Riska Wijaya muncul di depan pintu apartemen Renata dan gadis itu mengerti bahwa permintaan ibunya agar dia ikut pulang ke Tokyo adalah sebuah titah yang tidak bisa dibantah lagi. Renata tak memiliki alasan yang cukup kuat untuk menolak. Kesepekatannya adalah dia akan menghabiskan waktu satu bulan ke depan di Indonesia dan setelahnya harus kembali ke Tokyo. “Antarkan aku bertemu dengan saudaramu. Laura kan namanya?” Riska memakai kembali syal miliknya. Indonesia sedang mengalami musim hujan dan hujan yang turun belakangan ini cukup deras. “Aku akan menelpon Bamantara untuk bilang kalau Okaasan ingin bertemu Laura.” Renata meraih ponsel yang diletakkannya pada buffet ruang tengah. “Bagaimana kabar Andromeda?” Riska bertanya.

