“Kamu harus kuat, saya yakin kamu bisa.” Naya mengubah posisinya menjadi duduk menghadap Lenovo, “Kamu bisa yakin seperti itu, mendapatkan keyakinan dari mana?” Naya bertanya kembali. “Karena kamu kuat, buktinya kamu masih mau mempertahankan janin kamu, bahkan sebelum saya bertanggung jawab.” “Apa itu bisa dikatakan aku kuat?” Naya kembali merebahkan tubuhnya, masih menatap Lenovo seperti tadi. “Aku sendiri belum begitu yakin bisa. Mungkin ... jika aku ini kuat, dari awal udah ada niat untuk memberitahu kedua orang tua mengenai anak ini.” “Naya ... dengarkan saya. Kuat nya seseorang, tidak diukur seberapa mudahnya dia melangkah, tetapi seberapa bisanya dia melangkah. Semuanya butuh proses, dan tidak ada yang instan di dunia ini.” Lenovo mengambil sesuatu dari dalam laci, lalu memberi

