki seperti itu, harusnya dia yang menggoda Naya, lah ini? Kebalikannya. “Dasar, kamu benar-benar lemah seperti lambung kamu, Zak. Masa baru digoda gitu doang langsung pergi ha ha. Ah ... kenapa dibiarkan pergi? Kenapa nggak dia aja? Yang aku jadikan ....” Naya pun dengan cepat mengejar Zaki, jangan sampai dia kehilangan laki-laki itu hari ini, karena hidupnya akan segera berakhir besok, uminya tak akan mungkin bisa melepaskannya jika belum juga mendapatkan pasangan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN