“Entah sampai kapan, mungkin sampai saya benar-benar bisa menemukan cinta yang baru,” ucap Zaki.
“Kalau begitu, izinkan aku mengejarmu, mulai sekarang,” kata Naya, memberanikan diri untuk maju selangkah lagi.
Awalnya memang dia melakukan itu semua hanya demi terbebas dari kedua orang tuanya yang selalu saja memintanya untuk segera menikah dengan laki-laki pilihan mereka, nyatanya lama-kelamaan Naya sendiri yang mulai terperangkap dalam hatinya sendiri.
Zaki hanya bisa mengangguk membiarkan Naya mendapatkan kesempatan untuk memenangkan hatinya, walaupun belum pasti bisa atau tidak mendapatkan hatinya yang sudah lama beku semenjak disakiti oleh masa lalu yang dulu.
“Serius aku boleh ngejar kamu?”
“Sewajarnya saja, saya tidak mau hanya karena saya, lalu kamu melupakan siapa Tuhan mu, itu saja.”
“Ya ampun, mengenai itu kamu jangan khawatir, Allah tetap nomor satu di hatiku, kamu nomor sekian, Zak.”
“Hah? Kok nomor sekian?” tanya Zaki.
“Kan, setelah Allah itu masih ada lagi, seperti Rasulullah, malaikat dan ....”
“Ssst, jangan main-main dengan agama, nyebelin kamu, Nay.”
“Yey, dibilangin kamu nomor sekian, terima aja kali, lumayan kamu masih muat di hati aku, Zak.”
“Tidak muat! Saya terlalu besar untuk kamu yang kecil!”
Naya melongo mendengar apa yang baru saja Zaki katakan kepadanya, ucapannya sangat ambigu sekali, buru-buru dia menggeleng sambil istighfar, siapa tahu yang dimaksud Zaki itu berat badan mereka, toh memang kenyataannya tubuh Naya lebih mungil.
“Mikir apa kamu? Ngeres pasti.”
“Ihhh, nggak kok, emangnya kamu tuh huhhh, baru lihat dadanya KFC aja udah berdiri tegak, apalagi lihat paha KFC.”
Zaki menjitak kepalanya Naya dengan gemas, jangan sampai kejadian di restoran dulu terulang kembali, bisa hancur martabaknya sebagai laki-laki cool, eh martabat.
Naya tahu apa yang tengah laki-laki itu pikirkan, dia hanya bisa terkekeh melihatnya, bisa-bisanya mulut bisa berbohong tetapi yang di bawah tetap tegak tetapi bukan keadilan, tanpa Zaki sadari saat ini.
“Awas tuh burung nya terbang loh, jagain ha ha,” sindir Naya langsung berjalan lebih dulu sebelum dirinya dipites kepalanya oleh Zaki.
Zaki dengan malu melihat ke bawah langsung panik sendiri dengan keadaan adiknya, dia mencari tempat yang aman tetapi tak ada juga, membuat Naya merasa bersalah pada Zaki yang saat ini tengah kewalahan sendiri.
Sebagai wanita yang sangat bertanggung jawab, Naya dengan cekikikan mengikuti Zaki ke manapun dia berjalan, sampai kaki mereka saling menginjak satu sama lainnya.
“Nay, kamu ke sana dulu gih, saya harus tidur dulu.”
“Apaan, sih, Zak, aku juga udah dewasa kali, mau aku bantu nggak?”
“Bantu apa? Sudah sana.”
Zaki tak berani menghadap ke arah Naya, tetapi dengan sengaja Naya terus saja mengajak Zaki untuk berdebat, padahal situasinya sedang tidak memungkinkan untuk terus-menerus cek-cok ucapan.
“Kamu mau aku pegang nggak? Siapa tahu langsung bobo lagi,” bisik Naya.
“Ish, awas ah!” Zaki langsung lari terbirit-b***t meninggalkan Naya seorang diri.
Naya langsung tertawa terbahak-bahak lagi, apalagi hampir saja Zaki terpeleset ke arah sawah jika tidak seimbang tadi, melihat seorang laki-laki yang sedang kewalahan seperti itu membuat Naya tak bisa berhenti tertawa, terlebih lagi tahu betul Zaki tidak akan mungkin meminta seorang wanita untuk membantunya selama belum menjadi istrinya.
“Tunggu aku, Zak, lain kali kalau kamu seperti itu lagi, akan ada aku yang selalu membantu kamu, ha ha.”
Di balik pohon rindang, Alesya mengepal kuat menahan amarahnya untuk ke sekian kalinya, dia melihat langsung lagi Zaki bisa langsung turn on setiap bersama wanita yang bernama Naya itu, hatinya sakit mendadak mempunyai rasa iri, belum pernah saat bersamanya Zaki bisa seperti itu.
“Awas aja kalian berdua, besok giliran aku! Aku akan balas kamu, Naya!”
Sebelum dia ketahuan sudah mengintip dan mendengarkan semuanya, Alesya dengan sangat hati-hati pergi tanpa menimbulkan suara, dia geram melihat semuanya dengan jelas seperti tadi, lebih baik dia segera mungkin menyusun rencana untuk besok, untuk bisa mendapatkan Zaki secepatnya.
Hanya itu salah satu cara untuk lebih cepat, dia sudah tak kuat melihat kedekatan Zaki dengan Naya seperti tadi, jangan sampai kedua orang tuanya merasa gagal mendidiknya jika dirinya yang kalah.
Naya tetap mengejar ke mana pun Zaki pergi, hanya saja tadi dia sempat ketinggalan jauh, sampai akhirnya bertemu lagi dengan keadaan adiknya Zaki sudah tidur kembali, membuat tanda tanya besar bagaimana cara melakukannya.
“Zaki ... kamu ....”
“Jangan dibahas, ayo, lebih baik kita cari sarapan yang enak, jangan kotor terus pikirkan kamu, Nay.”
“Tunggu dulu ih, kamu belum menjelaskan apapun dari tadi, gimana caranya? Aku kok jadi traveling, Zak.”
“Kamu wanita tidak usah tahu, saya lapar sekali jadi lemas nih, buruan ayo, atau saya tinggal nih.”
“Tuh, kan, lemas? Jadi lapar? Tadi kamu abis ngapain ih, aku kok jadi curiga.”
Zaki lelah menghadapi Naya yang luar biasa di luar dugaannya, ternyata Naya lebih pandai menggoda dibandingkan dirinya sendiri, Zaki sampai kewalahan sendiri menyikapinya.
“Jangan bilang kalau kamu main sendiri hayooo, dosa banget itu, Zak.”
“Bukan Naya bukan! Hih, kamu rese banget, buruan jalannya jangan lelet.”
Naya pun mengangguk, dia masih kepikiran apa yang sudah Zaki lakukan tadi, apapun itu Naya akan secepatnya bisa mendapatkan Zaki, dengan cara sportif, bukan dengan cara yang curang ataupun cara licik.
Ternyata Zaki mengajaknya sarapan bubur ayam di pinggir jalan yang sangat sejuk udaranya, memang baru jam setengah delapan pagi, tetapi rasanya seperti masih subuh. Zaki sudah memesan bubur dan tinggal menunggu saja, Naya dengan sikap cueknya terus saja bernyanyi di depan orang banyak, membuat Zaki kesemsem sendiri dengan suara merdunya itu.
“Waaah merdu pisan euy, beruntung anu jadi pasanganna.”
“Hooh benar pisan euy, apalagi bisa nyanyi Inggris kayak gitu.”
Masih banyak lagi yang memuji Naya secara terang-terangan, Zaki geram dengan amang-amang ojek itu, bisa-bisanya muji Naya di hadapannya seperti itu, Zaki menyenggol lengan Naya supaya dia berhenti bernyanyi.
“Jangan dilanjutkan! Atau saya pergi.”
“Iya napa iya, kamu kenapa coba marah-marah terus, masih pagi ini.”
“Suka-suka saya.”
“Huhhh, bilang aja kalau suara aku tadi merdu, sampai kamu nggak kuat dengarnya, ngaku aja kali.”
“Jelek! Suara kamu kayak bebek kejepit pintu.”
“Ihhh, Zaki! Nyebelin.
***
Baru pertama kalinya Naya makan bubur ayam Indonesia lagi seperti tadi, apalagi ciri khas Sunda banget, membuat pagi kali ini lebih berwarna terutama bersama laki-laki seperti Zaki, walaupun lebih sering menyebalkan, tetapi di balik itu semua ada kenyamanan yang diciptakan dengan sendirinya.
“Selanjutnya mau ke mana lagi?” tanya Zaki.
“Boleh antar aku ke mall? Ke mana kek intinya yang ada toko pakaian wanita, aku mau beli pakaian yang lebih sopan lagi, Zak, stok mau habis kebanyakan yang ada di koper pakaian itu kamu ngerti kok.”
“Tapi, katanya kamu lagi hemat sampai tidak mau ke hotel, sekarang mau belanja apa bedanya,” cetus Zaki.
“Ya, ini beda Zaki. Aku benar-benar nggak mau mengecewakan kedua orang tua kamu, ayolah, antar aku.”
Zaki pun mengiyakan, mereka lagi dan lagi berjalan kaki menuju ke tempat yang mungkin akan ditolak oleh Naya jika sudah sampai nantinya. Sengaja Zaki tidak membawa mobilnya di rumah, dia ingin tahu sosok Naya bisa hidup susah dengannya atau tidak.
“Baru kali ini aku joging pagi sama kamu he he, enak deh rasanya andai sambil digandeng tangannya.”
“Kamu anggap kita lagi joging, Nay?”
“Ya, sama aja, kan? Jalan kaki pagi-pagi itu sama seperti joging. Ke luar keringat sehat kalau seperti ini, aku suka.”
Zaki tersenyum, dia menahan dirinya sendiri untuk tidak bersikap pilih kasih lagi, walaupun kenyataannya poin terbanyak saat ini dimenangkan oleh Naya, orangnya polos tetapi menjengkelkan, tetapi itu juga yang membuat Zaki terpesona sejak di rumah sakit.
“Lah, kok ini pasar? Ngapain kamu ngajak aku ke pasar ih! Ngapain coba jauh-jauh.”
“Kan, kamu lagi hemat, makanya saya ajak ke pasar, semuanya lebih murah dan tidak akan membuat uang kamu habis dengan cepat.”
Naya menghentakkan kakinya, dia sebal karena jalannya becek banyak lumpur, dia takut tergelincir atau mungkin terpeleset, sepatu yang dia pakai licin, membuatnya ragu untuk melangkah lagi, bukan karena jijik ke pasar.
“Ayo, mumpung masih baru buka, kita tidak akan ngantri.”
“Nay, awas ....”
Untung saja Zaki dengan cepat meraih pinggang Naya yang hampir saja terjatuh karena sepatunya licin terkena tanah yang becek itu, tak sengaja pun Zaki menyentuh dadanya Naya karena sekuat tenaga menahannya.
“Maaf, saya tidak sengaja. Kamu gapapa, kan, Nay?”
Naya masih kesemsem sendiri, apalagi yang nolongin adalah pangeran kulkas yang akhirnya bisa memegang dirinya juga secara intens seperti tadi, kalau akan tahu seperti itu, Naya memilih untuk jatuh berkali-kali.
“Hush, jangan kotor dong pikirannya. Ayo, pegang tangan saya, tangan doang tapi, biar kamu tidak jatuh lagi,” titah Zaki.
Mereka pun berpegangan tangan sampai masuk ke pasar tersebut, tanpa melepaskan tangannya, Zaki memilihkan pakaian yang lebih pantas untuk Naya, walaupun menolak memakai jilbab dalam waktu dekat, Naya tetap mau pakai pakaian yang serba panjang itu.
Tanpa diduga pun ternyata yang membayar semua itu adalah Zaki, awalnya Naya sudah ketakutan karena pakaian yang mereka pilih banyak sekali, Naya hanya diberi uang secukupnya oleh kedua orang tuanya yang pelit itu, dia harus bisa hidup hemat.
“Hatur nuhun, Ibu, permisi.”
Zaki tetap memegangi tangan Naya karena jalanan yang mereka lewati hampir berlumpur semua, karena semalaman hujan deras, membuat Naya memanfaatkan momen itu bersama Zaki sampai benar-benar ke luar dari area pasar.
Setelah menjauh dari pasar, Zaki melepas tangan Naya dengan pelan, membuat Naya terharu, dia pikir akan kasar karena sedari tadi Zaki tahu Naya sudah memanfaatkan momen tersebut.
“Cukup, kan?”
“Hah? Apanya?”
“Pakaian yang tadi dibeli, Nay.”
“Oh, cukup banget kok, kalau habis ya tinggal dicuci aja he he.”
“Jangan anggap itu dikasih, ya, Nay, nanti setelah kamu pulang ke Turki, secepatnya ganti.”
“Loh gitu, sih? Memangnya kamu nggak ikhlas? Uang kamu banyak, Zaki! Pelit.”
“Bukan begitu, pamali kalau laki-laki belum menikah dengan wanita tersebut sudah membelikan barang yang berbentuk kain seperti baju, nanti kalau ada niat menikah suka gagal, jangan salah paham.”
“Masih percaya sama hal seperti itu? Ihhh, jangan percaya napa, Zak.”
Zaki tak mendengarkan sama sekali rengekan Naya sepanjang perjalanan kaki, dia melakukan itu bukan karena perhitungan ataupun sayang dengan uang, dia tidak mau ada kejadian buruk di masa depan nanti, yang dia sendiri tidak mau membayangkannya.
Sesampainya di rumah Zaki, mereka masih saling diam, terutama Naya yang tidak gembira seperti tadi, karena Zaki membuatnya salah paham. Padahal niatnya baik untuk masa depan, orang seperti Naya memang tak akan mengerti begitu saja.
“Orang tua saya kalau jam segini suka ke sawah, ngurusin yang panen, jangan masuk ke dalam bersama, ya? Kecuali kalau kamu ke kamar mandi atau ganti pakaian.”
“Hmm.”
“Masih marah, Nay?”
“Iya.”
Zaki mendekat, mengelus rambutnya Naya dengan tulus, “Sudah, jangan marah lagi, masih mau nikah sama saya, kan? Nurut makanya.”
“Emang iya, Zak?”
“Nurut!”
“Iya deh iya aku nurut, tapi bayarnya setengahnya oke?”
“Semuanya lah, ngapain setengah sama saja bohong, sudah saya mau mandi lagi gerah, tunggu di luar oke? Duduk saja dulu,” titah Zaki yang sudah masuk ke dalam rumah sembari membawa semua belanjaan tadi, lalu dia simpan di kamar tamu terlebih dahulu.
Naya lagi dan lagi hanya bisa menahan kesal, bisa-bisanya diterbangkan ke atas lalu dihempas ke lautan begitu saja tanpa perasaan, apapun alasannya Zaki, tetap saja itu semua sudah merusak kebahagiaan Naya pagi ini.
Dia tidak percaya pada mitos seperti itu, yang dia percaya hanyalah Allah, tidak ada yang lain lagi. Namun, jika memang itu yang Zaki mau, Naya akan diam sampai hasil yang akan membuktikannya nanti.
Menunggu Zaki yang lama sekali, membuat Naya menguap begitu saja, padahal belum zuhur tetapi kedua matanya sudah mengantuk saja, sampai tak terasa tertidur di sofa luar. Membuat Zaki tersenyum melihatnya, bayangannya adalah nanti di saat Naya menunggu dia pulang kerja lalu ketiduran di sofa, dalam bayangannya pun Zaki membawa Naya masuk ke dalam kamar untuk melanjutkan tidur yang tertunda.
“Aihh, apa yang saya pikirkan, jangan ngarang kamu, Zak, jangan.”