“ .... ” Zaki tidak menjawab ataupun menatapnya, dia hanya terdiam tanpa mengatakan apapun pada Alesya, sebenarnya dia memang khawatir, tetapi malu untuk mengakuinya. Takut terjadi kesalahpahaman lainnya jika mengaku begitu, cukup diam seribu bahasa, untuk mengisyaratkan bahwa dirinya memang benar-benar mengkhawatirkan Alesya. “Zaki, kebiasaan deh. Ya udah, ayo, katanya mau antar aku.” “Oke.” Hanya itu yang keluar dari mulutnya, simple padat dan jelas. Alesya hanya terkekeh melihatnya, Zaki masih tetaplah Zaki, si pria dewasa yang mengandalkan gengsinya. Di perjalanan pun Zaki masih menguap, membuat Alesya berinisiatif untuk menggantikannya menyetir, Zaki tidak menolak karena dia menyadari akan berbahaya jika diteruskan, setelah bergantian menyetir, Alesya pun kembali membuka pembica

