Dua hari telah berlalu begitu sangat cepat, tak terasa perjuangan yang kemarin-kemarin sempat diperjuangkan dengan sekuat tenaga, kini hampir saja selesai menuju kebahagiaan yang sesungguhnya. Namun, karena ibu kandungnya Cakra masih berada di rumah sakit jiwa, mereka belum bisa melangsungkan pernikahan ataupun acara lainnya, bagaimanapun juga restu dan izin dari pihak laki-laki tidak kalah pentingnya seperti restu dari pihak wanita. “Bagaimana? Kamu akan sabar menunggu, kan, Sayang?” tanya Cakra. Cindy hanya diam, entah kenapa hatinya tersentuh melihat seorang wanita sedang tersenyum padanya tetapi tidak mengenalnya sama sekali, ibunya Cakra mengalami depresi yang sangat berat, kadangkala dokter pun tak sanggup lagi untuk merawatnya. “Cak, kenapa ibumu selalu tersenyum padaku? Padahal

