Rata-rata durasi penerbangan nonstop dari Indonesia ke Turki adalah 23j 15m, mencakup jarak 9670 km. Rute paling populer adalah Jakarta - Istanbul dengan rata-rata waktu penerbangan 11j 55m.
11 jam 20 menit adalah rata-rata waktu penerbangan dari Istanbul ke Jakarta. Ada satu maskapai penerbangan yang terbang langsung dari Istanbul ke Jakarta.
Karena tidak tahu harus bagaimana lagi caranya untuk sampai ke Bandung, dengan terpaksa Naya bermalam di hotel Jakarta, dia harus sehat untuk berjuang nantinya jangan sampai kelelahan di perjalanan bisa membuatnya kalah dengan sakit, demi Zaki, dia sudah memberanikan diri minta izin ke orang tua dan juga pihak rumah sakit, untuk cuti terlebih dahulu dalam waktu yang belum bisa ditentukan sampai kapan.
Naya merebahkan tubuhnya di ranjang itu, dari kemarin pun belum ada kabar sama sekali dari Zaki, sengaja dia pun belum memberitahu Zaki kalau sudah sampai ke Indonesia, perlu waktu untuk beristirahat terlebih dahulu sebelum benar-benar berjuang.
Yang dilakukan Zaki pun sama, dari kemarin sampai saat ini masih mempersiapkan list tantangan untuk kedua wanita itu, tidak disangka yang datang duluan adalah Alesya, begitu gesit pagi-pagi sudah datang, segitunya kah? Zaki hampir saja kepedean.
“Ngapain itu? Sibuk sama kertas terus, jangan bilang lagi kerja?”
“Itu bukan urusan kamu, jangan banyak tanya deh, kalau tidak mau gugur sebelum berperang.”
“Gimana produk baru? Udah ada yang endorse belum? Siapa tahu butuh bantuan,” cicit Alesya.
Zaki mendengarkan tetapi sikapnya berubah untuk lebih acuh saja, toh peperangan pun belum dimulai, dia harus adil walaupun berharap yang menang adalah Naya, jangan sampai terlalu memperlihatkan ketidaksukaannya pada Alesya.
Yang sedari tadi berusaha sabar pun ternyata tidak bisa sesabar itu, dia hanya bisa mengepal kuat tangannya, image sebagai wanita berpendidikan jangan sampai rusak hanya karena seorang laki-laki seperti Zaki.
“Kapan wanita itu akan datang? Dari kemarin loh lama banget.”
“Emang kamu pikir dari Turki ke Indonesia itu cepat? Secepat kamu menerima perjodohan ini? Hmm? Tidak, kan? Kalaupun sudah sampai pasti dia istirahat dulu, jangan berlebihan deh,” cecar Zaki.
“Ihhh, sinis banget. Udah berapa lama kamu sama dia?!”
“Lama, lama banget malah.”
“Udah pernah ngapain aja? Di luar sana, kan, bebas hidupnya dan ....”
“Pernah ciuman, pernah satu ranjang! Puas?” Zaki rupanya tengah menantang seorang Alesya.
Kedua mata mereka saling tatap lebih tepatnya melototi satu sama lainnya, mendengar Zaki berkata seperti itu membuat Alesya sakit perut, tentunya tidak mungkin seperti itu, karena kedua orang tuanya Zaki sangat menjamin akan kebaikan anaknya.
“Kenapa? Cengengesan tidak jelas.”
“Emang kamu pikir aku percaya? Hah? Ha ha, yang ada mules dengarnya juga, nggak mungkin.”
“Kok tidak mungkin? Sok tahu, kamu selama ini cuma tahu saya sebagai rekan kerja daring, tidak tahu selebihnya,” cicit Zaki.
Alesya mendekat, dan berkacak pinggang di hadapan Zaki dengan tampangnya yang judes tetapi elegan dilihat, bahkan Zaki sendiri sering terpesona tanpa mau jujur akan itu semua.
“Makanya, kalau kerja sama itu harus cek dong photonya, orangnya kayak gimana, cantik apa nggak, biar tahu, jangan kayak kamu, Zak, aneh banget. Gimana coba kalau ditipu? Bisa aja, kan, kalau kamu begitu sikapnya.”
“Iya memang benar, sih, saya sudah tertipu, sadis banget malah,” cecar Zaki.
“Ditipu sama siapa kamu? Alah paling bohong lagi.”
“Kamu, iya kamu. Orang yang sudah menipu saya! Kamu pikir saya tidak tahu selama ini kamu bekerja sembari cari tahu informasi mengenai saya, jangan kamu pikir saya bodoh, dasar licik huh.”
“Tahu dari mana kamu hei? Aku nggak ....”
“Wanita itu rumit, bikin pusing, makanya saya lebih baik gila bekerja dibandingkan gila sama cinta, pembodohan! Ah, kamu diam dulu deh, saya harus fokus menyelesaikan ini semua.”
“Dasar judes! Jadi laki-laki kok judes.”
“Biarin, kalau saya baik terus, semua wanita bisa salah paham terus, nanti kepedean lagi, ujung-ujungnya saya lagi yang harus tanggung jawab, menikahi semua wanita yang baper sama saya? Habis harta ini kalau punya istri banyak.”
“Udeh deh, Zak, cukup kamu jelek-jelekin diri kamu sendiri, aku udah tahu kamu sebenarnya seperti apa, cukup, oke? Nggak perlu segitunya juga biar aku mundur, aku nggak akan mundur, Zak.”
“Apa, sih, lagian kamu cantik dan sukses kenapa juga masih mau dijodohkan, cari aja sendiri emang tidak bisa? Apa tidak laku ha ha.”
Pletak.
“Awww, sakit Alesya! Kenapa kamu jitak saya?” Zaki mengaduh sembari memegangi keningnya yang jadi korban.
“Terus kamu maunya apa? Dicium gitu? Ngarep banget, nggak akan.”
“Yey, lagian siapa coba yang pengen, tidak mau!”
“Huh, dasar cacing.”
“Cacing? Dasar tikus!”
Zaki tak terima dirinya dikatai cacing oleh Alesya, mereka terus saja berdebat dengan sikap yang super kekanak-kanakan, tidak ingat umur sampai melupakan ibunya Zaki yang sedari tadi terkekeh melihatnya.
“Ha ha, kalian ini kayak bocah, ha ha duh perut Ibu jadi sakit ketawa terus.”
“Ibu?” Zaki dan Alesya bahkan kompak, membuat ibunya Zaki semakin terkekeh.
“Kalian cocok, sama-sama gila, Nak, ha ha, duh untung saja kalian kebanggaan Ibu, permisi, ya, ha ha.”
Alesya membelakangi Zaki, begitupun dengan Zaki yang saat ini tengah cemberut tidak ingin melanjutkan pembicaraan apapun lagi, diam mungkin lebih baik daripada emosinya memuncak sampai berlebihan.
Zaki meneruskan tulisannya, dia sudah menyelesaikan semua pekerjaannya, tantangan sudah disiapkan tinggal dijalankan saja nanti, secepatnya Zaki akan bisa bernapas lega.
Dari pagi hingga selesai salat zuhur, Alesya masih saja mengintil di belakang Zaki, tidak mau kecolongan apalagi kalah satu langkah, meskipun Zaki sangat menyebalkan, tetapi itu semakin membuat Alesya tertantang.
“Permisi, assalamualaikum, akhirnya aku bisa ketemu sama rumah kamu, Zak.”
Keduanya menoleh, apalagi saat ini Zaki sedang duduk di ayunan depan rumahnya, begitupun juga dengan Alesya kini dia sedang duduk di tanah, seperti anak kecil yang sedang marahan, membuat Naya terkekeh melihatnya.
“Ha ha, kalian kenapa? Lagi mkkb kah? Masa kecil kurang bahagia, datang-datang langsung disuguhkan dengan lelucon,” ucap Naya.
Alesya yang melihat Naya sudah terlihat baik pun semakin takut kalah, wanita yang Zaki ceritakan ternyata memang benar idaman semua laki-laki, rambutnya pun lebih panjang dari dirinya, sampai insecure.
“Kamu ini, waalaikumussalam. Jangan ketawa lagi, saya jadi malu,” jawab Zaki.
Sedangkan Alesya hanya menjawab salamnya dari dalam hati, dia merasa malu dengan keadaan seperti sekarang, nyalinya yang besar menciut seketika, melihat saingannya luar biasa good looking.
“Kalian kenalan dulu saja, saya mau siapkan minum dan cemilan, ingat ini di Indonesia lebih tepatnya di desa, jangan ribut apalagi masuk ke dalam rumah, sebelum kedua orang tua saya pulang, mereka lagi ada urusan,” titah Zaki.
“Tapi, aku pengen ikut masuk, pengen ganti pakaian, Zak.”
“Itu saja, kan?”
“Iya ih, aku cuma pinjam kamar aja, nggak lebih.”
Zaki mengiyakan, Alesya tak tinggal diam, dia langsung berlari ikut masuk ke dalam rumah juga tanpa seizin Zaki, tidak adil baginya jika cuma Naya saja yang boleh masuk, meskipun alasannya jelas tetap saja tidak akan membiarkan mereka berduaan di dalam rumah.
Zaki sendiri tidak tahu kalau Naya masuknya ke kamarnya, karena yang dia suruh harus masuk ke kamar tamu saja yang ada di dekat dapur, nyatanya dia terjebak dan menutup mulutnya karena tak sengaja melihat Naya tengah mengganti pakaiannya.
Buru-buru Zaki menutup kembali pintu kamarnya, dia berjalan ke dapur dengan napas yang memburu, kenapa bisa dia berdiri padahal sedang menggoreng gorengan pisang di wajan, tak tahan menahannya, Zaki masuk ke dalam kamar mandi, membuat Alesya terdiam memperhatikannya.
“Zaki bisa berdiri karena dia? Kalau karena aku bisa nggak, ya?” Alesya pun terlihat lebih murung.
Melanjutkan apa yang Zaki tinggalkan di dapur, air matanya menetes, apa Zaki sudah melihat yang tidak seharusnya di dalam kamar? Atau bahkan mereka ... Alesya bingung dengan perasaannya sendiri.
“Kamu ngapain? Sini, saya teruskan. Kamu ke sana temani Naya, kita ngobrol di luar lagi,” titah Zaki yang tiba-tiba datang.
“Gapapa, biar aku aja, kamu temani aja dia di kamar, mumpung nggak ada siapa-siapa, nanti ....”
“Kamu bicara apa, sih? Ngawur, sudah lanjutkan jika kamu mau, nyebelin!”
Kamu yang nyebelin, Zak, aku sedikit kecewa sama kamu hari ini, jangan sampai aku mundur sebelum perang dimulai.
***
“Nay, terima kasih kamu sudah memakai pakaian yang lebih sopan, supaya nanti orang tua saya tidak berkomentar.”
“Aihh, gapapa lagi, ini udah jadi prinsip aku kalau di Indonesia harus lebih sopan lah, melihat rumah lamaku di Jakarta seperti rindu aja gitu, sayangnya hanya bisa memandang dari jauh terus tidurnya di hotel deh.”
“Semoga secepatnya bisa digapai lagi rumahnya, Nay, dan bisa kamu tempati lagi,” ucap Zaki.
Naya hanya tersenyum, dia sendiri yang terpesona akan ketampanannya seorang Zaki di siang hari, sangat luar biasa membuatnya goyah ingin sekali mencintainya lebih dari yang dia beranikan.
“Zak, kalau aku pakai perasaan boleh, kan?” tanya Naya.
“Kalau kamu mau, silakan. Jangan dipaksakan saja.”
“Tapi, kamu sendiri cinta nggak, sih, sama aku? Hmm ada rasa suka nggak, sih.”
“Suka, suka kok,” jawab Zaki.
“Cinta sama aku juga kah?”
Prakk.
Tidak sengaja Alesya menyenggol vas bunga, untung saja tidak sehancur perasaannya, hanya terbelah dua saja vas nya. Membuat Zaki menggeleng melihat itu semua, mungkin saja Alesya mendengarkan semuanya, Zaki tahu itu.
“Maaf, ini makanan sama minumnya, aku akan bereskan itu terlebih dahulu,” ucap Alesya menyimpan hidangannya terlebih dahulu di meja.
“Aku bantu boleh?” tanya Naya.
“Gapapa, nggak usah, kamu nanti kotor, kan, udah ganti pakaian, nggak baik kalau dilihat terus sama cacing, nanti cacingnya makin panjang.”
“Hah? Maksudnya?” Kali ini Zaki dan Naya yang kompak.
“Nggak kok, silakan lanjutkan ngobrolnya.”
Naya pun mengangguk, hanya saja Zaki belum bisa tenang sebelum benar-benar memastikan apa yang sebenarnya Alesya maksud tadi, kebetulan Naya izin ke kamar mandi, Zaki bisa bertanya langsung sebelum Naya kembali.
“Jawab saya, ada apa dengan kamu? Beda banget, apa yang terjadi?” tanya Zaki pelan.
Alesya menatap Zaki setelah selesai merapikan kembali apa yang sudah dia perbuat, “Jaga kedua mata kamu, Zaki, karena kita nggak tahu siapa yang akan berjodoh sama kamu nanti, bagaimana jika itu aku? Kalau aku, nggak akan ikhlas jodohku melihat sesuatu yang seharusnya nggak dilihat.”
“Kamu menyangka saya melihat Naya telanjang? Iya? Gitu, kan, kamu mikirnya?” tanya Zaki.
“Kan, emang begitu kenyataannya, Zak.”
“Kamu salah paham, saya memang tidak tahu kalau ternyata Naya ganti pakaian di kamar saya, maklum juga dia baru datang, bukan salah saya dong?”
“Salah kamu itu udah melihat dia ....”
“Saya tidak seperti itu, yang saya lihat cuma ....”
“Udah cukup! Aku mau pulang ke rumah bibi kamu aja, kamu puasin aja berdua, mumpung kedua orang tua kamu belum pulang.”
Zaki menghentikan langkah Alesya, tangannya yang dipegang erat oleh Zaki langsung memerah karena terlalu erat, membuat Alesya kesaktian akan itu.
“Lepas, Zak, kamu apaan, sih, lepasin, aku cuma mau ke rumah bibi kamu aja kok.”
“Kamu salah paham, Alesya, saya TIDAK MELIHAT seperti yang kamu pikirkan, saya cuma tidak sengaja melihat dia dari belakangnya bukan penampakan dari depannya, kamu mengerti maksud saya.”
Alesya tersenyum, “Aku nggak percaya, aku ....”
“Kamu cemburu? Iya? Lagian untuk apa cemburu, kamu mau dijodohkan dengan saya hanya untuk berbakti, kan? Jadi jangan pakai perasaan.”
“Kenapa aku nggak boleh pakai perasaan sedangkan Naya boleh? Itu namanya nggak adil.”
“Karena dari awal saya sudah menyukainya, sebelum terjadi kesalahpahaman pun sudah terjadi perasaan itu, asal kamu tahu itu, Alesya.”
“Kamu mencintainya? Tapi, kamu ....”
“Ehemmm, ada apa, nih? Kalian lagi bahas apa, sih, aku lama banget, ya di kamar mandi, maaf banget,” ucap Naya tiba-tiba.
“Ah, tidak kok, kamu cobain deh ini adonannya memang buatan ibu, tapi yang memasaknya saya,” titah Zaki menyuapi Naya pisang goreng.
Membuat tangan Zaki yang tadinya memegangi tangan Alesya terlepas, membuat tangan itu memerah dan Alesya terkena mental juga melihat mereka bermesraan secara langsung di hadapannya, jadi memang Naya wanita yang dicintai oleh Zaki, hanya saja Zaki belum siap mempublikasikan semua itu.
“Zak, aku pulang, ya,” ucap Alesya.