“Mau ke mana, hmm? Buka saja pintu nya kalau kamu bisa.” Naya menoleh, sejak kapan laki-laki itu terbangun? Berjalan pun rasanya sulit, bagaikan berjalan di atas duri-duri yang terus mencengkeram erat kakinya. Dia sangat yakin, Lenovo tak mungkin begitu saja melepaskannya. Berhenti di tempat, tak menoleh lagi ataupun berbicara, merasakan hawa hangat mendekatinya, pelukan itu membuatnya tak bergeming, entah kenapa semenjak dia hamil, merasa di dekat Lenovo tak semenyeramkan dulu. “Katakan, mau ke mana kamu hmm? Ini terlalu pagi jika kamu mau kabur, kasian anak yang ada di dalam kandungan kamu, pasti ikut kedinginan,” ucapnya seraya meniupkan udara pada telinganya. “Jalan-jalan pada pagi hari, membuat janin sehat, nggak mungkin kedinginan,” sahut Naya tanpa menoleh. “Oh, iya? Itu pepata

