Alesya pamit pergi pun tak dihiraukan oleh siapapun, hatinya sakit diperlakukan seperti itu, terutama oleh Zaki, laki-laki seperti itu kah yang akan menjadi suaminya nanti? Untuk mundur pun tak bisa semudah itu, banyak hal yang harus dipikirkan terlebih dahulu sebelum memutuskan suatu keputusan.
Walaupun hatinya merasa sakit, dia mengurungkan niatnya untuk pergi, dia harus bisa mengambil hati Zaki sampai kapanpun dia tak akan menyerah begitu saja, sampai dirinya lelah dan tak sanggup lagi untuk maju.
“Loh, katanya tadi kamu mau pergi? Kenapa datang lagi?” tanya Naya yang tengah menikmati gorengan pisang itu.
Zaki hanya menatap tanpa ingin bertanya apapun pada Alesya, karena sebelumnya dia sudah sangat yakin, pasti tidak akan mungkin benar-benar pergi begitu saja, pada akhirnya dugaan Zaki memang benar.
Begitu elegannya seorang Alesya duduk kembali di hadapan dua orang itu, melupakan rasa sakitnya demi mencapai apa yang seharusnya dia capai, persaingan sudah dimulai dari tadi, dia tak akan mau menyia-nyiakan kesempatan itu.
“Aku juga mau dong gorengannya, masa dia doang yang makan,” cetus Alesya.
“Ini cuma sisa dua lagi, untuk aku dan Zaki, kamu masak lagi aja lah,” sahut Naya.
“Kalau kamu mau, masak sendiri masih banyak tuh mentahannya di dapur, jangan manja,” ucap Zaki.
“Baiklah, awas kalau nanti kalian pengen lagi,” cicit Alesya mengalah kali ini.
Tanpa sepengetahuan Alesya, sebenarnya Zaki sudah menyediakan untuknya khusus dipisahkan di dapur, yang dibawa ke luar hanya sebagian saja, padahal yang membawa nampan tadi Alesya, dia sendiri sampai tidak sadar untuknya dipisahkan khusus.
Pada saat Alesya menatap meja dapur, kedua matanya membulat terkejut, bagaimana bisa pisang goreng itu masih ada? Utuh dan masih panas. Alesya berpikir keras akan semua itu, kenapa tadi di saat dia ke dapur tidak ada.
“Ini siapa yang siapkan? Hmm, aneh banget deh.”
Apapun itu yang sudah terjadi, Alesya langsung membawa makanan tersebut ke luar sembari menikmati betapa enaknya pisang goreng yang masih panas.
“Mau lagi dong aku, boleh, kan?”
“Nay, jangan gitu, tadi kita sudah makan banyak,” sahut Zaki.
“Iya deh, asal kamu harus mau kasih tumpangan tidur malam ini, hemat aku ah selama di Indonesia,” ucap Naya.
“Nggak bisa gitu dong, kamu itu seorang wanita lajang, apa kata orang sini coba kalau mereka tahu ada wanita asing tidur di rumah ini, aku aja nginep di tempat lain kok, jangan samakan luar negeri dan Indonesia dong,” cecar Alesya mulai sinis kepada Naya.
“Sudah ... sudah, kalian bertengkar tidak akan menyelesaikan masalah, lebih baik kamu ikut Alesya menginap di rumah bibi saya, dia adik kandungnya ibu, jadi insya Allah aman,” ucap Zaki.
“Tapi, Zak aku ....”
“Nay, kamu harus bisa nurut selama itu baik untuk kamu,” kata Zaki penuh penekanan.
Naya tersenyum lalu mengunyel pipi Zaki di depan Alesya yang masih mematung tidak bisa berkata-kata lagi selain hanya bisa diam, bagaimanapun caranya tetap saja wanita itu masih unggul berada di depan dirinya.
Padahal itu memang sikap Naya dari awal kepada Zaki, hanya saja Alesya baru pertama kalinya melihat itu semua dengan kedua matanya langsung.
Membuat Zaki dengan sengaja bersandiwara seolah-seolah dirinya pun sama seperti Naya, padahal yang sebenarnya Zaki hanya ingin tahu siapa yang paling tepat diantara kedua wanita tersebut dengan cara mengujinya seperti itu.
“Cukup sudah kita bercanda, sudah saatnya saya beritahu apa saja ujian atau bisa dibilang tantangan untuk kalian berdua, sebelumnya saya sudah menulis list dari kertas, malas kalau ngetik di laptop, kalian baca saja nih, jangan berebut, kertasnya cuma ada satu,” ucap Zaki.
Naya dengan cepat membaca terlebih dahulu, sedangkan Alesya lagi dan lagi harus mengalah belakangan, daripada kertas itu robek, Alesya memilih untuk diam terlebih dahulu menunggu giliran.
Yang paling mengejutkan bagi Naya adalah tantangan paling pertama atau bisa dibilang yang paling super, harus bisa belajar menutup aurat seperti memakai jilbab? Itu yang menjadi hal tersulit bagi Naya sendiri, sedangkan di saat Alesya membacanya, dia terlihat biasa saja, toh selama ini pekerjaannya endorse jadi sudah terbiasa memakai jilbab walaupun dulu hanya sebatas pekerjaan.
“Kok harus pakai jilbab, Zakun? Aku nggak mau!” rengek Naya.
“Kenapa? Apa kamu keberatan? Tidak ada salahnya kok toh kalian berdua perempuan muslim,” sahut Zaki.
“Benar itu, ngapain protes? Nggak ada permasalahan apapun hanya memakai jilbab, dan belajar istiqamah aja, masa susah, sih,” cecar Alesya.
Zaki menatap satu-persatu wanita itu, dia mengamati dengan seksama, ternyata ujian mengenai jilbab dimenangkan oleh Alesya, tanpa mereka sadari sebenarnya itu paling penting, hanya saja Zaki menahannya terlebih dahulu sampai semua ujian dan tantangan dapat terselesaikan.
“Ya udah deh, aku akan belajar, hmm umi emang pakai jilbab juga, tapi aku belum terbiasa, kalau pekerjaan aku melarangnya bagaimana, Zak?” tanya Naya.
“Masa, sih, perawat tidak diperbolehkan untuk memakai jilbab? Pasti boleh kalau kamu sendiri yakin dengan keputusan tersebut,” tegas Zaki.
“Semoga bisa deh, ihhh nyebelin deh kamu, Zak.”
“Lah iya, saya memang menyebalkan dari dulu, ke mana saja? Sudah, kalian baca dan pahami dulu, jangan banyak tanya lakukan saja apa yang kalian bisa jangan dipaksakan jika tidak mau, bisa kalian tolak, saya beri kalian peluang untuk menolak tiga kali, selebihnya harus nurut, paham kalian?”
Alesya dan Naya pun mengangguk walaupun diantara tantangan itu tentunya ada beberapa yang sangat memberatkan diri mereka masing-masing, mau tidak mau harus dilakukan sampai masa persaingan itu berakhir, diantara keduanya benar-benar tak ingin ada yang kalah, tentu karena keduanya sama-sama takut akan kedua orang tua mereka masing-masing jika sampai gagal.
Setelah memahami apa yang ada di kertas itu, Alesya orang yang paling pertama menatap Zaki dengan tajam, dia yakin pasti bisa menolak tiga yang sudah ditentukan itu, jangan sampai melakukannya hanya karena terpaksa.
“Aku dulu, ya, ada tiga yang akan aku tolak, Zak,” ucap Alesya.
“Oke, sebutkan jangan berbelit-belit, kasian Naya dia pun punya giliran untuk berbicara,” jawab Zaki tersenyum ke arah Naya.
Alesya berusaha kuat, setelah dirinya menghela napas panjang lalu menyebutkan tiga penolakan yang sudah dia pahami sebelumnya, dia tidak ingin disangka munafik oleh semuanya, apalagi berurusan dengan aib diri sendiri.
“Aku menolak untuk mengatakan masih perawan atau nggak, bagi aku itu aib diri sendiri, Zak, jika laki-laki tersebut memang tulus mencintai, nggak akan mempermasalahkan semua itu.”
“Yang kedua, untuk apa kamu ingin tahu siapa saja masa laluku? Laki-laki mana saja yang pernah ada di hidup aku, sangat nggak penting untuk dibahas.”
“Dan yang terakhir, ini jauh lebih penting lagi, aku menolak untuk berhenti meminum anggur ungu, aku paham apa maksud kamu, Zak!”
Zaki tentu sangat terkejut mendengar semua ucapan Alesya barusan, tiga penolakan itu yang paling sensitif, tetapi dengan tegas dia tolak mentah-mentah, dengan alasan yang mungkin hanya merugikan Zaki. Selain itu, Naya pun ikut-ikutan tak menyangka dengan apa yang sudah Alesya ucapkan.
“Kalau kamu apa, Nay? Katakan, langsung!” titah Zaki.
“Sebenarnya ... aku cuma keberatan sama jilbab aja kok, bukan masalah aku berdosa pada Allah, aku cuma nggak mau berjilbab hanya karena untuk sebuah permainan, apalagi mengenakannya karena untuk memenangkan hati laki-laki,” jawab Naya.
“Ditambah diri aku belum siap, Zak, itu aja kok, hanya pakai izin tolak satu aja, selebihnya aku setuju,” sambung Naya membuat Alesya terkejut.
“Sudah itu saja yang kalian tolak?” tanya Zaki pada kedua wanita itu.
Keduanya pun mengangguk, Zaki menghela napas berat karena mendengar jawaban mereka semua, hal yang paling penting malah ditolak, apa yang harus Zaki lakukan selanjutnya? Dia semakin bingung harus memilih yang mana.
Karena baru babak awal pun sudah tahu siapa yang jadi pemenangnya, hanya saja Zaki belum sepenuhnya yakin karena masih banyak pertimbangan terutama mengenai cinta, untuk siapa cintanya? Mengenai Zaki mengatakan cinta terhadap Naya, itu semua bohong, hanya untuk membuat Alesya cemburu saja.
Padahal hatinya masih memilih masa lalunya, yaitu Karina. Belum bisa berpindah hati lagi, sulit untuk melupakan cinta pertama dalam hidupnya itu.
***
“Hei? Kenapa kamu bengong? Buruan, selanjutnya kita harus ngapain,” tanya Naya membuyarkan lamunan Zaki.
“Eh, iya maaf, karena kalian sudah menolak yang tidak ingin dilakukan, maka tahap selanjutnya adalah ... pendekatan.”
“Gimana tuh? Jangan yang aneh-aneh,” ucap Alesya.
“Tidak, untuk besok Senin hari saya bersama kamu Naya, dan Selasa sama kamu Alesya, maksudnya itu saya harus merasakan sendiri, siapa, sih, yang benar-benar saya yakini.”
“Hanya dalam satu hari?” tanya kedua wanita itu.
“Setelah Selasa pasti ada hari selanjutnya, nah terus saja bergantian sampai saya rasa cukup, dan pastinya akan adil jumlah harinya,” sahut Zaki.
Kedua wanita itu pun setuju, karena yang pertama akan diuji adalah Naya, terpaksa dia ikut menginap di rumah bibinya Zaki, karena tujuannya untuk memenangkan hatinya Zaki, apapun akan Naya lakukan selama itu baik untuk dirinya.
Sore harinya kedua orang tuanya Zaki sudah berkenalan dengan Naya, walaupun awalnya terlihat sangat jengkel dengan ulah Naya yang seperti anak kecil, tetapi lama-kelamaan mereka membiasakan diri masing-masing untuk menerima, sampai malam pun Zaki masih berdiam diri di teras rumah untuk merenungkan kembali apa yang akan terjadi besok.
“Kenapa saya belum bisa memastikan hati ini untuk siapa lagi? Ahhh, lebih baik fokus bekerja jika tahu urusan cinta serumit ini, pusing sekali.”
Di saat Zaki melihat sss nya, di sana Humaira mengirimkan semua kerja sama terbaru yang sangat menguntungkan perusahaan Zaki, membuatnya lupa akan kegundahan mengenai cinta, kembali gila bekerja seperti dirinya yang dulu.
“Nah, ini baru kebahagiaan, bukan cinta yang merumitkan seperti tadi.”
Keesokan harinya, hari di mana Zaki harus benar-benar menguji Naya. Pertemuannya di Turki sangat singkat, jadi sangat perlu ujian yang paling inti untuk mencapai apa yang dia inginkan dalam niatnya itu.
“Zak, mandi di sini dingin banget, aku sampai kedinginan tadi subuh,” ucap Naya.
“Salat subuh, kan, Nay?” tanya Zaki.
“Nggak, Zak, aku lagi kedatangan tamu.”
“Oh, iya.”
“Terus hari ini kita mau ngapain?”
“Saya juga tidak tahu, Nay.”
“Idih, kamu apaan, sih, yang ngajakin kamu, tapi yang bingung juga kamu, Zakun!”
“Saya memang punya jakun, tapi itu bukan nama saya!”
“Iya napa iya, kok kamu jadi judes, Zak? Bukannya kita sebelumnya ....”
“Kalau saya godain kamu seperti di rumah sakit waktu itu, yang ada kamu kepedean, padahal belum tentu jadi pemenangnya.”
“Jadi, kamu nggak cinta sama aku, Zak?”
“Jangan tanya soal hati, ayo, ikut saya.”
“Ihhh, mau ke mana? Jangan yang aneh-aneh.”
Zaki hanya menggeleng sambil tersenyum, akhirnya mereka pun berjalan kaki menuju ke tempat yang sangat indah, yaitu sawah yang hijau, membuat Naya memperlihatkan sikapnya yang sesungguhnya.
Dia berjalan dengan senang, tanpa memedulikan Zaki yang sedari tadi tak henti-hentinya menertawakan Naya, membuat keduanya lupa kalau harus ada batasan diantara keduanya.
“Yakin nggak akan nyesel pegang terus tangan aku? Hmm?”
“Ehhh, bukan seperti itu, Nay, tadi saya cuma takut kamu jatuh saja, soalnya ....”
“Hayooo, soalnya apa hayoo?”
“Ya, soalnya kamu jalan kayak bebek, sambil dilihat jalannya dong, bisa jadi nanti kamu masuk ke lubang atau apalah gitu.”
“Ngelesnya nggak banget, ha ha, dasar Zaki, nggak usah dilepas kalau emang dengan seperti itu membuat kamu nyaman.”
Zaki tetap melepaskan tautan tangannya bersama Naya, dia memalingkan wajahnya ke arah lain menahan rasa malunya sendiri, itu semua terjadi tanpa kesadarannya.
“Cieee yang baper sendiri, aku nggak keberatan kalau yang pegang itu kamu, karena aku yakin, yang jadi suami aku itu kamu.”
“Lah? Pede kamu, Nay.”
“Sebelum kita kena masalah, sebelum adanya kesalahpahaman antara kamu dan umiku, sebelum itu kamu udah kelihatan suka sama aku, Zak. Dari masjid biru, rumah sakit, sampai ke kencan buta, aku bisa nilai dari situ.”
Zaki tertegun mendengarnya, kenapa Naya bisa berpikir seperti itu? Naya hanya tersenyum menatap Zaki saat ini, keduanya sibuk memikirkan pikirkan mereka masing-masing, begitu rumit hanya karena kesalahpahaman.
“Andai kita nggak kena masalah, pasti kita udah bisa saling mencintai dengan jalur mandiri.”
“Maksud kamu, Nay?”
“Kita sama-sama orang dewasa, pasti kamu bisa paham apa maksud aku tadi, Zaki.”
“Tidak, lupakan saja. Ayo, kita ke sana,” ucap Zaki.
“Sampai kapan kamu mencintai dia, Zak? Yang mana orangnya? Masih satu desa sama kamu, kan? Mana? Aku mau tahu wanita seperti apa yang kamu cintai selama ini!” teriak Naya.