Cakra masih bisa menahannya, dia melepaskan wanita itu begitu saja tanpa sepatah kata pun. Setelah mereka saling melepaskan satu sama lainnya, hanya ada keheningan yang menghadang. Suara dering telepon pun membuat Cakra bergerak lalu mengambil ponselnya yang ada di atas meja sofa. Dia tersenyum saat tahu siapa yang menghubunginya. Tersenyum sampai semanis itu? Setelah mereka bertengkar hebat seperti tadi? Apakah itu Güzelim? Apa mungkin Cakra sudah berpaling hatinya? Cindy terus-menerus memikirkan hal seperti itu. Entah mengapa dia sampai terpikirkan akan hal yang belum pasti. “Cak, kamu mau ke mana?” Cakra sudah memakai kembali jaketnya, merapikan rambutnya yang sempat acak-acakan lalu hanya menatap ke arah Cindy sekilas sebelum dia pergi, tentu saja melihat keanehan seperti itu membu

