“Jika pembuktian yang kamu berikan udah cukup membuatku bahagia, lalu untuk apa gombalan? Aku rasa, semua ini udah lebih dari cukup,” bisik Naya, membalas perlakuan laki-laki itu agar sama rata. “Oh, iya? Begitu? Baik, akan aku buktikan lebih banyak lagi setelah pernikahan nanti.” Naya kembali tersipu, tetapi pada saat keduanya akan saling merasakan bibir satu sama lain, di saat itu juga kedatangan seorang wanita membuat keduanya berhenti, dan saling menatap dengan heran. “Loh? Kamu? Ngapain kamu ada di sini, hah? Jadi ... ini alasan kamu ingin mengajakku berpisah? Iya? Keterlaluan banget kamu, dan kamu? Wanita macam apa, sih?!” Humaira, datang-datang sudah seperti singa bertanduk. “Len, dia kenapa bisa ke sini? Bukannya rumah ini hanya aku yang tahu,” bisik Naya. “Kamu tenang saja, s

